
Brugh.....Brak.......
" Kia." Teriak Indra dari atas tangga. Semua orang menoleh ke arah tangga dimana tubuh Kia terguling guling di sana.
Brugh
Rey yang baru saja tiba langsung berlari menghampiri tubuh Kia yang tergeletak di lantai.
" Ki...bangun Ki Sadarlah." Ucap Rey memangku kepala Kia sambil menepuk pelan pipi Kia.
" Yank bangunlah Yank jangan seperti ini ku mohon buka matamu." Ucap Rey tanpa sadar membuat Cindy terpaku pada tempatnya. Sedangkan Indra masih terkejut Ia masih tak percaya dengan apa yang Ia lakukan kepada istrinya.
" Yank bangun.... Ku mohon." Ucap Rey meneteskan air matanya.
" Uhuk..uhuk..." Kia membuka sedikit matanya.
" Yank..." Ucap Rey.
" Sakit Bang." Lirih Kia.
" Bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit." Ujar Rey, Kia menutup matanya kembali.
" Jaga kesadaranmu Yank, Bertahanlah." Ujar Rey. Sadar dari keterkejutannya Indra segera berlari turun menghampiri tubuh Kia.
" Sayang maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Indra.
" Jangan sentuh Kia, Kau sudah mencelakainya." Bentak Rey menepis tangan Indra saat akan menggenggam tangan Kia. Ya Rey sempat melihat saat Indra menarik kasar tangan Kia hingga membuatnya terjatuh dari tangga.
Rey segera membopong tubuh Kia, Betapa terkejutnya semua orang di sana saat melihat banyak darah keluar dari bagian bawah tubuh Kia.
" Ya ampun Pak darah." Pekik Cindy.
Indra menatap darah kental yang menodai lantai dengan hati yang dag dig dug... Apa Kia... pikirannya sangat kacau bagaimana jika dugaannya benar. Apa Kia mau memaafkannya, Apa kesabaran Kia masih ada untuknya. Indra menyugar rambutnya kasar. Ia merasa frustasi dengan semua ini.
Rey berlari membawa Kia menuju mobilnya, Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat di ikuti Indra dan Cindy yang naik taksi di belakangnya. Sesampainya dirumah sakit, Kia segera mendapat penanganan dari Dokter. Rey, Cindy dan Indra menunggunya di depan ruangan. Indra tampak lesu sedang Rey berjalan mondar mandir.
" Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Kia." Bentak Rey menarik kerah jas Indra.
" Maafkan aku...aku tidak sengaja, Maafkan aku Hiks...aku tidak mungkin sengaja melukai istriku sendiri Rey.... Aku tidak sengaja." Ucap Indra.
__ADS_1
"Sebenarnya ada hubungan apa Mas Rey dengan Mbak Kia, Kenapa dia begitu khawatir seperti ini, Dia bahkan sampai manggil sayang, Apa mereka dulunya sepasang kekasih, Pantas saja Mas Rey belum bisa mencintaiku karna ternyata yang Ia cintai gadis sempurna seperti Mbak Kia." Batin Cindy.
Tak lama Dokter keluar dari ruangan. Rey dan Indra segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan istri saya Dokter." Tanya Indra.
" Dengan berat hati kami mengatakan, Jika Nyonya Kia mengalami keguguran." Jawab Dokter.
" Apa ke..keguguran... Istri saya hamil." Tanya Indra memastikan.
" Iya Pak istri anda sedang hamil muda, benturan keras pada perutnya membuat janinnya tidak bisa bertahan sehingga mengalami keguguran." Jelas Dokter.
Bugh.... Bugh Bugh Rey memukul pipi Indra.
" Semua ini gara gara kamu, Kamu lebih mementingkan Gea dari pada Kia." Teriak Rey. Indra hanya diam saja menerima bogeman dari Rey. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
" Kau tidak bisa menjaganya... Ceraikan Kia sekarang dan aku akan menikahinya." Ucap Rey.
Deg....Jantung Cindy terasa berhenti berdetak. Jadi benar dugaannya kalau Rey mencintai Kia. Rey bahkan tidak memikirkan perasaannya. Tak tahan menahan sesak di dadanya, Akhirnya Cindy segera pergi dari sana.
" Tidak.. aku tidak akan pernah menceraikannya, Dia milikku.. Selamanya akan tetap menjadi milikku." Teriak Indra. Saat Rey mau menimpali ucapan Indra, Pintu ruangan terbuka.
" Pindahkan ke ruangan yang sudah saya pesan sus." Ucap Rey.
" Baik Pak." Sahut suster.
Suster segera mendorong brankar menuju Ruang rawat VIP. Kia masih terbaring lemas dengan infus di tangannya sambil memejamkan matanya. Rey dan Indra mengikutinya dari belakang.
" Tolong bantu pindahkan Nyonya ke ranjang Pak." Ucap suster setelah sampai ke dalam ruangan. Tanpa berkata Rey segera memindahkan tubuh Kia ke atas ranjang, Sedang Indra hanya melihatnya saja tanpa mampu melakukan apa apa karna keterbatasannya. Setelah selesai, Suster pamit undur diri meninggalkan ruangan rawat Kia.
Indra segera duduk di kursi samping ranjang, Tangannya menggenggam tangan Kia dengan erat. Ia pandangi wajah pucat istrinya. Rasa bersalah kembali menyelimui hatinya.Sedang Rey Ia keluar sebentar untuk membeli baju karna bajunya kotor terkena darah Kia.
" Sayang bangunlah maafkan aku, Aku tidak sengaja melakukannya, Maafkan aku.... Karna aku, Kita harus kehilangan calon bayi yang selama ini kita nantikan hiks, Aku hanya tidak ingin kamu berbuat kasar pada orang lain... Tapi justru akulah yang berbuat kasar padamu.. Maafkan aku." Isak Indra.
Pagi harinya Kia mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia melihat Rey sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, Sedangkan Indra masih tidur di kursi sampingnya dengan menggenggam tangan Kia. Hati Kia perih mengingat hal buruk yang menimpanya. Ia harus kehilangan anak sebelum Ia mengetahui kehadirannya gara gara suaminya. Rasa marah benci dan kecewa jadi satu dalam hatinya. