
Di pagi hari yang sangat cerah Abel terbangun karena cahaya yang menembus sela-sela jendela kamar Radit.
Abel bergeliat dia langsung melihat ke samping nya setelah sadar. Melihat Radit tidur dengan nyenyak membuat nya tenang.
Memastikan badan Radit tidak panas.
"Aku harus bertingkah baik, kalau tidak ingin kak Radit sakit. Karena kalau dia sakit aku sendiri yang repot." ucap Abel.
Abel mau turun dari kasur namun langsung di tahan oleh Radit.
"Jangan pergi." ucap Radit. "Aku mau ke kamar mandi." ucap Abel sambil menoleh ke arah Radit namun ternyata Radit masih tidur.
Abel melepaskan tangan nya dan berjalan ke kamar mandi.
Tidak beberapa lama dia keluar dia sangat kaget melihat Radit duduk di tempat tidur sambil melihat ke arah nya.
"Kakak sudah bangun?" tanya Abel. Radit memasang wajah yang cemberut dan tatapan yang aneh kepada Abel.
"Apa yang membuat kakak murung seperti itu?" tanya Abel. "Saya sudah bilang jangan meninggalkan saya, namun kenapa kamu meninggalkan saya?" tanya Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Apa Kakak tidak melihat aku baru saja dari kamar mandi?" tanya Abel.
Radit menghela nafas panjang.
Abel melihat mata Radit merah dan juga hitam. "Jangan bilang kakak semalaman tidak tidur?" ucap Abel.
Radit diam. "Perasaan tadi malam kakak tidur dengan nyenyak." ucap Abel bingung.
Dan ternyata Radit tidak bisa tidur, dia terbangun karena tiba-tiba kepalanya sakit.
"Ya sudah kalau begitu kakak lanjut tidur saja, aku akan menyiapkan sarapan dan setelah itu berangkat ke kantor." ucap Abel.
"Kamu tidak perlu berangkat ke kantor." ucap Radit.
"Pekerjaan ku sudah menumpuk di kantor kak, bagaimana bisa aku bersantai saja?" ucap Abel.
"Saya bilang tidak perlu, kamu di sini saja bersama saya." ucap Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin kak, aku harus ke kantor agar tidak ada yang marah kepada ku." ucap Abel.
"Siapa yang berani marah kepada mu? Mereka akan berhadapan dengan saya." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Ini bukan saat nya seperti itu kak, aku serius." ucap Abel.
"Saya juga serius, bila perlu mereka semua harus tau kalau kamu adalah istri saya." Istri dari seorang pemilik perusahaan." ucap Radit.
"Tidak perlu!" ucap Abel.
"Kalau begitu tinggal lah di rumah." ucap Radit.
__ADS_1
"Aku akan pergi sebentar saja." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tetap lah di rumah." ucap Radit. Abel tidak mendengar kan nya dia pergi ke kantor walaupun tidak di ijinkan oleh suami nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai dan benar saja semua teman-teman nya mengintrogasi dia dan dia sangat muak dengan hal itu.
"Pak direktur datang." Ucap Seseorang. Abel kaget.
"Kenapa dia datang? Bukan nya dia kurang enak badan?" ucap Abel.
Semua menyambut Radit dan Novi mengantarkan ke ruangan nya.
"Apakah bapak yakin baik-baik saja? Wajah Bapak sangat pucat." ucap Novi.
"Tidak apa-apa, kamu keluar lah." ucap Radit. Novi mengangguk.
"Ada apa dengan pak Direktur? Apa penyakit nya kambuh lagi? Kenapa pak direktur akhir-akhir ini sering sakit." batin Novi.
Dia mengambil Air hangat dan vitamin untuk Radit.
"Sebelum melakukan aktivitas Bapak sebaiknya minum ini Dulu."
"Terimakasih banyak Novi, kamu selalu pengertian." ucap Radit. Novi tersenyum.
