Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 28


__ADS_3

Setelah beberapa lama akhirnya Radit pulang tepat jam enam sore.


Tapi dia tidak langsung pulang karena kalau di rumah akan membuat pikiran nya sakit. Dia mengajak Aji dan Tomi nongkrong di tempat biasa.


"Seharusnya Setelah pulang bekerja seperti ini kamu harus pulang ke rumah, kasian istri mu menunggu." ucap Tomi.


"Sesekali bro, jangan karena menikah aku jadi tidak memiliki waktu dengan teman ku." ucap Radit.


"Kamu tidak perlu khawatir kan kami, kalau kami ingin bertemu dengan mu kami tinggal datang menemui loe." ucap Aji.


"Aku sudah lama tidak seperti ini bersama kalian."


Tengah malam dia sudah sangat lelah, dia memutuskan untuk pulang ke rumah nya. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah.


"Apa dia tidak ada di rumah? Kenapa dia tidak menghidupkan lampu di depan?" ucap Radit.


Dia masuk menghidupkan lampu. "Abel..." panggil Radit namun tidak ada jawaban dari dalam.


"Kemana dia?" Akhirnya Radit mencari ke kamar nya.


"Kenapa dia tidur tidak mengunci pintu dan juga tidak menghidupkan lampu?" ucap Radit.


"Abel!" panggil Radit dari pintu. Abel bergeliat dia melihat ke arah Radit.


"Hummm ada apa?" tanya Abel.


"Kenapa kamu tidak mengunci Pintu sebelum tidur?" tanya Radit.


"Huff sudah lah, lagian tidak ada yang hilang kan? Aku sangat ngantuk." ucap Abel lanjut tidur lagi.


Radit menghela nafas panjang.


Radit menutup pintu kamar. Karena sudah sangat gerah akhirnya dia memutuskan untuk mandi sebelum tidur.


Tapi di saat sudah tidur dia tiba-tiba lapar.


"Huff aku baru ingat kalau aku belum makan malam." ucap Radit. Dia pun keluar untuk makan terlebih dahulu.


Namun dia tidak melihat makanan di atas meja.


"Apa Abel tidak masak?" ucap Radit.


"Tok!! Tok!! Tok!!" Dia mengetuk pintu kamar Abel.


Beberapa lama akhirnya terbuka.


"Ada apa sih kak? Aku sudah bilang aku sangat ngantuk sekali." ucap Radit.


"Saya sangat lapar, saya belum makan, kenapa kamu tidak masak?" tanya Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Kenapa kakak tidak makan dari luar?" tanya Abel masih setengah sadar.


"Saya tadi tidak lapar di luar, sebaiknya kamu masak sekarang untuk saya." ucap Radit.

__ADS_1


Abel menggeleng kan kepala nya.


"Pesan saja dari luar kak." ucap Abel.


"Kamu adalah istri saya, sudah tugas kamu untuk menyiapkan makanan saya." ucap Radit.


"Kalau seperti ini sebaiknya saya tidak perlu menikah, kamu membuat saya semakin pusing saja." ucap Radit langsung pergi.


Radit meninggalkan Abel yang terdiam. "Huff dia hanya bisa marah saja, siapa suruh pulang terlalu larut seperti ini." ucap Abel.


Radit ke bawah dia melihat sesuatu yang bisa di masak di dapur. Semua nya bahan-bahan lengkap.


"Saya harus sabar menghadapi Abel, seharusnya saya tidak boleh kecewa seperti ini karena semua sifat Abel seperti ini sudah ada di ramalan itu." ucap Radit.


Keesokan harinya....


Radit baru saja bangun dia melihat di luar sudah terang.


Segera bergegas dari tempat tidur nya dia berjalan ke dapur sambil membawa handuk di leher nya.


Setelah sudah rapi dia keluar dari kamar nya siap ke kantor.


Radit melihat Abel yang sedang duduk di sofa sambil menonton. "Kakak sudah bangun?" ucap Abel melihat Radit.


Radit hanya diam saja.


"Hari ini aku ada janji dengan teman ku." ucap Abel.


"Pergilah." jawab Radit.


