
"Kak apa menurut kakak sebaiknya aku pindah saja ke kamar ku? Mila juga sudah tidak di sini." ucap Abel.
Radit langsung menggeleng kan kepala nya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, kamar ini adalah kamar kamu juga. Jangan harap kamu mudah pindah dari sini." ucap Radit.
"Aku takut kalau setiap malam kakak terganggu." ucap Abel.
"Maksudnya?" tanya Radit.
"Setiap malam antara sadar dan tidak sadar aku melihat kakak melakukan olahraga agar bisa tidur." ucap Abel.
Radit seketika langsung mengusap wajah nya.
"Oohh itu.. itu."
"Aku tau kakak tidak nyaman kan tidur bersama ku? pasti aku sangat banyak bergerak ketika tidur." ucap Abel.
"Enggak kok, bukan seperti itu, saya memang melakukan nya setiap hari sebelum tidur membentuk otot-otot saya." ucap Radit.
"Bentuk otot-otot? Biasanya kakak rajin olahraga, tidak pernah tuh ada orang olahraga sebelum tidur tengah malam." ucap Abel.
"Kata siapa gak ada? Ada kok" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Aku sebaik nya pindah saja kak, Farel juga bisa tidur di kasur." ucap Abel.
"Saya bilang tidak ya tidak, kamu tidak boleh pindah ke kamar itu." ucap Radit.
"Kamu berani menentang kata-kata suami kamu?" tanya Radit.
"Bukan menentang kak."
"Sudah-sudah jangan membicarakan hal itu, saya tidak suka." ucap Radit.
Dia menarik tangan Abel masuk ke dalam.
"Loh kakak mau membawa Farel kemana?" tanya Abel.
"Pindah kan ke tempat tidur nya." ucap Farel.
"Kenapa kak? Biarkan di sini saja." ucap Abel. "Saya membeli ini untuk dia tidur." ucap Radit.
Radit meletakkan. Farel dia langsung terbangun dan menangis. Abel menenangkan nya terlebih dahulu di tempat tidur.
"Kak tolong buatin susu untuk Farel." ucap Abel.
"Kenapa tidak susu kamu saja?" tanya Radit. Abel dengan kesal memukul lengan Radit yang berbaring di belakang nya.
"Jangan bercanda kak." ucap Abel. "Iyah.." Radit langsung membuat kan susu untuk Farel.
Farel minum susu. Radit memerhatikan nya.
Setelah Farel nyenyak Radit cepat-cepat memindah kan nya pelan-pelan agar tidak bangun.
"Saat nya waktu nya kita berdua sayang." ucap Radit langsung naik ke kasur dan memeluk istrinya.
"Maksud nya apa? Jangan aneh-aneh, nanti Farel bisa bangun." ucap Abel. Radit melihat Farel. "Dia sudah sangat nyenyak." ucap Radit.
Abel menoleh ke tempat tidur Farel dan dia benar-benar sangat nyenyak sekali.
__ADS_1
"Sekarang saatnya kita melakukan itu." ucap Radit.
"Kak Radit aku..."
"Belum siap lagi?" tanya Radit.
Abel menghela nafas. "Baiklah saya mengerti." ucap Radit turun dan memeluk Abel dari samping.
Keesokan harinya...
"Sayang saya berangkat dulu yah." ucap Radit mencium kening Abel yang sedang duduk di bawah bersama Farel.
"Hati-hati." ucap Abel. Radit mengangguk.
"Oh iya malam ini saya akan pulang lambat dari biasanya, kamu dan Farel bisa tidur duluan." ucap Radit.
"Pulang malam? Apa Kakak yakin mau pulang malam?" tanya Abel. "Maksudnya?"
"Humm aku..." Abel berdiri dia mendekati Radit.
Dia meletakkan tangan nya di dada Radit.
"Aku.. sudah siap kak, aku ingin menjadi istri kakak sepenuhnya." ucap Abel.
Radit terdiam sejenak. "Kok kakak diam sih? Kakak gak suka yah? Ya udah deh kalau begitu." ucap Abel.
Dia langsung menyusul Farel yang berjalan entah kemana.
