
Enjel melihat nya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kalau kamu pergi kalau malam saya lapar bagaimana? Bagaimana dengan rumah? Pasti akan sangat berantakan."
"Jangan berlebihan deh Heri, aku hanya pergi tiga hari."
Heri tiba-tiba memeluk Enjel dari belakang yang sedang Masak.
"Kamu tidak tau betapa khawatir nya aku ketika kamu mau meninggalkan aku seperti ini." ucap Heri.
"Aku tau kamu tidak akan pernah merasakan hal seperti ini." ucap Heri sambil memasang wajah Sedih.
"Aku sedang masak lepas kan." ucap Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya, namun Enjel melepaskan nya dengan kasar.
Heri menghela nafas panjang. Heri mengikuti ke meja makan dan makan siang bersama.
Sementara di kantor Abel baru saja sampai.
"Mbak mau mencari Pak Radit?" tanya Novi. Abel heran dengan Novi yang tiba-tiba berubah menjadi sangat ramah tidak seperti biasanya.
"Iyah. Apa saya boleh bertemu dengan dia?"
"Tapi dari tadi pak Radit belum kembali." ucap Novi. "Kemana dia?"
"Keluar dengan mbak Tania." jawab Staf lain nya.
Novi yang tadi nya tidak mau ngomong keluar dengan Tania eh sudah keduluan oleh Staf lain.
"Tania datang ke kantor? Ngapain?"
"Kami juga tidak tau."
"Sebaiknya mbak tunggu di ruangan pak Radit, saya akan mencoba menghubungi pak Radit." ucap Novi.
"Abel..." Ucap Radit yang baru saja datang.
Abel melihat Radit dia langsung tersenyum.
"Maaf yah kamu datang ke sini saya tidak ada. Saya tadi mengurus sesuatu dengan Tania ayo keruangan saya. Saya sangat lapar." ucap Radit.
Abel tersenyum. Dia mengikuti Suami nya.
Novi terdiam tidak tau mau ngomong apa lagi.
Di Sore hari nya Heri melihat Enjel pergi dengan Rio. Sangat berat namun tidak bisa melarang karena itu menyangkut masalah pekerjaan juga.
"Halo bro loe lagi di mana?" tanya Radit kepada Heri.
"Ini di apartemen bro, Enjel dan Rio baru saja berangkat mengunjungi proyek." ucap Heri.
"Oohh, Bagus deh kalau begitu. Nanti malam loe ada janji gak?" tanya Radit. "Nanti malam? Humm seperti nya tidak ada. Ada apa?"
"Loe temanin gua minum."
"Minum? Bagaimana kamu bisa minum istri mu lagi hamil, jangan aneh-aneh deh." ucap Heri.
"Gua sangat pusing."
"Tetap saja aku tidak mau, kalau kamu minum aku akan mengadukan nya kepada Tante dan Om." ucap Heri.
"Gua lagi ada Masalah."
__ADS_1
"Kalau ada masalah solusi nya bukan minum."
"Lalu bagaimana lagi bro? Loe tau sendiri kan kalau memiliki beban pikiran aku selalu minum untuk menenangkan diri."
Heri menghela nafas panjang.
"Loe sadar gak sih loe itu sudah menikah dan sudah mau menjadi papah." ucap Heri.
"Karena itu bro, gua tidak ingin Abel melihat aku seperti ini."
"Dia istri mu, dia berhak tau."
"Dalam kondisi seperti ini, apapun masalah ku tidak boleh dia tau."
"Sebenarnya ada Masalah apa sih? Dari kemarin gua tanya namun tidak ada jawaban." ucap Heri.
"Masalah pribadi Heri."
Heri menghela nafas panjang. "Aku tidak memaksa kamu untuk memberi tau aku. Kalau tentang pekerjaan istri mu tidak perlu tau. Tapi kalau sudah menyangkut tentang dia sebaik dia harus tau." ucap Heri.
"Iyah aku tau kok." ucap Radit.
"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi." ucap Heri mematikan telepon.
Radit menghela nafas panjang. Tiba-tiba orang nya menelpon dia.
"Halo Mah.."