"Ambil lah ini." Radit memberikan kartu.


"Ini untuk apa?" tanya Abel.


"Untuk belanja kamu di luar nanti. Kamu bisa memakai kartu itu membeli semua yang kamu butuhkan." ucap Radit.


"Ini seriusan?" tanya Abel.. Radit mengangguk.


"Terimakasih banyak, tidak sia-sia aku menikah dengan orang kaya seperti kakak." ucap Abel.


Radit diam. "Kakak mau berangkat bekerja kan? Kakak hati-hati yah." ucap Abel.


Radit mengangguk dia langsung pergi.


Di perjalanan ke kantor Radit tidak bisa berhenti memikirkan rumah tangga nya bagaimana ke depan nya.


"Apa yang harus saya lakukan kedepannya? Bagaimana kalau orang tua saya tau tentang hal ini dan mereka akan marah." ucap Radit.


Abel duduk di pinggir kasur.


"Kenapa aku merasa kehidupan ku setiap hari nya semakin membosankan sih?" ucap Abel.


Dia melihat ke arah kartu dari Radit.

__ADS_1


"Apa aku harus membeli handphone baru dengan kartu ini?" ucap Abel.


Abel segera mandi setelah itu dia siap-siap karena teman nya sudah menunggu.


Sesampainya di mal tempat mereka janjian mereka semua mengintrogasi Abel. Karena dua Minggu lebih hilang kabar nya.


Kalau bukan salah satu teman nya datang mencari Abel ke rumah orang tua nya mungkin mereka tidak akan tau kabar nya.


Karena orang tua nya yang menelpon ke rumah Radit.


Melihat teman-teman nya masih belum menikah membuat dia sangat iri sekali. Walaupun suami nya tidak mengekang dia tapi tetap saja rasa nya berbeda sangat jauh.


"Kamu dari tadi diam saja, wajah kamu sangat lesu apa kamu sedang sakit?" tanya Temen nya.


"Enggak kok, aku hanya memikirkan sesuatu." ucap Abel.


"Kenapa? Tentang Gaga?" tanya temen nya.


"Sudah jangan membahas itu, aku tidak mau mendengar nama nya lagi." ucap Abel.


"Aku tidak habis pikir sih dengan Gaga. Ngomong-ngomong kamu mau melabrak cewek yang sudah membuat hubungan kamu dengan Gaga hancur?" tanya teman nya.


Abel Menatap teman nya.


"Aku tau di mana dia tinggal, aku juga tau kalau dia adalah perempuan bayaran." ucap teman nya.


"Aku tidak mau berurusan lagi dengan dia, sudah lah." ucap Abel.


"Apa kamu tidak mau membalas kan dendam mu?" ucap Teman nya.


Abel terdiam sejenak. "Kamu pikir-pikir dulu, kalau kamu sudah siap segera kabari aku." ucap teman nya. Abel mengangguk.


Cukup lama dia di sana bersama teman nya, Abel memutuskan untuk berpisah lagi dengan mereka karena dia mau belanja.


Dari dulu Abel selalu sangat suka berbelanja sendiri. Dia tidak pernah mau di temanin kecuali bersama Adik Nya.


Namun karena adik nya sedang kuliah jadi mereka tidak bisa bersama pergi belanja.


Dia membeli handphone keluaran terbaru.


"Kapan lagi aku bisa menikmati uang suami ku sendiri, aku tidak boleh menyia-nyiakan ini." Dia mencari baju, sepatu dan juga tas.


"Permisi Pak." Tiba-tiba Novi masuk ke ruangan Radit.


"Iyah ada apa?" tanya Radit.


"Saya melihat kartu kredit bapak yang satu lagi Sangat banyak di gunakan." ucap Novi.


Radit melihat nya. Dia cukup kaget karena tiba-tiba mendadak tagihan nya menjadi sangat banyak tidak hal wajar.


"Sudah biarkan saja, itu adalah istri saya." ucap Radit.


"Istri!" ucap Novi sedikit kaget. Radit Menatap nya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa kalau saya sudah memiliki istri?" tanya Radit.


__ADS_2