"Baiklah saya akan mengusahakan cepat pulang. Kamu persiap kan diri sayang." ucap Radit memeluk Abel dari belakang.
Abel tersenyum. Radit mau mencium leher Abel namun langsung di tahan oleh Abel.
"Baiklah."
"Cepat lah berangkat, jangan sampai telat." ucap Abel. Radit yang full senyum mengangguk.
Terlihat sekali wajah nya sangat gembira sekali.
Di kantor Radit baru saja sampai.
"Selamat pagi Pak." Sapa Novi. "Pagi, tolong baca kan jadwal saya." ucap Radit.
"Hari ini cukup padat Pak." ucap Novi sambil membaca kan nya.
"Apa kira-kira makan malam itu bisa di batal kan?" tanya Radit.
"Tidak bisa pak, ini sudah di atur dua Minggu yang lalu." ucap Novi.
"Bagaimana kalau kamu saja yang mewakil kan saya?"
Novi menghela nafas.
"Tidak bisa pak, ini bukan sekedar makan malam saja." ucap Novi.
Radit terdiam sejenak. "Ya udah kalau begitu lanjut apa saja jadwal saya." ucap Radit.
Setelah selesai Novi melihat Radit sangat bersemangat sekali.
"Kelihatan nya bapak sangat senang hari ini, apa ada kabar bahagia?"tanya Novi. Radit menoleh ke arah Novi.
__ADS_1
"Kamu tau saja kalau saya sedang bahagia." ucap Radit.
Novi tersenyum.
"Saya senang karena istri saya." ucap Radit. Seketika senyuman Novi hilang.
"Sebenarnya saya harus pulang lebih awal hari ini karena sudah ada janji dengan istri saya, namun seperti nya tidak bisaa." ucap Radit.
Di rumah Abel membantu Bibik bersih-bersih.
"Sudah non, non istirahat lah " ucap Bibik kepada Abel yang sedang Memasak.
"Gak apa-apa Bik, ini untuk makan siang Kak Radit." ucap Abel.
"Biar non saja yang masak." ucap Bibik.
"Loh kenapa begitu bik? Biasanya aku yang masak." ucap Abel.
"Farel dari tadi menangis tidak mau sama Bibik." ucap Bibik.
Abel melihat ke arah Farel.
"Sudah bik, biar saja dia main sendiri seperti itu." ucap Abel.
Bibik tersenyum melihat Abel sangat santai menghadapi Farel.
"Bibik gak nyangka kalau Non Abel bisa merawat Farel sampai Farel sayang seperti itu kepada non Abel." ucap Bibik.
"Farel anak nya tidak terlalu rewel dan banyak tingkah bik, jadi enak." ucap Abel.
"Keponakan saja di sayang seperti ini, apa lagi anak nya nanti yah non " ucap Bibik.
Abel tersenyum.
Setelah selesai dia memasukkan makanan ke bekal khusus untuk suami nya.
"Sesekali Non harus mengantar sendiri makanan ini ke kantor Tuan." ucap Bibik.
"Pengen nya sih gitu bik, tapi aku belum bisa ke kantor, aku masih malu." ucap Abel.
"Bibik mengerti kok, ya udah sini Bibik antar ke supir."
Baru saja Bibik keluar Abel kaget melihat kedua orang tua nya datang.
"Mamah ... papah ke sini? Kok gak ngomong sih, aku jadi gak tau." ucap Abel.
"Kejutan.. mamah sama papah Rindu sama kamu. Sekalian mau lihat keponakan Radit." ucap mamah nya.
"Huff mamah sebenarnya merindukan aku atau Farel." ucap Abel. "Dua-duanya." ucap orang tua nya.
Farel sudah sering Video cal dengan orang tua Abel jadi sudah kenal.
Abel melihat papah dan Mamah nya sangat asik bermain dengan Farel.
Mereka sangat bahagia.
"Ternyata aku selama ini sangat egois tidak menuruti permintaan orang tua ku." batin Abel.
"Aku dan kak Radit adalah satu-satunya harapan mereka memberikan cucu kandung." ucap Abel dalam hati.
__ADS_1