"Kamu lagi di mana? Mamah sama papah besok mau datang menjenguk istri kamu " ucap orang tua nya.
"Bukan nya mamah baru saja bertemu dengan dia?"
"Tapi besok aku tidak di rumah mah, aku kerja."
"Sudah tidak apa-apa, mamah sama papah saja yang pergi ke rumah sakit."
"Maafin aku mah."
"Kamu selalu saja seperti itu, selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Sangat berbeda dengan papah mu yang sangat perhatian waktu mamah hamil."
"Aku minta maaf mah." ucap Radit.
Tengah malam Heri sama sekali tidak bisa tidur. Dia mau menelpon Enjel namun dia sudah berjanji agar tidak menggangu Enjel ketika masih di dalam perjalanan.
Heri tidak bisa tenang dia juga kalah main game.
Tidak beberapa lama akhirnya handphone nya berdering.
"Halo Enjel. Kamu sudah sampai? kamu tidak di apa-apa in sama si Rio kan?" tanya Heri.
Enjel menghela nafas panjang. "Kami belum sampai. Kami istirahat malam ini di penginapan dulu."
"Kamu satu kamar dengan Rio?!"
"Berhenti berfikir yang aneh-aneh Heri! Mana mungkin aku satu kamar dengan Rio." ucap Enjel.
"Bagus deh kalau begitu. Ingat jaga jarak dengan dia!" ucap Heri.
"Lalu kenapa kamu belum tidur sampai sekarang? ini sudah jam satu malam."
"Humm aku..."
__ADS_1
"Aku tidak boleh terlihat lemah sebagai laki-laki." batin Heri.
"Aku baru saja selesai main game. Ini mau tidur."
"oohh ya sudah kalau begitu kamu tidur saja."
"Jangan di matikan!"
"Kenapa?"
"Baiklah-baiklah aku jujur, aku sebenarnya tidak bisa tidur, aku tidak bisa tenang. Pikiran ku selalu memikirkan kamu." ucap Heri.
"Humm paksa saja tidur."
"Tetap saja tidak bisa."
"Kalau begitu kamu boleh tidur di kamar ku saja. Setidaknya di sana masih ada aroma ku " ucap Enjel.
"Kamu sungguhan?"
"Iyah, tapi jangan membuat kekacauan dan jangan menberantaki nya." ucap Enjel.
"Baiklah." Ucap Heri.
"Aku mau istirahat. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam!"
Telpon pun mati. Heri masuk ke kamar Enjel.
Dia berbaring di tempat tidur dan tidak beberapa lama dia langsung tidur dengan sangat nyenyak sekali.
Di pagi hari dia bangun. Dia berharap kalau Enjel menelpon nya namun ternyata tidak ada.
Akhirnya dia yang menelpon Enjel.
"Kenapa kamu tidak membangun aku?" tanya Heri.
"Kamu baru bangun jam segini?" tanya Enjel karena mendengar suara Heri.
Dia langsung mengalihkannya ke panggilan video.
"Ayo bangun sebentar lagi kamu ada janji jam. sepuluh." ucap Enjel.
Heri mengangguk. "Apa kamu sudah sampai."
"Udah kok, sebelum ke lokasi kami mau mencari penginapan." ucap Enjel.
Heri duduk dia melihat wajah Enjel.
"kamu tau aku sangat merindukan kamu." ucap Heri sambil memasang wajah Sedih.
Enjel menoleh ke arah Rio. Karena takut Rio mendengar nya.
"Jangan berbicara sembarangan, di sini masih ada rio.'
"Apa dia mau protes? Dia akan kehilangan pekerjaan nya kalau aneh-aneh." ucap Heri.
Enjel tersenyum. "Ya sudah kalau begitu udah dulu yah, aku akan menghubungi kamu setelah mendapatkan penginapan dan aku juga akan melaporkan beberapa pekerjaan hari ini." ucap Enjel.
"Kamu jangan terlalu lelah, jangan telat makan." ucap Heri. Enjel yang mau langsung mematikan sambungan telepon langsung terdiam karena perhatian Heri.
__ADS_1