Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 37


__ADS_3

Radit yang di panggil Bapak semakin bad mood.


Abel tersenyum. "Aku hanya bercanda. kakak pasti tau dia siapa. Kami membicarakan pekerjaan." ucap Abel.


"Sudah saya tidak mau mendengar nya lagi, sebaiknya kita pulang saja saya sudah lelah." ucap Radit. Abel mengangguk dia menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan perusahaan.


"Pak direktur kemana?" tanya Enjel kepada Novi.


"Pak direktur sudah pulang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Novi.


"Saya ingin pak direktur melihat ini." ucap Enjel. Novi melihat nya dia menghela nafas panjang.


"Kita harus lebih teliti lagi, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. sekarang pak direktur lagi tidak sehat." ucap Novi.


Di perjalanan pulang Abel melihat Radit yang hanya diam saja. "Ada apa dengan kakak? Kenapa kakak terlihat sangat murung?" tanya Abel.


"Kamu masih bertanya?" tanya Radit. Abel menghela nafas panjang.


"Sekarang kita sudah pulang, aku juga sudah pulang apa yang kakak permasalahan lagi?" tanya Abel.


Radit menoleh ke arah Abel.


"Kamu tidak senang pulang ke rumah bersama saya?" tanya Radit.


Abel menghela nafas panjang lagi dia berusaha untuk sabar. Dia tau kalau Radit sengaja memancing emosi nya.


Abel memilih diam saja. Sampai di rumah sebenarnya dia sudah sangat lelah dia mau istirahat namun mengingat suami nya belum makan dia harus menyiapkan nya.


Radit duduk di ruang tamu di bawakan oleh istri nya makanan setelah itu obat.


"Kakak sudah selesai makan, sudah minum obat aku sudah sangat ngantuk aku mau ke kamar dulu." ucap Abel.


"Tunggu dulu." ucap Radit. "Kenapa?" tanya Abel.


"Kenapa kamu mengembalikan kartu ini?" tanya Radit menunjuk kan kartu kredit yang sebelumnya di berikan kepada Abel.


"Aku tidak ingin memegang nya, aku tidak bisa memegang kartu kredit karena aku sangat boros." ucap Abel.


"Ini hak kamu, tidak perduli pernikahan kita ini seperti apa, namun ini sudah hak kamu. Tergantung kamu boros atau tidak nya." ucap Radit.


"Terkadang kakak sangat aneh, kadang marah kadang baik kadang seperti ini kadang seperti itu, Heran deh." ucap Abel.


"Dan ini Pasti kakak hanya menguji aku kan? Intinya aku tidak mau pegang ini." ucap Abel menolak nya.


"Kamu yakin? Saya melihat Ada Tas branded keluaran terbaru." ucap Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak tergiur sama sekali." ucap Abel.


"Kamu marah karena teguran saya sebelumnya?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak marah, aku hanya sadar saja kalau yang kakak bilang itu benar. Apa lagi pernikahan kita ini tidak lah utuh aku bukan istri yang baik. Aku juga tidak melakukan tanggung jawab ku." ucap Abel.

__ADS_1


Radit terdiam sejenak.


"Kakak simpan saja kartu itu, aku akan mengatur uang bulanan untuk dapur yang kakak kasih." ucap Abel.


Radit jadi merasa iba melihat Abel seperti itu.


"Huff seharusnya aku tidak marah kepada dia sebelum nya. Kalau sudah seperti ini aku harus apa?" ucap nya.


Di kamar Abel langsung tidur karena sudah sangat ngantuk.


Di tempat lain..


Orang tua Radit datang berkunjung ke rumah Orang tua Abel.


"Ngapain mertua kak Abel datang ke sini?" ucap Mila.


dia melihat dari lantai atas.


Dia segera memberikan informasi kepada Kakak nya.


Abel terbangun karena mendengar suara bunyi handphone nya.


Dia membaca pesan dari Mila.


