
"Heri apa kamu mendengar ku?" tanya Enjel. Heri berpura-pura ngorok. Enjel menghela nafas panjang.
"Sebaiknya bicarakan saja Besok pagi." ucap Enjel dia pun tidur di belakang Heri.
Heri membuka mata nya, air mata keluar dari mata nya.
"Ini kah balasan dengan semua yang aku perbuat selama ini? Ternyata sakit hati itu menyiksa seluruh badan. Dan aku tidak bisa mengatakan apapun selain diam sama seperti mantan ku dulu mereka hanya diam dan menangis namun aku tidak perduli." batin Heri.
"Aku sudah terjebak dalam perasaan ini, aku tidak bisa meninggalkan Enjel. Aku tidak bisa berpisah dengan dia, dan dengan cara apapun aku akan terus mempertahankan hubungan ini walaupun aku tidak tau apa yang membuat Enjel seperti ini." ucap Heri dalam hati sambil terus mengeluarkan air mata nya.
Tidak sengaja Enjel mendengar isakan Heri. Dia awalnya mengabaikan nya mungkin hanya isakan biasa saja karena Enjel tidak kefikiran kalau Heri akan menangis.
Keesokan harinya di pagi hari yang cerah Enjel bangun karena cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela gorden kamar nya.
Membuka mata perlahan, dia sadar kalau Heri sudah tidak ada di samping nya.
"Kemana dia?" ucap nya sambil menoleh ke arah kamar mandi namun pintu kamar mandi terbuka tandannya tidak ada orang.
"Tidak biasanya dia bangun cepat seperti ini." ucap Enjel dia memeriksa nya keluar namun Heri tidak ada di luar juga.
Berjalan ke dapur mau minum dia baru sadar melihat sepatu dan juga tas kerja Heri sudah tidak ada tergantung.
Menghela nafas panjang sambil duduk di kursi.
"Ada apa sih dengan ku? Kenapa aku harus memikirkan semua nya sehingga memutuskan semua nya seperti ini?" ucap nya kepada diri sendiri.
Dua hari yang lalu tidak sengaja dia lewat dari ruangan di perusahaan, tidak sengaja dia mendengar percakapan banyak orang kalau Abel dan Radit sangat tidak cocok untuk bersama, mungkin kalau bukan perjodohan semua orang pasti tidak setuju dengan hubungan mereka.
Mereka juga bahkan membahas kedekatan nya dengan Heri.
Mereka juga membandingkan semua nya membuat Enjel sangat sakit hati dan tidak bisa berhenti memikirkan nya, dia sangat marah namun tidak bisa karena tidak ada yang bisa di marahin.
Akhirnya dia memutuskan untuk Sadar diri, sebelum semua nya semakin jauh dan banyak orang tau mereka pacaran alangkah baik nya mereka berhenti saja.
Di tambah lagi Heri akan pergi. Mereka akan berjauhan Enjel tidak bisa berhenti memikirkan Enjel memiliki perempuan lain di sana.
Dan kalau orang tua nya tau kalau Heri berpacaran dengan perempuan seperti Enjel mereka pasti tidak akan menerima nya dengan latar belakang Enjel.
Enjel sangat tidak bisa berjauhan dengan orang yang dia sayangi karena dia yakin itu adalah jalan untuk berpisah.
"Aku sangat takut, aku tidak bisa. Kenapa tidak ada satu pun kebahagiaan yang bertahan di kehidupan ku?" ucap nya.
"Tok!! Tok!!" tok!!" Ketukan pintu.
__ADS_1
Enjel membuka nya dia melihat kurir pengantar makanan.
"Maaf saya tidak memesan makanan."
"Di sini nama pemesan nya Heri dan makanan nya sudah di bayar."
Enjel mengambil dan membawa nya masuk. Dia membuka nya ternyata isinya makanan untuk sarapan pagi.
Ada surat juga untuk Enjel.
"Sarapan dulu sebelum berangkat bekerja. Ini ada obat untuk sakit perut kamu, minum kalau tiba-tiba sakit saja. Maaf yah aku berangkat pagi-pagi sekali karena aku ada kerjaan di luar kota." isi surat itu.
