Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
22. Mengingat Cintamu


__ADS_3

" Kenapa kamu lakukan ini?" Tanya Bryan menangkup wajah Vanka.


" Mas Bry." Lirih Vanka.


Deg....


Jantung Bryan berdetak kencang. Apakah Ia salah mendengar?


" Ap... Apa?" Tanya Bryan.


" Mas Bry suamiku." Ucap Vanka.


Bryan tersenyum lebar mendengar ucapan Vanka. Ada yang beterbangan di dalam hatinya.


" Apa Mas tidak salah dengar sayang?" Tanya Bryan memastikan. Vanka menggelengkan kepalanya.


" Mas Bryan Dika Permana suami Devanka Permana, Aku mencintaimu." Seru Vanka.


Saking bahagianya Bryan menarik Vanka ke dalam pelukannya. Ia meneteskan air mata kebahagiaan yang membasahi pipinya.


" Katakan sekali lagi sayang." Ujar Bryan.


" Aku mencintaimu Mas." Ungkap Vanka.


" Aku lebih mencintaimu sayang." Ucap Bryan mencium pucuk kepala Vanka.


" Apa kamu sudah mengingat semuanya? Apa kamu sudah mengingat semua kenangan kita?" Tanya Bryan masih memeluk Vanka.


" Iya Mas, aku sudah mengingat semuanya, aku sudah mengingat bagaimana tulusnya cinta yang kau berikan padaku, bagaimana kamu begitu memanjakan diriku, aku ingat semuanya Mas." Sahut Vanka.


" Terima kasih sayang." Ucap Bryan.


" Aku mohon jangan tinggalkan aku Mas, maafkan aku yang mungkin telah melukaimu selama aku hilang ingatan Mas, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu sama sekali, maafkan aku yang sempat melupakanmu." Ujar Vanka.


" Tidak masalah sayang semuanya sudah berlalu yang penting sekarang kamu sudah kembali menjadi Vankaku." Sahut Bryan.


" Bagaimana Mas bisa sabar menghadapi semua ini?" Tanya Vanka.


" Mas menganggapnya ini ujian untuk cinta kita sayang, Mas yakin kalau cinta Mas mampu membuat ingatanmu kembali, walaupun Mas sempat putus asa karena itu, tapi sekarang Mas udah lega, akhirnya Mas menang sayang, terima kasih sudah mengingat Mas, terima kasih sayang, Mas sangat bahagia sekali, Mas selalu menanti hari ini tiba, aku menyayangimu sayang." Ujar Bryan.


" Lepaskan istriku!" Bentak Brayen menghampiri mereka. Bryan melepaskan pelukannya


"Apa apaan lo Bry main peluk peluk istri gue segala, kalau mau pergi pergi aja yang jauh dan jangan pernah kembali lagi." Sambung Brayen tidak terima, Ia berpikir kalau keduanya sedang mengucapkan salam perpisahan.


Vanka berjalan menghampiri Brayen.


" Ayo sayang kita masuk." Ucap Brayen hendak menggandeng tangan Vanka, tapi Vanka segera menepisnya.

__ADS_1


" Lepas." Ketus Vanka.


" Sayang kamu kenapa? Kenapa menepis tanganku?" Tanya Brayen menatap Vanka.Tiba tiba....


Plak.....


Tamparan keras mendarat di pipi Brayen. Brayen memegangi pipinya yang terasa perih.


" Sayang kau menamparku? Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Brayen tidak percaya.


" Seharusnya aku yang bertanya padamu dan seharusnya aku sudah menamparmu sejak dulu, kaulah penyebab semua penderitaanku Tuan Brayen Dirga Permana." Sahut Vanka.


Brayen membulatkan matanya menatap Vanka yang sedang menatapnya dengan tatapan nyalang. Tersirat kemarahan yang besar di dalam matanya.


" Apa yang kau katakan? Apa Bry meracuni pikiranmu?" Tanya Brayen melirik Bryan.


" Tidak ada yang meracuni pikiranku, jika pun ada maka kamulah orangnya, kamu tega memanfaatkan keadaanku untuk merebutku dari Mas Bryan, kau menunjukkan bukti akta nikah palsu kepadaku, kau bahkan memberiku obat agar aku tidak bisa mengingat semuanya, kau jahat Kak Brayen.... Kau sangat jahat." Bentak Vanka menunjuk Brayen.


" Kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Brayen memastikan.


" Ya aku sudah mengingat semuanya, bahkan aku ingat dengan jelas saat kau menolak aku dan anakku, kau pria jahat tidak bertanggung jawab yang rela melakukan apa saja demi memenuhi ambisimu, aku tidak akan membiarkan cinta Mas Bryan kalah dengan ketamakkanmu, aku tidak akan membiarkan pengorbanan Mas Bryan sia sia hanya karena manusia seperti dirimu." Sahut Vanka.