"Ngapain Mertua ku ke sana? Apa jangan-jangan mereka merencanakan sesuatu untuk aku dengan kak Radit."


Dia panik dia penasaran sekali kenapa mertua nya datang.


"Jangan-jangan setelah itu mertua ku akan datang ke sini? Bagaimana kalau mereka tau kalau sampai sekarang aku dengan kak Radit belum ada hubungan yang baik?" ucap Abel.


"Kak Radit! Kak." panggil nya namun tidak ada jawaban.


"Kemana sih?" dia mencari ke kamar namun tidak ada.


"loh kok gak ada sih. Dia membuka pintu kamar mandi dia sangat kaget ternyata Radit sedang mandi.


"Aaaa!!!!" Abel melihat Radit mandi tampa busana.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit langsung menutup pintu. Abel terdiam sejenak dia langsung diam dan berbalik dan duduk di pinggir kasur.


Cukup lama menunggu Radit dia membaca majalah sebentar menghilang kan rasa gugup nya.


Tidak beberapa lama akhirnya Radit keluar dari kamar mandi dia melihat Abel.


"Apa yang kamu cari?" tanya Radit.


Abel langsung duduk. dia melihat ke arah Radit yang masih memakai handuk di pinggang.


Dia terdiam sejenak memikirkan yang tadi. Namun dia langsung menghilang kan pikiran nya.


."Ini gawat kak, ini sangat gawat sekali." ucap Abel.


"Ada apa?" tanya Radit.

__ADS_1


"Orang tua kakak datang ke rumah ku." ucap Abel.


"Lalu?" tanya Radit dengan santai sambil berjalan ke lemari nya.


Abel berdiri di depan Radit menghalangi lemari.


"Kakak tidak tau apa yang akan terjadi kalau mereka sudah bertemu?" ucap Abel.


Radit Menatap wajah Abel. "Apa?" tanya nya tetap santai.


"Ada apa sih dengan Kakak? Ini darurat seharusnya kakak juga ikut panik." ucap Abel.


"Justru kamu yang Kenapa?" ucap Radit.


"Apa kakak tidak berfikir kalau nanti mereka ke sini bersama dan membicarakan yang aneh-aneh?" ucap Abel.


"Bagaimana kalau mereka memaksa kita memiliki anak?"


"Huff aku bisa pusing memikirkan itu."


"Sebaiknya kamu pergi dari hadapan saya." ucap Radit.


"Kita harus memikirkan ini kak, aku sedang khawatir." ucap Abel.


"Kalau mereka meminta cucu kita akan memberikan nya, apa sulit nya?"


Abel memasang wajah kesal.


"Percuma saja aku berbicara dengan kakak." ucap Abel.


"Lalu apa lagi? Emang nya apa yang bisa kamu jawab?" tanya Radit.


"Cari jalan lain kak, mau bagaimana pun kita tidak bisa memiliki anak karena kita tidak saling mencintai."


"Saya bisa memiliki anak, tergantung kamu nya saja." ucap Radit.


"Huff aku lupa kalau semua pria itu sama saja, mereka biasa berhubungan tampa ada perasaan." ucap Abel.


"Saya tidak seperti itu." ucap Radit.


"Aku tidak percaya." ucap Abel.


"Mau sampai kapan kamu berdiri di depan saya? Apa kamu sekalian modus agar bisa melihat badan saya lebih dekat?"


Abel melihat badan Radit.


"Sembarangan! Aku tidak selera melihat nya, badan pria di tempat olahraga jauh lebih bagus." ucap Abel.


Radit terdiam mendengar itu.


"Aku akan memilih kan pakaian untuk kakak. Kakak minggir lah." ucap Abel.


Dia mengambil pakaian untuk Radit.

__ADS_1


"Kakak tidak boleh tinggal diam saja, sekarang kakak bilang kalau kita sedang tidak di rumah kepada orang tua kakak." ucap Abel.


"Kenapa sih kamu sangat takut? mereka tidak akan marah-marah datang ke sini." ucap Radit.


__ADS_2