Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 78


__ADS_3

Melihat gambar ibu hamil dia mengelus perut nya.


"Ini sangat aneh kenapa aku tiba-tiba menginginkan nya? Padahal aku sangat takut hamil." batin Abel.


Abel menjaga Farel hari ini cukup melelahkan dia tidak bisa melakukan apapun karena Farel tidak bisa di tinggal sama sekali.


"Kak Radit kenapa belum pulang sih? Aku mau mandi sudah bau keringat." ucap Abel. Karena tidak ada tanda-tanda Radit pulang akhirnya dia membawa Farel mandi.


"Gak apa-apa Abel itung-itung belajar." batin Abel. Dia dengan sangat senang membawa Farel mandi.


Sampai di kamar mandi mereka malah main air sampai satu jam.


Radit baru saja pulang.


"Assalamualaikum..." Dia tidak melihat siapapun di ruang tamu, dia melihat ke kamar tidak ada juga.


Namun tiba-tiba mendengar suara dari kamar mandi luar.


"Loh kenapa mereka mandi di sana?" ucap Radit dia mendekati kamar mandi tersebut.


Mengetuk nya namun tidak ada suara sautan hanya suara air, teriakan Farel dan tertawa nyaring Abel.


Radit kembali ke kamar dia melihat kamar sedikit berantakan.


Merapikan sedikit agar enak di lihat. Dia melihat ranjang baru Farel. "Mungkin untuk saat ini mengasuh Farel, semoga secepatnya di berikan anak." ucap Radit.


"Sangat dingin sekali." ucap Abel baru saja selesai mandi dia kaget melihat Radit duduk di pinggir kasur melihat ke arah dia dan juga Farel.


Kedua nya masih sama-sama mengunakan handuk di badan.


"Kak Radit." ucap Abel dia langsung menurunkan Farel dan menutup bagian dadanya.


Sementara Radit pura-pura tidak melihat apa-apa.


"Kakak gak ngomong sih kalau sudah pulang?" ucap Abel setelah sudah memasang baju nya.


"Saya sudah mengetuk pintu kamar mandi, namun kamu tidak mendengar nya."


"Aku tidak mendengar nya."


"Ya sudah tidak perlu di permasalahkan lagian saya tidak melihat apa-apa. Lagian ini bukan pertama kalinya." ucap Radit.


Abel memukul punggung Radit dengan popok Farel.


"Jangan coba-coba mengatakan itu lagi." ucap Abel. Radit tertawa.


Radit melihat Abel yang memasang pakaian Farel.


"Saya pikir kamu tidak akan suka kepada Farel dan ternyata sekarang dia lebih dekat dengan mu, kamu juga lebih perduli kepada Farel dari pada saya." ucap Radit.


"Awalnya aku juga aku berfikir seperti itu, tapi semakin ke sini aku sangat suka. Aku jadi tidak bosan di rumah. Walaupun sedikit melelahkan." ucap Abel.


"Jadi kamu sudah siap memiliki anak?" tanya Radit. Abel menatap wajah Radit.

__ADS_1


"Saya hanya bercanda." ucap Radit langsung.


"Sebaiknya kakak pergi mandi." ucap Abel.


Radit mendekati Abel mau memeluk nya namun Abel tidak mau.


"Pergi mandi dulu, kakak bau keringat." ucap Radit.


Radit menghela nafas panjang. Dia mau memeluk Farel namun Abel langsung melarang nya.


"Kakak dari luar banyak bertemu dengan orang asing. Pasti di badan kakak banyak kuman. Anak kecil sangat sensitif." ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Saya masih lelah." ucap Radit.


"Justru setelah selesai mandi kakak bisa istirahat." ucap Abel.


"Berikan saya pelukan dulu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepalanya.


"Aku tidak mau memeluk pria yang baru keringat." ucap Abel.


Radit berdiri. "Kalau saya mandi saya boleh peluk kamu?" tanya Radit. Abel mengangguk.


