
Pagi ini lagi lagi Indra memutahkan cairan bening dari perutnya, Kia memijat tengkuk Indra dari belakang. Indra berkali kali mutah hingga membuat tubuhnya terasa lemas.
" Sudah Mas?" Tanya Kia.
" Sudah Yank." Sahut Indra.
" Ayo aku bantu ke ranjang, Mas tiduran lagi aja." Ajak Kia.
Kia memapah Indra menuju ranjangnya, Kia merebahkan tubuh Indra dengan pelan dan menyelimuti tubuhnya.
" Aku buatin es sirup dulu ya Mas." Ujar Kia.
" Iya sayang jangan lama lama ya..." Sahut Indra menganggukkan kepalanya.
Kia turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan es sirup untuk Indra. Semenjak ngidam Indra hanya mau minum es sirup saja, Ia tidak mau minum susu, Kopi, Teh apalagi air putih. Ia akan merasa mual jika melihat semua itu.
" Indra masih mual lagi?" Tanya Andre yang baru saja tiba. Ia berjalan mendekati kulkas lalu mengambil air es dari sana.
" Iya Bang, Ini lagi aku buatin es sirup untuknya." Sahut Kia. Ya Kia mengubah panggilannya menjadi Bang karena permintaan Indra.
"Apa yang dia inginkan hari ini?" Tanya Andre, Ia segera meminum air es langsung dari botolnya.
" Belum tahu Bang orang dianya belum ngomong, Baru bangun langsung mutah mutah." Sahut Kia sambil meletakkan gelasnya di atas nampan.
" Ya udah aku ke kamar dulu ya Bang." Sambung Kia.
" OK... Kamu urus aja bayi besar itu biar aku yang masak sarapan untuk kita semua." Ujar Andre.
" Siippplah makasih Bang... U Are is the best Brother pokoknya." Ucap Kia.
Kia berjalan menuju kamarnya kembali, Ia membuka pintu lalu menghampiri Indra yang sedang rebahan di atas ranjang.
" Ini Mas es sirupnya." Ucap Kia memberikan segelas es sirup kepada Indra.
Indra bangun lalu Ia duduk sambil menerima gelas dari Kia. Indra segera meneguk es sirupnya. Setelah habis Indra memberikan gelas kosongnya kepada Kia kembali. Kia meletakkan gelas kosongnya di atas nakas.
" Sayang... Sini." Ucap Indra menepuk sisi kasur di sampingnya. Kia naik ke atas ranjang, Ia merebahkan dirinya di samping Indra. Indra memiringkan tubuhnya, Tangannya mengelus perut rata Kia.
" Babbynya Daddy lagi apa nih di dalam?" Tanya Indra menempelkan telinganya ke perut Kia.
" Lagi mandi Daddy." Sahut Kia menirukan suara anak kecil.
" Wah seger ya... Padahal Dad belum mandi nih, Masih bau acem." Ucap Indra.
" Iya dedek kebauan dali cini Dad." Sahut Kia.
" Kalau Babby udah lahir nanti kira kira mau jadi apa ya?" Tanya Indra.
" Dedek mau jadi anak soleh dan solehah Daddy." Sahut Kia.
Indra mendongak menatap Kia begitupun sebaliknya, Mereka saling pandang untuk beberapa saat sampai..
" Ha ha ha ha ha ha." Kia dan Indra tertawa bersama menyadari tingkah konyol mereka.
" Yank aku udah nggak sabar nunggu Babby lahir." Ucap Indra.
__ADS_1
" Masih lama Mas, Masih tujuh bulanan lagi." Sahut Kia.
" Yah lama ya Yank..Padahal aku mau gendong gendong dia, Aku pengin ciumi pipi imutnya." Ujar Indra.
" Apa aku juga akan mual mutah terus seperti ini sampai Babby lahir Yank?" Tanya Indra.
" Yah tergantung sih Mas, Bisa juga hanya sampai trisemester pertama saja, Tapi ada juga yang sampai lahir seperti itu Mas, Aku sebenarnya tidak tega melihatmu seperti ini Mas." Ujar Kia.
