
Radit membuang wajah nya.
"Aku mohon minum lah kak." ucap Abel memohon. "Pergi dari sini, biarkan saya seperti ini. Bukan kah ini yang kamu mau?" ucap Radit.
Abel menarik wajah Radit dia memaksa memasukkan obat ke mulut Radit dan memaksa nya untuk minum.
Radit berhasil meminum obat itu.
"Bagus deh kakak sudah minum obat nya, aku akan membuat makanan." ucap Abel.
"Tidak perlu! Kamu urus saja urusan kamu sendiri." ucap Radit. Abel tidak mendengar kan nya dia ke luar.
"Aku tau kak Radit sangat marah kepada ku, aku sangat jahat sekali." ucap nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai masak dia membawa nya ke kamar Radit.
"Loh kak Radit kemana?" Dia tidak melihat Radit di kasur. Dia mencari ke kamar mandi namun tidak ada.
Melihat pintu balkon terbuka sedikit dia langsung panik.
"Kakak ngapain di luar? Ini sudah magrib dan tidak baik untuk kesehatan kakak." ucap Abel.
Radit yang sedang berdiri melihat ke luar tidak menghiraukan Abel.
"Ayo buruan masuk kak, jangan membuat keadaan kakak semakin parah." ucap Abel.
"Tidak perlu perduli saya! Bukan nya kamu sendiri yang bilang kalau kita sebaiknya mengurus diri masing-masing?" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Bisa gak sih kak tidak perlu membahas itu sekarang? Kakak harus sembuh." ucap Radit.
"Saya akan sembuh sendiri." ucap Radit meninggal kan Abel namun Abel langsung mengejarnya ke dalam.
"Kamu keluar saja, saya mau istirahat." ucap Radit.
"Kakak bisa gak sih jangan mengusir aku dulu sebelum kakak makan?" ucap Abel.
Radit menatap wajah Abel.
"Kemarin-kemarin nya sama minta makan kamu berikan tidak? Saya meminta menyiapkan keperluan saya kamu mau tidak?" ucap Radit.
Abel terdiam.
"Seperti yang kamu bilang, saya bukan anak kecil lagi. Kita menikah hanya karena status saja bukan karena cinta." ucap Radit.
"Tapi kak."
"Keluar!"
"Kakak makan dulu yah, setelah itu aku keluar."
"Tidak perlu perduli kan saya! Kamu keluar saja." ucap Radit.
Radit sudah meninggikan suara nya Abel jadi takut. Dia akhirnya keluar.
Radit menghela nafas panjang dia duduk di pinggir kasur.
"Apa yang terjadi pada ku? Kenapa aku se kesal ini kepada Abel?"
__ADS_1
Melihat ke arah makanan yang di bawakan oleh Abel. Tiba-tiba ada suara pintu terbuka.
"Apa yang kamu lakukan lagi?" tanya Radit.
"Aku hanya mau memastikan kakak makan atau tidak?"
"Agar aku tidak khawatir." ucap Abel.
"Bawa semua nya keluar, saya tidak berselera makan." ucap Radit.
Abel masuk lagi. "Kenapa kakak begitu marah? Apa aku melakukan sesuatu yang sangat salah sehingga membuat kakak marah kepada ku?" tanya Abel.
"Jangan bertanya Abel! Segera keluar sebelum saya mendorong kamu keluar." ucap Radit.
"Kakak kenapa sih?" ucap Abel.
"Jangan banyak bertanya Abel!" ucap Radit marah. Abel terdiam.
"Sekarang kamu keluar!" ucap Radit.
Abel mendekati Radit tiba-tiba dia jongkok.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit.
"Maafin aku kak." ucap Abel.
"Aku tau aku salah karena tidak melayani kakak dengan baik, aku istri yang tidak berguna aku sama sekali tidak baik untuk kakak aku minta maaf." ucap Abel menundukkan kepalanya.
Radit diam. "Kak..." Abel Menatap wajah Radit.
"Berdiri lah." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau berdiri sebelum kakak maafin aku dan berjanji akan makan." ucap Abel. Radit diam.
"Tidak perlu." ucap Radit dengan sangat cuek.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku minta maaf kak." ucap Abel. Radit diam saja.
"Saya akan memaafkan kamu dengan satu syarat." ucap Radit.
"Apa itu? aku akan melakukan nya asal kan kakak makan." ucap Abel.
"Lakukan saya seperti suami kamu." ucap Radit. Abel terdiam sejenak dia tidak pernah berfikir sebelum nya dengan itu.
Dia hanya memikirkan diri nya sendiri saja.
"Kenapa kamu diam? Kalau tidak bisa sebaik nya tidak perlu." ucap Radit.
"Baiklah-baiklah aku akan melakukan nya. Aku akan berusaha." ucap Abel.
"Bagus deh kalau begitu." ucap Radit.
"Sekarang kakak makan yah, aku suapin." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
Abel menghela nafas panjang.
"Saya tidak berselera." ucap Radit.
"Harus makan." Abel memaksa untuk makan. Akhirnya Radit mau.
__ADS_1
Setelah selesai makan Abel meminta Radit Pindah ke sofa.
"Kenapa kamu memindahkan saya ke sini?" tanya Radit.
"Aku mau membersihkan tempat tidur yang sudah sangat bau." ucap Abel.
Radit duduk di sofa namun tidak sengaja dia menarik tangan Abel dan Abel terjatuh duduk di paha nya.
Mata mereka bertemu.
"Maaf-maaf kak." Abel sedikit grogi namun dia langsung pergi dari pangkuan Radit dan melanjutkan membersihkan kasur.
Radit memerhatikan Abel yang masih memakai baju kerja nya.
"Huff saya tidak bisa begitu lama marah kepada nya." ucap Radit dalam hati.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Sini aku periksa tangan kakak." ucap Abel. Dia mengambil Air hangat untuk membersihkan nya.
"Ini sudah tanggal 25 Besok waktu nya kakak kontrol." ucap Abel.
"Saya tidak akan pergi."
"Harus pergi! Karena aku yang akan mengantar nya." ucap Abel.
Radit seketika langsung terdiam.
"Ya sudah kalau begitu ayo pindah ke tempat tidur." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Saya sudah bosan tidur di tempat tidur selama tiga hari." ucap Radit.
"Saya ingin keluar dari kamar ini, sudah lama saya tidak menonton TV." ucap Radit.
Abel memeriksa suhu badan Radit.
"Humm masih demam." ucap Abel.
"Saya ingin keluar!" ucap Radit.
"Tidak bisa kak, kakak harus banyak istirahat, di sini juga kakak bisa menonton TV." ucap Abel.
"TV di kamar saya sudah lama rusak. Saya mau duduk di ruang tamu." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Baiklah."
Radit di bawa ke ruang tamu. Dia membopong badan Radit yang sangat berat.
Radit sesekali tersenyum mendengar suara Abel menjerit kalau Radit sangat lah berat sekali.
"Duduk lah, aku akan membuat kan Teh." ucap Abel.
"Tidak perlu, sebaik nya kamu pergi lah mandi." ucap Abel.
"Mandi? Apa aku bau keringat?" ucap Abel langsung mencium nya.
"Ya udah deh aku mandi dulu, aku minta maaf sudah membuat Kakak tidak nyaman dengan bau badan ku."
__ADS_1
Setengah jam Abel masuk ke kamar nya, Radit tidak berhenti menoleh ke arah pintu kamar Abel.
"Kenapa dia sangat lama sekali?" ucap Radit. menunggu dua puluh menit namun Abel tidak kunjung keluar akhirnya dia menyusul ke kamar.