
Sesampainya di villa, Bryan segera masuk ke dalam kamarnya di ikuti Vanka dari belakang.
Grep....
Vanka memeluk Bryan dari belakang. Bryan memejamkan matanya menetralkan emosinya.
" Mas Bry jangan marah, maafkan aku yang telah membuat Mas marah, aku tidak bermaksud melukai hati Mas dengan mengingat Kak Brayen, maafkan aku Mas, aku tidak akan mengungkit tentang Kak Braye lagi." Ucap Vanka menempelkan pipinya pada punggung Bryan. Bryan nampak tersenyum mendengar Vanka sedang mencoba merayunya.
" Mas ngomong donk, jangan diam aja." Sambung Vanka.
Bryan masih diam, Ia ingin melihat sejauh mana Vanka mampu meluluhkan hatinya.
" Mas jangan pulang ya, kita akan tetap bulan madu di sini, kita akan merajut kenangan indah di sini hanya berdua." Ujar Vanka.
Tangan Vanka mengelus dada Bryan. Ia berjinjit lalu...
" Shhh." Desis Bryan saat Vanka menyesap tengkuknya. Sepertinya Vanka hendak balas dendam padanya.
Tidak hanya sampai di situ, Vanka memainkan lidahnya pada leher Bryan membuat tubuh Bryan meremang, sesekali Vanka menyesapnya meninggalkan tanda merah di leher bagian belakang dan samping.
Bryan memejamkan matanya menahan suaranya agar tidak keluar dari bibir lucknutnya. Ia akan sangat malu jika ketahuan menikmati ulah Vanka.
Vanka membalikkan tubuh Bryan, Ia menatap wajah Bryan yang sedikit memerah. Begitupun dengan Bryan, Ia juga menatap Vanka.
Vanka mendorong pelan tubuh Bryan ke atas ranjang. Tanpa malu Vanka menindih tubuh suaminya. Ia tidak peduli kika Bryan berpikir Ia perempuan murah** yang penting Bryan tidak kecewa karna kehilangan moment bahagia yang sudah di rancangnya.
Cup..
Vanka mencecap bibir Bryan, Brya membuka mulutnya sedikit membuat Vanka menyusupkan lidahnya lalu mengekspos setiap inchinya. Tangan Vanka membuka kancing kemeja Bryan hingga menampakkan dada bidang Bryan yang putih mulus seperti susu.
Sambil menikmati bibir Bryan, Vanka mengelus dada Bryan membuat Bryan merasa panas dingin. Tidak terima Vanka lebih mendominasi dirinya, Bryan membalikkan posisinya. Ia mengukung Vanka di bawahnya. Bryan melu*** bibir Vanka dengan sangat lembut. Vanka membalas ciuman Bryan dengan membelitkan lidahnya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Vanka merasa ada yang mendesak di bawah sana.
Setelah puas saling bertukar saliva, Bryan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Vanka dengan jempolnya.
" Nggak nahan Dek." Ucap Bryan menatap Vanka dengan tatapan penuh gairah.
" Terus suruh ngapain?" Tanya Vanka mengelus dada bidang Bryan membuat Bryan memejamkan matanya. Vanka tersenyum melihatnya. Bryan membuka matanya menatap Vanka.
" Kamu polos apa pura pura polos sih Dek." Cebik Bryan.
" Iya Masku sayang, lakukan apa yang kamu mau." Ujar Vanka menangkup wajah Bryan.
Tanpa Vanka sadari jika Bryan berhasil membuka dressnya. Entah kapan Bryan memulai, kini keduanya saling mengungkapkan rasa cinta lewat kegiatan panas yang mereka lakukan saat ini. Dinginnya ac tidak mampu menyurutkan keringat mereka yang mengucur dengan derasnya. Suara erangan dan des**** memenuhi ruangan kamar mereka. Kali ini keduanya berhasil membuka acara bulan madu mereka dengan lancar.
__ADS_1
Setelah mencapai puncak nirwana, Bryan merebahkan tubuhnya di samping Vanka. Ia memeluk tubuh Vanka di bawah selimutnya.
" Terima kasih sayang, Mas sangat bahagia hari ini, semoga dia segera hadir di antara kita." Ucap Bryan mencium kening Vanka.
" Iya Mas, maaf... Mas hanya bisa menjadi yang terakhir." Ujar Vanka.
" Mas sudah bilang jangan pernah membahas hal itu, dan ingat jangan sampai kelak anak anak kita mengetahuinya juga, Mas tidak mau mereka berpikir buruk tentangmu." Ucap Bryan merapikan anak rambut Vanka.
" Iya Mas, terima kasih untuk kebahagiaan yang Mas berikan kepada aku selama ini." Ujar Vanka mengelus pipi Bryan.
