
Akhirnya Kia mempersilahkan Lia untuk duduk. Ia akan mendengarkan keluh kesah Lia. Kia duduk berdampingan dengan Indra, Sedang Lia duduk di sebrang mereka.
" Katakan ada perlu apa kamu kemari." Selidik Kia.
" Pertama aku ingin meminta maaf padamu, yang kedua aku ingin meminta bantuanmu." Lirih Lia.
" Pertama aku tidak akan memaafkanmu, dan yang kedua aku tidak akan membantumu, kita tidak sedekat itu." Tegas Kia.
" Ku mohon Ki, Maafkan aku, aku menyesali perbuatanku karna membantu Dimas dan Rania, aku menyesal Ki Hiks...sekarang diriku hancur sehancur hancurnya, aku hamil Ki, tidak ada yang bisa aku mintai pertanggung jawaban, ku mohon bantulah aku Ki, Hiks.." Lia mengusap air matanya
" Sekarang pergilah, aku ada keperluan jadi aku tidak bisa meladenimu." Kia beranjak dari sana.
" Ku mohon Ki, Aku mohon pertemukan aku dengan David, aku mau meminta pertanggung jawabannya, sekali lagi aku mohon bantulah aku." Lia bersimpuh memegang kaki Kia.
" Lepas... " Kia mengayunkan kakinya.
" Aku bilang lepas Lia..." Bentak Kia.
Lia segera melepas pegangannya, Ia berdiri menghadap Kia.
" Ku mohon..." Lia mengatupkan kedua tangannya.
" Aku hamil Ki, Dimas tidak mau bertanggung jawab, aku harus meminta pertanggung jawaban David... ku mohon bantu aku untuk menemuinya, aku tidak mau hamil tanpa suami..." Ucap Lia di sela isakannya.
" Say...."
" Diam kamu Mas." Potong Kia. Indra segera menutup mulutnya.
" Ini akibat ulahmu sendiri, aku tidak bisa membantumu, silahkan kamu cari sendiri, aku ada keperluan yang lebih penting dari ini, Ayo mas." Kia menggandeng lengan Indra berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
" Kia....kia...kia..." Teriak Lia.
Lia menangis menyesali perbuatannya, Kini Ia benar benar kehilangan sosok sahabat yang selalu membantunya.
" Maafkan aku Ki, maafkan atas kebodohanku." Monolog Lia.
Li berjalan dengan gontai meninggalkan rumah Indra. Ia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki tanpa tujuan yang pasti. Saat Ia mau menyebrang jalan, tiba tiba ada sebuah mobil yang menyerempetnya.
" Awh.... " Lia mengaduh, Terlihat seseorang keluar dari mobil, Ia menghampiri Lia.
" Maaf aku tidak sengaja." Lia mendongak menatap seseorang di depannya.
" Tidak masalah, Ini salahku, Aku yang kurang berhati hati." Ujar Lia.
__ADS_1
" Kenalkan namaku Leo." Leo mengulurkan tangannya.
" Lia." Balas Lia.
" Mau kemana akan aku antar." Tanya Leo.
" Boleh aku ikut denganmu, Aku tidak punya tujuan." Ucap Lia.
" Dengan senang hati, Ayo." Leo menyeringai, Ia membuka pintu mobilnya agar Lia masuk. Setelah keduanya duduk, Leo segera menjalankan mobilnya.
Sedangkan di kamar, Kia memeluk Indra dengan erat, sebenarnya Ia tidak tega dengan kesulitan yang di hadapi sahabatnya.
" Sayang.. tenanglah.." Indra mengusap punggung Kia.
" Aku... aku... sahabat yang jahat mas, Lia dalam kesulitan tapi aku tidak mau membantunya.." Ucap Kia sambil sesegukan.
" Kalau memang kamu mau membantunya, Bantulah sayang, tidak perlu kamu sok tidak peduli seperti ini, aku tahu hatimu ingin membantunya..." Ujar Indra.
