Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 188


__ADS_3

"Abel, kamu dari mana saja?" tanya Radit.


Tidak beberapa lama Mobil Enjel masuk.


Abel tidak menjawab Radit dia langsung masuk ke dalam. Radit melihat Enjel dan Novi.


"Kalian dari mana?"


"Dari Luar Pak, mbak Abel mau di temanin." ucap Novi.


"Apa dia marah kepada kalian berdua? Saya benar-benar minta maaf karena sudah melibatkan kalian." ucap Radit.


"Enggak kok pak, bapak tidak perlu khawatir." ucap Enjel.


"Lalu kenapa kalian di sini?" tanya Radit.


"Humm Abel meminta kami untuk tidur di sini malam ini pak." ucap Enjel.


Radit menghela nafas panjang. "Sebaiknya kalian pulang saja, saya minta maaf sekali lagi sudah merepotkan kalian." ucap Radit.


Akhirnya mereka memilih pulang, di sana sungguh sangat canggung.


"Novi dan Enjel kenapa pergi?" tanya Abel.


"Saya meminta mereka pulang dan istirahat, saya tidak enak untuk merepotkan mereka." ucap Radit sambil melihat minuman yang di tangan Abel.


"Lalu siapa yang akan minum minuman sebanyak ini?" ucap Abel dengan kesal.


"Sini saya akan meminum nya." ucap Radit. Abel memberikan nya dengan kasar di atas meja


Radit menghela nafas panjang.


"Kenapa kakak mengusir mereka? Apa salah mereka?" ucap Abel.


"Mereka mau istirahat juga Abel, tidak enak juga kalau membiarkan mereka di sini." ucap Radit.


"Itu hanya pikiran kakak saja, mereka bersenang hati mau menemani aku di sini." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang dia menatap Abel.


"Saya ada di sini menemani kamu, tidak enak juga kalau dalam situasi seperti ini mereka di sini.. Mereka juga harus bekerja besok." ucap Radit.


Abel menatap Radit. "Mereka tidak pernah keberatan, dan menjadi kan pekerjaan jadi alasan mereka. Tidak seperti kakak." ucap Abel.


"Jangan membandingkan saya dengan mereka." ucap Radit.


"Ya sudah kalau begitu. Aku malas berdebat dengan kakak. Habis kan minuman itu." ucap Abel dan pergi.


Radit diam memasang wajah bingung.


Dia melihat minuman yang ada di atas meja.


"Sudah satu Minggu lebih dia tidak membuat ku minum." ucap Radit tidak keberatan dia langsung minum Tampa henti.

__ADS_1


Abel melihat nya dari atas.


"Siapa suruh membuat aku kesel!" ucap Abel dengan kesal.


Keesokan harinya..


"Enjel.. kamu di mana? Aku dan Novi sudah menunggu di bawah." ucap Abel kepada Enjel.


Abel datang ke kantor suami nya hari ini.


"Sebentar, aku sudah turun ke bawah." ucap Enjel.


"Kemana Novi? kenapa tidak kunjung datang?" tanya Radit.


"Pak saya melihat Bu Abel bersama Bu Novi ada di bawah." ucap salah satu Staf Radit.


"Istri saya ada di bawah?" tanya Radit. Staf nya menginyakan.


Radit melihat ke lantai bawah. "Abel, Novi dan Enjel, ada apa?" ucap Radit.


"Abel apa kamu yakin mau bertemu dengan Tania hari ini juga?" tanya Enjel. Abel mengangguk.


"Aku lah yang sudah merebut Kak Radit dari dia, dia jauh lebih menderita dari pada aku." ucap Abel.


"Tapi..."


"Tidak apa-apa Enjel, aku baik-baik saja." ucap Abel.


Abel mengangguk.


"Kalian bisa kan menemani aku?" tanya Abel.


Novi menoleh ke arah lantai atas. Mereka ikutan.


"Tidak mungkin aku bisa ikut, sementara di sini saja pak Radit sudah memantau." ucap Novi.


"Bagaimana dengan kamu enjel?"


