Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 132


__ADS_3

"Enjel..." ucap Heri.


Enjel berhenti setelah sudah di dalam.


"Aku sangat mencintai kamu, aku tidak tau apa yang membuat aku seperti ini terhadap kamu, tapi aku benar-benar sangat takut kehilangan kamu. Aku takut kamu tidak akan pernah mencintai aku karena sifat ku yang sangat buruk." ucap Heri.


"Hum kamu benar, aku tidak akan pernah mencintai kamu karena sifat kamu." ucap Enjel.


Heri langsung menunduk kan kepala nya.


"Tapi kamu bisa berubah demi aku, dan aku juga akan belajar mencintai kamu." ucap Enjel. Heri Menaik kan kepala nya dia menatap wajah Enjel.


"Jangan senang dulu, aku butuh pembuktian kamu." ucap Enjel. Heri tersenyum dia langsung memeluk Enjel.


"Apa yang harus aku lakukan lagi?"


"Oh iya apa yang harus di lakukan oleh Heri? dia sudah sangat berubah, bahkan tidak pernah bergaul dengan perempuan." batin Enjel.


"Kenapa kamu Diam?"


Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada, kamu hanya cukup mencintai ku saja." ucap Enjel. Heri mendengar itu langsung tersipu malu.


"Tampa kamu minta aku sudah sangat mencintai kamu." ucap Heri. Enjel tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu aku akan tukar pakaian dulu." ucap Enjel. Heri menahan tangan Enjel.


"Tidak perlu. Aku mau ngajakin kamu keluar." ucap Heri.


"Kemana? Aku sedang tidak ingin keluar." ucap Enjel.


"Ikut saja." ucap Heri. "Apa kamu akan keluar dengan seperti ini?" tanya Enjel melihat penampilan Heri.


."Saya akan mengganti nya sebentar saja." ucap Heri.


Heri menukar pakaian nya dengan sangat cepat dan setelah itu mereka berangkat.


"Jangan memandangi ketampanan ku seperti itu." ucap Heri karena Sadar Enjel memerhatikan nya yang sedang menyetir.


"Huff kamu sangat pede." ucap Enjel. Heri tersenyum.


"Kita mau ke mana sih?" tanya Enjel.


"Sudah ikut saja." ucap Heri.


"Ke mall? Ngapain?" ucap Enjel.


"Nonton." ucap Heri.


Enjel mengikuti Heri masuk ke dalam bioskop.


Heri memilih Flim yang akan mereka lihat.


"Sudah lama aku tidak nonton." ucap Heri.

__ADS_1


"Oh ya?"


"Kamu tidak percaya?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.


Heri mencubit pipi Enjel.


"Kamu selalu saja tidak percaya kepada ku." ucap Heri. Enjel tersenyum.


"Ayo beli makanan dulu." ucap Heri. Setelah membeli makanan mereka masuk ke dalam bioskop.


Film sudah di mulai. Kedua nya sama-sama Fokus nonton. Namun Enjel tiba-tiba kefikiran mau iseng kepada Heri.


Tiba-tiba dia berpura-pura dingin.


"Sangat dingin sekali." ucap Enjel. Heri menoleh ke arah Enjel.


"Pakai lah jaket ku." ucap Heri memberikan Jaket nya kepada Enjel.


"Kamu gak apa-apa kedinginan?" tanya Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.


Heri tersenyum dia mengelus kepala Enjel dan lanjut kembali fokus kepada TV.


Namun tidak Beberapa lama Enjel tertidur. Flim belum selesai namun Enjel sudah ketiduran.


Heri menaruh Kepala Enjel di pundak nya.


Tidak beberapa lama akhirnya film selesai.


"Enjel bangun.. Film sudah selesai ayo kita keluar." ucap Heri.


"Humm.. Aku masih ngantuk jangan ganggu aku dulu." ucap Enjel.


"Kamu mau keluar atau aku akan mencium kamu?" ucap Heri.


Seketika Enjel langsung bangun.


"Iyah aku bangun." ucap Enjel. Dan langsung keluar.


Diki tersenyum.


Mereka Keluar dari bioskop.