" Jangan di pikirkan aku seneng ngejalaninnya kok Yank, Aku bahagia bisa sedikit meringankan beban kehamilanmu, Kehamilan anak pertama kita." Ucap Indra.
" Makasih Mas, Semoga dedeknya sehat terus ya sampai lahir Mas, Dan juga semoga di lancarkan saat proses persalinan nanti." Ucap Kia.
" Amien.." Sahut Indra.
" Oh ya.. Mas pengin makan apa hari ini?" Tanya Kia.
" Aku pengin makan kamu Yank." Sahut Indra.
" Apa sih Mas." Ucap Kia.
" Beneran Yank... Pengin, Udah nggak nahan nih, Udah sesak rasanya pengin keluar." Ucap Indra menunjuk bagian bawahnya.
"Aku takut Mas, Takut calon Babbynya terganggu." Ujar Kia.
" Aku akan pelan pelan Yank.. Aku tidak akan menyakiti Babby, Janji deh.... Mau ya?" Ujar Indra menatap wajah Kia dengan tatapan memelas.
" Baiklah Mas aku mau, Tapi pelan ya.." Sahut Kia.
" Terima kasih sayang." Ujar Indra.
Indra memulai pemanasan sebelum melakukan permainannya. Ia mulai mencumbu istrinya dengan ciuman ciuman lembut dari bibirnya. Ciuman Indra turun ke bawah pindah ke leher putih Kia, Ia memberi stempel kepemilikan di sana dengan berbagai macam bentuk membuat Kia mendesis, Indra mulai menyusupkan tangannya ke dalam dress yang di kenakan Kia, Tangannya bermain main di puncak gunung istrinya, Kia memejamkan matanya sambil sesekali memdesis menikmati sensasi yang Indra berikan kepadanya. Sensasi luar biasa di pagi hari. Akhirnya pagi ini apa yang seharusnya terjadi maka terjadilah.
Liona menundukkan kepalanya di depan Papa Romi. Sedangkan Papa Romi berdiri di depan Liona dengan berkacak pinggang. Ia berjalan memutari Liona dan mondar mandir di depan Liona sambil memikirkan sesuatu.
" Pa jangan mondar mandir gitu bikin Lio pusing melihatnya Pa, Duduk saja ya... Lagian pegel juga kaki Lio." Ucap Lio hendak duduk di sofa.
" Siapa yang menyuruhmu duduk... Berdiri!" Titah Papa Romi. Lio kembali berdiri sambil meremas tangannya.
" Berani beraninya kamu membohongi Papa, Kamu sudah mempermalukan Papamu di depan teman Papa, Apa salah Papamu ini Lio.... Papa ingin melihatmu menikah, Papa ingin segera menunaikan kewajiban terakhir seorang ayah, Yaitu menikahkan putrinya Lio..." Ucap Papa Romi.
" Lio tidak bohong Pa.... Mas Andre pasti akan ke sini secepatnya." Kilah Lio.
" Mana buktinya? Sudah hampir sebulan kita menunggu nyatanya dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, Papa tahu kamu pasti bohong, Kamu pasti tidak ada hubungan apa apa dengannya, Sekarang terimalah perjodohan ini Papa tidak mau tahu yang penting kamu harus menikah dengan Roland titik." Ujar Papa Romi.
" Pa Lio janji bakal bawa Mas Andre ke sini deh, Kalau Lio tidak berhasil maka Lio janji akan menerima perjodohan ini, Ya Pa." Ujar Lio.
" Baiklah Papa beri kesempatan hingga minggu depan kalau Andre tidak juga melamar kamu maka Papa akan menjodohkanmu dengan Roland." Sahut Papa Romi.
" Baik Pa, Lio pergi dulu." Ucap Lio menyalami Papa Romi dengan takzim.
" Assalamu'alaikum Pa." Ucap Lio.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa.
