Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
19. Tentang Perasaan


__ADS_3

" Aku harus merebut kembali Vanka dari Bryan, ini kesempatan emas untukku, kau memang tercipta untukku Vanka maka aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku apapun caranya." Monolog Brayen.


Setelah merenung beberapa saat, Brayen kembali ke ruangan Vanka. Ia berjalan menghampiri Vanka yang masih berbincang bincang dengan Mama Kia. Mama Kia berusaha sedikit sedikit mengingatkan Vanka akan Bryan namun sepertinya Vanka belum bisa mengingatnya.


" Sayang." Panggil Brayen membuat Vanka menoleh ke arahnya.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


" Gimana kalau kamu ikut aku aja? Lagian biar aku ada yang ngurusin di sana, kalau nggak ada kamu nanti apa apa aku harus sendiri kan." Ucap Brayen. Mata Mama Kia membola, Ia tidak pernah berpikir kalau putranya selicik ini. Lebih licik darinya tepatnya.


" Kamu ini apa apaan Brayen, Vanka ini baru saja menjalani oprasi, gimana kalau ada apa apa di sana hah? Apa kamu mau bertanggung jawab?" Tanya Mama Kia melotot ke arah Brayen.


" Tenang Ma selama ada Mas Bray aku nggak akan kenapa napa, Mas Bray akan selalu melindungiku." Sahut Vanka. Hati Bryan serasa di remas remas. Sakit tapi tak berdarah.


" Benar kata Vanka Ma, Mama tenang saja aku akan selalu menjaga istriku dengan baik, buktinya selama satu tahun lebih bersamaku dia baik baik saja, tidak pernah mengalami hal hal yang membuatnya terluka." Sahut Brayen melirik Bryan.


Bryan mengepalkan erat tangannya mendengar ucapan Vanka dan Brayen. Ingin sekali Ia mengatakan pada Vanka yang sebenarnya, tapi Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada istri tercintanya.


" Kamu tidak tahu siapa Bray Vanka? Apa saja yang Bray lakukan kepadamu di masa lalu, Mama tidak setuju kalau kamu ikut dengan Bray." Kukuh Mama Kia.


" Ma anggap saka kami bulan madu bersama."


Jeduarrr


Ucapan Vanka bagai ledakan bom nuklir yang tepat mengenai jantung Bryan. Bulan madu? Berarti mereka akan melakukan sesuatu? Tidak tidak, ini tidak boleh terjadi, pikir Bryan.


" Vanka itu sangat beresiko untuk kesehatanmu, Dokter melarangmu untuk bepergian jauh sayang." Ucap Bryan keceplosan.


" Sayang? Kak Bryan memanggiku sayang?" Tanya Vanka mengerutkan keningnya.


" Ah maaf, maksudku rasa sayang kepada saudaranya." Sahut Bryan.Vanka menghela nafasnya.


" Entah mengapa rasanya hatiku begitu hangat saat mendengar kata itu keluar dari bibirmu Kak, ada apa dengan hatiku? Apakah aku menyukai kembaran suamiku sendiri? Ah tidak..... Ini tidak boleh terjadi, aku harus setia dengan suamiku, jangan sampai ini terjadi." Gumam Vanka dalam hatinya.


" Kalau begitu aku tidak akan pergi, aku akan tetap di sini menunggu dan menjaga Vanka." Ucap Brayen membuat Mama Kia menghela nafasnya.


Brayen memang terkenal keras kepala sejak kecil. Ia selalu menuruti apa keinginannya sendiri tanpa mau menerima masukan dari orang lain. Bener bener bandel nih anak. Pikir Mama Kia.


" Lalu bagaimana dengan proyek itu?" Tanya Mama Kia.


" Sepertinya Mama lupa kalau aku seorang Dokter, yang seharusnya mengurus proyek itu Bryan bukan aku." Sahut Brayen.


Mama Kia menepuk jidatnya sendiri. Karna tadi terburu buru Ia jadi lupa kalau Brayen seorang Dokter bukan pengusaha.


" Proyek itu proyeknya Opa Anton Brayen, Beliau mau membangun rumah sakit di sana, dan kamu yang akan menjadi Dokter sekaligus pemilik rumah sakit itu, jadi harus kamu sendiri yang memantaunya, Opa Anton akan menemanimu." Ujar Mama Kia berusaha menyakinkan Brayen. Ia berharap Brayen tertarik dengan penawarannya.

__ADS_1


" Aku tidak tertarik dengan itu semua Ma, aku lebih tertarik menemani Vanka di sini." Sahut Brayen keras kepala.


" Bry aku perlu bicara berdua sama kamu." Sambung Brayen keluar ruangan.


Bryan mengikuti kemana Brayen mengajaknya. Keduanya berjalan menuju taman rumah sakit. Mereka duduk di bangku yang tersedia di taman itu.


" Katakan apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku." Titah Bryan.


" Aku mau kamu melepaskan Vanka untukku sekarang juga." Ucap Brayen tanpa malu ataupun rasa bersalah.


" Apa? Kau gila Bray! Sudah aku katakan aku tidak akan melepas Vanka untuk siapapun." Bentak Bryan.


" Kau seharusnya tahu apa maksud dari kejadian ini Bry, Vanka itu milikku! Itulah sebabnya dia kehilangan ingatannya dan tidak mengenalmu." Ujar Brayen.


" Apa?" Tanya Bryan.


" Vanka di takdirkan untuk menjadi istriku, pertama Tuhan memanggil anak yang membuatmu bertanggung jawab kepadanya, dan yang kedua di saat aku berjanji akan menjauhinya dan tidak akan mengganggunya lagi, Tuhan membuatnya amnesia sehingga dia melupakanmu, dari awal Vanka itu milikku Bry, sadarlah akan hal itu." Ucap Brayen.


