Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
At Home


__ADS_3

Malam ini cuacanya sangat cerah banyak bintang gemerlapan di atas sana. Kia berdiri di balkon sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya menikmati suasana malam yang indah di sertai angin semilir menerpa tubuhnya.


" Sedang apa di sini hmm." Ucap Indra memeluk Kia dari belakang dengan tangan kanannya.


" Melihat bintang Mas." Sahut Kia.


" Udaranya sedikit dingin sayang entar kamu bisa masuk angin, Ayo masuk ke dalam." Ujar Indra tidak melepas pelukannya.


" Sebentar lagi Mas, Aku masih ingin di sini." Sahut Kia.


Indra menempelkan dagunya pada bahu Kia. Ia mengusap perut besar Kia.


" Sayangnya Daddy lagi pengin lihat bintang ya, Daddy berdoa semoga kelak kalian akan bersinar seperti bintang yang mampu menerangi jiwa orang orang di sekitar kalian, Kalian akan menjadi superstar di antara teman teman kalian, Jadi anak soleh dan berbakti kepada kedua orang tua sayang." Doa Indra.


" Amien semoga apa yang di cita citakannya menjadi kenyataan." Sahut Kia.


" Shhhh Massss." Desis Kia saat Indra menyesap tengkuknya hingga memerah.


" Pengin Yank." Ujar Indra.


" Maaf Mas akunya lagi malas, Begah perutku udah besar gini." Tolak Kia hati hati.


" Tenang sayang Mas akan melakukannya dengan lembut dan pelan, Mau nggak? Kalau nggak mau ya udah nggak pa pa Mas ngerti kok, Mas akan nahan sampai kamu siap lagi." Ucap Indra semakin mengeratkan pelukannya semakin menempelkan tubuhnya mencoba meredam hasratnya.


Kia membalikkan tubuhnya Ia menatap wajah sengsara Indra, Keduanya saling menatap satu sama lainnya.


" Mau nahan sampai kapan? Kira kira tiga bulan lebih aku siap melakukannya lagi." Ujar Kia.


" Hah? Tiga bulan? Lebih?" Tanya Indra kaget. Tubuhnya lemas seakan tidak ada tulang yang menopangnya.


" Iya sekarang aku hamil tujuh bulan, Dua bulan lagi lahiran di tambah empat puluh hari masa nifas, Itu aja kalau aku lahiran normal Mas kalau sesar pasti akan membutuhkan waktu lebih lama lagi, Tahan puasa selama itu?" Tanya Kia menatap lucu ke arah Indra.


" Tidak Yank... Mas nggak sanggup." Lirih Indra menggelengkan kepalanya.


" Jadi?" Tanya Kia.


" Mas pengin sekarang, Mau ya?" Tanya Indra dengan tatapan memohon.


" Aku mau Mas, Perlakukan aku dengan lembut dan pelan." Ucap Kia.


" Benarkah?" Tanya Indra dengan mata berbinar.


" Hmm." Gumam Kia.


Indra menuntun Kia menuju ranjangnya, Ia merebahkan tubuh Kia dan mulai mencium bibir Kia disertai cecapan dan *******. Indra mulai bermain di dua gunung kembar milik putra kembarnya membuat Kia semakin mende***. Indra memulai permainannya dengan lembut membuat Kia seakan melayang ke nirwana. Kali ini Kia hanya pasrah di bawah kukungan Indra tanpa bisa membalas apa yang Indra lakukan padanya karena keadaannya yang sudah sedikit susah walau hanya untuk sekedar bergerak.


Setelah hampir satu jam lamanya akhirnya Indra menyelesaikan permainannya. Ia merasa lega dan puas karena bisa menyalurkan hasratnya. Ternyata sensasi wanita hamil lebih mengagumkan.


" Makasih sayang." Ucap Indra mencium kening Kia. Indra meneluk tubuh Kia dan menyelimutinya.


" Apa ada yang sakit Yank? Punggungmu pegal atau tidak?" Tanya Indra memastikan jika istrinya baik baik saja.


" Enggak Mas semuanya baik baik saja, Aku mau bersih bersih dulu risih rasanya Mas banyak keringat." Ujar Kia.

__ADS_1


" Iya hati hati." Sahut Indra.


Kia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dari keringat sisa sisa bercintanya. Lima belas menit kemudian Ia keluar menuju ranjangnya.


" Tidurlah sayang." Ujar Indra memeluk Kia.


Cahaya matahari masuk ke dalam kamar Kia melalui celah celah kordennya, Kia mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping ternyata ranjangnya kosong. Kia segera masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Seelah selesai Kia berjalan menuju dapur.


" Mas sedang apa? Kok nggak bangunin aku sih." Ujar Kia.


