Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Pagi hari Papa Miko dan Mama Ria mengunjungi Kia ke rumah sakit Harapan Ibu, Mereka berjalan menuju ruangan Kia dan Babbynya di rawat.


Ceklek...


Mama Ria masuk ke dalam di ikuti Papa Miko dari belakang, Keduanya berjalan menghampiri Kia yang sedang berbaring di atas ranjang.


" Mama." Ucap Kia.


" Selamat sayang sekarang kau menjadi seorang ibu, Semoga mereka menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedu orang tuanya." Ucap Mama Ria memeluk Kia.


" Makasih Ma." Sahut Kia.


" Wah tampannya cucu Oma." Ucap Mama Ria menghampiri Mama Meri yang sedang menggendong Bray.


" Iya donk Oma, Anak siapa dulu, Daddy Indra." Sahut Mama Meri.


Setelah mencuci tangan Mama Ria mengambil alih gendongan Bray. Ia menimang cucu pertamanya sedangkan Papa Miko menggendong cucu keduanya.


" Kok mirip banget ya Ma." Ujar Papa Miko.


" Lha gimana nggak mirip sih Pa orang kembar juga." Cebik Mama Ria.


" Ah iya ya." Sahut Papa Miko membuat semuanya tertawa.


" ih imut banget sih Opa jadi pengin punya yang kaya' gini." Ujar Papa Miko.


" He he Mama juga pengin Pa, Tapi sayang nggak bisa." Sahut Mama Ria.


" Gimana kalau kita satu satu Jeng, Biar Indra bikin lagi." Ujar Mama Meri.


" Bikinnya sih mau aja Ma, Tapi yang hamil pasti nggak mau." Seloroh Indra.


" Iya lah orang ini masih sakit masa' di suruh hamil lagi." Cebik Kia membuat semua orang tertawa.


" Boleh pulang kapan?" Tanya Mama Ria.


" Nanti sore Ma." Sahut Kia.


" Baiklah jaga cucu cucu Oma ya, Rawatlah mereka dengan penuh kasih sayang." Tutur Mama Ria.


" Akan Kia usahakan Ma" Sahut Kia.


" Sekarang kamu sarapan dulu sayang." Ujar Indra.


Indra membantu Kia duduk bersandar pada headboard. indra menyuapi Kia dengan telaten. Sedangkan para orang tua sibuk dengan babby twins.


" Udah Mas kenyang." Ucap Kia.


" Baiklah Mas makan dulu ya." Ujar Indra berjalan menuju sofa memakan makanan yang masih tersisa di piring Kia.


Sebenarnya Kia sudah sering melarang Indra memakannya tapi kata Indra biar romantis.


Sore hari Kia pulang ke rumah dengan menggunakan mobil yang di kemudikan oleh Papa Miko. Mama Ria menggendong Babby Bry sedangkan Kia menggendong Babby Bray. Selama perjalanan menuju rumahnya Indra tak henti hentinya mengelus pipi Bray hingga memerah. Ia merasa gemas dan seperti mendapat mainan baru.


Indra memang tidak bisa menggendong tapi Ia sering memangku menggunakan bantal di kakinya. Ia bisa bermain main dengan Babbynya.


Sesampainya di rumah Kia di sambut meriah oleh Mama Meri, Papa Anton serta para pelayan di rumah itu.


" Selamat datang Babby Bray dan Babby Bry." Ucap mereka serempak.


" Makasih semuanya." Ucap Kia.


Para pelayan menyalami Kia memberi ucapan selamat dan doa untuk kedua putranya.


" Selamat Ki." Ucap Rey memeluk Kia.


" Makasih Bang." Sahut Kia.

__ADS_1


" Selamat Ki." Ucap Cindi.


" Makasih Cin, Hallo Babby Ar." Ucap Kia mengelus pipi Arsya yang sedang tidur di gendongan Cindi.


" Tidur dia." Ujar Cindi.


" Ayo masuk ke dalam ada seseorang yang menunggu kedatanganmu sayang." Ucap Mama Meri menatap Kia.


" Siapa Ma?" Tanya Kia penasaran.


" Rahasia pokoknya." Sahut Mama Meri.


Kia masuk ke dalam rumah, Sesampainya di ruang tamu Ia di kagetkan dengan suara seseorang yang sangat Ia harapkan kehadirannya karena sudah lama tidak bertemu.


" Selamat Ki atas kelahiran kedua putraku, Semoga mereka menjadi anak soleh seperti aku Papanya." Ucap Andre memeluk Kia.


" Makasih Bang, Kapan Bang Andre pulang?" Tanya Kia.


" Satu jam yang lalu." Sahut Andre.


" Udah Bro bini gue." Ujar Indra mendorong Andre.


" Selamat Brok makasih udah buat gue jadi Papa." Ucap Andre memeluk Indra.


" Makasih Bro tapi jangan sebut mereka putramu, Mereka putra gue." Sahut Indra melepas pelukannya


" Pelit amat." Cebik Andre menghampiri Babby Bry yang di gendong Mama Ria.


" Hallo anak Papa, Kamu ganteng seperti Papa deh nggak seperti Daddymu." Ucap Andre.


