Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
6. Kehidupan Baru


__ADS_3

Vanka mengerjapkan matanya. Hal pertama yang Ia lihat adalah dada bidang suaminya walau masih tertutup kaos putih polos. Ternyata semalam keduanya tidur saling berpelukan. Vanka mendongak menatap wajah Bryan. Bryan tersenyum manis padanya.


" Pagi sayang." Ucap Bryan.


Vanka tidak bergeming. Ia terus menatap wajah Bryan yang sangat teduh di matanya.


" Tidak mau bangun? Mau seperti ini saja?" Tanya Bryan. Vanka masih tidak bergeming, entah terpesona dengan ketampanan Bryan atau karna nyawanya belum terkumpul.


" Baiklah kita habiskan hari ini di tempat tidur saja." Sambung Bryan mengeratkan pelukannya membuat Vanka tersadar dari lamunannya.


" Ah maaf Mas, aku tidak tahu kalau aku...


" Terlalu nyaman tidur di pelukanku, begitu kan." Sahut Bryan memotong ucapan Vanka.


" Apa sih Mas." Ujar Vanka mencubit perut Bryan.


" Aw sakit Yank." Keluh Bryan.


" Ah iya maaf maaf, ya sudah aku siapkan air hangat buat kamu mandi dulu, nanti baru gantian aku." Ujar Vanka sambil mengikat rambutnya.


Vanka turun dari ranjang menuju kamar mandi. Bryan menatap punggung Vanka dengan senyum mengembang di bibirnya.


" Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa sangat dekat dengannya? Kenapa aku selalu berdebar bila di dekatnya? Apakah aku sudah mencintainya?" Monolog Bryan menyentuh dadanya.


" Aku berjanji akan menyayangi dan mencintaimu Vanka, aku akan melabuhkan hatiku untukmu karena kamu pilihan hatiku." Ujar Bryan.


Huek.... Huek...


Mendengar suara Vanka muntah, Bryan segera berlari menuju kamar mandi.


Huek... Huek...


Vanka memuntahkan isi perut yang hanya berupa cairan kuning di wastafel.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Bryan menghampiri Vanka.


" Nggak tahu Mas, tiba tiba aku mual." Sahut Vanka.


Huek... Huek...


" Mas pijit ya." Sambung Bryan memijat tengkuk Vanka.


" Hah." Vanka menghela nafasnya. Ia membasuh mulutnya dengan air bersih.


" Udah baikan?" Tanya Bryan mengusap keringat di dahi Vanka.


" Udah Mas." Lirih Vanka.


" Kamu istirahat aja, biar Mas bersiap sendiri." Ujar Bryan.


" Aku mau mandi aja dulu Mas." Ucap Vanka.


" Mas bantu." Sahut Bryan.


" Eh??? Nggak mau ah, aku sendiri aja Mas." Ucap Vanka.


" Ya udah segera mandi tapi pakai air hangat aja, Mas tunggu di luar ya." Ujar Bryan keluar kamar mandi.


Bryan menunggu Vanka di depan pintu kamar mandi. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya. Lima belas menit Vanka keluar dari kamar mandi.


" Mas di sini?" Tanya Vanka.


" Emm... Nunggu kamu takut kamu kenapa napa." Sahut Bryan.


" Tidak perlu khawatir gitu Mas, aku baik baik saja kok." Ucap Vanka.


" Mas mau jadi suami siaga sayang." Sahut Bryan.


" Ya udah sekarang Mas mandi gih, udah aku siapin airnya." Ujar Vanka.

__ADS_1


" Makasih sayang." Sahut Bryan masuk ke dalam kamar mandi.


" Mas kamu mau ke kantor tidak?" Teriak Vanka karna Ia bingung mau menyiapkan baju apa yang akan di pakai Bryan.


Ceklek.....


Bryan membuka pintunya. Ia melongokkan kepalanya menatap Vanka.


" Hari ini kita ke rumah sakit saja." Ucap Bryan.


" Ke rumah sakit? Kamu sakit Mas?" Cemas Vanka menempelkan punggung tangannya di dahi Bryan.


" Enggak sayang, Mas baik baik saja tenanglah jangan khawatir." Ujar Bryan.


" Lalu kenapa kita mau ke rumah sakit?" Tanya Vanka.


" Kita periksakan kesehatan calon anak kita." Sahut Bryan.


Nyesss....


Hati Vanka bagai di siram air es. Vanka menatap Bryan dengan mata berkaca kaca.


" Hey kamu kenapa?" Bryan keluar kamar mandi mendekati Vanka. Padahal Ia hanya memakai handuk di bagian bawah saja.


" A.. Aku...." Ucap Vanka meneteskan air mata di pipinya.


" Kenapa kamu menangis? Apa Mas menyakitimu?" Tanya Bryan mengusap air mata Vanka.


" Hiks..." Vanka memeluk Bryan membuat tubuh Bryan menjadi kaku, apalagi punggungnya bersentuhan langsung dengan tangan Vanka. Ada gelenyar aneh yang Ia rasakan saat ini.


" Sayang berhentilah menangis." Ucap Bryan mengelus punggung Vanka.


" Aku menangis karna aku merasa bahagia Mas bisa memilikimu, di saat orang yang sangat aku harapkan mencampakkan aku, kau mau memungutku dan menjunjung tinggi diriku, kau begitu peduli padaku Mas, Hiks...." Isak Vanka.


Bryan melepas pelukan Vanka, Ia menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya membuat keduanya saling bertatapan.


