Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 147


__ADS_3

"Kalau kakak tidak mau, aku akan pindah ke kamar sebelah." ucap Abel.


"Ya udah kalau begitu." ucap Radit.


"Sana." ucap Abel.


"Tapi..."


"Ssttt!!! Aku masih Marah." ucap Abel..Abel kembali tidur.


Radit membawa bantal dan selimut nya ke sofa.


"Hufff...." Wajah nya terlihat sangat sedih.


"Abel kamu jangan terlalu emosi, nanti kesehatan kamu kurang baik."


"Ini semua karena kakak!" ucap Abel. Radit tiba-tiba diam.


"Saya mau mengucapkan selamat malam untuk anak kita."


"Katakan saja dari situ, dia juga marah kepada kakak, karena kakak hari ini aku memakai baju yang sempit dan dia tertekan." ucap Abel.


Radit Terdiam.


"Tidur saja di sana jangan mendekat." ucap Abel. Radit mengangguk.


"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf." ucap Radit.


Abel mengabaikan nya dia lanjut tidur.


Di apartemen Enjel. Dia sedang bersih-bersih seluruh apartemen nya. Mulai dari kamar nya, kamar Heri dan ruangan tamu.


Enjel melihat suasana Apartemen yang sangat sepi seperti biasa nya. Dia membayangkan Wajah Heri. Dia membayangkan semua tingkah Heri yang membuat nya terkadang kesal di rumah itu.


Makan jajanan namun membuang sampah sembarang, memakai barang namun meletakkan sembarangan, membuat kekacauan dan juga membuat cucian banyak.


Enjel melihat handphone nya..


"Kenapa sampai sekarang dia belum menelpon ku? Apa dia belum sampai? tidak mungkin deh." ucap Enjel dalam hati.


Dia terus menunggu Heri menelpon namun tetap saja tidak di telpon sampai akhir nya dia tidak tahan dan langsung menelpon terlebih Dahulu.


"Halo..." Ucap Enjel.


"Halo." ucap seseorang di balik telepon..Suara Perempuan yang menjawab membuat Enjel kaget.


"Ini siapa yah?" tanya Perempuan itu.


"Saya ingin berbicara dengan Heri." ucap Enjel.


"Heri sedang ke toilet." ucap perempuan itu.


"Kalau boleh tau kamu siapa? Apa Heri sudah sampai di kota nya dengan selamat?"


"Aku teman perempuan nya. Dia baru saja sampai." ucap perempuan itu.


"Teman perempuan?" Enjel terdiam.


"Siapa?" tanya Heri.


"Perempuan nyariin kamu, kenapa kamu sangat lama di kamar mandi? Aku sudah sangat lapar." ucap perempuan itu dengan sangat manja.


"Halo."

__ADS_1


"Ini aku Enjel, apa kamu sudah sampai?"


"Udah kok." ucap Heri.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Enjel langsung mematikan sambungan telepon.


"Bisa-bisa nya baru saja sampai di sana dia sudah makan malam bersama perempuan lain." ucap Enjel dengan kesal.


Enjel duduk di Sofa.


Tidak beberapa lama dia ketiduran di sofa.


Keesokan harinya.. Dia bangun..


"Huff kenapa saku harus bangun begitu cepat? Ini hari Minggu aku tidak memiliki kegiatan apapun." batin Enjel.


Dia melihat jam enam pagi.


"Aaarrggg!!! Aku harus berhenti memikirkan dia, aku tidak boleh lupa kalau Heri itu memiliki kepribadian yang aneh." ucap Enjel.


Tiba-tiba handphone nya berdering dia berfikir itu dari Heri namun ternyata dari Novi.


"Halo Novi." ucap Enjel.


"Kamu di mana Enjel?" tanya Novi.


"Di apartemen, aku baru saja bangun ada apa? tidak biasanya kamu menelpon ku?" tanya Enjel.


"Hari ini kamu tidak ada janji kan?"


"Tidak ada."


"Aku mau ngajakin kamu ngopi bersama." ucap Novi.


"Aku sangat malas keluar, aku ingin menghabiskan waktu ku di apartemen saja." ucap Enjel.


"Terserah saja, kalau mau datang silahkan." ucap Enjel.


Novi tersenyum. "Oke, kamu tunggu saja, aku akan berangkat sekarang." ucap Novi.


