
Pagi harinya Rey bertamu ke rumah Indra. Kebetulan hari ini hari Minggu jadi Indra pasti ada di rumah. Rey ingin mengajak Kia dan Indra menjenguk Pak Azis di rumah sakit.
" Assalamu'alaikum." Ucap Indra masuk ke dalam rumah Kia yang pintunya sudah terbuka.
" Wa'alaikumsallam... Eh Bang Rey duduk Bang." Ujar Kia mempersilahkan Rey duduk di sofa ruang tamu.
" Kenapa Bang? Kayaknya lusuh gitu." Tanya Kia duduk di sofa sebrang Rey.
" Cindy marah lagi." Jawab Rey lesu.
" Lagi??? Emang kemarin dah baikan?" Tanya Kia lagi.
" Udah... Aku udah berhasil bujuk dia untuk menjalani rumah tangga seperti kalian." Ujar Rey.
" Lalu? Kenapa dia marah lagi?" Selidik Kia.
" Aku bilang padanya, Bagaimana kalau suatu saat nanti aku ijin kawin lagi." Ucap Rey.
" Hahahaha....." Kia tertawa sambil memegangi perutnya.
" Ada apa Say? Kok ketawanya kenceng banget." Tanya Indra menghampiri mereka.
" Ini Mas Bang Rey lucu, Masa' baru baikan udah ngajak perang lagi." Jawab Kia.
" Perang gimana?" Tanya Indra sambil duduk di sebelah istrinya.
" Bang Rey ijin kawin lagi." Jawab Kia membuat Indra melongo.
" Lo mau kawin lagi? Lo serius mau nikahin si Leni?" Selidik Indra.
" Ya gue bingung harus gimana? Pikiran gue nggak bisa berpikir jernih, Ah serba salah gue... Maklumilah, Coba kalau Lo di posisi gue pasti Lo juga akan ngelakuin hal yang sama." Sahut Rey.
" Lo itu bego' atau gimana Bang? Kenapa harus nikahin Leni?" Tanya Kia.
" Ya kan Bapaknya minta gitu gimana sih." Kesal Rey.
" Bang... Kalaupun Pak Azis nggak tertolong, Kamu nggak perlu nikahin Leni Bang.... Kamu beri aja si Leni uang kompensasi buat buka usaha agar dia bisa mencukupi kebutuhannya, Ya bukannya kita tidak menghargai nyawa... Tapi kematian itu takdir yang kuasa Bang... Kita nggak bisa menolaknya." Jelas Kia.
" Kalau Leni nolak gimana?" Tanya Rey.
" Ya tinggal kamu ancam atau takut takuti dengan kuasamu lah Bang, Gitu aja ribet... Masalahnya di sini kamu kan dah punya istri, Gak mungkin kan Cindy mau di madu? Aku yakin Leni pasti mau mengerti." Ujar Kia.
" Iya juga ya.... Kenapa aku nggak kepikiran ke sana, Yang aku pikirkan palah gimana caranya agar Cindy tidak ninggalin aku saat aku kawin lagi." Ucap Rey menggaruk kepalanya.
" Lo mah Ogeb Bang... Gitu aja udah panik, Makanya jangan terburu buru kalau berpikir Bang nggak baik hasilnya, Mana bikin bini ngambek lagi... Ha ha ha aku nggak bisa bayangin betapa gedhegnya Cindy mendengar kamu mau nikah lagi Bang... Serakah amat jadi laki, Istri satu aja nggak di urusin e... ini mau nikah lagi, Bisa cakar cakaran setiap hari mereka Bang." Cebik Kia.
" Kan udah Abang bilang kalau aku tuh banyak pikiran jadi nggak fokus mikir ke sana, Kalau tahu gitu solusinya aku nggak akan meminta ijin Cindy buat nikah lagi, Itu hanya membuat Cindy marah lagi... Ahhh bego Lo Rey.... Bodoh bodoh bodoh..." Rey merutuki dirinya sendiri.
" Ya udah nanti Cindy di bujuk lagi, Sekarang tugas kita bujuk Leni dulu biar dia nggak nuntut kamu nikahi Bnag." Ucap Kia.
" Iya kamu benar.. Ayo, Makasih ya sampai kapanpun kamu memang selalu menjadi penyejuk hatiku." Puji Rey.
" Nggak usah muji ntar cinta." Sahut Indra tidak terima istrinya di puji pria lain.
__ADS_1
" Posesifnya balik lagi, Aku bilangin ke Kia lhoh.." Ucap Rey.
" Sahang.... Rey rese' nih." Rengek Indra menyandarkan kepalanya di bahu Kia.
" Ih manja amit amit." Ucap Rey berjalan meninggalkan mereka.
" Sayang.." Ucap Indra.
" Apa Mas?" Tanya Kia.
" Kapan kamu hamil lagi? Aku sudah nggak sabar pengin jadi Ayah." Ucap Indra tanpa sadar membuat hati Kia mencelos mengingat kejadian menyakitkan itu.
" Nggak usah di bahas, Sedikasih Allah aja yang mau memberi." Ucap Kia sedikit ketus. Indra menyadari perubahan nada bicara Kia. Ia menatap wajah Kia yang terlihat masam.
" Maaf." Ucap Indra.
" Kita berangkat sekarang, Bang Rey udah nungguin." Kia segera beranjak lalu berjalan keluar rumah menuju mobil Rey.
" Sayang.. Tunggu." Panggil Indra.
Kia tidak menghiraukannya, Ia terus melanjutkan langkahnya. Sesampainya di depan mobil Rey, Kia segera masuk ke dalam menduduki kursi penumpang di ikuti oleh Indra.
