
"Aku sungguh ingin memakannya, tapi aku tidak mau lagi." ucap Abel.
Radit hanya bisa diam saja, dia membawa Abel ke kamar.
Radit berusaha menenangkan Abel agar cepat tidur. Sampai tidak terasa Abel tidur di pelukan Radit..
Radit melihat Farel tidur di bawah kaki mereka.
"Ya ampun nak." ucap Farel. dia memindahkan Farel ke tempat tidur.
"Huff ternyata mengasuh sambil menjaga wanita hamil muda sulit juga." ucap Radit. Dia berbaring di samping Abel.
Abel tidak mau melepaskan pelukannya dari Radit sampai dia benar-benar tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya di pagi hari lagi-lagi Radit kaget karena Abel turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.
Radit mengikuti nya menggosok punggung Abel. "Apa kamu tidak minum obat dari dokter?" tanya Radit setelah membawa Abel ke kasur.
"Aku tidak suka kak, rasanya sangat pahit sekali." ucap Abel.
"Tapi kamu harus memakan nya agar mual nya lebih berkurang." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku mohon jangan paksa aku kak, aku tidak mau." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang dia mengambil obat tersebut dia memberikan nya kepada Abel.
"Kamu harus meminum nya agar nanti mual nya berkurang. Kamu juga tidak terlalu tersiksa." cara Radit. Abel tetap tidak mau.
Akhirnya Radit mengambil jalan terbaik agar Abel tidak menolak. Dia memasukan obat ke dalam mulut Abel dan menyalurkan minuman dari mulut nya ke mulut Abel.
Abel terkejut sehingga dia tidak sadar obat sudah dia telan.
"Kak Radit! Apa yang sudah kakak lakukan?" ucap Abel.
Radit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada kok." ucap Radit.
"Saya mandi dulu." ucap Radit.
"Kakak mau berangkat kerja?" tanya Abel. Radit mengangguk. "Humm aku dan Farel boleh ikut gak?"
"Kamu yakin mau ikut dalam keadaan seperti?" tanya Radit.
"Kakak gak bolehkan aku ikut yah? Kakak menyembunyikan sesuatu dari aku yah?" tanya Abel langsung.
Radit menghela nafas panjang. "Enggak Kok. Ya udah kamu Deng Farel boleh ikut." ucap Radit.
"Huff aku harus lebih banyak mengalah. Walaupun sebenarnya Abel tidak boleh keluar. Namun dari pada dia overtingkhing sendiri." ucap Radit.
__ADS_1
Mereka mandi. Tidak lupa memandikan Farel juga.
Abel terlihat sangat bersemangat dan sangat senang sekali.
"Non mau kemana pagi-pagi sangat cantik?" tanya Bibik.
"Aku Deng Farel mau ikut kak Radit ke kantor bik." ucap Abel. Bibik menoleh ke arah Radit.
"Tuan yakin mau membawa Farel sama non Abel?" tanya Bibik.
"Gak apa-apa Bik." ucap Abel.
"Non harus banyak istirahat, tidak boleh kelelahan." ucap Bibik.
"Gak apa-apa Bik." ucap Abel lagi. "Sudah bik tidak perlu khawatir, mereka juga ikut dengan saya." ucap Radit.
"Tapi bagaimana Tuan akan menjaga Farel?" tanya Bibik.
"Farel sudah besar, dia tidak terlalu merepotkan." ucap Radit.
Bibik hanya bisa diam.
Mereka sarapan sama-sama terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.
Waktu nya berangkat ke kantor. Abel duduk di samping suami nya yang sedang menyetir sementara Farel duduk di belakang.
Tidak ada percakapan, sepanjang jalan Abel mengemil makanan yang ada di dalam mobil.
"Tumben banget pak Radit tidak memakai supir di saat berangkat ke kantor." batin Novi.
Radit turun dari mobil dia berjalan ke arah pintu sebelah. "Loh pak Radit sama siapa?" tanya Enjel Heran.
"Ayo turun." ajak Radit. Abel tersenyum sambil mengangguk.
