
"Emangnya kenapa Bos? Bukan nya Tante sama Om ingin bos cepat menikah."
"Kamu tau sendiri kan bagaimana pergaulan saya dengan perempuan, hanya sekedar bermain saja." ucap Heri.
"Dan kalau orang tua saya tau, mereka akan cepat-cepat memaksa saya menikahi perempuan itu." ucap Heri.
"Huff pantesan saja mbak Enjel begitu benci kepada bos, ternyata bos hanya mau menjadikan mainan saja." ucap sekretaris nya.
Heri terdiam. "Kamu sudah menjadi sekretaris saya bertahun-tahun, kenapa kamu tau kalau saya seperti ini?"
"Tapi setahu saya bos Heri tidak pernah mengejar perempuan, yang ada perempuan mengejar Bos Heri." ucap Sekretaris nya.
"Tapi Enjel itu sangat menarik perhatian sekali..Apa kamu tidak bisa melihat wajah nya sangat manis, cantik dan juga badan nya sangat bagus sekali." ucap Heri.
Di ruangan Heri dia memerhatikan Enjel yang bekerja sangat fokus sekali. Enjel sadar kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Heri.
"Sebaiknya kamu fokus saja dengan pekerjaan mu!" ucap Enjel.
Heri menghela nafas panjang. "Aku tidak menggangu kamu, aku hanya melihat kamu saja, namun kamu sudah marah, apa lagi aku menyentuh wajah mu yang sangat cantik itu." ucap Heri.
Enjel Menatap Heri.
"Bisa gak jangan membuat aku kesal, sebaiknya aku pindah ruangan saja." ucap Enjel.
"Jangan... Baiklah aku tidak melihat lagi..Kamu bisa lanjut kerja." ucap Heri. Enjel menghela nafas kesal.
Di sore hari nya Enjel dan Heri berangkat ke kota Enjel.
Sekretaris nya tinggal karena dia yang akan mengatur perusahaan sementara Heri mengurus yang berada di kota Enjel.
"Aku tidak pernah berfikir kalau akhirnya kamu bekerja dengan ku, jadi aku memiliki banyak waktu bersama kamu." ucap Heri kepada Enjel.
Enjel diam saja. Heri fokus dengan jalanan.
"Kok kamu gak cari pacar sih?" tanya Heri. Tidak di jawab juga oke Enjel.
"Kalau kamu tidak mau dengan pria lain itu arti nya kamu menginginkan aku menjadi pacar kamu kan?" ucap Heri.
"Kamu bisa diam gak? Jangan bertanggapan sendiri tentang kehidupan orang lain." ucap Enjel.
__ADS_1
"Ya ampun judes nya." ucap Heri. Enjel mau lanjut marah namun tiba-tiba handphone Heri berdering.
"Tunggu sebentar." Heri menjawab nya dan kebetulan handphone nya terhubung ke bluetooth mobil.
"Halo sayang... Kamu di mana sih? Aku dengar kamu akan pindah ke kota lain, apa itu benar?" tanya suara perempuan.
"Kamu sangat cepat mendengar berita tentang ku." ucap Heri.
"Jawab jujur, kamu mencoba mengalihkan pembicaraan saja."
"Aku ada urusan pekerjaan. Mungkin butuh waktu beberapa bulan saja." ucap Heri.
"Beberapa bulan? itu sangat lama sekali."
"Kalau kamu mau datang, datang saja." ucap Heri.
"Huff Percuma saja aku datang, aku yakin kamu pasti sudah memiliki perempuan pengganti aku di sana."
Heri tertawa. "Enggak lah, tidak mungkin. Kamu satu-satunya." ucap Heri.. Perempuan itu baper mendengar itu.
Sementara Enjel yang mendengar itu hanya bisa diam saja. Hanya mengutuk Heri saja.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Mereka bertemu dengan Radit terlebih dahulu.
"Gak ada pak, semua nya jauh, kenapa tidak di apartemen atau di hotel bapak saja?" tanya Enjel.
