Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
46. Nasehat Mama Kia


__ADS_3

Bugh.....


Tiba tiba Brayen memukul wajah Bryan saat Bryan sedang duduk di ruang tamu bersama Papa dan Mamanya.


" Brayen." Pekik Mama Kia menutup mulutnya.


" Kalau lo nggak bisa jagain Vanka mending lo pergi jauh jauh dari Vanka brengsek." Bentak Brayen menarik kerah Bryan.


" Apa lo nggak sadar kalau lo hanya membawa kesialan bagi Vanka." Sambung Brayen.


Bryan beranjak berdiri di depan Brayen.


" Apa maksud lo? Lo pikir gue mau mengalami kejadian seperti ini? Semua yang terjadi pada Vanka gara gara lo, kalau dulu lo nggak ninggalin dia, saat ini mungkin dia hidup bahagia bersama orang yang di cintainya, tapi apa? Lo justru menolaknya, sekarang lo nyalahin gue? Gue nggak mau Bray kalau sampai Vanka mengalami hal buruk, kalau bisa aku tukar aku akan menukar diriku untuk Vanka." Tekan Bryan menatap tajam ke arah Brayen.


" Lo hanya lelaki pengecut yang selalu lari dari masalah, itu sudah menjadi sifatmu sejak dulu, bahkan sejak lahir." Sambung Bryan menunjuk dada Brayen


" Dan ingat! Lo nggak usah sok peduli dengan istri gue, mending lo urusin istri lo sendiri, sudahkah lo bikin dia bahagia? Sudahkah ku membuatnya nyaman tanpa adanya bayang bayang wanita lain? Gue harap lo akan menyadari jika sikapmu ini melukai hati istri lo sendiri." Ucap Bryan meninggalkan ruang tamu.


Brayen menatap ke arah Rea yang nampak sedih karena sikapnya yang terlalu panik saat mendengar kabar jika Vanka di culik. Sudah terhitung dua hari Vanka belum di temukan, itu membuat keluarga nampak gelisah dan khawatir dengan keadaan Vanka.


Di dalam kamar Bryan, Ia sedang telungkup di atas ranjangnya sambil menatap foto Vanka pada layar ponselnya.


" Sayang sebenarnya kamu dimana? Siapa yang membawamu pergi dariku? Mas sangat kesepian tanpamu sayang, Mas sangat merindukanmu.... Bersabarlah sayang... Jaga dirimu baik baik di sana, Mas pasti akan menemukanmu, Mas sedang menyelidiki siapa yang membawamu, Mas akan memberikan pelajaran kepada pria itu, Mas tidak akan pernah melepaskannya." Monolog Bryan.


Bryan segera mencari kontak salah satu anak buahnya, Ia segera meneleponnya.


" Halo bos." Sapa anak buah Bryan. Sebut saja namanya Fahmi.


" Apa ada perkembangan tentang penyelidikan kalian?" Tanya Bryan.


" Sebentar lagi semuanya akan terungkap bos." Sahut Fahmi.


" Sebentar sebentar dari kemarin kamu mengatakan sebentar, kalau tidak bisa bekerja segera ajukan pengunduran diri lalian, masih banyak yang mau bekerja denganku Fahmi, saya beri waktu satu jam, jika dalam waktu satu jam tidak beres kalian semua akan menanggung akibat dari kemarahanku." Tegas Bryan mematikan sambungan teleponnya.


" Argh..... Sial sial sial." Teriak Bryan menarik kasar rambutnya.

__ADS_1


" Pria itu... Aku pernah bertemu dengannya tapi dimana? Aku harus segera mengingatnya supaya aku bisa mendapatkan petunjuk." Ujar Bryan.


Bryan berjalan mondar mandir di dalam kamarnya mencoba mengingat sosok pria yang membawa Vanka saat itu.


" Yoseph." Gumam Bryan setelah mengingat pria itu.


" Ya dia Yoseph, orang yang kalah tender denganku waktu di Bali, aku harus bisa menemukan alamatnya." Ucap Bryan.


Bryan kembali menelepon Fahmi untuk memberikannya tugas. Setelah selesai Ia segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


Di ruang tamu saat ini Brayen, Rea, Mama Kia dan Papa Indra sedang duduk bersama.


" Bray sayang.... Kamu harus bisa mengendalikan dirimu jika mengenai Vanka Bray, jaga perasaan Bry dan juga Rea, sikap kepedulianmu kepada Vanka membuat mereka terluka, jangan ulangi kesalahanmu untuk yang ke dua kali sayang, kau juga sudah berjanji kepada Vanka akan menyayangi Rea kan? Kau berjanji tidak akan menyakiti hati Rea." Tutur Mama Kia.