Abel keluar dari mobil semua orang terkejut tercengang karena tidak percaya kali ini Radit membawa istri nya ke kantor.
Bahkan membawa keponakan nya.. Mereka berjalan masuk seperti Pasangan muda. Papah Mamah yang sangat muda.
"Wahh ternyata Pak Radit sangat Cocok dengan Abel. Sangat serasi sekali." ucap Enjel.
"Ngapain sih pak Radit membawa istri nya ke kantor?" ucap Novi dengan sangat jengkel..Enjel sadar kalau Novi kesal dari tatapan nya.
"Sudah lama Abel tidak datang, dia semakin cantik saja, dia juga sangat elegan. Aku tidak pernah berfikir kalau karyawan seperti dia yang bisa mengambil hati pak direktur." ucap karyawan lain nya.
"Selamat pagi pak direktur." sapa karyawan. Radit tersenyum saja.
"Tante...." Farel melihat Enjel dia langsung berlari kepada Enjel.. Begitu juga dengan Enjel. Dan kebetulan sekali Enjel memiliki permen kesukaan farel.
"Abel... Apa kabar dengan kamu?" tanya Enjel.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh manggil aku Abel saja, kamu harus panggil aku dengan nyonya Abel." ucap Abel.
Enjel menghela nafas panjang. "Tidak perlu berlebihan." ucap Enjel. Abel tertawa kecil dia langsung memeluk Abel.
"Aku hanya bercanda." ucap Abel.
"Selamat pagi pak." ucap Novi.
Abel menoleh ke arah Novi yang sama saja seperti beberapa Bulan lalu.
"Sudah lama kita tidak bertemu yah." ucap Abel kepada Novi. Novi hanya diam saja sambil memasang wajah cemberut.
"Abel tumben banget kamu datang ke kantor, ada apa?" tanya Enjel.
"Aku mau ikut suami ku saja, lagian di rumah saja aku bosan." ucap Abel. "Oohh." ucap Enjel.
Abel melihat laki-laki yang di belakang Enjel.
"Oh iya mbak kenalin nama saya Heri calon tunangan Enjel."
Seketika Enjel menginjak kaki Heri.
Kalau tidak ada Radit mungkin Enjel sudah menghabisi Heri.
"Kamu tidak perlu memperkenalkan diri lagi." ucap Abel. Heri tersenyum.
Novi langsung permisi dari sana.
"Kalau begitu ayo kita masuk." mereka berjalan ke lobby berbincang-bincang sebentar mengenai pekerjaan. Sementara Abel dengan Farel berjalan-jalan.
"Permisi...." Ucap Abel diruangan Novi.
Novi hanya melihat sekilas dan kembali lanjut bekerja.
"Heh kamu kok gak sopan sama saya? Saya adalah istri direktur kamu." ucap Abel. Novi berdiri dia mendekati Abel.
"Jangan mentang-mentang kamu jadi istri pak direktur kamu jadi sesuka hati." ucap Novi Menatap Abel. Abel tersenyum.
"Kok marah sih? aku kan hanya berbicara seperti itu." ucap Abel. Novi menghela nafas panjang.
"Ingat yah, hubungan kamu dengan pak direktur tidak akan lama, kita lihat saja." ucap Novi.
Abel tertawa kecil. "Kamu masih mengharapkan suami saya?" tanya Abel.
"Ada apa ini?" tiba-tiba Radit datang. "Tidak ada Pak, ibu meminta bantuan saya." ucap Novi.
"Sayang kamu kenapa jalan jauh-jauh ke sini?" tanya Radit mengelus rambut Abel.
"Abis nya aku tidak tau mau ngapain di lobby." ucap Abel. "Ya sudah kalau begitu kita keruangan saya yah. Kamu harus istirahat banyak agar janin kamu tidak kenapa-kenapa." ucap Radit.
__ADS_1
Abel tersenyum dia mengikuti Radit dia menatap wajah Novi yang sudah memerah menahan api cemburu.
"Abel hamil anak nya Pak direktur?" ucap Novi kaget.