
Radit sudah membuka baju istri nya.
"Sayang..." Radit mencium bibir Abel sampai Abel sadar. Dia awalnya terkejut namun Radit sangat pandai menggoda istri nya sampai dia terlena dan mulai membalas ciuman nya.
Radit sudah tidur bisa menahan nya lagi dia pun langsung melakukan olahraga malam. Abel masih setengah sadar seketika langsung sadar dan mendesah kenikmatan yang di berikan oleh suami nya itu.
Abel juga mulai melakukan hal yang harus dia lakukan agar sama-sama puas.
Sampai kedua nya sama-sama lelah. Radit memeluk istrinya dan mencium kening nya.
"Terimakasih sayang." ucap Radit. Memeluk Abel mengatakan hal yang kurang jelas dan pada akhirnya dia tertidur.
Abel menatap wajah letih suami nya. "Sudah jelas dia lelah bekerja namun tetap saja mau melakukan nafsunya." ucap Abel dalam hati.
Abel turun dari tempat tidur. Mau ke kamar mandi bersih-bersih dan setelah itu kembali tidur.
Keesokan harinya Abel melihat jam sudah jam delapan pagi.
Dia melihat suami nya masih tidur Farel juga.
"Apa aku sebaiknya membangun kan kak Radit? Tapi.." Karena masih ada rasa kesal dia tidak membangun kan Radit.
Tiba-tiba saja perut nya tidak enak dia bergegas ke kamar mandi.
Radit terbangun mendengar suara mual-mual Abel dari kamar mandi.
Dia mau masuk namun pintu di kunci. Tidak beberapa lama Abel keluar dari kamar mandi. Wajah nya sangat pucat sekali.
"Kamu kenapa?" tanya Radit. Abel kaget melihat Radit sudah di depan kamar mandi.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Sudah beberapa hari saya melihat kamu mual-mual, wajah kamu juga terlihat sangat pucat." ucap Radit.
"Aku tidak apa-apa." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang dia meletakkan tangan nya di dahi Abel memastikan suhu badan Abel normal.
"Tidak panas." ucap Radit. "Aku hanya masuk angin karena kacapean, tidak perlu khawatir." ucap Abel.
Radit melihat Abel berjalan ke arah lemari menukar baju nya.
"Saya minta maaf." ucap Radit. Abel menoleh ke arah Radit. "Minta maaf untuk apa?" tanya Abel.
"Saya sudah membuat kesalahan sehingga kamu marah seperti ini kepada saya." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada." ucap Abel. Radit mendekati Abel.
"Lalu kenapa kamu mengabaikan saya?"
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau, aku tiba-tiba saja ingin marah ketika melihat kakak." ucap Abel.
__ADS_1
Radit terdiam sejenak, dia bingung dengan jawaban istri nya.
"Jadi kamu tidak marah karena saya salah?" tanya Radit.
"Sebenarnya aku marah karena kakak pergi dengan Novi, dan selalu pulang malam. Menghabiskan waktu dengan perkerjaan tampa memikirkan aku Deng Farel di rumah." ucap Abel.
"Maaf kan saya. Saya tidak bisa mengatur waktu saya dengan baik untuk kamu dan Farel." ucap Radit.
Abel diam sejenak.
"Saya janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan saya dan segera pulang lebih awal." ucap Radit.
"Tidak mungkin. Kakak dari dulu selalu gila Kerja." ucap Abel. Radit terdiam sejenak.
"Baiklah kalau begitu saya akan mengubah kebiasaan saya." ucap Radit.
"Aku mau masak sarapan, sebaik nya kakak pergi mandi. Ini sudah telat ke kantor." ucap Abel.
Radit menahan tangan Abel dan langsung memeluk nya begitu erat.
"Saya mohon jangan membenci saya, saya tidak bisa tenang kalau kita tidak berbaikan." ucap Radit.
Abel melepaskan pelukan Radit.