" Tidak... dia sudah mengkhianatiku, bahkan dia melukai harga dirimu sebagai suamiku, aku tidak akan membiarkan orang seperti itu mendekatiku lagi, walaupun itu sahabatku sendiri, bagiku sekarang dia hanya orang lain." Kia mengusap air matanya. Kia memang baik tapi Ia keras kepala, prinsipnya begitu kuat.
" Baiklah terserah kamu saja, sekarang senyumlah." Indra menangkup wajah Kia.
Indra mendekatkan wajahnya ke wajah Kia, Indra mengecup bibir Istrinya, Ia menyesap bibir Kia membuat Kia membuka mulutnya. Indra menyusupkan lidahnya ke mulut Kia, Ia ******* lembut bibir istrinya, Indra memperdalam ciumannya, mengekspos manisnya bibir Kia. Setelah keduanya kehabisan nafas, Indra segera melepas pagutannya. Indra mengusap pelan bibir Kia dengan jempolnya.
" Kenapa kurang hm.." Tanya Indra. Kia menggelengkan kepalanya dalam pelukan Indra. Indra menciumi pucuk kepala Kia.
" Aku bahagia bisa selalu berdampingan denganmu sayang." Ungkap Indra.
" Aku juga bahagia mas.." Sahut Indra.
" Lalu kapan nih kita mau MP." Canda Indra.
" Eh... apa mas sudah tidak ridho menunggu lebih lama lagi." Kia mendongak menatap Netra Indra.
" Mau berapa lama lagi.." Indra merapikan anak rambut Kia.
" Em......" Kia sedang berpikir.
" Satu minggu lagi ya, mas dah gak kuat." Indra mengerlingkan matanya.
" Baiklah." Pasrah Kia.
" Berarti pas malam pesta ulang tahunku ya." ujar Indra.
__ADS_1
" Hm... sebagai kado teristimewa di ulang tahunmu yang pertama bersamaku." Sahut Kia.
" Hm... Nanti aku ada pertemuan di resto hotel dengan rekan bisnisku, kamu mau ikut." Ucap Indra.
" Di rumah aja mas." Sahut Kia.
" Baiklah." Jawab Indra.
Indra dan Kia duduk di atas ranjang dengan bermain ponsel masing masing. Hari ini Indra tidak ke kantor, Karna nanti malam ada pertemuan. Tak berselang lama ponsel Indra berdering, Ia segera melihatnya. Telepon dari Rey, Ia segera mengangkatnya.
" Halo Rey." Sapa Indra.
" Pertemuan nanti malam ternyata ada Dimas juga, Gimana, padahal kamu harus datang." Tanya Rey.
" Gak pa pa aku akan menghadapinya, jika dia macam macam aku akan bertindak lebih kejam darinya." Jawab Indra.
" Baiklah aku sudahi dulu, salam untuk Yayang tercintaku." Canda Rey.
" Sialan lo." Indra segera mematikan sambungan teleponnya.
" Kenapa mas." Tanya Kia yang melihat Indra kesal.
" Biasa Rey..." Ketus Indra masih dalam emosinya.
" Titip salam pasti.." Tebak Kia.
" Kamu suka di titipin salam dari Rey cunguk itu." Selidik Indra.
" Ya sukalah, kan bang Rey babang terbaikku yang selalu membantuku." Sahut Kia.
" Ya.ya.. dia yang selalu ada buat kamu bukan aku." Indra beranjak turun dari ranjang, entah mengapa hatinya masih kesal dengan ucapan Rey.
" Ngambek.. aku pergi nih." Ancam Kia.
" He he Jangan ya.... janji gak marah kok." Indra kembali duduk dan menggenggam tangan Kia. Ia menciumi punggung tangan istrinya.
" Sayang... Love U." Ucap Indra.
" Love U too." Kia mengecup bibir Indra, dan Indra menahan tengkuknya, mereka berciuman lagi seperti tadi.
TBC...
Mohon doanya untuk readers semua, author sedang mengajukan kontrak semoga di terima ya.... Miss U All....😚😚😚
__ADS_1