Satu jam kemudian Bel apartemen nya berbunyi.


"Siapa sih yang ganggu pagi-pagi? Baru saja aku mau tidur lagi." ucap Enjel.


Dia membuka pintu.


"selamat pagi Enjel..." ucap Novi. Enjel kaget melihat Novi benar-benar datang.


"Kamu beneran datang?" ucap Enjel. Novi mengangguk.


"Lihat apa yang aku bawa! Aku membawa sarapan, kopi dan juga cemilan." ucap Novi.


Enjel menghela nafas panjang.


"Kamu tidak perlu membawa sebanyak ini Novi." ucap Enjel. "Apa aku boleh masuk?" tanya Novi. Enjel mengangguk.


"Wahh apartemen kamu cukup mewah juga yah." ucap Novi. Enjel mengangguk.


"Di sini kamu tinggal sendirian?" tanya Novi. Enjel mengangguk.


"Seriusan kamu tinggal sendiri?" tanya Novi karena melihat Jas laki-laki kegantung.


"Hufff kamu pasti sudah tau kalau aku tunggu dengan pak Heri." ucap Enjel. Novi tersenyum.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu sungkan atau berbohong kepada ku." ucap Novi.


"Aku bata saja Bangun, aku mandi dulu yah." ucap Enjel.


"Baiklah." ucap Novi. Namun tiba-tiba handphone Enjel berbunyi.


"Halo Abel..."


"Bel kamu gak sibuk kan? Aku mau main ke apartemen kamu gak apa-apa kan?"


Enjel melihat ke arah Novi.


"Gak apa-apa suruh saja ke sini, kalau ramai pasti sangat asik." ucap Novi.


Enjel tersenyum. "Boleh, tapi bagaimana dengan suami kamu?"


"Aku berangkat sekarang." ucap Abel langsung menutup telponnya.


"Huff ini pasti ngambek sama suami nya." ucap Enjel.


"Untung saja kita belum menikah." ucap Novi. Enjel Menatap Novi.


"Kamu memang belum menikah lalu kenapa kamu seperti orang stres sekarang?"


"Bagaimana bisa kamu tau?"


"Wajah kamu." ucap Enjel.


"Sebenarnya aku bertengkar dengan orang tua ku ke kemarin."


"Tadi malam kamu tidak pulang ke rumah?"


Novi menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa kamu bertengkar dengan orang tua mu?" tanya Enjel.


"Orang tua ku sudah lama tidak akur, setiap hari mereka selalu saja ribut membuat aku pusing. Aku tidak betah sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai, aku tidak setuju karena aku tidak ingin mereka bercerai." ucap Novi.


Enjel seketika terdiam, dia tidak tau harus memberikan tanggapan apa.


"Aku tidak tau harus memberikan saran apa sama kamu, tapi aku yakin kamu pasti anak yang kuat." ucap Enjel.


"Aku sekarang bingung dengan orang tua ku."


"Sebaiknya kamu membiarkan mereka berpisah Novi. Kalau mereka terus bersama bukan hanya mereka berdua yang tersakiti melainkan anak-anak nya juga." ucap Enjel.


"Adik ku masih sangat kecil, aku takut dia kekurangan kasih sayang."


"Kamu tidak boleh egois Novi, mamah dan Papah kamu membutuhkan kebahagiaan juga." ucap Enjel.


"Yah aku jadi curhat, sudah jangan membahas itu lagi, aku minta maaf, sebaiknya kamu mandi. Sebelum Abel datang." ucap Novi. Enjel memeluk Novi.


"Aku tau kok di posisi kamu seperti apa, aku berharap semoga masalah nya cepat selesai." ucap Enjel.


Novi mengangguk. Setelah itu Enjel masuk ke kamar mandi.


Saat sedang memanas kan bubur bel berbunyi.


"Itu pasti Abel." ucap Novi dia membuka pintu.


dan benar saja itu Abel. Abel kaget karena yang buka pintu adalah Novi.


Dia memastikan tidak salah kamar namun perasaan nya tidak salah.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Abel.


"Aku juga baru saja sampai. Aku berkunjung ke apartemen Enjel karena hari libur, masuk lah Enjel sedang mandi." ucap Novi.


__ADS_2