
Tania menghela nafas panjang.
"Huff bersama perempuan itu lagi! Kalau tau seperti ini aku tidak akan pernah mengijinkan dia menikah dan aku akan mau memiliki anak." ucap Tania dengan kesal.
Tania berjalan ke dapur dia sudah belanja sendirian ke pasar agar bisa masak untuk suami nya.
"Huff aku takut kalau masak sekarang nanti dingin. Sebaiknya tunggu sedikit sore deh " ucap Tania.
Tania duduk di kursi dia mengingat beberapa tahun yang lalu masih menjadi pengantin baru dia selalu memasak untuk suami nya, terkadang memasak berdua hidup dengan sangat romantis saling melengkapi.
Namun keharmonisan mereka hilang begitu saja setelah beberapa tahun menikah namun tidak juga di karuniai Anak. Radit sangat marah karena Tania diam-diam tidak mau memiliki anak dan memasang KB sendiri tidak ada yang tau.
"Sekarang aku menyesali semua nya, aku benar-benar sangat bodoh Sekarang." ucap Tania.
Radit mengantarkan istri nya kembali ke rumah.
"Kamu istirahat yah, saya akan kembali ke kantor." ucap Radit.
Abel mengangguk dia juga sekalian berpamitan untuk berangkat ke party teman nya sore, mungkin tidak akan bertemu dengan suami nya nanti.
"Baiklah sayang, kamu hati-hati yah. Jangan lupa untuk mengabari saya." ucap Radit. Abel mengangguk. Setelah suami nya pergi dia masuk ke dalam rumah.
"Non akhirnya pulang juga, non dari mana non? Bibik sangat khawatir sekali." ucap Bibik dengan khawatir sambil memeriksa keadaan Abel baik-baik saja.
Abel tersenyum. "Ya ampun Bik, aku baik-baik aja bik." jawab Abel. Bibik menghela nafas lega.
"Syukur lah Non, ayo masuk ke dalam." ucap Bibik. Abel mengikuti masuk ke dalam.
"Kak Abel..." ucap Mila yang ternyata sudah datang.
"Mila kamu sudah datang? kamu cepat banget sampai nya."
"Iyah kak, aku sudah sangat merindukan kakak." ucap Mila memeluk kakak nya. Mereka berpelukan.
"Kata Bibik kakak pergi belanja, mana belanja kakak?"
"Gak jadi. Kakak tidak ada yang suka tadi nya, jadi pulang deh." jawab Abel berbohong.
"Ya ampun kak, kakak sudah membuat Bibik khawatir, tidak tenang." ucap Mila.
"Maafin yah bik, aku sudah bilang sama Bibik jangan terlalu mengkhawatirkan aku." ucap Abel. Bibik tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Heri kepada Enjel yang berdiri di lobby sambil melihat ke arah luar.
Enjel melihat ke arah Heri dan Novi yang baru saja melewati lobby.
"Pak saya ke ruangan saya terlebih dahulu." pamit Novi.
Heri mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu Heri mendekati Enjel.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Heri karena wajah Enjel sangat cemberut.
"Tidak ada." ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang. "Katakan ada apa sayang?" tanya Heri mau memegang tangan Enjel namun langsung di hindari oleh Enjel.
"Jangan lakukan itu, ini di kantor. Banyak orang." ucap Enjel. Heri mengangguk mengerti.
"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu." Enjel meninggalkan Heri.
"Huff gini nih kalau sudah halangan pasti ada saja tingkah nya, pusing dah." Ucap Heri.
Di malam hari nya...
"Kakak yakin mau nganterin aku? aku bisa berangkat sama Mila kok." ucap Abel kepada suami nya yang sudah pulang lebih sore.
"Oohh ya udah deh kalau gitu gak apa-apa, aku juga senang bisa di anterin sama kakak." ucap Abel.
Sementara di tempat lain Tania sudah menata semua makanan di atas meja, di tata dengan rapi, semua nya terlihat sangat enak sekali.
"Ini sudah jam tujuh malam kenapa Radit belum datang juga yah?" ucap Tania sambil terus melihat ke arah pintu.
"Humm sebaiknya aku menghidupkan Lilin dulu. Paling bentar lagi sampai." ucap Tania dengan sangat senang akhirnya dia pun langsung menghidupkan semua lilin.
Sudah hidup semua namun tidak ada tanda-tanda Radit mau datang.
"Kemana sih dia?" Tania memberanikan diri untuk menelpon Radit.
Sudah tiga kali memanggil namun tidak di jawab juga sama Radit.
Tidak terasa sudah jam sembilan malam, semua lilin yang hidup sudah mati, makanan yang panas sudah dingin dan juga suasana semakin dingin.
Namun Tania tidak berhenti menunggu dia terus menunggu sambil menghubungi Radit.
"Radit kemana sih? dia berjanji akan datang namun kenapa sih dia tidak datang?" ucap Tania dalam hati.
__ADS_1
wajah nya yang tadi terlihat sangat senang sekarang sudah sangat sedih.
Sudah jam sepuluh malam Radit dan Istri nya serta Mila baru saja pulang. Radit tidak bisa meninggalkan istri nya karena takut istri nya mabuk.
Karena sudah jam sepuluh mereka pulang ke rumah, Abel langsung tidur. Sementara Radit baru saja selesai mandi dia melihat jam. Dia memeriksa handphone nya.
Sudah puluhan panggilan tak terjawab dari Tania.
Awalnya Radit mengabaikan nya namun tiba-tiba dia teringat beberapa tahun yang lalu kalau setiap pulang bekerja dulu Tania menyediakan makanan masakan sendiri, walaupun sangat susah memasak dia terus mencoba memasak untuk Radit.
"Aarrrgghh!!!!" Radit kesal dengan ingatan nya dia tidak tega mengabaikan Tania akhirnya dia menghubungi Tania.
Panggilan pertama tidak di jawab. Namun tidak beberapa lama dia di telpon balik oleh Tania.
"Radit maaf yah aku tadi ketiduran, kamu sudah sampai yah? aku akan buka pintu." ucap Tania dengan bersemangat.
"Tidak perlu." ucap Radit.
"Loh kenapa? kamu marah yah karena aku tidak jawab telpon kamu?" tanya Tania.
"Aku tidak ke sana, aku minta maaf karena tidak bisa datang. Aku menemani Abel dan aku baru saja pulang. tidak memungkinkan Tengah malam aku kesana aku juga sudah sangat lelah. Aku mau Istirahat." ucap Radit.
Tania terdiam mendengar jawaban Radit.
"Aku matikan dulu, kamu juga istirahat lah." ucap Radit dan mematikan sambungan telepon.
Tania diam dia meletakkan handphone nya di atas meja memasang wajah sedih. Dia melihat makanan yang sangat banyak di atas meja.
"Aaaaarrhhhh!!!!!" dia marah dan menghempas semua makanan dari atas meja dan semua nya berserakan di atas meja.
"Kenapa? Kenapa harus bersama perempuan itu terus? aku juga istri nya!" ucap Tania marah.
Tiba-tiba Abel yang sudah tidur nyenyak terbangun. Dia kaget dan langsung duduk. Radit sadar dia menenangkan istri nya.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu bangun?" tanya Radit.
"Aku mendengar sesuatu barang pecah." ucap Abel.
"Kamu hanya mimpi, ayo tidur lagi." ajak Radit.
Akhirnya mereka berdua tidur lagi. Tania Sama sekali tidak bisa tidur, namun harus memaksa kan mata untuk tidur karena besok dia memiliki pekerjaan di salah satu rumah sakit besar kota itu.
__ADS_1