
Abel menghela nafas panjang. Dia sebenernya sudah sangat lapar akhirnya dia pun mau makan bersama Radit.
Radit sangat perhatian kepada Abel, dia bersikap peduli, ramah dan melayani Abel dengan baik.
"Kalau kakak Melakukan ini agar aku luluh itu tidak mungkin, aku masih marah kepada kakak."
"Terserah kamu mau marah atau tidak, saya akan berusaha mendapatkan maaf kamu. sampai kapan pun itu." ucap Radit.
Abel diam dan lanjut Makan.
"Oh iya mamah sama papah mengundang kita makan malam bersama mereka." ucap Radit.
"Aku tidak ingin pergi."
"Jangan seperti ini Abel, jangan sampai mereka khawatir lagi dengan kita." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Huff Iyah juga sih, aku tidak ingin orang tua kami khawatir." batin Abel.
Akhirnya dia menginyakan.
"Baiklah-baiklah aku akan pergi, tapi aku tidak mau satu mobil sama kakak." ucap Abel.
"Kalau kita tidak satu mobil bagaimana tanggapan orang tua kita nanti kalau melihat itu?" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Baiklah aku akan duduk di belakang." ucap Abel.
Di sore hari nya Radit dan Abel sudah siap-siap mau berangkat ke rumah orang tua mereka. "Kenapa memakai supir?" tanya Abel.
Radit tidak menjawab dia Duduk di belakang bersama Abel.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Radit menahan tangan Abel.
"Aku tidak mau dekat dengan Kakak."
"Abel..." ucap Radit. Abel segan pada supir nya akhirnya dia memilih untuk diam.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah mertua nya. Abel dan Radit harus bersandiwara kalau semua nya baik-baik aja."
"Malam ini kalian menginap di sini yah nak." ucap orang tua Radit.
"Kamu pulang saja mah, lagian Besok kak Radit bekerja.
"Bisa libur sehari." ucap orang tua Radit.
"Iyah mah gak apa-apa kok." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Selama ini dia selalu bilang bekerja dan bekerja. Akhir-akhir ini dia bahkan menghabiskan waktu nya untuk mengawasi aku." ucap Abel dalam hati mengumpat.
Tidak beberapa lama akhirnya waktu nya untuk istirahat.
Radit masuk ke kamar dia melihat di sofa sudah ada bantal dan juga selimut.
"Kakak tidur di sofa." ucap Abel.
__ADS_1
Radit duduk di pinggir kasur. Abel langsung bangun dan menatap nya.
"Kakak jangan coba-coba untuk membantahnya." ucap Abel.
"Abel mau sampai kapan kamu marah seperti ini kepada saya? saya sudah melakukan semua nya agar kamu memaafkan saya. Namun sampai sekarang bahkan sudah hampir dua Minggu." ucap Radit.
Abel diam. Dia mengingat kata-kata Tania.
"Saya tau kamu kecewa kepada saya, namun saya melakukan Seperti ini ada alasan nya." ucap Radit.
"Aku tidak bisa percaya kepada laki-laki pembohong kak." ucap Abel.
"Kamu tidak bisa menyamakan saya dengan mantan Kamu." ucap Radit.
Abel menatap Radit. "Baiklah saya minta maaf, saya tidak akan memaksa kamu." ucap Radit.
dengan wajah kecewa, sedih dia langsung tidur di sofa.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Abel dan Radit masih sama. Belum akur sama sekali.
"Bagaimana keadaan hubungan kalian?" tanya Tania kepada Abel yang di ajak bertemu di luar.
"Masih sama." ucap Abel.
Tania menghela nafas panjang.
"Aku mengajak kamu bertemu di sini mau memberi kan ini. Ini adalah Sidang pertama aku dengan Radit di pengadilan. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh." ucap Tania.
Abel tinggal sendirian di sana.
"Abel." ucap seseorang yang tidak sengaja melihat Abel di sana.
Abel menoleh ke arah pria yang memanggil nama nya.
"Gaga." Ucap Abel terkejut. Gaga tersenyum dia melihat perut Abel.
"Kamu apa kabar?" tanya Gaga. Abel berdiri dari duduknya.
Abel melihat perempuan yang berjalan di belakang Gaga. Perempuan yang jelas dia ingat siapa itu.
"Kamu kok sendirian sih di sini? suami kamu mana?" tanya Gaga.
"Huff aku dengar kalau kamu menikah dengan pria kaya yang sudah memiliki istri. Sangat malu sekali seperti tidak ada laki-laki lain saja dan sekarang kamu hamil nasib kamu sangat buruk." ucap Gaga.
Tiba-tiba Radit datang dia langsung merangkul pinggang Abel.
"Siapa anda berhak mengatakan hal seperti itu kepada istri saya? Dari mana anda mendengar rumor tersebut?" ucap Radit tiba-tiba datang.
Mereka terdiam ketika Radit datang.
"Menikah atau tidak, memiliki istri atau tidak itu tidak ada urusan nya dengan anda, sebaiknya anda mengurus hidup anda dengan perempuan murahan ini!" ucap Radit karena dia kenal juga dengan Radit.
Perempuan yang berani menggoda Radit.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu tentang calon istri saya!" ucap Gaga.
Radit tersenyum. "Kalau tidak ingin saya berbicara seperti itu jangan ganggu istri saya." ucap Radit.
Akhirnya mereka langsung pergi dari sana..
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Radit langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Abel.
Abel menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa kamu di sini? sebaiknya kita pulang." ucap Radit.
Abel mengangguk. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di Antara mereka berdua.
Radit diam dan Abel juga diam.
Sesampainya di rumah seperti biasa Abel akan langsung masuk ke kamar.
"Tok!! Tok!! apa kamu tidak makan malam?" tanya Radit setelah pintu di buka. Abel keluar dari kamar dan berjalan ke meja makan.
Abel tanpak tidak berselera dengan makanan yang di Masak oleh Radit.
"Kalau kamu tidak mau makanan yang saya Masak, saya akan memesan makanan dari luar." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu, aku hanya tidak berselera Makan saja, aku baru saja selesai makan tadi sore dari luar bersama Tania." ucap Abel.
"Dengan Tania?" tanya Radit.
"Iyah, dia bilang kalau besok sidang pertama perceraian Kalian." ucap Abel.
Radit diam. "Aku ingin ikut." ucap Abel.
"Kamu yakin mau ikut?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Kamu tidak percaya yah kalau kami benar mengurus nya?"
"Aku hanya ikut saja, aku ingin melihat nya karena sebelumnya aku tidak pernah melihat sidang perceraian. Dan aku juga ingin mendengar penjelasan kakak di sana."
"Kalau kamu mau mendengar penjelasan nya, saya akan mengatakan nya di sini." ucap Radit.
"Aku tidak mau mendengar nya, aku ingin mendengar nya di pengadilan." ucap Abel.
Sidang terus berjalan sampai sidang terakhir. Abel duduk di belakang mendengar perceraian mereka sudah sah.
Mereka keluar dari sana. Tidak sengaja Abel melihat Tania menangis di pelukan Zaki.
Radit melihat nya. Namun Radit memilih diam saja.
"Kak." ucap Abel. Radit baru sadar kalau istri nya di belakang nya.
Radit tersenyum menatap wajah Abel.
"Sekarang kamu satu-satunya perempuan yang ada di dalam hidup saya." ucap Radit.
__ADS_1