
Setelah kepergian Sherly keduanya memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang mereka ngobrol ringan. Ya walaupun setelah pengakuan Bryan, Vanka sedikit canggung.
" Wanita tadi yang kamu maksud client kamu Mas?" Tanya Vanka menatap Bryan yang sedang memainkan ponselnya.
Bryan mengalihkan pandangannya dari ponsel lalu menatap Vanka.
" Bukan sayang, Sherly itu cewek yang suka sama Mas dulu, cuma Mas nggak pernah meresponnya." Sahut Bryan meletakkan ponselnya di atas meja.
" Tapi tadi dia bilang mau melanjutkan hubungan, berarti sebelumnya kamu punya bubungan donk sama dia." Ujar Vanka.
" Dulu saat kuliah dia memang suka mengaku sebagai pacar Mas, tapi Mas nggak terpengaruh karna Mas tidak pernah jadian dengannya, percayalah sayang Mas tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain dirimu." Terang Bryan menggenggam tangan Vanka.
" Iya Mas aku percaya." Sahut Vanka.
" Tadi selesai meeting Mas mau membelikan makanan untuk kamu, tapi Mas malah ketemu dia di sini, terus dia bilang ada yang mau dia bicarakan, jadi ya Mas duduk di sini untuk mendengarkan apa yang ingin Ia katakan pada Mas, nggak tahunya mau ngomongin itu, kami juga belum lama kok di sininya, Mas aja belum sempat pesan makanan kan." Jelas Bryan.
" Owh." Sahut Vanka.
" Kamu sendiri ngapain ke sini? Apa Mama tidak masak di rumah?" Tanya Bryan menatap Vanka.
" Aku mau ketemu sama temenku Mas, suntuk kan di rumah terus." Sahut Vanka.
" Lalu sekarang mana temanmu?" Tanya Bryan.
" Dia bekerja di sini Mas." Sahut Vanka.
" Kerja di sini? Mana dia?" Tanya Bryan mengedarkan pandangannya menatap para pelayan satu per satu.
" Dia ada di dapur." Sahut Vanka.
" Koki?" Tanya Bryan yang di balas anggukan kepala oleh Vanka.
"Lhoh Koki di sini kan cowok sayang." Ujar Bryan menatap Vanka membuat Vanka sedikit gugup. Vanka menelan salivanya kasar.
" Kamu mau ketemuan sama cowok lain di belakang Mas?" Selidik Bryan.
" E.... Hanya dia teman dekatku Mas." Lirih Vanka.
" Dia dan Brayen." Timpal Bryan dengan wajah tidak bersahabat. Vanka menundukkan kepalanya, Ia takut Bryan akan marah. Pasalnya Ia tidak ijin mau keluar menemui temannya.
" Hai, udah lama nunggu ya?" Tanya pria super tampan yang tiba tiba menghampiri Vanka.
Vanka mendongak menatap pria yang sedang berdiri di sampingnya.
" Boleh donk duduk sini?" Ujar pria itu duduk di sebelah Vanka.
Pria itu menatap Vanka yang diam saja. Lalu Ia menatap ke arah Bryan.
" Oh kenalin Kak, aku Arfa temannya Vanka." Ucap Arfa mengulurkan tangannya.
" Bryan, suaminya Vanka." Sahut Bryan menyambut tangan Arfa.
" Bryan? Bukannya pacarmu namanya Brayen Van? Terus sekarang kenapa jadi Bryan? Kamu menikah sama orang yang berbeda?" Tanya Arfa menatap Vanka.
__ADS_1
" E...
" Aku kembarannya Brayen, pacaran boleh sama siapa aja kan? Tapi yang jelas akulah yang menjadi jodoh Vanka, iya kan sayang." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Ah iya kau bener juga Kak, kalau begitu selamat untuk pernikahan kalian, semoga bahagia dan maaf waktu pernikahan aku nggak bisa datang, soalnya ada pelatihan di Singapore." Sahut Arfa.
" Tidak masalah dan terima kasih atas doanya." Ucap Bryan.
Tak lama pesanan mereka pun datang.
" Aku juga memesan makanan untukmu, jadi makanlah bersama kami." Ucap Bryan mewakili Vanka.
" Terima kasih." Sahut Arfa.
Ketiganya makan dalam diam sampai tiba tiba pertanyaan Arfa menghentikan kegiatan Vanka.
