Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Pernikahan yang tertunda


__ADS_3

Hari ini Kia dan Indra sedang bersiap untuk menghadiri acara ijab qobul dan resepsi pernikahan Anggun dan Dimas. Mereka melaksanakan pernikahan di kediaman Dimas agar memudahkan Dimas yang hanya bisa duduk di kursi roda.


" Mas udah pakai kemeja aja nggak usah pakai jas biar kelihatan lebih tampan." Ucap Kia setelah selesai memakaikan kemeja Indra.


" Baiklah sayangku apapun untukmu." Sahut Indra mencium kening Kia.


" Ayo keburu terlambat nanti." Ajak Kia.


" Ayo sayang." Sahut Indra.


Kia dan Indra menuju kediaman Dimas dengan di antar sopir, Indra melarang Kia mengendarai mobil sendiri karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya yang masih terbilang sangat muda. Di dalam perjalanan Kia selalu menempel pada Indra membuat Indra heran, Biasanya Indra yang akan selalu menempel pada Kia.


" Mas nggak pusing kan? Nggak mual Kan?" Tanya Kia menyenderkan kepalanya pada bahu Indra.


" Enggak sayang, Tidak perlu khawatir Mas sehat kok." Sahut Indra mengelus kepala Kia.


Setelah hampir setengah jam akhirnya mereka sampai di kediaman Dimas. Kia dan Indra turun dari mobil. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah Dimas yang sudah di dekor dengan sangat Indah.


" Lhoh mana pengantinnya? Kok hanya kursinya doank ya Mas?" Ujar Kia mengedarkan pandangannya kesana kemari mencari keberadaan kedua mempelai. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, Tapi tidak nampak kedua pengantinnya.


" Apa mungkin sudah selesai ya Mas?" Sambung Kia.


" Kita tanyakan saja pada orang orang yang ada di sana." Ucap Indra menunjuk segerombolan orang yang sedang menikmati hidangannya.


Kia dan Indra menghampiri mereka.


" Permisi maaf mau nanya Bu, Apa acara ijab qobulnya sudah selesai?" Tanya Kia sopan kepada ibu berbaju merah. Sebut saja namanya Ibu Ijah.


" Acara ijab qobulnya di tunda Mbak, Hari ini hanya resepsinya saja." Sahut Ibu Ijah.


" Lhoh kenapa Bu?" Tanya Kia.


" Mempelai wanitanya terpapar virus cor*na Mbak, Jadi nunggu isolasi selesai baru ijab qobul." Terang Ibu Ijah.


" Astaghfirullohal'adzim Anggun... Kasihan sekali kamu." Gumam Kia.


"Lalu sekarang dimana mempelai prianya Bu?" Kia bertanya lagi.


" Sepertinya ada di dalam kamarnya Neng karena sedari tadi belum keluar, Padahal kami para tamu sudah lama menunggu." Jawab Ibu Ijah.


" Makasih ya Bu, Saya mau tengok Dimas dulu." Ujar Kia.


" Sama sama Neng." Sahut Bu Ijah.


Kia dan Indra berjalan menuju kamar Dimas yang tak jauh dari ruang tamu. Semenjak Dimas lumpuh memang Dimas pindah ke kamar bawah, Ia tidak mau merepotkan Anggun dengan naik turun tangga karena di dalam rumahnya tidak ada lift.


Ceklek....


Kia membuka pintu kamar Dimas, Terlihat Dimas sedang duduk di kursi roda menghadap jendela kamarnya.


" Dim..." Panggil Kia menghampiri Dimas yang saat ini sedang menoleh padanya.


" Hai Ki..." Sahut Dimas.


" Aku ikut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini, Bersabarlah nunggu masa isolasi selesai." Ucap Kia.


" Makasih Ki, Aku tidak menyangka semua ini akan terjadi padaku." Ujar Dimas.


" Bersabar dan tetap semangat Dim." Ucap Indra.


" Makasih Ndra." Sahut Dimas.


" Oh ya kenapa Anggun bisa terpapar virus itu?" Tanya Kia menatap Dimas. Dimas menghela nafasnya.


" Satu minggu yang lalu Anggun menemui Ibunya yang berada di luar Negri, Dia baru pulang tadi malam, Saat tadi malam kami tes swab hasilnya positif, Jadi kami terpaksa menunda pernikahan ini." Jelas Dimas.