"Sebaiknya kakak mandi, kakak bau badan." ucap Abel. Radit langsung terdiam seribu bahasa.
Dia mencium Aroma badan nya yang sama sekali tidak bau karena tadi malam dia mandi.
Abel masuk ke dalam dia melihat Bibik sudah di sana.
"Bik bantu aku masak yah, aku sedikit pusing mencium aroma bawang-bawang dan juga bau yang aneh." ucap Abel.
Seketika Bibik langsung menatap Abel dengan tatapan yang aneh.
"Ada apa bik?"
"Non pusing?" tanya Bibik. Abel mengangguk.
"Saya juga tidak tau bik. Tiap hari rasanya mual dan juga tidak berselera makan. Mood ku sangat aneh." ucap Abel.
"Apa Non masuk angin?" tanya Bibik. Abel memasang wajah bingung.
"Saya juga tidak tau bik."
"Ya sudah kalau begitu setelah selesai masak Bibik akan memijit badan non yah." ucap Bibik.
Abel mengangguk.
Mereka masak dan benar saja Abel sama sekali tidak bisa mencium aroma dapur yang sangat menyiksa diri nya.
__ADS_1
Radit turun bersama Farel dia mendengar suara Abel yang mual-mual dari kamar mandi.
"Bik ada apa dengan Abel?" tanya Radit.
"Saya juga tidak tau Tuan."
Radit menyusul Abel ke kamar mandi. "Kamu baik-baik saja?" tanya Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku sangat pusing." ucap Abel.
Radit membawa Abel keluar dari kamar mandi.
"Kalau kamu tidak bisa memasak jangan di paksakan, kamu istirahat saja." ucap Radit.
Abel mengangguk. Mereka makan terlebih dahulu.
"jangan terlalu kacapean yah, saya berangkat kerja dulu." ucap Radit. Abel mengangguk saja.
Radit berangkat ke kantor nya sedikit ragu-ragu meninggal kan istri nya di rumah.
Namun dia harus ke kantor hari ini. Sementara di tempat lain Enjel dan Heri baru bertemu di Tempat sarapan di lantai bawah apartemen Enjel.
"Apartemen kamu sangat nyaman sekali, aku sangat nyaman dan tidur ku sangat nyenyak sekali." ucap Heri.
Enjel hanya diam saja dan fokus pada makanan nya.
"Oh iya ngomong-ngomong kamu kok tinggal sendiri sih? Orang tua kamu kemana?" tanya Heri.
"Sudah tidak ada." ucap Enjel.
"Huss tidak boleh berbicara seperti itu." ucap Heri.
"Kamu bertanya, aku menjawab apa adanya." ucap Enjel.
"Setau aku orang tua kamu masih ada." ucap Heri.
"kamu sudah tau, kenapa bertanya lagi?"
"Tapi kan aku tidak tau mereka di mana sekarang, kamu juga tidak berbicara dengan mereka." ucap Heri.
"Orang tua ku sudah bercerai beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang masing-masing mereka sudah memiliki kehidupan baru. Papah dengan istri baru dan juga anak-anak nya. Sementara Mamah hidup bahagia dengan suami brondong nya." ucap Enjel.
"Aku minta maaf yah, seharusnya aku tidak bertanya itu."
"Aku tidak sedih, kenapa aku harus sedih? Justru aku sangat bahagia melihat mereka bahagia dengan pilihan mereka." ucap Enjel.
"Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Aku? Siapa yang perduli kepada ku? aku mati saja bahkan tidak ada yang perduli." ucap Enjel.
__ADS_1
"Orang tua ku sudah lama tidak akur, mereka selalu ribut dan setelah mereka Berpisah semua nya damai, aku juga tidak tertekan setiap hari mendengar mereka berisik. Mereka meninggalkan aku di rumah kami. Mereka tidak perduli kepada ku dan tidak ada yang perduli sampai sekarang pada ku." ucap Enjel.