
Hari ini tiba saatnya pelelangan tender proyek pembangunan hotel di kota B. Para investor dan petinggi perusahaan sudah hadir memenuhi ruangan. Acara akan segera di mulai. Pembawa acara memulai acara dengan membaca Doa terlebih dahulu, Lalu di lanjutkan dengan presentasi proposal dari masing masing perusahaan.
Setelah semua sudah mempresentasikan proposal masing masing, Tiba saatnya pembacaan perusahaan yang terpilih untuk melakukan penawaran pelelangan. Perusahaan Dimas dan Indra memberikan dokumen penawaran pelelangan kepada tim penilai karna perusahaan mereka sama sama terpilih.
Setelah beberapa saat, Melihat nilai nilai Penawaran dari perusahaan akhirnya mereka menemukan pemenang pelelangan tender kali ini dengan harga tertinggi.
" Baiklah sekarang tiba saatnya penentuan perusahaan mana yang akan menjadi pemenang pelelangan tender pembangunan hotel di kota B, Perusahaan ini merupakan perusahaan dengan penawaran tertinggi yaitu 10 T..." Ucap salah satu tim penilai.
Dimas dan Indra saling pandang, Dimas tersenyum kepada Indra dengan senyuman mengejeknya sedang Indra membalasnya dengan senyum kepuasan.
" Pemenang lelang tender kali ini yaitu Perusahaan....." Tim penilai sengaja menjeda ucapannya, Mereka yang hadir disana mulai berbisik bisik, Perusahaan mana yang berani menawarkan harga yang fantastis. Bayangkan saja semua keuntungan yang di dapat dari tender ini saja tidak mencapai 10T lalu bagaimana dengan modalnya.
" Pemenangnya adalah Perusahaan Angkasa Corp, Selamat untuk Perusahaan Angkasa Corp dan terima kasih atas partisipasinya." Semua orang bertepuk tangan memberikan selamat kepada perusahaan Dimas...Sedangkan Dimas..
" Bagaimana ini bisa terjadi... Bagaimana kamu bisa berbuat kesalahan sebesar ini." Bentak Dimas kepada Robbi Asistentnya.
" Bukan kesalahan saya Pak, Anda sendiri yang membuat proposal itu bahkan anda bilang kalau sudah menelitinya hingga tiga kali." Ujar Robbi.
" Saya memberikan penawaran hanya 6T Robbi, Lalu bagaimana bisa menjadi 10T." Tanya Dimas heran.
" Maaf saya tidak tahu menahu soal ini Pak, Tapi Bapak mengirimkan file kepada saya dengan jumlah segitu." Ujar Robbi.
Dimas mengingat ingat dengan apa yang terjadi semalam, Ia ingat Kia ketumpahan kopi, Lalu Ia keluar mengambil salep....
" Ini pasti rencanamu Ki...Aku tidak menyangka kamu begitu cerdik membodohiku, Aku akan membalas semuanya, Akan aku hancurkan Indra sekarang juga." Batin Dimas.
" Ah... bodoh bodoh bodoh.. Perusahaan kita merugi besar Robbi... Rugi..bahkan terancam bangkrut." Dimas menyugar kasar rambutnya.
" Pak Dimas apa yang anda lakukan, Anda pebisnis hebat tetapi kenapa anda bisa melakukan kesalahan sebesar ini, Saya kecewa dengan anda, Saya akan menarik semua saham saya, Saya tidak mau ikut merugi dengan tindakan ceroboh anda ini." Ucap Investor tetap perusahaan Dimas.
" Maaf Pak sepertinya saya di jebak di sini." Ucap Dimas.
" Saya juga akan menarik saham saya Tuan Angkasa, Saya tidak menyangka anda bisa melakukan kesalahan fatal seperti ini." Ujar investor satunya.
__ADS_1
" Saya juga."
"Saya juga." Ucap para investor lainnya dan mulai meninggalkan Dimas.
Para investor menghampiri Indra dan Rey.
" Tuan Indra mulai sekarang saya akan menjadi investor tetap perusahaan anda, Saya akan menanam modal dengan jumlah besar." Ucapnya.
" Kami juga akan menambah tanam modal pada perusahaan anda Tuan Indra." Ujar yang lainnya.
" Terima kasih Pak atas Bantuan dan dukungannya kepada Perusahaan saya." Sahut Indra.
" Kita akan mengatur waktu pertemuannya." Ucap Rey.
" Baik saya setuju, Tuan Indra kalau anda berminat segera akuisisi perusahaan Angkasa, Maka saya akan tetap tanam saham di sana." Ucap Investor Asing.
" Insya Allah Tuan." Sahut Indra.
Dimas merasa bergemuruh di dadanya. Ia segera menghampiri Indra, Dimas mengcengkram kerah leher Indra dengan kuat.
" Pak Dimas lepaskan jangan bertindak anarkis." Lerai Robbi.
" Kau membelanya..." Dimas meloto ke arah Robbi membuat Robbi diam tidak berkutik.