"Selama Heri di sini kamu harus mendampingi dia, lagian lebih dekat dari rumah kamu ke tempat kerja." ucap Radit.
Enjel menghela nafas panjang. "Humm apartemen kamu ada dua kamar, kamu tinggal sendiri an, sebaiknya kamu mengijinkan Heri tinggal di sana." ucap Radit.
Enjel langsung menggeleng kan kepala nya. "Enggak! Tidak bisa." ucap Enjel.
"Kalau begitu kamu cari yang lebih dekat deh." ucap Radit.
Enjel bingung harus meletakkan Heri kemana, alhasil dia membawa ke apartemen nya.
"Kamu boleh tidur di sini tapi jangan menyentuh apapun, kalau bukan karena pak Radit aku tidak akan mengijinkan kamu ke sini." ucap Enjel di depan apartemen nya.
Heri tersenyum manis. "Apapun Akan aku lakukan asal aku bisa dekat dengan kamu." ucap Heri. Enjel menatap tajam.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam. "Wahh apartemen kamu bagus juga, rapi dan juga wangi sama seperti kamu." ucap Heri.
Enjel membiarkan Heri di sana, sementara dia mengungsi ke kamar teman nya tepat di sebelah apartemen nya.
Radit baru saja pulang dia sampai di rumah semua nya sudah tidur sehingga tidak ada yang menyambut nya pulang.
Dia masuk ke kamar namun tidak melihat Abel dan Farel di sana.
Radit berjalan ke kamar sebelah membuka nya namun ternyata di kunci dari dalam. Radit mencoba mengetuk namun tidak juga di Dengar oleh Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Seperti nya Abel marah karena saya pergi dengan Novi." ucap Radit.
"Abel sangat sensitif tentang Novi, saya juga tidak tau kenapa." batin Radit. Dia mencari kunci serap dan membuka kamar.
Dia melihat Abel dan Farel tidur di kasur yang sama.
Radit duduk di pinggir kasur dia mengelus rambut istri nya.
"Maafkan saya kalau saya selalu membuat kamu marah, saya tidak bisa memecat Novi Tampa alasan, pekerjaan nya bagus dan kamu tau kalau tidak ada Novi yang membantu saya mungkin perusahaan sudah lama bangkrut." ucap Radit.
Radit mencium kening istrinya dan mengangkat Farel ke kamar sebelah.. Setelah itu dia menggendong istri nya untuk pindah ke kamar nya juga.
Setelah itu dia langsung mandi karena sangat lelah selesai mandi dia berbaring di tempat tidur di samping Abel.
Namun dia tidak bisa langsung tidur, dia merabah pinggang Abel yang sangat menggoda karena membelakangi dia.
Abel tidur sangat nyenyak mungkin karena kelelahan sehingga dia tidak sadar apa yang sudah di lakukan suami nya itu.
Radit sudah membuka baju istri nya.
"Sayang..." Radit mencium bibir Abel sampai Abel sadar. Dia awalnya terkejut namun Radit sangat pandai menggoda istri nya sampai dia terlena dan mulai membalas ciuman nya.
Radit sudah tidur bisa menahan nya lagi dia pun langsung melakukan olahraga malam. Abel masih setengah sadar seketika langsung sadar dan mendesah kenikmatan yang di berikan oleh suami nya itu.
Abel juga mulai melakukan hal yang harus dia lakukan agar sama-sama puas.
Sampai kedua nya sama-sama lelah. Radit memeluk istrinya dan mencium kening nya.
"Terimakasih sayang." ucap Radit. Memeluk Abel mengatakan hal yang kurang jelas dan pada akhirnya dia tertidur.
__ADS_1
Abel menatap wajah letih suami nya. "Sudah jelas dia lelah bekerja namun tetap saja mau melakukan nafsunya." ucap Abel dalam hati.
Abel turun dari tempat tidur. Mau ke kamar mandi bersih-bersih dan setelah itu kembali tidur.