" Mancing nih?" Canda Bryan.
Vanka langsung menarik tangannya kembali.
" Lagi Dek." Ucap Bryan.
" Masih capek Mas." Sahut Vanka.
Gimana nggak capek kalau Bryan membutuhkan waktu hampir dua jam untuk menyelesaikan permainannya.
" Ya udah istirahat aja, nanti malam kita sambung lagi." Sahut Bryan mengeratkan pelukannya.
Keduanya memejamkan mata mencoba tidur siang walau sudah sedikit terlambat, karena jam menunjukkan pukul dua siang. Keduanya bahkan melewatkan makan siang mereka.
" Makasih Mas kau sudah menjadi orang terbaik untukku, aku tidak akan menyianyiakan pria sepertimu." Lirih Vanka mencium pipi Bryan dengan pelan.
Vanka turun dari ranjang dengan pelan, saat kakinya menjuntai ke bawah tiba tiba Ia merasakan nyeri di bagian intinya. Memang ini bukan yang pertama baginya tapi rasanya sama seperti setelah Ia melakukannya dengan Brayen.
" Shh... Kenapa sakit ya?" Lirih Vanka.
" Ya sakitlah Dek namanya juga baru buka segel." Sahut Bryan tiba tiba.
" Tapi inikan yang....
" Stt.... Ini yang pertama, karna waktu itu kamu melakukannya tanpa sadar jadi Mas anggap kamu tidak melakukannya, sekarang Mas gendong ke kamar mandi, kita mandi bersama saja biar cepat, setelah itu kita cari makan ya Mas udah lapar." Ujar Bryan menggendong Vanka sampai ke dalam kamar mandi.
Yang di bilang mandi ternyata tidak hanya sekedar mandi saja, nyatanya Bryan mengulangi perbuatan yang Ia lakukan siang tadi. Ya Bryan menggendong kembali Vanka ke atas ranjang lalu Ia memulai permianannya lagi.
Hhhh Jangan hot hot ya biar lulus review...
Selesai mandi Bryan dan Vanka bersiap untuk mencari resto yang terletak sekitar tiga kilo meter dari villa.
" Udah siap?" Tanya Bryan menatap Vanka yang sedang sibuk di depan cermin.
__ADS_1
" Bentar lagi Mas, ini gigitan nyamuknya banyak banget sampai nggak kelar kelar nutupinya, ini mah seperti bukan gigitan nyamuk tapi mirip gigitan serigala." Gerutu Vanka mengolesi foundation ke lehernya.
" Astaga Dek, kamu nyamain Mas sama serigala? Mana ada serigala ganteng begini?" Ujar Bryan tidak terima.
" Ganteng ganteng serigala, menakutkan sekali." Cibir Vanka.
" Serigala bikin nagih." Kekeh Bryan.
" Mas yang ketagihan ya, akunya enggak." Sahut Vanka.
" Nyatanya kamu terus mendes** memanggil nama Mas kok." Sahut Bryan.
" Masssss." Rengek Vanka dengan manja.
" Iya sayang... Mau lagi? Ayo kita mulai, nggak usah makan nggak papa nanti sekalian makan malam aja jam sembilan, terus setelah makan malam kita lanjut....
" Ngomong lagi nggak akan dapat jatah nanti malam." Potong Vanka membuat Bryan langsung menutup mulutnya.
Selesai bersiap Bryan dan Vanka berjalan menuju mobilnya. Bryan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat sampai di pertigaan jalan tiba tiba Vanka melihat pria yang mirip Brayen sedang berjalan menjauh dari jalan raya.
" Kak Brayen." Ucap Vanka.
Ckit....
Bryan menginjak rem dengan mendadak membuat tubuh keduanya terhuyung ke depan, tangan Bryan segera menahan kening Vanka agar tidak terpentok dashboard.
" Mas gimana sih." Cebik Vanka.
" Maaf sayang, tadi kamu ngomong apa? Brayen?" Tanya Bryan menatap Vanka.
Vanka jadi ingat dengan sosok pria yang mirip dengan Brayen, Vanka menatap ke arah pria itu tadi tapi sudah tidak ada.
" Tadi aku lihat dengan jelas kenapa sekarang tidak ada ya? Ya Tuhan sebenarnya siapa dia? Apa benar dia Kak Brayen? Sepertinya aku harus segera menghubungi Ronal untuk meminta bantuannya." Batin Vanka.
Masih penasaran nggak nih siapa dia????
Tulis jawaban di kolom komentar ya.. Kalau banyak yang penasaran besok author kasih jawabannya, tapi kalau tidak author lanjut bab Bryan sama Vanka dulu.
Terima kasih untuk para readera yang selalu mensuport author.... Semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1