"Apa beda nya aku dengan Novi." ucap Enjel.


Abel menghela nafas panjang.


"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri kok." ucap Abel.


"Kamu hati-hati yah, jangan emosi kalau sudah bertemu dengan Tania." ucap Novi. Abel mengangguk


Setelah selesai berbicara dengan mereka akhirnya Abel pergi.


"Mau kemana Abel?" tanya Radit.


"Itu pak."


"Kemana?" tanya Radit mendesak.

__ADS_1


"Mau bertemu dengan mbak Tania."


"Ngapain? untuk apa?" ucap Radit kaget.


Di perjalanan ke apartemen Tania.


"Aku juga seorang perempuan, aku sudah banyak mengatakan hal buruk kepada ku, aku harus minta maaf demi kebaikan ku, anak dan juga keluarga ku." ucap Abel dalam hati.


Setelah beberapa lama akhirnya Abel sampai di apartemen Tania.


Sampai di depan pintu apartemen Tania.


Abel Sedikit ragu, dia tidak berani karena sebelumnya sudah marah kepada Tania.


"Aku tidak yakin dia akan memaafkan aku." ucap Abel.


Namun belum sempat mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka membuat Abel kaget.


"Abel! Kenapa kamu di sini?" tanya Tania. Abel melihat Tania memegang sampah di tangan nya.


"Aku ke sini mencari kamu."


"Radit tidak ada di sini. Aku dan Radit juga sudah mengajukan perceraian ke pengadilan kamu tidak perlu khawatir." ucap Tania.


Abel terdiam. "Kamu masuk lah terlebih dahulu. Kamu tidak boleh berdiri lama-lama seperti ini, aku akan membuang sampah." ucap Tania.


Abel mengangguk dia masuk ke dalam.


Dia masuk ke apartemen Tania dan sangat kaget semua dinding apartemen Tania penuh dengan foto Tania bersama Radit.


Foto pernikahan, tunangan, pacaran dan juga jalan-jalan, bahkan foto-foto romantis lain nya.


"Aku minta maaf belum membuka foto itu, aku tidak tau kalau kamu akan datang ke sini." ucap Abel sambil mengumpulkan semua foto namun di tahan oleh Abel.


"Tidak apa-apa, aku paham kok. Aku ke sini mau minta maaf sama kamu." ucap Abel.


"Minta maaf? Untuk apa? bukan kah kamu yang tersakiti?" tanya Tania.


"Aku minta maaf karena sebelumnya aku salah paham. Aku sudah banyak mengatakan hal-hal yang menyakitimu." ucap Abel.


"Aku tidak tau harus bagaimana lagi, aku jujur syok mendengar semua nya, aku jelas tidak tau kalau semua nya seperti ini." ucap Abel.


"Aku tau kalau kamu tidak akan memaafkan aku, aku sudah merebut kak Radit dari kamu, aku juga sudah menuduh kamu yang tidak-tidak." ucap Abel.


Tania menggeleng kan kepala nya.."Jangan minta maaf dan mengatakan hal seperti itu. Kamu tidak salah, ini semua karena aku dan juga Radit..Kamu hanya menjadi korban." ucap Tania.


"Tapi tetap saja Tania, aku yang sudah merebut kak Radit dari kamu." ucap Abel. Tania menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok, siapa bilang? Aku tidak merasa seperti itu. Justru aku Sendiri yang meminta kak Radit pergi dengan sifat ku, dan aku yang membuat kamu dan Radit seperti ini." ucap Tania.


"Aku yang salah karena memaksa Radit pada saat itu menikahi ku walaupun aku sudah tau kalau Radit sudah memiliki tunangan." ucap Tania.


"Dan aku juga yang meninggal kan Radit dan mengabaikan nya sehingga dia hilang rasa kepada ku. Dia di paksa menikah Oleh orang tua nya, dia meminta ijin kepada ku untuk mengurus surat cerai. Namun aku tidak mau karena aku sangat egois, aku masih membutuhkan uang Radit." ucap Tania.

__ADS_1


__ADS_2