"Aku ke kamar mandi dulu." ucap Enjel memberikan tas dan semua barang-barang nya kepada Heri.


Setelah pulang dari sana mereka makan dulu.


"Mau sampai kapan kita di sini?" tanya Enjel sudah bosan menunggu Heri yang main game di mall itu.


"Baiklah kita pulang dan istirahat." ucap Heri menyudahi permainan nya dan segera pulang.


Sementara di tempat lain Abel baru saja selesai makan. "Abel kamu gak apa-apa kan sendirian di rumah? Mamah mau jemput adik kamu dulu." ucap Mamah nya.


"Iyah mah gak apa-apa kok." ucap Abel.


Mamah nya pun pergi meninggalkan Abel sendirian di rumah.

__ADS_1


Baru saja mamah nya pergi namun sudah ada yang mengetuk pintu.


"Kenapa Mamah begitu cepat Pulang? Apa ada barang yang tinggal?" tanya Abel.


"Abel..." Ucap Radit. Abel langsung berdiri dan melihat ke arah pintu. Dia kaget melihat Radit berdiri di depan pintu.


"Kak Radit.." ucap Abel.


Radit tersenyum dia mendekati Abel dan memeluk nya. Tiba-tiba Abel menangis dia memeluk suaminya begitu erat sekali.


"Kenapa kak? Kenapa kakak baru pulang sekarang? kenapa kakak tidak bilang sama aku?" tanya Abel.


"Kakak minta maaf Abel, cerita nya panjang." ucap Radit.


Tiba-tiba Abel melepaskan pelukan nya.


"Kakak dari mana saja? Kakak harus segera menjelaskan semua nya kepada ku. Karena aku sangat marah kepada kakak."


"Kita pulang dulu yah, jangan di sini." ucap Radit.


"Tunggu dulu, aku akan mengabari mamah sama Papah dulu biar mereka tidak kecarian." ucap Abel.


Di perjalanan pulang Radit menceritakan semua nya karena keadaan di kota itu sangat darurat. Keadaan yang cukup buruk sehingga tidak ada jaringan.


Abel cukup percaya. Dia tidak jadi marah kepada suami nya itu.


Sampai di rumah Bibik menunggu mereka. Wajah nya terlihat sangat khawatir.


"Non baik-baik saja kan?"


"Tidak apa-apa Bik, aku tidak Marah kok, kak Radit sudah menjelaskan semua nya." ucap Abel.


"Menjelaskan semua nya?" ucap Bibik. "Sebaik nya kamu masuk ke dalam yah, nanti saya akan menyusul." ucap Radit kepada Abel.


"Bik aku mohon jangan sampai Abel tau. Nanti keadaan nya memburuk." ucap Radit.


"Tapi tuan cepat atau lambat Non akan tau."


"Ada waktu nya Bik." ucap Radit.


"Baiklah Tuan, saya ingin tuan segera jujur kepada non Abel sebelum semua nya terlambat." ucap Bibik.


Radit masuk ke dalam dia duduk di samping istri nya.


"Anak papah, apa kabar nak? Maaf yah papah pergi sangat lama membuat kamu sama mamah di sini." ucap Radit sambil mengelus perut Abel.


"Kalau dia bisa berbicara dia pasti sangat marah kepada kakak." ucap Radit. Radit mencium pipi Abel.


"Maafin saya yah, saya janji tidak akan pernah melakukan kesalahan ini lagi."


"Kakak membuat aku setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku tidak bisa melupakan kakak, aku Selalu bertanya-tanya kakak di mana, kakak lagi apa dan sedang apa." ucap Abel.


"Stthhh!!! Sudah jangan membahas itu lagi, saya minta maaf..Saya minta maaf." ucap Radit. Abel memeluk suaminya.


"Aku tidak ingin kehilangan Kakak, aku takut jauh dari kakak." ucap Abel.

__ADS_1


Radit tersenyum dia berusaha untuk menenangkan istri nya agar tidak berfikir yang aneh-aneh.


"Sudah-sudah jangan berfikir tentang itu lagi." ucap Radit.


__ADS_2