
Rey, Kia dan Indra berjalan tergesa gesa menuju ruang ICU, Mereka menemui Dokter yang memeriksa Pak Azis. Orang yang di tabrak oleh Rey. Dokter nampak baru saja keluar dari ruangan.
" Gimana keadaannya Dok?" Tanya Rey cemas.
" Keadaan pasien semakin kritis, Harapan untuk hidup sangatlah tipis jadi kita berdoa saja semoga ada keajaiban dari yang Maha Kuasa." Jelas Dokter membuat tubuh Rey jadi lemas.
" Dokter dokter... Gimana Bapak saya Dok?" Tanya seorang gadis sambil berlari dengan nafas ngos ngossan.
" Bapak anda kondisinya kritis, Sepertinya Beliau sudah tidak bisa bertahan lagi." Jelas Dokter segera berlalu dari sana.
" Bapak.... " Lirih gadis itu. Gadis dengan paras lumayan cantik, Berpakaian sederhana dan rambut kucir kudanya.
" Kau... Apa kau yang menabrak Bapak sampai seperti ini?" Tanya gadis itu menuding ke arah Rey. Rey hanya mengangguk saja.
" Dasar kau pembunuh.... Kau hampir membuat Bapakku mati... Kalau terjadi sesuatu dengan Bapakku aku akan melaporkanmu ke polisi, Aku akan membuatmu di penjara seumur hidup." Teriak Gadis itu.
" Sabar Mbak.... Sabar dulu ya... " Ujar Kia mencoba menenangkan gadis itu.
" Sabar gimana Mbak? Bapak saya kritis di dalam sana, Bapak sedang berjuang antara hidup dan mati... Bapak...." Ucap Gadis itu.
" Pertama tama perkenalkan nama saya Kia, Ini Bang Rey dan ini suami saya." Ucap Kia mengulurkan tangannya.
" Ah iya Mbak, Saya Leni." Sahut Gadis itu yang ternyata bernama Leni.
" Maafkan abang saya Mbak Leni, Abang saya tidak sengaja menabrak Bapak Mbak, Saya turut prihatin atas kejadian ini Mbak dan Kami akan bertanggung jawab penuh atas semua yang menimpa keluarga Mbak Leni." Ujar Kia.
"Keluarga??? Saya tidak punya siapa siapa lagi selain Bapak saya Mbak...Hiks... Jika Bapak saya tiada, Saya hidup dengan siapa..... Saya akan hidup sebatang kara Mbak." Isak Leni.
" Sabar Mbak.. Kita berdoa saja semoga Bapak Mbak Leni baik baik saja." Ucap Kia.
" Amien... Aku selalu berdoa untuk kesehatannya Mbak, Aku belum sempat membahagiakannya... Aku tidak mau Bapak meninggalkan aku sebelum melihat aku berumah tangga..." Ujar Leni.
" Semoga Allah mengabulkan semua yang di cita citakan Mbak Leni, Tentunya yang terbaik untuk Mbak Leni." Ujar Kia.
" Terima kasih Mbak." Sahut Leni.
" Maaf Nona Leni... Saya minta maaf karna kecerobohan saya membuat Bapak anda dalam kondisi kritis seperti saat ini." Sesal Rey.
" Kalau sampai Bapak saya Kenapa napa kamu harus betanggung jawab atas hidup saya, Kamu harus nikahin saya." Ucap Leni.
Deg.... Mereka bertiga saling melempar pandangan, Kenapa permintaan Leni sama dengan permintaan Bapaknya? Memang seorang Bapak mengerti apa yang terbaik buat putrinya.
" Mbak Leni... Abang saya sudah beristri, Bagaimana bisa Abang saya menikahi Mbak Leni?" Jelas Kia.
" Saya tidak peduli, Yang jelas saya tidak akan hidup sendiri." Sahut Leni.