" Sayang maafin aku, Bukan maksudku mengingatkanmu tentang kejadian itu." Ucap Indra menggenggam tangan Kia.
" Jalan Bang." Ucap Kia mengabaikan Indra di sebelahnya.
" Say.... Maaf... Maafin aku." Ucap Indra melendhot lengan Kia. Kia menghela nafasnya untuk meredamkan emosinya. Entah mengapa dia akan cepat emosi jika ingat kejadian waktu itu.
Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Indra merebahkan kepalanya di bahu Kia, Sedangkan Kia menatap keluar jendela. Tak selang beberapa lama akhirnya mereka sampai ke rumah sakit dimana Pak Azis di rawat.
Ceklekkk
Rey mendorong pintu ke dalam, Ia melihat Pak Azis duduk bersandar pada kepala ranjang. Rey segera menghampirinya di ikuti Kia dan Indra.
" Pagi Pak." Sapa Rey.
" Pagi Nak." Lirih Pak Azis.
" Pak... ini Rey, Orang yang nabrak Bapak dan mereka adiknya Rey." Ucap Leni kepada Pak Azis.
" Maafkan Bapak Nak Rey yang sempat meminta permintaan konyol kepadamu Nak." Ujar Pak Azis pelan.
" Tidak masalah Pak saya lega kalau Bapak baik baik saja." Sahut Rey.
" Mbak Leni bisakah kita berbicara sebentar?" Ucap Kia.
" Bisa... Ayo." Sahut Leni.
Mereka berdua keluar meninggalkan para pria di dalam. Kia mengajak Leni ke taman yang ada di area rumah sakit tersebut. Mereka duduk di kursi saling bersebelahan.
" Apa yang ingin kamu bicarakan Mbak?" Tanya Leni.
" Panggil Kia aja gimana?." Ujar Kia.
__ADS_1
" Baiklah Kia, Kamu panggil aku Leni juga donk." Sahut Leni.
" Ok... Leni." Ucap Kia.
" Len... Sekarang Bapak sudah mulai stabil, Berarti tuntutan untuk menikahimu otomatis batal, Lagian Bang Rey juga udah punya istri, Gara gara kejadian ini mereka bertengkar semalam." Ucap Kia.
" Ya ampun Kia... Maafin aku ya, Aku sudah membuat kacau rumah tangga orang, Sebenarnya aku hanya asal ngomong gitu, Aku juga tidak mau jadi pelakor, Kemarin aku bener bener cemas jadi nggak bisa berpikir apa apa, Yang aku pikirin kesehatan Bapak, Maafin aku ya." Ujar Leni.
" Iya nggak pa pa... Nanti biar di beresin Bang Rey soal istrinya." Sahut Kia.
" Aku jadi merasa bersalah dengan Abang kamu, Heh... Aku nggak berpikir kalau omonganku bisa jadi boomerang untuk orang lain, Maaf ya..." Sesal Leni.
" Sebenarnya bukan kamu aja yang bilang, Tapi Bapak kamu juga bilang gitu, Makanya Bang Rey minta ijin sama istrinya mau nikah lagi, Ya istrinya marah lah nggak terima kalau di madu." Jelas Kia.
" Itumah Bang Reynya aja yang bodoh... Belum tahu pastinya udah ijin duluan... Itu sama aja nyumpahin Bapak gue mati... Geli aku bayanginnya ha ha ha." Kekeh Leni.
" Eh tapi aku siap lhoh bantu Bang Rey jelasin sama istrinya." Sambung Leni.
" Iya nanti kalau rayuan Bang Rey nggak mempan kamu harus bantuin dia.." Ujar Kia.
" OK OK... By the Way makasih ya udah biayain pengobatan Bapak aku." Ucap Leni.
" Itu sudah tanggung jawab kami Len." Sahut Kia.
" Bapakmu kerja dimana?" Tanya Kia.
" Bapak kerja di rumah makan sederhana, Kalau aku lagi mau cari pekerjaan." Jawab Leni.
" Gimana kalau aku bantu beliin rumah makan gitu? Biar kamu sama Bapak kamu bisa punya usaha makanan sendiri." Ucap Kia.
" Nggak usah aku nggak mau ngerepotin kamu lagi." Ujar Leni.
" Nggak pa pa itung itung buat modal suksesmu nanti." Sahut Kia.
" Gimana? Mau ya..." Tanya Kia.
" Hmmm Baik deh aku terima, Tapi aku akan membayar sewa tiap bulannya, Aku nggak mau gratisan, Tapi semampuku aja ya bayarnya jangan di target kaya' yang lainnya." Ujar Leni.
" OK deh terserah kamu saja gimana baiknya." Sahut Kia.
" Makasih ya... Baru kali ini aku merasa punya temen... Selama ini aku selalu di jauhi temen temenku karna aku anak orang miskin yang tidak punya ibu... Makasih Kia... Aku merasa punya teman sekarang... Maukah kamu jadi temanku?" Tanya Leni menatap Kia.
" Tentu." Sahut Kia.
Mereka saling berpelukan, Leni merasa bahagia ternyata bukan hanya cantik, Kia bahkan punya hati seperti malaikat, Ia mau berteman dengannya yang notabenenya orang tidak punya. Kia tidak membeda bedakan kasta untuk berteman dengannya.
" Aku berjanji akan selalu menjadi teman yang baik." Batin Leni.
TBC...
*Maaf jika mengecewakan readers karna Pak Azis meminta Rey menikahi Leni, Dan Rey meminta ijin menikah lagi sama Cindy ya....
Sekarang udah Clear ya... Mereka akan jadi teman rasa saudara saja.. Miss U All...
__ADS_1
Tetap baca dan dukung cerita author ya...
Jangan lupa like dan kasih hadiah mawar donk buat author*...