Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Suami manja


__ADS_3

Setelah beberapa saat mereka saling mengungkapkan perasaan, Kia turun dari ranjang mengambil sebutir obat dan segelas air diatas nakas.


" Sekarang waktunya minum obat." Kia menyodorkan obat itu ke bibir Indra.


" Gak mau, Pahit, aku gak bisa minum obat say." Tolak Indra membuat Kia melongo.


" Masa' sih, terus gimana donk, kamu masih demam mas, ntar gak sembuh sembuh kalau gak minum obat." Ujar Kia.


" Pakai bibir kamu biar manis." Indra tersenyum penuh arti menatap Kia.


" Yang namanya obat tetap aja pahit mas, ada ada aja deh." Gerutu Kia.


" Tapi kalau ngasihnya pakai bibir berubah jadi manis Say, ayolah, besok aku ada rapat penting, kalau gak sembuh gimana." Bujuk Indra. Kia bukan orang bodoh, yang tidak tahu maksud suaminya.


" Gak mau, bibirmu bekas ulet keket, gatel." Cebik Kia kesal mengingat bibir suaminya dicium wanita lain.


" Jangan di ungkit donk Say, Udah aku pecat juga, Lagian aku udah basuh berkali kali sampai lecet nih bibir." Terang Indra menunjukkan bibirnya yang memang sedikit lecet.


" Bibir kamu lecet itu bukan karna kamu basuh, tapi karna di gigit ulet keket mas." Kesal Kia.


" Sayang.... percaya deh, jangankan di gigit, orang tuh bibir baru nempel aja, kamu udah datang." Sahut Indra.


" Oh... jadi kalau aku gak datang, kamu mau main gigit gigitan gitu." Ujar Kia sambil berkacak pinggang.


" Eh.... enggak say bukan begitu maksudku." Indra sedikit gugup, Ia merutuki kebodohannya yang palah melontarkan kata kata yang memancing emosi istrinya.


" Halah alasan, Nih obatnya aku taruh disini, Mau kamu minum syukur, enggak juga gak pa pa, toh sakit kamu sendiri yang ngerasain, aku sih bodo' amat." Kia segera berbaring membelakangi Indra. Ia menutup tubuhnya dengan selimut yang sampai ke bahunya.

__ADS_1


" Sayang... jangan ngambek donk." Indra ikut berbaring memeluk Kia seperti biasanya. Kia hanya acuh saja, Ia asik memejamkan mata.


Sampai tengah malam tiba, Indra tidak tenang dalam tidurnya, Ia terus bergerak gerak seperti mencari posisi yang nyaman. Kia yang merasa terusik, segera bangun dan mengecek suhu tubuh Indra.


" Astaga.. Panas banget." Kia melirik keatas nakas, ternyata Indra benar benar tidak meminum obatnya.


" Mas...mas bangun, minum obat dulu." Kia menggunjang bahu Indra dengan pelan.


" Engh..." Lenguh Indra masih memejamkan matanya, sepertinya Indra juga menggigil.


" Mas bangun." Indra mengerjapkan matanya yang terasa panas.


" Sakit.." Indra memijat kepalanya.


" Minum obat dulu ya, ayo." Kia membantu Indra duduk bersandar pada headboard.


Saat Kia ingin menjauhkan bibirnya, Indra menahan tengkuknya. Ia ******* bibir Kia, Mengekspos dan mengabsen setiap inchinya. Kia memejamkan mata, menikmati ciuman suaminya yang masih terasa ada pahit pahitnya. Indra terus mencecap bibir Kia, hingga rasa pahit itu berubah menjadi manis. Mereka saling menikmati bertukar saliva. Dirasa keduanya kehabisan nafas, Indra segera melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Kia menggunakan jempolnya.


" Terima kasih sayang." Ucap Indra.


" Hmmm sekarang tidur lagi, biar besok pagi demamnya sudah turun." Ujar Kia. Indra segera membaringkan tubuhnya dengan posisi miring.


" Gantian peluk aku." Ucap Indra dengan nada manja. Kia memeluk Indra dari depan, sebenarnya posisi ini kurang nyaman baginya, tetapi apapun akan Ia lakukan demi suaminya.


Keesokan harinya, Kia bangun lebih dulu dari Indra. Ia sudah mempersiapkan baju kantor Indra. Ia mencoba membangunkan Indra dengan mengguncang pelan bahunya. Setelah bangun, Indra segera mandi.


" Pakaikan bajunya Say." Ucap Indra yang baru keluar kamar mandi, yang sudah memakai celana panjangnya dengan bertelanjang dada. Memang selama ini Imdra selalu memakai celananya sendiri, Kia masih malu untuk membantunya.

__ADS_1


" Sini." Kia menepuk ranjang, agar Indra duduk di sana. Dengan telaten Kia mendandani suaminya, dari memakai baju, dasi bahkan menyisir rambut Ia lakukan.


" Selesai, ayo turun ke bawah, mama sudah menunggu untuk sarapan." Mereka berdua berjalan berdampingan menuju meja makan.


" Bang Rey." Pekik Kia.


" Hai.. apa kabar." Sapa Rey.


" Baik bang, abang sendiri gimana." Tanya Kia.


" Seperti yang kau lihat, Baik di luar terluka di dalam." Jawab Kia.


" Gak usah lebay." Cebik Indra.


" Ayo kita mulai sarapannya." Ujar mama.


Kia kembali melayani Indra dengan baik, Ia mengambilkan makanan pada piring Indra.


" Suapi Say." Titah Indra.


" Manja banget jadi suami." Cebik Rey.


" Suka suka gue donk, istri istri gue." Sahut Indra. Mama hanya geleng geleng kepala.


Tanpa bantahan, Kia segera menyuapi Indra, sesekali Indra bergantian menyuapi Kia. Hal itu membuat satu orang di depannya merasa panas dan iri. Ia menyesal ikut sarapan pagi ini.


"Tahu gini aku gak mau mampir, bikin sakit hati aja." Gerutu Rey dalam hati.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2