" Baiklah Mbak Leni kita bicarakan ini lain kali saja, Sekarang kami pamit pulang dulu, Jangan khawatir Kami tidak akan kabur dan lepas dari tanggung jawab, Papa Kami salah satu Dokter di rumah sakit ini,Kami akan kesini lagi besok." Ucap Kia.
__ADS_1
" Saya percaya kalian orang yang baik, Maaf tadi saya terbawa emosi." Sahut Leni.
" Tidak masalah Mbak... Ini ada sedikit rejeki buat pegangan Mbak Leni selama di sini." Ucap Kia memberikan sejumlah uang.
" Terima kasih Mbak, Dan maaf sekali saya harus menerima pemberian dari Mbak Kia karna memang saat ini saya tidak memegang uang sama sekali." Ujar Leni.
" Nggak pa pa Mbak, Kami pulang dulu..." Ucap Kia.
" Hati hati di jalan Mbak." Sahut Leni.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan Leni sendirian di sana. Mereka menuju mobil Kia karna mobil Rey di tinggal di lokasi kejadian.
" Biar aku yang nyetir Bang." Ucap Kia saat Rey membuka pintu kemudi.
" Baiklah." Rey memutar membuka pintu belakang.
Kia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pelataran rumah sakit.
" Mau pulang kemana Bang?" Tanya Kia sambil tetap fokus menyetir.
" Ke.... Kemana ya???." Sahut Rey bingung.
" Ke rumah Cindy gimana? Selesaikan dulu masalah kalian baru nanti kita selesaikan masalah dengan Pak Azis." Saran Kia.
" Baiklah....Kebetulan Cindy juga lagi di rumah." Sahut Rey.
" Nggak kerja dia?" Tanya Kia.
" Baiklah kita kesana." Sahut Kia.
Kia melajukan mobil ke rumah Cindy yang sudah di beri tahu alamatnya oleh Rey. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di kediaman Cindi. Rumah sederhana, Bersih dan terasa sejuk dengan berbagai pepohonan di depannya. Kia menghentikan mobilnya, Rey segera turun dari sana.
" Ayo mampir." Ucap Rey.
" Nggak ah Bang... Lain kali aja." Sahut Kia.
" Jangan emosi Rey... Perasaan kamu yang selalu jadi penasehat aku, Giliran dirinya sendiri marah marah." Sindir Indra.
" OK OK... Ternyata kenyataan tak semudah ucapan, Aku masuk dulu." Pamit Rey.
Rey segera berjalan memasuki rumah yang di tinggali Cindy selama ini, Rey membuka pintu, kepalanya melongok ke dalam mencari sosok istrinya tapi tidak Ia temui. Rey melangkah menuju kamar Cindy, Ternyata Cindy sedang tengkurap di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
" Sayang.." Rey mendekati Cindy, Ia duduk di tepi ranjang.
" Sayang.... Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Rey.
" Bicaralah aku mendengarnya." Sahut Cindy.
__ADS_1
" Sayang... Duduklah di sini aku ingin membicarakan hal serius denganmu, Ku mohon." Ujar Rey. Cindy beranjak dari posisinya, Ia duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Rey.
" Sayang.." Rey menggenggam tangan Cindy.
" Dengarkan aku, Aku benar benar ingin menjalin hubungan yang lebih baik denganmu, Aku ingin kita seperti pasangan suami istri pada umumnya, Aku mulai ada rasa denganmu, Aku mencintaimu Cin walau masih terasa abu abu tapi aku menyakininya kalau rasa ini adalah rasa cinta untukmu, Aku tidak mau kehilanganmu." Ucap Rey sambil menyibak anak rambut yang menutupi wajah Cindy.
" Kita bangun rumah tangga yang bahagia ya.." Sambung Rey.
" Baiklah Mas... Kita jalani dulu apa adanya, Sebenarnya aku juga menginginkan pernikahan sekali seumur hidupku, Aku memberimu kesempatan untuk membuktikan cintamu padaku." Sahut Cindy. Ia sudah memikirkan dengan matang tentang keputusannya ini.
