
Malam ini Dimas berkemas untuk pergi besok pagi. Ia ingin meninggalkan semua kenangan tentang Kia. Ia akan mencoba menghapus namanya dari hatinya. Dimas tidak menyangka dengan membuat masalah dengan Indra justru berakibat fatal seperti ini. Ia harus kehilangan Perusahaan yang sudah bertahun tahun Ia bangun. Perusahaan ZIP Group langsung mengakuisisi Perusahaan Angkasa Corp. Bahkan kini keluarganya pun menjauhinya. Rencananya Dimas ingin pergi ke suatu tempat untuk memulai hidup barunya.
Saat ini Dimas sedang duduk di balkon kamar dengan di temani oleh minuman kesukaannya, Minuman berbau menyengat yang membuatnya melupakan masalah yang sedang Ia hadapi.
" Kiki.... Aku mencintaimu Ki, Kenapa kau tidak meninggalkan Indra dan bersamaku saja, Aku akan membahagiakanmu dengan menuruti apapun keinginanmu Hiks... hiks.." Racau Dimas sambil sesekali mengusap air matanya.
" Kenapa rasanya begitu sakit di hati ini jika mencintai tidak bisa memiliki... Orang orang bulshit katanya Cinta tak harus memiliki.. Hhhhh aku yakin yang ngomong gitu pasti orang bodoh... Kiki aku mencintaimu hiduplah bersamaku haa.... Tuhan... Kau yang memberi rasa ini ku mohon ambillah rasa ini kembali, Aku tidak mau memiliki perasaan untuk orang yang tidak memiliki perasaan yang sama denganku, Aku tersiksa dengan perasaan ini." Dimas terus meracau, Hatinya sakit sangat sakit, Bertahun tahun mencoba melupakan rasa cinta ini tetapi nyatanya tidak bisa, Nama Kia terpatri sangat dalam di hatinya hingga tidak ada seorangpun yang mampu menggesernya apalagi menghapusnya.
" Kiki... I Love U.. Aku mencintaimu." Racau Dimas.
Pikirannya kembali ke masa lalu saat Ia masih kuliah dulu. Ia selalu mencuri curi pandang saat berada tak jauh dari Kia. Dimas begitu bahagia mendengar tawa dan gurauan Kia. Senyum manis Kia begitu menghangatkan hatinya. Kia yang baik hati dan humble selalu di senangi oleh teman temannya. Kia selalu membantu orang lain saat mereka mengalami kesusahan. Bahkan Dimas selalu mengerjakan tugas di Cafe tempat Kia bekerja hanya untuk mengikuti kegiatan Kia.
Tiba tiba Dimas melihat bayang bayang Kia di depannya. Kia berdiri di pagar balkon.
" Kiki..." Ucap Dimas, Dimas berdiri menghampiri bayangan Kia yang mundur, Semakin Dimas maju maka bayangan Kia akan semakin mundur. Hingga tanpa Dimas sadari Ia sudah memanjat pagar Balkon dan Tiba tiba
Brugh..... Aaaaaaaaa......Brakkkk..
Di tempat lain, Reyhan baru saja pulang dari kantor. Ia lembur hingga larut malam mengerjakan semua pekerjaan Indra. Rey mengemudi dengan kecepatan sedang walaupun dia ingin segera sampai ke apartemennya tapi Ia juga tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Saat berbelok di persimpangan, Rey di kejutkan oleh seorang gadis yang berdiri di depan mobilnya sambil merentangkan tangannya. Rey segera menginjak rem untuk menghentikan mobilnya.
Saat mobil berhenti tiba tiba gadis tadi langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Ia terlihat ngos ngosan seperti baru saja berlari.
" Pak jalankan mobilnya saya mohon." Ucap gadis itu dengan nafas tersengal. Rey mulai menjalankan mobilnya.
" Kenapa kamu main masuk ke mobil orang sembarangan." Rey menatap gadis itu melalui spion depan, Saat gadis itu mendongak Rey begitu terkejut ternyata gadis itu adalah gadis yang Ia tabrak saat di lobby kantor.
" Pak Rey." Pekik Cindy.
" Kamu... kamu receptionist di ZIP Group kan." Tanya Rey.
" I..iya Pak terima kasih sudah nolong saya." Ucap Cindy tulus.
" Sebenarnya aku nggak mau nolong kamu tapi kamu aja yang nyelonong masuk." Ketus Rey.
" Maaf Pak." Sahut Cindy menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Rey mencuri pandang lewat spion, Ia memperhatikan Cindy yang sepertinya sedang banyak pikiran. Ia terlihat melamun memandang keluar jendela.
