
Abel tersenyum. Bibik melihat Abel sangat berbeda hari ini. Namun Bibik tidak terlalu memikirkan nya.
"Hari ini Tuan tidak bekerja?" tanya Bibik.
"Tidak bik, Abel seperti nya kecapean jadi saya akan menjaga Farel." ucap Radit.
"Oohh begitu yah Tuan. Tapi saya juga bisa menjaga Farel." ucap Bibik.
"Tidak bikk.. Bibik sudah tua, menjaga anak kecil butuh tenaga yang banyak, nanti Bibik bisa sakit menghadapi Farel yang sangat aktif." ucap Radit.
Bibik tersenyum. dia sangat bersyukur mendapatkan majikan yang baik. Sama seperti majikan perempuannya.
Mereka benar-benar sangat Cocok, tidak sombong dan juga jahat.
Setelah selesai sarapan Abel bantu Bibik di dapur. Radit duduk di ruang bersama Farel.. Radit bekerja sementara farel Sibuk dengan mainan nya.
"Non baik-baik saja kan?" tanya Bibik.
"Baik-baik saja bik, emang nya kenapa?" tanya Abel.
"Non terlihat sangat berbeda hari ini." ucap Bibik.
"Tidak apa-apa kok bik, ya udah kalau begitu aku ke depan dulu bik." Abel tidak bisa lama-lama di sana, Bibik akan banyak bertanya kepada nya.
Radit melihat Abel duduk di sofa samping nya.
"Kamu jangan banyak gerak dulu sayang, kamu istirahat saja di kamar." ucap Radit.
Abel memukul paha Radit. "Bisa gak sih jangan terlalu berlebihan, aku malu kalau Bibik mendengar nya." ucap Abel.
Radit melihat ke arah dapur. "Tidak mungkin Bibik mendengar nya." ucap Radit. Abel menghela nafas.
"Sebaiknya aku ke kamar saja." ucap Abel.
karena kesal dia berdiri tidak ingat kalau pinggang nya sakit.
"Tuh kan sudah di bilang jangan banyak bergerak." ucap Radit. "Ini karena kakak." ucap Abel. tambah kesal dan langsung pergi meninggalkan suami nya.
Sampai di kamar dia berbaring sambil main handphone nya.
Tiba-tiba Bunyi telpon dari Mila.
"Halo Mila." ucap Abel.
"Kak temanin aku beli Laptop baru dong." ucap Mila.
"Beli laptop kemana? Emangnya laptop kamu kemana?" tanya Abel.
"Laptop ku sebelum nya sudah rusak kak." ucap Mila. "Kamu minta tolong sama mamah saja, kakak tidak bisa pergi karena tidak ada yang jaga Farel, kakak juga kurang enak badan." ucap Abel.
"Tapi..."
"Apa lagi?" tanya Abel.
"Masalah nya bukan tentang teman kak." ucap Mila.
Abel terdiam sejenak memikirkan apa yang di maksud Mila.
__ADS_1
"Masalah uang kakak tidak bisa memastikan bisa membantu dek, kamu tau sendiri kakak sekarang tidak bekerja seperti Dulu." ucap Abel.
"Tapi kak..."
"Bilang saja sama mamah dan papah mereka pasti membelikan nya." ucap Abel.
"Aku tidak berani kak, mereka akan marah dan aku harus menjelaskan dengan sangat jelas agar menyakinkan mereka." ucap Mila.
Abel tau kalau Mila takut. "Ya udah kalau begitu kakak akan mengusahakan nya." ucap Abel.
Di sore hari nya Radit baru saja selesai memandikan Farel.
"Besok Farel akan di jenguk oleh orang tua nya." ucap Radit.
"Mereka mau menjemput Farel?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Hanya menjenguk saja." ucap Radit.
"Oohh." ucap Abel bernafas lega, Farel berbaring sambil minum susu.
"Bagaimana? apa masih sakit?" tanya Radit duduk di samping Abel.
"Sedikit." ucap Abel.
"Sebaiknya kamu mandi gih, setelah itu saya akan mengoleskan obat nya." ucap Radit.