Enjel memakan nya dan setelah itu dia siap-siap ke kantor.
Di jalan tidak sengaja dia bertemu Novi yang juga berangkat ke kantor, namun mobil nya mogok akhirnya mereka satu mobil.
"Tumben banget kamu gak sama pak Heri." ucap Novi.
"Heri keluar kota, jadi dia tidak ke kantor." ucap Enjel.
"Oohh. Jadi bagaimana hubungan kamu dengan pak Heri sudah baikan?" tanya Novi.
Enjel menggeleng kan kepala nya.
Novi tersenyum.
"Aku tidak paham betul bagaimana perasaan kamu dan pak Heri. Tapi apapun itu masalah nya apa kah lebih baik di bicara kan baik-baik? Jangan mengambil keputusan sendiri apabila masalah nya hanya ada di pikiran kamu sendiri." ucap Novi.
Enjel menoleh ke arah Novi.
"Kamu tau dari mana masalah nya hanya di aku saja?"
"Bisa di lihat, kamu selalu berpikir berlebihan, mungkin ini dari masa lalu atau ketakutan kamu saja." ucap Novi.
Enjel menghela nafas panjang.
"Coba ceritakan apa yang membuat kamu seperti ini."
Akhirnya Enjel menceritakan semua nya.
Novi tersenyum mendengar cerita Enjel.
"Novi Kenapa kamu tersenyum sih? Aku sedang serius."
__ADS_1
"Berhenti lah bersifat serius terlalu berlebihan seperti ini Enjel.
"Mereka mengatakan hal seperti itu karena mereka tak sanggup berada di posisi kamu, mungkin kalau mereka yang di posisi kamu mereka akan terima saja apa yang mereka dapatkan." ucap Novi.
Enjel memikirkan kata-kata Novi dan di mengerti ap yang di maksud oleh mereka.
"seharusnya kamu berbicara tentang ini kepada Abel deh, aku yakin kamu akan jauh lebih mengerti dan juga bisa menerima nya." ucap Novi.
"Kamu tidak perlu takut kalau Heri selingkuh atau apapun itu. Percaya sama tuhan kalau jodoh bagaimana pun caranya dan apapun masalah nya pasti akan tetap bersatu." ucap Novi.
Enjel mengangguk mengerti.
"Dan tadi malam kamu dengan pak Radit baik-baik saja?"
Enjel menggeleng kan kepala nya. "Heri diam saja, dia bahkan tidak mengatakan apapun dia juga bangun pagi sekali dan pergi tanpa sepengetahuan ku."
Novi menghela nafas panjang.
"Kamu tidak khawatir?"
"Kenapa aku harus khawatir?"
"Pak Heri ngapain keluar kota? Tidak ada pekerjaan hari ini di luar kota, aku yakin pak Heri pasti menghindari kamu." ucap Novi.
"Tidak mungkin, untuk apa dia menghindari aku?"
"Bukan kah kamu ingin membahas tentang hubungan kalian? pak Heri mungkin tidak mau membahas itu." ucap Novi.
Enjel menatap Heri. "Ya ampun Novi, kenapa aku tidak kefikiran sampai ke sana sih? Terimakasih banyak Novi kamu sudah membuka pikiran ku " ucap Enjel.
"Kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan sekarang?" tanya Enjel.
"Apa Aku harus mencari nya?"
Novi menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu, kamu harus memberikan pak Heri waktu, dan kamu juga harus memikirkan semua nya sendiri setelah menemukan jawaban nya kamu dan pak Heri harus segera membicarakan nya." ucap Novi.
Enjel mengangguk. "Baiklah, aku mengerti Novi. Sekali lagi terimakasih banyak Novi." ucap Enjel.
Novi tersenyum.
"Aku selalu bisa memberikan solusi untuk orang lain. Untuk teman-teman ku, untuk Enjel dan pak Radit namun untuk kehidupan aku bahkan tidak bisa mencary solusi." ucap Novi.
__ADS_1