" Kamu mau kemana." Tanya Rey memastikan.
" Kemana saja Pak." Jawab Cindy.
" Kemana saja gimana maksudmu, Apa kamu mau aku mengantarmu keliling dunia." Sarkas Rey.
" Saya ikut kemana Pak Rey saja karna saya tidak punya tujuan Pak." Jawab Cindy.
" Rumahmu dimana." Tanya Rey yang masih fokus mengemudi.
" Rumahku tidak jauh dari tempat tadi Pak, Gak usah banyak tanya deh saya sedang banyak pikiran, Pokoknya saya ikut Pak Rey aja." Kesal Cindy memejamkan matanya.
" Nasib buruk apa yang sedang menimpaku hingga aku harus bertemu dengan gadis sepertinya." Ucap Rey dalam hati.
Rey melajukan mobilnya menuju basemant apartemen. Sesampainya di sana Rey segera turun dari mobil menuju unit kamarnya tanpa menghiraukan Cindy yang mengikutinya dari belakang.
" Pak Rey tunggu jangan cepat cepat Pak, Saya susah ngikutinnya." Ucap Cindy.
" Bapak tega membiarkan gadis seperti saya berjalan sendirian di tengah malam." Tanya Cindy.
" Ck baiklah ayo." Ujar Rey mengalah. Cindy tersenyum lebar dan terus mengikuti langkah Rey dari belakang.
Setelah sampai di depan unit, Rey memencet tombol pasword untuk membuka pintunya. Rey segera melangkah masuk setelah pintu terbuka. Cindy melongo melihat isi apartemen Rey yang terbilang mewah. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
" Pak dimana aku bisa mandi." Tanya Cindy.
" Di sana ada kamar tamu kamu bisa tidur dan mandi di sana." Jawab Rey menunjuk ke kamar tamu.
" Punya baju ganti wanita nggak Pak." Tanya Cindy sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
" Ada punya istri saya." Jawab Rey asal.
" What... bapak sudah punya istri." Pekik Cindy.
__ADS_1
" Kecilkan suaramu aku nggak mau ya di gerebek sama tetangga sebelah gara gara teriakanmu." Ujar Rey.
" Lalu gimana donk Pak." Rengek Cindy.
" Apa lagi sih." Ketus Rey.
" Baju ganti Pak, Baju yang saya pakai sudah bau asem nggak nyaman buat tidur." Ujar Cindy.
" Tunggu di sini saya akan mencari baju untukmu dulu barang kali ada." Tanpa menunggu jawaban Cindy, Rey segala melangkah menuju kamarnya mencari baju dan celana untuk Cindy.
Rey mengacak acak lemarinya tapi tidak menemukan satupun baju yang pas untuk Cindy. Saat Rey hendak menutup pintu almarinya tiba tiba Ia melihat sebuah paper bag di dalamnya. Rey membukanya dan terlihat sebuah gaun berwarna navi di dalamnya, Rey ingat gaun itu adlah gaun pilihannya yang di berikan kepada Kia saat acara lamaran, Tetapi Kia lebih memilih gaun yang di pilih oleh Indra.
Rey segera keluar menghampiri Cindy dan memberikan paper bag tersebut kepada Cindy.
" Nih pakai." Cindy menerimanya lalu Ia membukanya.
" Gaun... apa ini milik istri Pak Rey, Tapi sepertinya masih baru." Gumam Cindy.
" Itu memang masih baru tapi bukan punya istri saya karna saya belum mempunyai istri." Ucap Rey.
" Pak Rey yang tampan dan sekeren ini belum laku, Masa' kalah sama Mang udin yang jualan siomay di depan kantor Pak, Dia aja udah nikah tiga kali lho." Ejek Cindy.
" Bukannya nggak laku tapi lagi pilih pilih." Sahut Rey.
" Halah gaya sok cool ternyata jones." Sahut Cindy.
" Apa tuh Jones." Tanya Rey.
" Jomblo ngenes di tinggal pacar kawin hhhh." Ejek Cindy sambil berlari menuju kamar tamu. Ia segera menguncinya. Rey hanya geleng geleng saja melihat tingkahnya yang mirip Kia.
"Kenapa aku tidak bisa melupakanmu Ki, Bahkan aku melihat dirimu ada pada diri Cindy." Gumam Rey dalam hati.
TBC....
Dah aku tepati ya janjinya... tunggu up besok lagi. Jangan lupa like dan komentnya ya... Makasih atas doa dan dukungannya.... Miss U All
__ADS_1