"Biar aku sendiri saja." ucap Abel.
"Kamu harus mulai terbiasa dengan ini Abel, tidak perlu malu seperti itu." ucap Radit.
Abel diam. "Kak aku boleh minta sesuatu gak?" tanya Abel.
Abel sedikit tidak enak berbicara dengan suami nya.
"Katakan saja, apapun yang kamu mau saya akan membeli nya." ucap Radit.
"Aku butuh uang 10jt." ucap Abel.
"Untuk apa?" tanya Radit.
"Huff aku harus jawab apa yah? Tidak mungkin aku bilang untuk Mila, kak Radit akan keberatan." ucap Abel.
Radit menjulurkan kartu kepada Abel.
"Ambil saja yang kamu perlukan." ucap Radit.
Abel mengambil kartu itu. "Ini Seriusan kan?" tanya Abel.
Radit mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya jangan lupa beli pakaian untuk aktivitas malam kita." ucap Radit.
"Hah? maksudnya?" tanya Abel.
"Lingerie." ucap Radit. Abel terdiam.
"Saya melihat banyak Hadiah pakaian seperti itu yang kamu buang." ucap Radit.
__ADS_1
"Humm kalau boleh sejujurnya aku tidak suka dengan pakaian seperti itu, bisa tidak menukar nya dengan pakaian piyama biasa." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Tidak bisa! Saya ingin kamu memakai baju itu." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Humm kalau begitu aku tidak jadi memakai uang kakak." ucap Abel.
"Menolak permintaan suami adalah dosa." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Jangan kan memakai nya, membeli nya dan menenteng keluar dari mall saja aku sangat malu." batin Abel.
Radit mendekati Abel, dia membuat Abel sambil tertidur.
"Kak apa yang kakak lakukan?" tanya Abel. "Kalau kamu tidak menuruti permintaan suami kamu ini, saya akan menghukum kamu." ucap Radit.
"Aku akan memakai nya suatu saat nanti kak." ucap Abel. Radit tersenyum. "Nah gitu dong, saya tidak memaksa kamu memakai nya sekarang." ucap Radit.
"Minggir dari ku kak." ucap Abel. Radit mencium bibir Abel.
"Malam ini biarkan Farel tidur dengan Bibik yah." ucap Radit. Abel Menatap Radit.
"Kenapa?" tanya Radit.
"Saya ingin mendengar kamu mendesah tampa mengkhawatirkan Farel bangun." ucap Radit.
"Bisa gak sih jangan membicarakan arah ke sana terus?" ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa! Saya sedang tergila-gila karena mu." ucap Radit.
Abel menatap wajah Radit. "Aku harap kakak tidak bosan dengan ku." ucap Abel.
"Tidak akan pernah, saya menunggu kamu bertahun-tahun tidak semudah itu untuk bosan saya sangat mencintai kamu." ucap Radit.
Abel selalu saja luluh dengan kata-kata suami nya itu.
Perut Abel bunyi karena lapar.
"Upss.. maaf..." ucap Abel. Radit tertawa. "Kamu gemes banget sih." ucap Radit.
"Kamu tunggu di sini, saya akan mengambil makanan ke bawah."
Setelah selesai makan mereka menonton TV bersama di kamar. Farel duduk di tengah-tengah.
Sementara di tempat lain Enjel bertemu dengan Novi parkiran.
"Enjel!" panggil Novi.
"Iyah Bu."
"Kamu teman dekat Abel kan?" tanya Novi.
Enjel mengangguk.
"Bilang sama Abel agar lebih sadar diri, dia sama sekali tidak cocok dengan pak direktur." ucap Novi.
"Maksud ibu seperti apa? Saya tidak mengerti."
"Tidak perlu berpura-pura tidak tau, kamu juga pasti setuju dengan saya kalau mereka sama sekali tidak cocok, dan saya yakin kalau pak direktur hanya main-main." ucap Novi dan setelah itu pergi.
__ADS_1
Enjel menghela nafas panjang. "Sudah benar dugaan ku kalau sekretaris Novi suka sama pak direktur." batin Enjel.