" Enak aja Lo sama gue gantengan gue kemana mana ya." Sahut Indra tidak terima.


" Kalian ini kalau ketemu pasti berantem, Kalau jauh kangen bikin Mama pusing aja, Udah gedhe udah punya anak juga masih kaya' anak TK." Omel Mama Meri.


" Lha kan kami saat kecil tidak bersama Ma, Jadi ya kita lakuin waktu besar aja." Sahut Andre keceplosan.


" Eh bukan itu maksud Andre Ma." Sahut Andre.


" Iya Ma jangan sedih lagi, Baiklah biar tidak berantem Brayen mirip aku, Dan Briyan mirip Andre, Bener nggak Ma?" Tanya Indra mencairkan suasana.


" Ah iya kau benar sayang... Jadi jangan berdebat lagi." Sahut Mama Meri.


" Iya Ma maaf." Ucap Andre dan Indra bersamaan.


Tap tap


Suara deru langkah menuruni anak tangga, Kia mendongak menatap seseorang yang turun dari anak tangga.


" Lio..." Pekik Kia.


" Kia." Pekik Lio.


Mereka saling berpelukan sebentar.


" Selamat atas kelahiran kedua putramu, Semoga keduanya menjadi anak soleh, Ah aku kangen banget sama kamu Ki, Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Makasih kamu sudah mendukungku selama ini." Ucap Lio.


" Selamat juga atas kesembuhanmu dan aku doakan semoga cepat memberi si kembar adik untuk mereka." Ujar Kia.


" Amien doakan saja Ki, Aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia bila itu terjadi." Sahut Lio.


" Pasti saat itu akan tiba, Percayalah semua akan terasa indah pada waktunya." Ujar Kia.


" Hai ini Bray ya." Ucap Lio mengelus pipi Bray.


" Iya aunti." Sahut Kia menirukan suara anak kecil.


" Silahkan duduk Bu besan." Ucap Mama Meri.

__ADS_1


" Aku tidurkan Bry dulu di kamar." Sahut Mama Ria.


Mereka berkumpul di ruang keluarga untuk saling berbincang, Sedangkan Kia dan Indra masuk ke dalam kamarnya menidurkan kedua putra mereka.


" Makasih sayang kamu udah menyempurnakan hidupku, Dan maaf aku tidak bisa banyak membantumu karena kekuranganku." Ucap Indra memeluk Kia yang sedang duduk di tepi ranjang.


" Jangan berkecil hati Mas, Apapun keadaanmu aku selalu mencintaimu." Sahut Kia.


" Iya sayang maaf." Ucap Indra.


Tok tok


Kia dan Indra menoleh ke arah pintu yang memang terbuka. Lio berjalan menghampiri mereka.


" Apa aku mengganggu waktu kalian?" Tanya Lio.


" Ah tidak, Yank Mas keluar dulu ya mau ngumpul sama yang lain." Ucap Indra mencium kening Kia.


" Iya Mas." Sahut Kia.


Indra meninggalkan kamarnya.


" Ada apa Li?" Tanya Kia.


" Aku pengin curhat Ki." Ucap Lio.


" Iya kenapa? Apa ada masalah? Apa hubunganmu dengan Bang Andre baik baik saja?" Tanya Kia memastikan.


" Tidak ada si hubunganku dengan Mas Andre juga baik baik saja." Sahut Lio.


" Lalu?" Kia kembali bertanya.


" Aku cuma mau minta pendapat dari kamu aja." Ucap Lio.


"Boleh." Sahut Kia.


" E... A... Aku." Lio menjeda ucapannya.


" Katakan saja jangan ragu." Ujar Kia.


" Aku ingin ikut merawat si kembar, Boleh nggak?" Tanya Lio hati hati.


" Maksudmu?" Tanya Kia.


" Yah aku ingin tinggal di sini membantumu merawat si kembar, Kata orang kalau kita pengin cepet hamil harus sering di pipisin sama bayi dulu." Ujar Lio membuat Kia tertawa.


" Kau ini masih percaya sama yang gituan aja, Rejeki itu datangnya dari Allah Lio, Seberapa kali pun kita di pipisin bayi kalau Allah belum memberikannya kepada kita, Ya nggak bakalan kita bisa hamil, Berdoa saja pada Allah jangan percaya yang macam macam." Jelas Kia.


" He he maaf aku kan tidak tahu." Ucap Lio.


" Bukannya aku tidak boleh kamu ikut merawat dan tinggal di sini, Tapi menurutku tetaplah tinggal berdua bersama Bang Andre, Habiskan waktu berdua dengannya, Dan ingat jangan sampai kecapekan agar kondisimu fit." Ujar Kia.


" Baiklah... Makasih ya udah kasih aku saran, Sejak ibuku tiada aku tidak pernah mendengar nasehatnya lagi." Ucap Lio.


" Tenanglah jangan bersedih kami keluargamu akan siap membantumu." Ujar Kia.


" Makasih Ki kamu memang saudara terbaik untukku." Ucap Lio memeluk Kia. Baru kali ini Ia menemukan sosok ibunya dalam diri Kia.


TBC ...



**Si kembar ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya


Makasih

__ADS_1


Miss U All**


__ADS_2