" Apa kamu tidak mau melanjutkan kuliah seperti cita citamu Van?" Tanya Arfa.
Bryan menatap Vanka begitupun sebaliknya.
" Kamu mau kuliah sayang?" Tanya Bryan.
" Sejujurnya rencanaku setelah lulus memang ingin masuk ke perguruan tinggi Mas, tapi nasib berkata lain, sekarang aku sudah menikah jadi aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja." Sahut Vanka.
" Kenapa bisa begitu? Kamu masih muda Van, kamu masih bisa kuliah walaupun sudah menikah, kejarlah cita citamu yang ingin menjadi serang profesor." Ujar Arfa.
" Iya juga sih, ya udah lah terserah kamu saja, aku hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu bahagia bersama orang orang yang kamu cintai." Ucap Arfa.
" Amien." Sahut Vanka.
" Kak jagain sahabatku ya, jangan sampai kamu menyakitinya." Ucap Arfa menatap Bryan.
" Tentu, tanpa kamu memintanya pun aku akan selalu menjaga istriku tercinta." Sahut Bryan.
" Apasih kamu Mas." Kekeh Vanka.
" Lhoh bener kan? Kamu memang istriku tercinta, termanis, tersayang dan ter... ter the best." Ucap Bryan. Vanka menggelengkan kepalanya saja.
Selesai makan Vanka dan Bryan pamit pulang kepada Arfa.
" Ar aku pulang dulu ya, semangat kerjanya." Ucap Vanka adu tangan dengan Arfa.
" Hati hati, lain kali kalau ada waktu hang out bareng ya." Ujar Arfa.
" Ok." Sahut Vanka.
Bryan menggandenga tangan Vanka keluar dari resto.
" Ikut mobil Mas aja ya, biar nanti mobilmu di ambil sama pegawai Mas." Ucap Bryan.
" Mas mau balik ke kantor kan?" Tanya Vanka.
__ADS_1
" Enggak lah Mas mau pulang aja, mau berduaan sama kamu." Sahut Bryan.
" Terserah kamu aja Mas, dimana mobilmu?" Tanya Vanka.
" Ada di sebrang jalan." Sahut Bryan menunjuk mobilnya.
" Ok." Ujar Vanka.
" Ayo." Ajak Bryan.
" Eh sebentar Mas, tasku mana ya?" Ucap Vanka saat menyadari kalau dirinya tidak membawa tasnya.
" Kamu taruh mana sayang?" Tanya Bryan.
Sejenak Vanka mengingat ingatnya.
" Sepertinya di kursi tadi Mas, aku ambil dulu ya Mas." Ujar Vanka.
" Kamu nunggu di mobil aja, biar Mas yang mengambil tasmu." Ujar Bryan
" Baiklah Mas, aku ke mobil dulu." Sahut Vanka.
Bryan kembali masuk ke dalam sedangkan Vanka berjalan menuju mobil Bryan. Saat Ia menyebrang jalan tiba tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Vanka yang dusah berada di tengah tengah jalan tidak bisa berbuat apa apa, untuk menghindar pun tidak bisa karna mobil sudah terlalu dekat dengannya hingga.....
Brak.......
Tubuh Vanka terpental ke bagian cap mobil, Ia terseret hingga beberapa meter dan berakhir terjatuh di aspalan. Orang orang yang melihatnya menjerit ketakutan melihat semua itu.
Bryan yang baru saja keluar melihat kejadian itu, tubuhnya terasa kaku saat melihat tubuh istrinya terpental ke badan jalan.
" Vankaaaaaaaaa." Teriak Bryan berlari menghampiri Vanka.
Bryan memangku tubuh Vanka yang bersimpah darah.
" Sayang bangun sayang, jangan tinggalkan Mas." Ucap Bryan menepuk nepuk pipi Vanka.
" Hiks..... Hiks.... Sayang bangunlah demi Mas ." Isak Vanka.
Vanka tidak bergeming, Ia tetap setia menutup matanya. Melihat kondisi Vanka yang parah membuat Bryan tidak bisa banyak berharap.
" Arghhhhhhh." Teriak Bryan frustasi.
Udah ketebak kan alurnya?????
Yang belum bisa menebak tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya.....
Jangan lupa like koment vote serta hadiahnya ya biar author makin semangat....
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu....
Miss U All....
TBC......
__ADS_1