" Tapi kamu tidak positif kan?" Tanya Indra.


" Alhamdulillah tidak." Sahut Dimas.


" Yang positif aku Dim." Sahut Kia.

__ADS_1


" Maksudnya?" Tanya Dimas.


" Positif hamil ha ha ha." Jawab Kia.


" Kamu bisa aja, Selamat ya." Ucap Dimas.


" Makanya kamu juga harus ikut bahagia donk, Jangan murung gini, Pasrahkan semua pada Allah jika Anggun memang jodohmu pasti Allah akan memudahkan jalan kalian." Ujar Kia.


" Iya... Makasih Ki kamu memang penyemangat hidupku." Ucap Dimas.


" Ja....


" Mass..." Kia memotong ucapan Indra sambil menggelengkan kepala. Indra segera menutup mulutnya.


" Bukankah kamu bisa menikahi Anggun walaupun dia sedang di isolasi?" Tanya Kia.


" Bisa sih... Tapi Anggun maunya saat aku mengucap ijab qobul dia ada di sampingku." Jelas Dimas.


" Ya sudah lah... Yang penting sekarang biarkan Anggun sehat dulu, Kamu juga harus jaga kesehatan jangan sampai nanti Anggun sembuh kamunya yang sakit." Ujar Kia.


" Iya Ki aku tadi udah merekrut perawat untuk mengurusku." Sahut Dimas.


" Laki laki atau perempuan?" Tanya Kia.


" Laki laki lah Ki... Kamu ada ada aja, Aku nggak mau ya kalau di sentuh sentuh perempuan lain." Ucap Dimas.


" Udah tobat ceritanya?" Goda Indra.


" Sejak aku mengenal Kiki aku udah tobat Ndra." Ujar Dimas.


" Kalau aku yang jadi perawatnya mau nggak?" Canda Kia membuat Indra melotot ke arahnya.


" Mau banget." Sahut Dimas.


" Idih ngarep." Sahut Indra.


" Ya kalau Kiki mau aku nggak nolak lah." Ujar Dimas.


" Dia nggak mau, Kia hanya mau mengurus aku saja." Sahut Indra sambil cemberut.


Kia dan Indra saling pandang melempar senyuman. Mereka senang bisa membuat Dimas tertawa.


" Ayo Dim kita temui tamu, Kasihan mereka udah jauh jauh datang mau memberi doa restu malah nggak kamu temui." Ujar Kia.


" Temenin ya." Ucap Dimas.


" OK.. ayo." Ucap Kia.


Kia mendorong kursi roda Dimas menuju ruang tengah dimana para tamu undangan semakin ramai berdatangan. Indra merasa bangga dengan istrinya yang mampu membuat nyaman dan bahagia semua orang yang berada di dekatnya, Indra mengikuti Kia dari belakang.


Sesampainya di ruang tengah banyak orang yang mengucapkan selamat kepada Dimas.


" Selamat Pak Dimas, Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah." Ucap Pak Suhar tetangga baru Dimas yang belum tahu keadaan sebenarnya sambil menyalami Dimas.


" Selamat Mbak atas pernikahan kalian." Pak Suhar bergantian menyalami Kia.


" Eh...." Kia mengerutkan keningnya.


" Maaf Pak, Bapak salah alamat.... Ini istri saya." Ucap Indra.


" Oh Maaf Tuan saya kira Mbaknya ini istrinya Pak Dimas." Ujar Pak Suhar.


" Bapak ini gimana? Udah di bilang calon istrinya Pak Dimas sedang di isolasi." Sahut Bu Suhar dari belakang yang baru saja menghampiri mereka.


"Maaf Bu, Bapak kan nggak tahu, Kami ikut prihatin Pak Dimas, Tapi tenang saja tinggal nunggu empat belas hari bukan? Waktu segitu mah kecil... Saya aja dulu nunggu selama bertahun tahun baru bisa mendapatkan." Ucap Pak Suhar.


" Iya Pak." Sahut Dimas.


Banyak tamu yang silih berganti mengucapkan selamat dan menyampaikan doa restu mereka, Banyak juga yang menghibur Dimas hingga membuat Dimas tertawa. Kia merasa lega karena akhirnya Dimas bisa sedikit melupakan kesedihannya.


Hingga sore tiba Kia dan Indra pamit untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Kia segera berjalan menuju kamarnya, Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat Kia sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower tiba tiba tangan Indra memeluknya dari belakang. Ia merem*s gunung kemb*r Kia membuat Kia mendesis.

