Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Bhonchap


__ADS_3

Satu tahun berlalu, ternyata yang memberikan adik lebih dulu adalah Bryan dan Vanka karena sampai sekarang Rea belum juga mengandung anak ke dua. Usia kehamilan Vanka mencapai sembilan bulan. Dan ajaibnya hari perkiraan lahir yang di perkirakan oleh Dokter tepat di hari ulang tahun Rayyan yang ke enam, yang akan terjadi satu minggu lagi.


Saat ini Vanka sedang memasak di dapur. Ia berdiri dengan perutnya yang nampak terlalu besar. Kenapa? Ya karena Vanka mengandung babby twins. Setelah di usg babby twins Vanka ternyata berjenis kelamin laki laki semua. Hal ini membuat Vanka dan Bryan begitu bahagia. Mereka akan memiliki tiga anak laki laki yang akan menjadi pewaris keluarga Permana.


Bryan menggandeng tangan Rayyan menuruni tangga. Rayyan sudah siap dengan seragam merah putihnya. Ia begitu bersemangat untuk masuk ke sekolah dasar. Sebenarnya ada aturan soal umur masuk sekolah dasar yang harusnya tujuh tahun, tapi Rayyan sudah tidak sabar ingin masuk ke sekolah dasar, alhasil Bryan membujuk kepala sekolah untuk menerima Rayyan menjadi siswa didik baru.


Keduanya berjalan menuju meja makan menghampiri Vanka.


" Mommy jangan kecapekan dong sayang." Ucap Bryan mencium pipi Vanka.


" Iya Dad, cuma masak doank kok nggak capek." Sahut Vanka mematikan kompor.


" Duduk sini biar Mas aja yang menatanya." Ucap Bryan menuntun Vanka ke meja makan.


Bryan berjongkok di depan Vanka. Ia menempelkan telinganya pada perut Vanka.


" Sayangnya Daddy lagi apa nih di dalam." Ucap Bryan.


" Twins lagi main bola Dad." Sahut Rayyan.


" Wah iya nih kaya'nya pada lagi berebut bola." Ujar Bryan.


" Besok twins akan menjadi timku Dad." Ujar Rayyan.


" Iya boleh, emang Abang mau jadi pemain sepak bola?" Tanya Bryan menatap Rayyan.


" Enggak Dad, Ray mau jadi pengusaha seperti Dad aja, biar besok Ray bisa gantiin Daddy, terus Daddy tinggal duduk manis deh di rumah." Sahut Rayyan antusias.


" Terima kasih sayang." Ucap Bryan.


" Sama sama Dad." Sahut Rayyan.


" Ya udah Mas buruan di tata makanannya, Abang Ray udah lapar nih kan kasihan." Ucap Vanka.


" Ah iya maafkan Dad sayang." Sahut Bryan beranjak.


" Its ok Dad." Sahut Rayyan.


Bryan mengambil makanan ke dalam piring, lalu ia menata makanan di atas meja.


" Sekarang daddy ambilkan makanan dulu untuk Abang Ray, setelah itu Dad ambilkan untuk Mom dan babby twins." Ujar Bryan meletakkan sepiring makanan porsi sedang di depan Rayyan.


" Makasih Dad." Ucap Rayyan.


" Sama sama sayang." Sahut Bryan.


Setelah itu Bryan mengambilkan makanan untuk Vanka. Ia duduk serong menghadap ke arah Vanka.


" Sekarang Mom sama twins yang makan, biar Daddy suapi." Ucap Bryan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Vanka.


Vanka menerima suapan dari Bryan. Perlahan Ia mengunyah makanan di dalam mulutnya.


" Mas makan juga donk." Ujar Vanka mengambil alih sendok di tangan Bryan.

__ADS_1


Vanka menyuapkan makanan ke dalam mulut Bryan. Keduanya makan dengan bergantian menyuapi satu sama lain. Setelah selesai menghabiskan sarapan Bryan dan Rayyan berpamitan untuk berangkat kerja dan sekolah.


" Sayang Mas berangkat kerja dulu ya, kamu hati hati di rumah, kalau ada apa apa telepon Mas sayang." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Iya Mas, hati hati di jalan ya." Sahut Vanka mencium punggung tangan Bryan.


" Mom Ray berangkat sekolah dulu ya, doain Ray menjadi anak yang pinter ya Mom." Ucap Rayyan menyalami Vanka dengan takzim.


" Tentu sayang, doa Mommy selalu menyertaimu." Sahut Vanka.


" Bye Mommy..." Ucap Rayyan.


" Bye sayang." Sahut Vanka.


Bryan dan Rayyan berjalan meninggalkan Vanka menuju mobilnya. Setelah Vanka membereskan piring piring kotor, Ia berjalan kembali ke kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu minggu berlalu....