" Mas masak makanan kesukaanmu sayang tapi tidak terlalu pedas." Sahut Indra.


" Rica rica ayam?" Tanya Kia memastikan.


" Iya." Sahut Indra.


" Ya nggak enaklah Mas kalau rica rica nggak pedas." Protes Kia duduk di kursi meja makan.


" Kan kamu lagi hamil sayang, Nggak baik buat Twins, Kasihan nanti mereka kalau kepanasan di dalam gimana? Di makan ya walau tidak sesuai selera." Ujar Indra memberi pengertian.


Indra menyajikan masakannya di depan meja Kia.


" Iya Mas makasih udah repot repot masakin aku." Ucap Kia.


" Its OK sayang." Sahut Indra.


" Sini Mas suapi." Sambung Indra memberikan suapannya kepada Kia.


Indra menyuapi Kia dengan tangannya sendiri, Sesekali ia juga menyuapkan makanan ke mulutnya, hingga makanan di piringnya habis tak tersisa.


" Pinternya anak Daddy makannya habis." Ujar Indra mengelus perut Kia dengan punggung tangannya.


" Ya habislah kan makannya sama Daddy juga." Ujar Kia.


" He he iya ya." Sahut Indra.


Indra mencuci tangannya di wastafel dapur.


" Ini minum dulu." Ucap Indra memberikan segelas jus jeruk kepada Kia. Sedangkan Ia meminum es sirupnya.


" Makasih Mas." Sahut Kia.


" Sama sama sayang." Ucap Indra.


Setelah makan kedunya bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.


" Mas aku mau ke rumah Cindy lihat Babby Ar boleh nggak?" Tanya Kia.


" Nggak usah lah Yank, Mas nggak mau kamu kecapekan, Mas juga gak tega lihat jalan kamu kegedean perut gitu." Ujar Indra.


" Aku jadi jelek ya Mas?" Tanya Kia.


" Enggak, Kamu malah tambah cantik, Seksi, Makanya aku akan buat kamu hamil lagi setelah ini." Ujar Indra.

__ADS_1


" InsyaAllah Mas." Sahut Kia.


" Emangnya kamu mau hamil lagi? Emang nggak susah Yank bawa perut gedhe gitu kemana mana." Ujar Indra.


" Itu sudah menjadi kodrat wanita Mas, Ini ladang ibadah yang berpahala besar buatku." Sahut Kia.


" Kamu memang istri terbaik." Sahut Indra merangkul pundak Kia.


" Mas aku mau telepon Lio ingin tahu gimana keadaannya di sana." Ucap Kia.


" Iya tinggal di telepon aja sayang." Ujar Indra.


" Pomselku di kamar Mas, Kamu telepon Bang Andre aja gih." Ujar Kia.


" OK." Sahut Indra.


Indra mengambil ponselnya di atas meja, Ia segera melalukan panggilan video call pada kontak Andre.


Tut.... Telepon tersambung.


" Halo." Sapa Andre di depan kamera.


Nampak Andre dan Lio sedang duduk di atas ranjang dengan bersandar pada headboard menatap ke arah kamera.


" Halo Li.... Gimana kabarmu?" Tanya Kia.


" Alhamdulillah baik Ki." Jawab Lio.


" Lhoh kok udah duduk aja? Apa nggak sakit bekas luka oprasinya?" Tanya Indra heran.


" Oprasinya di undur karena tekanan darah Lio saat ini masih tinggi." Sahut Andre.


" Kenapa Li? Apa kamu takut melakukan oprasi itu hingga membuatmu spaneng memikirkannya?" Tanya Kia.


" Iya Ki, Aku memang takut, Aku takut kalau oprasi itu agal dan membuatku tidak tertolong." Jujur Lio.


" Li... Hidup dan mati itu di tangan Allah, Jika memang sudah waktunya semua akan kembali padaNya dan itu tidak bisa di tawar, Yakinlah pada Allah jika Ia akan memberikan yang terbaik untuk kita, Jangan takut lagi berdoa dan berdzikir memohon perlindungan kepadaNya, Aku mendoakanmu dari sini." Tutur Kia dengan bijak.


" Iya Ki aku akan mencobanya, Makasih ya kamu membuat hatiku sedikit tenang." Ujar Lio.


" Sama sama Li bukankah sesama keluarga kita harus saling mendukung." Ujar Kia.


" Kau benar aku juga akan mendoakan untuk kelancaran kelahiran baby twins." Sahut Lio.


" Makasih." Ucap Kia.


Indra dan Andre menatap bangga pada istri masing masing. Andre merasa lega karena kini Lio terlihat lebih tenang dan tidak sedih lagi.


**TBC....


Jangan lupa like dan komentnya


Makasih suportnya Miss U All**

__ADS_1


__ADS_2