Liona berjalan menuju mobil, Ia masuk ke mobilnya lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia membuka aplikasi hijau mencari kontak Andre, Setelah di bukanya hati Lio memanas setelah tahu kalau Andre memblockir nomernya.
__ADS_1
" Sial.... Kamu kira aku main main Tuan Andre... Walaupun aku tidak mencintaimu tapi aku sedikit tertarik denganmu, Aku harus berhasil mendapatkanmu, Jika kamu mau menerimaku aku akan bertahan denganmu tapi kalau tidak maka setelah itu aku akan pergi meninggalkanmu... " Monolog Liona dengan tersenyum smirk.
Liona mencoba searching di goglo membuka profile Andre Permana untuk sekedar mencari alamatnya. Tapi hasilnya nihil.
" Ini orang hebat tapi kenapa goglo tidak menemukan pencarian yang gue cari ya... Ah tempat tinggal Indra Permana saja, Aku yakin pasti mereka tinggal satu rumah, Kalau tidak serumah aku akan tanyakan pada kembarannya dimana rumah Andre tinggal." Ujar Lio masih sibuk dengan ponselnya, Setelah beberapa detik menunggu akhirnya.
Kling...
" Ah akhirnya dapat juga, OK.... Perumahan griya xx...." Ucap Lio.
" Lets go ke sana... Bang Andre Lio coming...." Teriak Lio mulai melajukan mobilnya.
Lio melajukan mobilnya ke alamat yang di tuju, Di dalam perjalanan Ia bersenandung ria, Setelah sekitar satu jam akhirnya Lio sampai di kediaman keluarga Permana. Lio menghentikan mobilnya di depan rumah megah itu. Lio turun dari mobil menghampiri satpam yang berjaga di sana.
" Siang Pak..." Sapa Liona sopan.
" Siang Neng.... Mau cari siapa?" Tanya Satpam.
" Mas Andrenya ada Pak?" Tanya Lio sok tahu, Ia tidak memastikan dulu apakah benar rumah yang di tuju rumah itu atau bukan.
" Ah iya ada Neng... Kebetulan mereka sedang berkumpul, Tuan dan Nyonya baru saja datang." Sahut Pak Satpam.
" Oh... Terima kasih Pak, Saya masuk dulu." Ucap Lio.
" Silahkan Neng..." Sahut Pak Satpam.
Liona berjalan mendekati rumah Indra, Hatinya senang tiada terkira karena ternyata Tuhan mendukungnya saat ini.
Ting tong Ting tong
Liona memencet bel rumah Indra, Tak lama pintu pun terbuka. Lio menatap seorang wanita paruh baya di depannya, Wanita cantik dengan tampilan elegant yang Ia yakini sebagai Mamanya Andre.
" Siapa ya?" Tanya Mama Meri.
" Saya Lio Tante, Pacarnya Mas Andre." Sahut Lio menyalami Mama Meri.
" Oh... Kok Andre tidak pernah cerita ya..." Ucap Mama Meri.
" Hiks.... Hiks.... Tante..." Isak Lio memeluk Mama Meri. Mama meri kaget saat tubuh Lio menubruknya.
" Hei kenapa kamu nangis?" Tanya Mama Meri.
" Tante... Tante benarkan Mamanya Mas Andre Permana?" Tanya Lio memastikan.
" Iya sayang... Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengamu? Apa Andre melukaimu?" Tanya Mama Meri melepas pelukannya. Ia menatap gadis cantik di depannya ini.
" Mas Andre Tante....Hiks...Hiks..." Isak Lio.
" Kenapa dengannya katakan dengan jelas." Ujar Mama Meri.
" Mas Andre tidak mau bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung Tan." Sahut Lio.
Jederrrrrrr
Bagai di sambar petir Mama Meri terkejut bukan main. Benarkah putranya melakukan hal sebejat itu? Jika benar maka Mama Meri akan menghukumnya.
__ADS_1
**Tbc.....
Jangan lupa like dan komentnya ya... Makasih**