__ADS_1


" Massssss." Desis Kia.


" Apa sayang??? Hmm." Tanya Indra tidak menghentikan kegiatannya.


" Minggi Mas aku mau mandi." Ucap Kia dengan suara seksinya.


" Shhhh." Kia mulai mengeluarkan suara seksinya saat Indra membalikkan badannya lalu menyesap pucuk gunungnya.


" Udah Mas aku mau mandi." Ujar Kia.


" Pengin Yank." Ucap Indra.


" Kenapa nggak bilang dari tadi, Kan aku jadi nggak dua kali mandinya." Protes Kia.


" Ya Maaf.... Mau ya." Ucap Indra memohon.


" Tapi jangan di sini." Ujar Kia.


" Baiklah ayo." Sahut Indra menuntun Kia ke kamarnya.


Dan.....


SKIP.... Bayangin sendiri aja ya... Udah pada gedhe juga....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruangan ICU, Liona mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya memindai seluruh penjuru ruangan. Liona hendak bangun tapi...


" Awh...." Lenguh Liona memegang kepalanya.


" Aku dimana?" Monolog Liona sambil mengingat ingat sesuatu.


Ceklek.....


Pak Romi dan Dokter Dika berjalan menghampiri Liona.


" Kamu sudah sadar?" Tanya Pak Romi setelah tiba di depan Liona.


" I...Iya Pa, Dimana Mas Andre Pa? Kenapa tidak menungguiku? Dia tega meninggalkan calon istrinya sendirian." Sungut Liona.


Pak Romi menatap Dokter Dika meminta penjelasan lewat sorot matanya.


" Sepertinya Lio sedikit terganggu ingatannya, Mungkin akibat benturan di kepalanya Paman, Paman ajaklah orang yang di maksud oleh Lio kesini, Supaya Lio punya semangat dan cepet sembuh." Ujar Dokter Dika yang ternyata anak dari teman sekantor Pak Romi.


" Tapi dia bukan pacar Lio, Nak Andre sudah menjelaskan semuanya kepada Paman Dik." Sahut Pak Romi.


" Tidak masalah Paman, Yang terpenting untuk saat ini turuti saja apa yang Lio inginkan, Semua ini demi kesehatannya." Sahut Dokter Dika.


" Baiklah akan Paman usahakan membawa Andre kemari." Sahut Pak Romi.


" Kalau begitu saya permisi paman, Nanti akan ada perawat yang memindahkan Lio ke ruang rawat." Ujar Dokter Dika.


" Silahkan terima kasih atas bantuanmu Dik." Ucap Pak Romi.


" Sama sama Paman." Sahut Dokter Dika.


Dokter Dika segera berlalu dari sana. Pak Romi menatap iba pada putri semata wayangnya, Sejak kematian Ibunya, Liona menjadi gadis yang keras kepala, Apa yang Ia inginkan harus tercapai. Liona sering membuat ulah saat sekolah, Bahkan sudah menjadi Bidan pun Lio masih tetap sering membuat ulah, Ia sering touring bersama teman temannya, Balapan liar juga Ia lakukan, Kadang Pak Romi sampai kewalahan sendiri.


" Pa... Telepon Mas Andre suruh kemari, Aku tidak mau dia meninggalkan aku, Apalagi menggagalkan pernikahan kami." Ucap Liona.


" Sayang.... Kamu dan Andre itu tidak memiliki hubungan apa apa sayang, Lupakan Andre ya... Papa aja yang nemani kamu di sini." Ujar Pak Romi pelan.


" Tidak mau.... Aku mau Mas Andre Pa, Dia pacarku, Dia calon suamiku bawa dia kemari Pa.... Sekarang Pa... Sekarang." Teriak Liona sambil nangis membuat Pak Romi panik.


" Baiklah sayang.... Tunggu ya Papa akan ke rumah Andre untuk menjemputnya." Ujar Pak Romi.


" Makasih Pa." Sahut Liona mengusap air matanya.


TBC. ....


*Kira kira berhasil nggak ya Pak Romi membawa Andre ke sana? Lalu kira kira apa sih yang akan di lakukan Liona terhadap Andre?

__ADS_1


Jangan lupa like koment Vote dan hadiahnya ya...


Makasih.... Miss U All*...


__ADS_2