Hati Bryan mencelos mendengar ucapan Brayen. Benarkah dirinya tidak di takdirkan untuk bisa bersama Vanka? Atau ini terjadi hanya untuk sementara? Lalu bagaimana jika ingatan Vanka tidak kembali?


" Vanka mengalami amnesia sementara, suatu saat dia akan mengingatku dan menyadari cintaku kepadanya dan jangan kau lupakan kalau dia mengalami hal ini karenamu, bagaimana jika setelah dia mengingat semuanya dia tahu kalau tanpa sengaja kaulah dalang di balik kecelakan yang membuatnya berpisah dariku? Suami yang dia cintai." Ucap Bryan.


" Lalu bagaimana jika ingatannya tidak kembali untuk selamanya? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menggantung statusmu itu? Dan ingat bukan aku yang membuat Vanka seperti ini, tapi dirimulah yang tidak bisa menjaganya dari ancaman luar, Apakah kejadian sepeeti ini pernah terjadi kepadanya saat dia masih bersamaku?" Tanya Brayen menatap Bryan.


" Tidak kan? Dia aman berada di bawah pengawasanku." Sambung Brayen.


" Apa yang akan kau lakukan jika ingatan Vanka tidak kembali?" Tanya Brayen.


" Aku yakin dengan cinta kami berdua, Vanka akan mengingat semuanya, beri aku waktu satu bulan." Sahut Bryan.


" Apa maksudmu dengan waktu satu bulan?" Tanya Brayen.


" Jika dalam waktu satu bulan Vanka tidak mengingatku, maka aku yang akan pergi meninggalkannya." Sahut Bryan.


" Benarkah? Baiklah aku beri waktu satu bulan sesuai keinginanmu, dan dapat aku pastikan kalau Vanka tidak akan pernah mengingatmu untuk selamanya, karna sebenarnya cintanya hanya milikku." Ucap Brayen meninggalkan Bryan yang masih mematung di sana.


" Aku terlalu percaya diri dengan cintaku untukmu sayang..... Aku mohon segeralah mengingatku sebelum satu bulan berlalu, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak mau kehilanganmu sayang, bantu Mas untuk memperjuangkan cinta kita, Hiks.... Hiks... Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Hatiku benar benar hancur, Ujian cinta yang kau berikan begitu berat bagiku, aku tidak sanggup menyangganya Tuhan.... Haruskah aku melepas Vanka untuk Brayen? Lalu bagaimana dengan diriku? Ataukah aku harus memaksa Vanka untuk mengingatku? Ah tidak.... Itu bisa berakibat fatal untuk kesehatannya, Ataukah benar kata Brayen jika Vanka bukan jodohku? Aku harus kuat menghadapi semuanya, aku tidak boleh lemah." Ujar Bryan dalam hatinya.


Bryan mengusap air matanya. Hatinya terasa begitu sesak mengalami semua ini. Ia kembali ke ruangan Vanka. Setelah Bryan membuka pintu, Ia menghentikan langkahnya..


Deg.....


Hatinya kembali sakit seperti tersayat pisau saat melihat Vanka mencium bibir Brayen dengan begitu mesra. Air matanya kembali menetes di pipinya. Bryan menutup kembali pintunya. Ia duduk di kursi tunggu menyandarkan kepalanya.


" Rasanya begitu sakit sayang..... Kau mencium pria yang bukan suamimu di depanku, apa kamu tidak menyadarinya jika dia bukan aku? Hiks.... Harus bagaimana aku menyikapi semua ini? Apakah aku kuat menahan sakit ini walau hanya satu bulan saja?" Batin Bryan meratapi nasibnya.

__ADS_1


Sedangkan di dalam ruangan, Vanka merasa bingung dengan perasaannya sendiri setelah mencium Brayen.


" Kenapa rasanya begitu hampa? Hatiku tidak merasakan apa apa, bahkan berdebarpun tidak, ada apa dengan hatiku? Kenapa saat mencium Mas Bray justru aku melihat bayang bayang wajah Kak Bryan? Ya Tuhan.... Ada apa denganku? Siapa suamiku yang sesungguhnya? Ku mohon berikan aku petunjuk untuk menjawab semua pertanyaan di dalam hatiku ini." Ujar Vanka dalam hatinya.


" Vanka kau kenapa?" Tanya Brayen.


" Apa kau menyesal karna telah berciuman denganku?" Sambung Brayen.


Lagi....


Bayangan Ia berciuman dengan seorang pria terekam jelas dalam pikirannya. Tapi siapa pria itu?


*Makasih sayang, bibirmu manis sekali


Terima kasih sudah membuka hatimu untukku


Mas akan selalu mencintaimu dan menyayangimu*


Vanka menarik rambutnya berharap bisa mengurangi rasa sakit di dalam kepalanya.


" Vanka kamu kenapa?" Tanya Brayen mendekati Vanka.


" Hiks.... Sakit Mas." Ucap Vanka menangis.


" Mana yang sakit? Aku panggilkan dokter ya." Ujar Brayen. Vanka menggelengkan kepalanya.


" Hiks..." Isak Vanka.


Jangan mengeluarkan air matamu karena kesedihan, keluarkan air mataku di saat kau merasa bahagia


Ucapan ucapan itu membuat kepala Vanka semakin sakit. Siapa pria itu? Apakah dia Brayen suaminya?


Vanka menatap mata Brayen mencari keteduhan di sana, tapi Ia tidak mendapatkannya.


" Katakan sebenarnya kamu siapa? Dimana suamiku?" Tanya Vanka.


Hayooo kira kira Brayen mau jawab apa nih?


Mau langsung mengingat Bryan atau nunggu nanti nih?


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2