" Kalian tidak tahu bukan siapa pria yang kalian puji dan kalian bela ini." Ucap Dimas melepas cengkramannya.
" Apa maksudmu Tuan Dimas." Tanya salah satu di antara mereka.
Dimas segera menelpon Rania menyuruhnya masuk keruangan itu, Semua orang menatap ke arah Rania.
" Dia... Dia Rania... Wanita yang sudah di lecehkan bahkan menjadi pemuas ***** Tuan Indra Permana dengan paksa." Teriak Dimas.
" Tutup mulutmu Dimas... Indra tidak akan pernah melakukan hal serendah itu." Teriak Rey.
__ADS_1
" Kenapa... Biar semua orang tahu betapa rendahnya Indra Permana yang terlihat agung di mata mereka." Sinis Dimas.
" Bagaimana anda bisa melakukan hal serendah ini Tuan Indra Permana, Saya sungguh tidak menyangka... Jika memang anda haus harusnya anda beli bukan memaksanya dengan gratis... Apa anda sudah kekurangan uang." Cebik Salah satu orang.
" Katakan saja yang sebenarnya Tuan Indra, Lalu bertanggung jawablah dengan Nona Rania agar tidak menyebar sampai ke ranah hukum." Saran Robbi.
" Tenang tenang tidak baik langsung menghujat begitu, Sebaiknya kita dengarkan cerita yang sebenarnya." Lerai Tuan Romi.
" Ceritakan apa yang terjadi denganmu Ran, Beri tahu kepada mereka semua tentang kelakuan bejat pria yang mereka banggakan ini." Titah Dimas.
" Tuan Indra melecehkan saya, Dia memaksa saya untuk melayaninya saat acara perjamuan kolega waktu itu...Hiks...hiks...Saat saya meminta pertanggung jawabannya, Dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya hiks.." Ucap Rania di sela isakannya. Semua orang menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Mereka tidak menyangka jika Indra bisa melakukan hal serendah itu.
" Tuan Indra..apa semua ini benar... Jika tidak benar lakukan pembelaan jika semua ini hanya fitnah." Tanya salah satu investor.
"Kamu menunggu Kiki datang... Dia tidak akan datang.. Aku sudah mempersiapkan semuanya, Jangan kau pikir aku bodoh, Setelah ini aku akan membawa Kiki ku pergi jauh darimu, Aku akan memaksanya menandatangani surat cerai darimu, Tidak apa aku kehilangan perusahaan asal aku tidak kehilangan Kiki yang aku cintai." Gumam Dimas dalam hatinya.
Indra tidak bergeming, Ia hanya diam saja. Saat ini tidak ada yang tahu jika Indra sedang berperang dengan perasaannya. Perasaan trauma karna pembullyan. Indra merasa minder lagi, Rasa percaya dirinya hilang begitu saja. Saat ini Ia membutuhkan istrinya Kia. Tetapi kemana istrinya, Kenapa belum datang ke sini juga..
"Ki... Dimana kamu.. Cepatlah kesini sekarang sebelum Indra tidak bisa mengendalikan dirinya, Cepatlah aku yakin saat ini Indra sedang berperang dengan emosinya." Ujar Rey dalam hati. Rey mencari ponselnya, ia berniat menghubungi Kia tapi sial ponselnya tertinggal di ruangannya, Sedang Kia belum datang juga ke sini padahal semua bukti sudah di minta Kia.
Sedang di tempat lain...
Kia berusaha membuka pintu kamarnya, Tetapi tidak bisa. Pintunya terkunci dari luar. Sepertinya Dimas sengaja membuat Kia terkurung di sana.
Dor..dor..dor..
" Tolong buka pintunya... Apa ada orang." Teriak Kia. Ia sudah berkali kali menggedor pintunya tetapi sepertinya rumah dalam keadaan kosong saat ini. Kia mencoba menghubungi Indra dan Rey tapi sepertinya mereka mematikan ponsel mereka, Karna biasanya saat rapat penting seperti ini tidak boleh mengaktifkan ponselnya.
" Aku harus bisa keluar dari sini, Aku yakin saat ini Dimas sedang merencanakan sesuatu, Aku tidak boleh tertangkap oleh Dimas...Ayo Kia.. berpikirlah..." Monolog Kia sambil berusaha berpikir. Ia menengok ke bawah dari balkon kamarnya...
"Oh My Good... Tinggi banget, Tidak mungkinkan gue lompat dari sini... Yang ada gue mati duluan sebelum ketemu Mas Indra." Kia memikirkan ide lainnya. Saat Ia menemukan sebuah ide Kia langsung tersenyum lebar..
" Hhhh Kamu tidak tahu siapa aku Dim.. Jika cuma turun dari sini aku pasti bisa, Bahkan tebing lebih tinggi dari ini saja akan dengan mudah aku lewati..hhh Tunggu kejutan dariku Tuan Dimas Angkasa..." Kia segera melakukan rencananya untuk turun dari sana.
__ADS_1
TBC......