"Ya udah kalau begitu saya keluar dulu yah pak, kalau butuh sesuatu panggil saya saja." Radit mengangguk.
Setelah Novi keluar Radit bekerja beberapa menit.
Waktu nya untuk istirahat siang. Radit mau keluar namun tiba-tiba pintu terbuka. Abel masuk dan langsung menutup pintu.
"Kenapa Kakak datang ke kantor?" tanya Abel.
Radit terdiam sejenak dia kaget karena Abel datang mendadak.
"Saya tidak betah di rumah sendirian."
"Aku sudah bilang agar kakak di rumah saja, aku akan pulang di jam istirahat siang." ucap Abel.
"Saya tidak betah di rumah." jawab Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Bisa gak sih kak mendengar kan aku? Kakak belum sehat, kalau kakak keluar seperti ini pasti akan semakin parah." ucap Abel.
"Biarkan saja, kamu tidak akan perduli juga."
"Kalau aku tidak perduli mana mungkin aku rela bergadang, rela memaksa diri untuk memasak." ucap Abel.
Radit diam. "Lihat wajah kakak sangat pucat." ucap Abel.
"Sebaiknya kakak sekarang pulang, aku akan keluar nanti." ucap Abel.
"Kenapa tidak bersama saja?" tanya Radit.
__ADS_1
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku ke sini saja menunggu anak-anak keluar dulu." ucap Abel.
"Saya tidak akan pulang kalau kamu tidak pulang." ucap Radit.
Abel harus banyak bersabar menghadapi suami nya itu. "Ada apa sih dengan kak Radit? Kenapa sifat nya berubah total seperti ini?" batin Abel.
"Baiklah aku akan pulang, tapi sebaik nya kakak menunggu di dalam mobil ku." ucap Abel. Radit mengangguk.
Abel keluar dari dari ruangan Radit namun tangan nya di tahan oleh Radit.
Abel Menatap Radit.
"Ada apa?" tanya Abel.
"Tidak ada. Saya akan menunggu di dalam mobil, kamu jangan lama." ucap Radit. Abel langsung melepaskan tangan nya dari Radit.
Radit tersenyum karena melihat wajah kesal Abel kepada nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia di dalam mobil Abel. Dia masuk ke dalam.
"Kemana dia? Kenapa sangat lama sekali?" tanya Radit.
Dia melihat dari mobil Abel sedang berbicara dengan rekan kerja nya yang laki-laki.
"Kenapa mereka terlihat sangat dekat? Apa Abel memiliki hubungan dengan pria itu?"
Karena merasa kesal dia sambil melonggarkan dasinya.
Melihat Abel memukul lengan pria itu dan juga tertawa membuat nya semakin kepanasan.
"Apa-apaan ini." ucap Radit. Dia mau keluar dari mobil namun dia takut kalau Abel marah lagi kepada nya.
setelah selesai berbicara dengan rekan nya dia masuk ke dalam mobil nya. Dia melihat Radit.
"Kenapa kamu sangat lama? Siapa Pria itu?" tanya Radit.
"Apa bapak tidak tau siapa Pria itu? bapak yang sudah mengerjakan nya di sini dan memposisikan dia dengan saya." ucap Abel.
Radit yang di panggil Bapak semakin bad mood.
Abel tersenyum. "Aku hanya bercanda. kakak pasti tau dia siapa. Kami membicarakan pekerjaan." ucap Abel.
"Sudah saya tidak mau mendengar nya lagi, sebaiknya kita pulang saja saya sudah lelah." ucap Radit. Abel mengangguk dia menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan perusahaan.
"Pak direktur kemana?" tanya Enjel kepada Novi.
"Pak direktur sudah pulang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Novi.
"Saya ingin pak direktur melihat ini." ucap Enjel. Novi melihat nya dia menghela nafas panjang.
"Kita harus lebih teliti lagi, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. sekarang pak direktur lagi tidak sehat." ucap Novi.
__ADS_1