" Sekeras apapun kau mencoba, aku tetap akan berpaling ke cintaku yang sesungguhnya, bukan cinta palsu yang selama ini kau berikan padaku." Ucap Vanka.


Bryan maju menggenggam tangan Vanka.


" Cintaku menang, cinta tulusku membuat istriku mengingat siapa suaminya, siapa yang tulus mencintainya dan siapa yang hanya terobsesi dengannya, cintaku tahu tempat kembali yang sebenarnya Bray." Sambung Bryan.


" Aku sempat percaya jika mungkin Vanka bukan jodohku, tapi jauh di dalam hatiku aku merasa kalau Vanka akan kembali kepadaku dan tetap di sisiku, jadi mulai sekarang jangan perna ganggu hubungan kami, carilah wanita yang bisa mencintaimu dan berbahagialah hidup bersamanya." Ujar Bryan.


" Tidak bisa, kau harus menjadi milikku Vanka, hanya aku yang boleh memilikimu." Teriak Brayen menarik tangan Vanka.


" Awh.... Sakit, lepas Kak." Pekik Vanka. Saat ini Vanka berada di tengah tengah Brayen dan Bryan yang sama sama menarik tangannya.


" Ikut aku." Ucap Brayen.


" Aku tidak mau." Teriak Vanka.


" Lepaskan Vanka Bray, Vanka kesakitan." Bentak Bryan mendorong tubuh Brayen hingga terjatuh ke paving.


" Hiks.... Hiks... Aku sangat mencintaimu Vanka, maafkanlah kesalahanku yang lalu, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita." Ucap Brayen sedih.


" Kesempatan itu telah hilang bersama dengan pencampakkan yang kau lakukan kepadaku, sekarang aku sudah menemukan cinta sejatiku dan aku tidak butuh cintamu." Ujar Vanka.


" Kenapa aku tidak bisa mendapatkan orang yang aku cintai? Aku mencintaimu Vanka, sangat." Ucap Brayen.


" Cinta itu telah mati bersamaan dengan penolakanmu waktu itu Kak, aku bahkan tidak sudi memanggilmu dengan sebutan Mas, karna kau memang tak pantas untuk di hargai, kau pria paling jahat yang aku kenal selama ini, dulu kau gila akan jabatan, sekarang kau gila akan cintamu, berubahlah Kak selama ada waktu untuk berubah, benahi dirimu supaya hidupmu bisa tenang, ayo Mas." Ujar Vanka menggandeng tangan Bryan masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


" Aku harus pergi." Ucap Bryan menghentikan langkah Vanka.


" Apa? Mas mau pergi? Mas mau meninggalkan aku begitu?" Selidik Vanka.


" Bukan, Mas harus pergi untuk memberitahu pernikahan agama kita kepada Papa dan Mama Mas di Jawa." Sahut Bryan.


" Aku tidak mengijinkanmu pergi Mas, aku tidak mau jauh darimu lagi, kita bicara lewat telepon aja." Ujar Vanka.


" Tapi...


" Tidak ada bantahan, atau aku akan marah." Ucap Vanka mengerucutkan bibirnya.


" Baiklah sayangku, apapun untukmu." Sahut Bryan menggendong Vanka menuju kamarnya.


Ceklek....


Vanka membuka pintunya, Bryan merebahkan tubuh Vanka di atas ranjang. Ia mengukung tubuh Vanka di bawahnya.


" Seandainya kita sudah sah di mata agama, Mas ingin sekali meluapkan rasa rindu Mas lewat sentuhan itu." Ucap Bryan ambigu.


" Bersabarlah Mas, tunggu Mama sama Papa kembali ke sini." Ujar Vanka.


" Tapi kalau hanya ciuman boleh ya." Ucap Bryan. Vanka menganggukkan kepalanya.


Bryan memajukan wajahnya membuat Vanka memejamkan matanya. Bryan mencecap bibir Vanka. Vanka membalas ciuman Bryan. Keduanya saling membelitkan lidah menikmati sensasi panas dingin dari ulah mereka. Suara decapan memenuhi ruangan kamar Bryan. Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Bryan melepas pagutannya.


" Terima kasih sayang." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Sama sama Mas." Sahut Vanka.


" Mas sangat bahagia sayang." Ucap Bryan memeluk Vanka.


" Aku juga Mas, terima kasih sudah selalu sabar menantiku." Ucap Vanka.


" Hmm." Gumam Bryan.


Akhirnya apa yang di impikan Bryan menjadi kenyataan. Cintanya kembali ke dalam pelukannya. Hari ini merupakan hari yang paling bahagia untuk Bryan. Semoga hanya akan ada kebahagiaan untuk mereka berdua.


Siapa nih yang seneng Vanka udah ingat sama Bry???


Jangan lupa kasih author hadiah ya... Udah double up lho....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All...


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2