" Kenapa kamu begitu peduli padaku Mas?" Tanya Vanka.


" Bolehkah aku melabuhkan hati dan cintaku kepadamu?" Tanya Vanka.


" Kenapa tidak boleh? Mas justru mengharapkan itu darimu, cintai Mas seberapa besar yang kamu mau, Mas juga akan melakukan itu padamu, Mas akan memberikan cinta ini untuk kamu dan anak kita, Mas sedang berusaha mengukir namamu dalam hati Mas." Ucap Bryan.


" Terima kasih Mas, berjanjilah padaku kamu akan selalu bersikap seperti ini kepadaku, jangan pernah berubah Mas aku menaruh harapan besar kepada dirimu." Ucap Vanka.


" Mas berjanji padamu, kamu juga harus berjanji pada Mas." Sahut Bryan.


" Untuk apa?" Tanya Vanka.


" Untuk menghapus nama Bray dari dalam hatimu, berjanjilah hanya nama Bryan Dika Permana yang bersemayam di hatimu untuk selamanya bukan orang lain, apapun yang terjadi kita akan hadapi bersama." Pinta Bryan.


" Aku berjanji untuk itu Mas, nama Bray telah terhapus oleh kasih dan sayang yang kau berikan kepadaku selama beberapa hari ini." Sahut Vanka.


Bryan menatap bibir mungil milik Vanka. Ia memajukan wajahnya membuat Vanka memejamkan matanya.


Cup....


Bryan mengecup bibir Vanka dengan lembut. Vanka membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu di gunakan untuk Bryan menyusupkan lidahnya, Ia mengekspos setiap inchi mulut Vanka. Bryan menahan tengkuk Vanka untuk memperdalam ciumannya. Vanka mengalungkan tangannya ke leher Bryan. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan kamar Bryan. Bryan melum** bibir Vanka dengan lembut. Vanka menikmati sensasi panas dingin yang Bryan berikan. Di rasa keduanya kehabisan stok oksigen, Bryan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Vanka menggunakan jempolnya.


" Makasih sayang kamu telah membuka diri untukku." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Mas." Ucap Vanka.


" Iya sayang." Sahut Bryan.


" Ada yang keras Mas." Lirih Vanka.


Bryan menatap ke tubuh bagian bawahnya dan....


Brak....

__ADS_1


Bryan menutup kasar pintu kamar mandi membuat Vanka tertawa.


" Ada ada aja kamu Mas." Kekeh Vanka menggelengkan kepalanya.


Vanka berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan baju Bryan. Ia mengambil kemeja pendek berwarna hitam dan celana jeans selutut, tidak lupa dengan pakaian dal*mnya juga.


Lima belas menit kemudian, Bryan keluar dari kamar mandi berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya. Selesai memakai bajunya, Bryan menghampiri Vanka yang sedang merapikan ranjangnya.


" Kamu belum turun?" Tanya Bryan.


Vanka menoleh ke arah Bryan.


Glek....


Vanka menelan kasar salivanya. Bagaimana tidak? Bryan terlihat sangat tampan dengan pakaiannya sekarang.


" Lap encesnya Yank." Ucap Bryan.


" Nggak ada ya." Sahut Vanka memutus tatapannya.


" Gimana? Ganteng nggak suamimu?" Tanya Bryan.


" Ganteng banget, apalagi kalau di lihat dari hatinya, perfect." Sahut Vanka tanpa malu.


" Ah so sweet." Ujar Bryan.


" Apa sih Mas." Cebik Vanka.


" Kenapa belum turun? Mereka pasti sudah menunggu untuk sarapan." Ujar Bryan.


" Aku sengaja menunggumu Mas, aku malu kalau turun sendiri, apalagi aku tidak membantu mereka menyiapkan makanannya." Sahut Vanka.


" Mas sudah bilang sama Mama kalau kamu Mas larang turun ke dapur, Mas nggak mau kamu kelelahan." Ujar Bryan.


" Makasih Mas kamu udah perhatian banget sama aku." Ucap Vanka.


" Itu sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan kalian baik baik saja sayang." Sahut Bryan.


" Bolehkah aku menyapanya?" Tanya Bryan menatap perut rata Vanka.


" Dia anakmu Mas, jadi kamu berhak atas dirinya." Sahut Vanka.


Bryan berlutut di depan Vanka. Ia menempelkan telinganya pada perut Vanka.


" Halo kesayangan Papa, kamu sedang apa di dalam sini? Baik baik ya di dalam sini, jangan nakal kasihan Mama nanti, kita akan periksa untuk memastikan kesehatanmu, Papa sayang kamu sayang." Ucap Bryan mencium perut Vanka.


Lagi lagi Vanka meneteskan air matanya tepat menetes di kening Bryan. Bryan mendongak menatap Vanka.


" Sayang kamu menangis lagi." Ujar Bryan berdiri.


" Aku terharu dengan perhatianmu Mas, Aku menangis bahagia." Ujar Vanka.


" Baiklah sekarang menangislah, setelah ini jangan menangis lagi, Mas tidak mau keluarga kita berpikiran macam macam kepada Mas sayang." Ucap Bryan memeluk Vanka.


" Iya Mas, maafkan aku." Ucap Vanka.


Vanka menangis dalam pelukan Bryan. Ia benar benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Author Baper sendiri.....


Mau donk punya suami kaya' Bryan....


Hhhhh Author lupa sama suami....


Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya biar author semangat ya.....


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2