Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 40


__ADS_3

"Kalau begitu aku ke kantor hari ini yah." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.


"Saya hanya sebentar saja." ucap Radit.


"Aku harus ke kantor kak." ucap Abel.


"Ya sudah kalau kamu tetap mau pergi." ucap Radit.


Abel tersenyum.


"Ya udah kalau begitu kakak hati-hati yah." ucap Abel.


Radit hanya diam saja.


"Loh istri kamu gak ikut?" tanya mamah nya setelah sudah di bawah.


"Enggak mah, dia ke kantor." ucap Radit.


"Yahh padahal mamah mau kenalin dia ke teman mamah."


"Lain kali saja mah, sebaiknya kita berangkat saja mah sebelum telat." ucap Radit.


Abel juga berangkat ke kantor. Sampai di kantor seperti biasa dia akan mengerjakan semua kerjaan nya.


Di tempat lain Radit dan orang tua nya bertemu dengan klien nya di rumah klien nya tersebut.


"Kenalin ini anak saya Radit Bu." ucap mamah Radit memperkenalkan Anak nya.


"Kalau Radit mah sudah lama aku tau Bu, kata nya mau mengajak menantu, mana menantu ibu?" tanya klien nya sekaligus teman nya itu.


"Menantu saya tidak bisa ikut karena dia harus ke kantor hari ini. Menantu saya juga seorang wanita karier." ucap Mamah Radit.


"Ya ampun kenapa harus bekerja? Bukan nya Radit sudah sangat mapan? Seharusnya dia sudah di rumah saja fokus pada rumah tangga nya sama seperti menantu saya."


Radit melihat wanita yang hamil duduk di samping ibu itu.


"Ini menantu saya, dia sudah hamil delapan bulan."


"wahh selamat yah Bu."


"Apa menantu mu sudah hamil?"


"Belum Bu, mereka baru saja menikah tidak mungkin cepat berisi." ucap Mamah nya Radit.


Cukup lama mereka di sana. Setelah selesai membahas pekerjaan akhirnya mereka pulang dari sana.


"Mamah pokoknya gak mau kamu harus membujuk istri kamu agar berhenti bekerja.


"Mamah ingin kamu seperti anak teman-teman mamah yang bisa mengatur istri nya. Kalau istri kamu terus bekerja sampai kapan kalian akan seperti itu? Kalian tidak akan memiliki anak." ucap Mamah nya.

__ADS_1


"Sabar mah, aku dengan Abel baru menikah tidak mungkin langsung hamil." ucap Radit.


"Tapi tetap saja mamah ingin segera mempunyai cucu, semua teman-teman mamah sudah memiliki cucu, hanya mamah yang tidak memiliki cucu." ucap Mamah nya.


"Iyah mah aku tau, aku lagi berusaha." ucap Radit.


"Berusaha apa? Mamah tau kok kalau kamu dengan Abel belum saling mencintai dan kalian pasti belum melakukan itu!" ucap mamah nya.


"Mah apa yang sedang mamah bicarakan?" ucap Radit berusaha menenangkan mamah nya.


"Mamah tidak mau tau pokoknya mamah ingin segera memiliki cucu, kalau Abel tidak mau memberikan nya, kamu menikah saja dengan orang lain." ucap Mamah nya.


Di tempat lain Abel sedang fokus bekerja tiba-tiba Dada nya sakit.


"Aaa!!" di menjerit.


"Kamu kenapa Abel? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Enjel juga kaget mendengar Abel berteriak.


"Gak apa-apa kok, Dada ku tiba-tiba sakit." ucap Abel. "Dada kamu sakit? jangan-jangan ada masalah dengan Pak direktur." ucap Enjel.


"Maksudnya?"


"Aku tau kalian memiliki kutukan. Dan aku yakin kamu sakit sekarang pasti karena pak direktur memiliki masalah." ucap Enjel.


Abel terdiam.


"Mah jangan berbicara seperti itu." ucap Radit.


Radit menghela nafas panjang. Papah nya menepuk pundak Radit.


"Papah harap kamu mengerti dengan kemauan orang tua kamu nak, itu juga demi kebaikan kamu." ucap papah nya.


"Kalau kalian memiliki anak tidak akan mungkin kalian berpisah. Namun beberapa bulan ini kalian tidak memiliki anak pasti akan ada saja masalah yang datang." ucap Papahnya.


"Iyah Pah, Iyah aku mengerti kok." ucap Radit.


"Papah pulang dulu." Orang tua nya pun pergi.


"Huff!!! kenapa harus seperti ini sih? Setelah menikah ada saja permasalahan nya dan semakin membuat kepala ku pusing saja." ucap Radit.


Dia membuka handphone nya. Ada pesan dari Abel.


"Kakak di mana? Ini sudah hampir sore kenapa kakak belum mengabari aku?" tanya Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Aku memiliki istri namun seperti tidak memiliki istri." ucap Radit. Dia tidak membalas dia hanya melihat nya saja.


Setelah beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah terlebih dahulu dari istri nya.


Tepat jam lima sore Abel sampai di rumah.

__ADS_1


"Loh kak Radit sudah sampai di rumah? Aku pikir dia masih di luar." ucap Abel.


"Kak!! Kak." panggil Abel masuk mencari keberadaan suami nya.


Dia masuk ke kamar nya dan kebetulan Radit baru saja selesai mandi.


"Ada apa?" tanya Radit. "Kakak gak kenapa-kenapa kan? kakak gak apa-apa kan?" tanya Abel memeriksa tubuh Radit.


Radit hanya bisa kebingungan.


"Emang nya ada apa?" tanya Radit.


"Syukurlah Kakak tidak apa-apa." ucap Abel langsung memeluk Radit dengan sangat erat. Radit kebingungan.


Cukup lama Abel memeluk Radit.. Radit mau melepaskan nya namun Abel tidak mau.


"Kamu kenapa sih?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin memeluk kakak saja." ucap Abel.


Radit membiarkan nya. "Dada ku langsung sembuh ketika memeluk kak Radit seperti ini, rasa sakit nya hilang." ucap Abel dalam hati.


"Apakah ini sudah takdir agar kami bersatu? Apakah ini sudah suratan untuk kehidupan ku dengan kak Radit?"


"Jelas kan apa yang terjadi, ada apa?" tanya Radit.


Abel menggeleng kan kepala nya. Radit melepaskan pelukan Abel dengan paksa dan ternyata Abel menangis.


"Kamu menangis? Karena apa?" tanya Radit khawatir.


Abel menghapus air mata nya.


"Enggak kok, aku gak nangis." ucap Abel.


"Kamu lagi ada masalah? Coba ngomong sama saya." ucap Radit. Abel menatap wajah Radit.


Dia mau berbicara namun tidak tau mau mengatakan apa, akhirnya dia hanya diam dan menundukkan kepalanya saja.


Radit hanya bisa diam melihat itu. "Kalau kamu tidak mau berbicara ya sudah, saya mau mengenakan pakaian saya." ucap Radit.


Abel menahan tangan Radit.


"Humm apa Mamah sama papah marah kepada kakak?" tanya Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya. "Kenapa mereka harus marah kepada anak nya sendiri?" ucap Radit.


Abel menghela nafas panjang. "Aku tidak tau, aku berfirasat mereka marah kepada kakak. Dan itu berhubungan kepada ku." ucap Abel.


Radit Menatap Abel. "Apa Dada kamu terasa sakit?" tanya Radit.

__ADS_1


Abel mengangguk. Wajah Radit langsung khawatir dia mau meletakkan tangan nya di dada Abel namun Abel tidak mau.


__ADS_2