"Kamu bisa memeluk ku dan juga Farel." ucap Abel. Radit sangat bersemangat dia mengambil handuk nya dan segera pergi ke kamar mandi.


Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar mandi dia melihat Abel sedang bermain dengan Farel di atas kasur.


"Sayang..." Ucap Radit memeluk Abel langsung sampai Abel tertidur.


"Kak Radit..." Ucap Abel kaget.


"Kak lepasin." ucap Abel.


"Kenapa? saya sudah mandi, kamu bilang kalau saya sudah selesai mandi saya bisa memeluk kamu " ucap Radit.


"Bukan begitu kak, tapi Farel menangis." ucap Abel. Radit melihat ke arah Farel. Mungkin dia berfikir Radit menyakiti Abel sampai dia mau menangis.


Radit langsung memeluk Farel.


"Mamah... Mamah..." ucap Farel meminta pelukan Abel, tidak mau di peluk oleh Radit.


Abel tertawa melihat wajah Radit.


"Ya ampun saya tidak melakukan apapun, saya hanya memeluk Abel " ucap Radit.


Dia mau memeluk lagi namun Farel tambah nangis.


Sekarang Radit yang cemburu.


Radit dekat dengan Abel saja tidak di ijinkan oleh Farel.


Karena tidak bisa dekat-dekat dengan Abel dia pun pergi dari kamar itu agar Farel berhenti nangis.


Abel melihat jam sudah di angka sembilan.

__ADS_1


"Farel waktu nya tidur yah." ucap Abel. Farel tidak mau dia mau main.


"Kalau kamu tidak tidur nanti Om Datang loh." ucap Abel memaksudkan Radit.


Farel di bujuk tidur dan beberapa menit dia akhirnya tidur.


"Kak Radit tadi kemana yah?" batin Abel. Dia mencari keluar.


"Kak..." Tidak ada di ruang tamu atau di depan TV, dia melihat lampu ruangan kerja Radit hidup.


"Kak Radit..." panggil Abel dan ternyata Radit masih bekerja.


"Kak berhenti lah bekerja, ini waktu nya istirahat ." ucap Abel. Radit menoleh ke arah Abel.


"Sebentar lagi yah. Kenapa kamu meninggalkan Farel?" tanya Radit.


"Dia sudah tidur." ucap Abel. "Bagus deh." ucap Radit. Dia menarik tangan Abel dan duduk di paha nya.


"Aku akan mengganggu kalau seperti ini kak." ucap Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya. "Temani saya sebentar." ucap Radit. Abel mengangguk.


"Kak Radit... apa yang kakak lakukan?" ucap Abel karena Radit tidak berhenti mencium lengan nya.


"Kamu sangat wangi." ucap Radit.


Abel tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.


"Kakak yakin tidak mau makan? a-aku bisa Memasak kan apa yang kakak mau." ucap Abel.


"Tidak apa-apa, kamu sudah capek seharian, saya juga sudah makan dari luar sebelum pulang." ucap Radit.


"Oohh ya udah deh." ucap Abel. Mereka masuk ke kamar.


"Kak apa menurut kakak sebaiknya aku pindah saja ke kamar ku? Mila juga sudah tidak di sini." ucap Abel.


Radit langsung menggeleng kan kepala nya.


"Itu tidak akan pernah terjadi, kamar ini adalah kamar kamu juga. Jangan harap kamu mudah pindah dari sini." ucap Radit.


"Aku takut kalau setiap malam kakak terganggu." ucap Abel.


"Maksudnya?" tanya Radit.


"Setiap malam antara sadar dan tidak sadar aku melihat kakak melakukan olahraga agar bisa tidur." ucap Abel.


Radit seketika langsung mengusap wajah nya.


"Oohh itu.. itu."


"Aku tau kakak tidak nyaman kan tidur bersama ku? pasti aku sangat banyak bergerak ketika tidur." ucap Abel.

__ADS_1


"Enggak kok, bukan seperti itu, saya memang melakukan nya setiap hari sebelum tidur membentuk otot-otot saya." ucap Radit.


__ADS_2