" Tapi sayang...." Ucap Rey, Cindy menatap suaminya yang sepertinya sedang mencemaskan sesuatu.
" Ada apa Mas?" Tanya Cindy.
" Bagaimana kalau suatu hari nanti aku meminta izin untuk...untuk.." Rey menjeda ucapannya, Ia bingung harus ngomong apa agar Cindy mau menerimanya.
" Untuk apa Mas?" Tanya Cindy lembut.
" Menikah lagi." Jawab Rey.
Juedarrrrrr Cindy langsung menarik tangannya dari genggaman Rey. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan Rey yang meminta izin untuk menikah lagi, Lalu apa yang tadi Ia ucapkan kepadanya hanya gurauan saja?..
" Apa ini Mas???? Jika kamu meminta izin untuk menikah lagi kenapa kamu ingin mempertahankan hubungan ini? Jangan serakah Mas, Kamu tidak akan sanggup menyangganya." Ucap Cindy.
" Sayang maafkan aku."Ucap Rey ingin memeluk Cindy namun tangan Cindy menghentikannya.
" Sudahi hubungan ini dan menikahlah dengan wanita itu." Ujar Cindy.
" Jangan seperti ini sayang... Aku tidak mau kehilanganmu, Lagian akta nikah kita sudah jadi, Kita sudah sah di mata hukum Negara." Sahut Rey.
" Kalau begitu ajukan surat gugatan cerai ke Pengadilan Agama sekarang juga." Ujar Cindy.
" Sayang... Dengarkan alasanku.." Ucap Rey.
" Aku tidak mau mendengar apapun alasannya, Aku mengijinkanmu menikah dengan wanita lain tapi setelah kamu menceraikan aku, Dari awal memang seharusnya hubungan ini tidak pernah terjadi Mas.... Aku yang salah.... Aku yang salah karna dengan mudahnya menyetujui pernikahan ini... Hiks... Aku mengira pernikahan ini adalah jalan yang terbaik yang mampu membuat aku bahagia.... Tapi aku salah Mas... Aku salah, Sekarang lepaskanlah aku, Biarkan aku menempuh jalan hidupku sendiri Hiks...Hiks..." Ucap Cindy dalam isakannya.
Rey segera memeluk Cindy, Mereka sama menumpahkan air mata kesedihan, Baru di awal pernikahan cobaan sudah datang menghadang mereka.
" Sayang.... Aku terpaksa melakukan ini... Tadi aku menabrak seorang Bapak Bapak, Kondisinya kritis sayang...." Jelas Rey masih memeluk Cindy.
" Dia memohon kepadaku agar aku mau menikahi anak gadisnya jika dia tidak tertolong lagi... Aku bingung sayang... Aku harus bagaimana? Aku tidak mau menikah dengannya tapi aku juga harus bertanggung jawab kepadanya karna aku telah menghilangkan nyawa Bapaknya, Dia sebatang kara sayang.... Aku harus bagaimana?" Jelas Rey dalam isakannya.
Cindy melepas pelukannya, Ia menangkup wajah Rey dengan kedua tangannya, Cindy mengusap air mata Rey dengan jarinya.
" Jika memang ini yang terbaik, Menikahlah dengannya Mas... Lepaskan aku.... Aku masih punya keluarga di desa, Setidaknya aku tidak akan merasa sendirian." Ujar Cindy.
" Tidak.... Aku tidak mau melepasmu, Aku tidak mau kehilanganmu sayang... Jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan aku." Ucap Rey memeluk Cindy kembali. Ia berharap akan ada kekuatan lewat pelukan yang Cindy berikan.
__ADS_1
**TBC......
Hayo bagaimana nih hubungan Cindi dan Rey... Apakah berlanjut atau sampai di sini saja...