Hari ini adalah hari ulang tahun Rayyan yang ke tujuh. Vanka menyiapkan pesta yang meriah untuk ulang tahun Rayyan dan menyambut calon babby twinsnya. Sedari pagi sebenarnya perut Vanka sudah terasa mulas namun demi putra kesayangannya, Ia berusaha menahannya tih air ketubannya juga belum keluar.


" Shhhh." Desis Vanka merasa mulas.


" Non Vanka kenapa?" Tanya Bi Ijah, pelayan yang Bryan sewa dua hari yang lalu.


" Perutku rasanya mulas Bi." Sahut Vanka.


" Jangan jangan Non Valen mau melahirkan." Ujar Bi Ijah.


" Kita telepon Den Bryan dulu ya Non, Bibi takut Non Valen kenapa napa." Ujar Bi Ijah.


" Iya Bi." Sahut Valen.


Setelah menelepon Bryan, akhirnya Bryan datang tiga puluh menit kemudian. Bryan segera masuk ke dalam rumahnya menghampiri Valen yang sedang berjalan mondar mandir di ruangan tengah.


" Sayang kamu baik baik saja?" Tanya Bryan menghampiri Valen.


" Iya Mas, aku baik baik saja kok." Sahut Vanka.


" Kita ke rumah sakit sekarang ya." Ujar Bryan.


" Iya Mas, oh ya Ray mana Mas?" Tanya Vanka setelah menatap ke belakang Bryan tidak ada Rayyan. Pasalnya sekarang jam pulang sekolah Rayyan.


" Mas tidak sempat menjemput Rayyan sayang, tapi kamu tenang aja karena Rea yang akan menjemput Ray." Sahut Bryan.


" Ya udah ayo kita ke rumah sakit sekarang." Sambung Bryan menuntun Vanka.


" Hati hati sayang." Ucap Bryan.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


Bryan menuntun Vanka ke dalam mobilnya. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Bryan melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik Brayen.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Bryan sampai di rumah sakit tujuan. Ia segera menggendong Vanka masuk ke dalam ruang UGD.


" Tolong istri saya Sus, dia mau melahirkan." Ucap Bryan membaringkan Vanka di atas ranjang pasien.


" Baik Pak, silahkan Bapak tunggu di luar ya Pak." Ujar Suster.


" Baik Sus." Sahut Bryan keluar ruangan.


Tak lama setelah Bryan duduk di ruang tunggu, Suster mendorong brankar Vanka menuju ruang bersalin. Bryan segera mengikutinya.


" Sus boleh saya menemani istri saya di dalam?" Tanya Bryan.


" Silahkan Pak." Sahut Suster.


Ketiganya masuk ke dalam ruang bersalin yang ternyata di dalamnya sudah ada seorang Dokter yang menunggu.


Dengan mengikuti instruksi dari Dokter akhirnya Vanka berhasil melahirkan kedua putranya dengan selamat. Dua babby mungil nan tampan kini berada dalam box di samping ranjang Vanka.


Bryan duduk di kursi samping ranjang Vanka. Ia menggenggam tangan Vanka lalu menciumnya.


" Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang bertubi tubi dalam kehidupan Mas, terima kasih sudah menjadi penyemangat hidup Mas, terima kasih sayang." Ucap Bryan yang hanya di balas anggukan kepala oleh Vanka karena Vaka masih lemas.


" I love you." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Love you too Mas." Sahut Vanka.


Bryan beralih ke box bayi dimana babby teins sedang memejamkan matanya.


" Sayangnya Daddy, terima kasih sudah hadir dalam keluarga kami." Ucap Bryan.


" Sayang babby twins Mas beri nama Dicky dan Dicka, gimana? Kamu setuju nggak?" Tanya Bryan menatap Vanka.


" Boleh Mas, nama yang bagus..." Sahut Vanka.


" Wellcome to the word Dicky Devanka Permana dan Dicka Devanka Permana." Ucap Bryan mencium kedua babby twinsnya.


Kini keluarga Bryan benar benar di limpahkan dengan kebahagiaan yang tiada tara. Bryan dan Vanka sangat bersyukur mendapatkan semuanya.....


Miss U All....


Mohon Doa dan Dukungannya kepada readers untuk karya author yang rencana launching bulan depan....


Semoga Karya baru author bisa mendapatkan tempat di hati banyak readers semua...


Semoga lancar dan semakin menghibur para readers semua....


Dan Semoga semakin sukses ya...


Amin...


Bila ada salah kata, ataupun mengecewakan hati readers semua, Author minta maaf yang sedalam dalamnya....


Love you All.....

__ADS_1



__ADS_2