" Aku hanya merasa bersalah saja kepada Vanka Ma, aku kasihan atas apa yang selalu menimpa Vanka Ma, awal penderitaan Vanka bermula dari diriku, aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalah dalam hatiku ini." Ujar Brayen.


" Semua sudah berlalu sayang, kendalikan dirimu mulai saat ini, hilangkan rasa bersalahmu kepada Vanka karna Bryan sudah menebusnya, sama seperti saat kamu kecil dulu, kamu yang berbuat salah Bryan yang menerima hukumannya, harusnya kamu lebih merasa bersalah kepada Bryan di bandingkan dengan Vanka." Ucap Mama Kia.


" Mama tahu dulu kamu sangat mencintai Vanka, maaf Rea Mama harus mengatakan ini supaya Brayen memahami akan kesalahannya." Ujar Mama Kia menatap Rea.


" Dulu kamu memang sangat mencintai Vanka, Mama tahu betul itu, tapi sekarang ada wanita yang harus kau cintai sama besarnya dengan kamu mencintai Vanka Bray, Rea akan sangat terluka jika kamu masih menunjukkan kepedulianmu kepada Vanka yang begitu besar, apa kamu memikirkan hal itu? Bryan suaminya.... Biarkan Bryan yang mengurus Vanka dan masalahnya, kamu jangan lagi menyalahkan Bryan atas apa yang terjadi kepada Vanka, semua ini musibah.... Musibah sayang." Ujar Mama Kia mencoba memberi pengertian.


" Mama berbicara seperti ini karna Mama pernah merasakannya." Sambung Mama Kia membuat hati Papa Indra tertohok.


" Papamu dulu lebih peduli pada orang lain sampai Mama harus kehilangan anak pertama Mama, setelah itu Papamu merasakan penyesalan yang sangat dalam, apa kamu mau merasakan apa yang Papamu rasakan? Harusnya penyesalanmu kepada hubunganmu dengan Vanka bisa memperbaiki dirimu untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rea, jadi berhentilah bersikap berlebihan kepada Vanka, kamu paham kan apa maksud ucapan Mama ini?" Tanya Mama Kia kepada Brayen.


" Iya Ma aku tahu, Mama tidak perlu bicara berputar putar begitu, kejauhan Ma mending langsung pada intinya." Sahut Brayen.


Mama Kia menghela nafasnya pelan.


" Kamu kalau belum di beri pemahaman yang panjang mana tahu Bray." Ujar Mama Kia.


" Iya Ma maaf." Ucap Brayen.


" Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sekarang?" Tanya Mama Kia.

__ADS_1


" Iya Ma." Sahut Brayen.


Brayen serong menghadap Rea. Ia menggenggan tangan Rea dengan erat.


" Sayang maafin aku ya, aku tidak bermaksud untuk melukaimu tapi aku benar benar khawatir kepada Vanka, sekarang aku berjanji padamu untuk tidak berbuat berlebihan lagi, maafkan aku ya." Ucap Brayen menatap Rea.


" Iya Mas aku memaafkanmu, tapi aku mohon jangan ulangi lagi, aku manusia biasa yang lemah akan perasaan yang selalu tersakiti Mas." Ujar Rea.


" Tentu sayang, aku akan merubah sikapku demi dirimu." Ujar Brayen memeluk Rea.


" Ehm ehm." Dehem Papa Indra membuat Brayen melepaskan pelukannya.


Tap tap tap....


Bryan berjalan menuruni tangga dengan berpakaian casual.


" Kamu mau kemana Bry?" Tanya Mama Kia.


" Aku mau menjemput istriku Ma." Sahut Bryan.


" Apa sudah ada petunjuk tentang penyelidikanmu?" Tanya Papa Indra.


" Sedikit Pa, aku menduga dia adalah Yoseph." Sahut Bryan.


" Yoseph siapa?" Tanya Mama Kia.


" Pesaing bisnis Ma, Bry pergi dulu Ma Pa, doakan Bry berhasil menyelamatkan Vanka." Ucap Bryan menyalami kedua orang tuanya.


" Hati hati Bry." Ucap Papa Indra.


" Iya Pa." Sahut Bryan.


Bryan berjalan keluar rumah. Rea menatap Brayen yang nampak tidak bereaksi. Hatinya merasa lega setidaknya Brayen mencoba menepati janjinya.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2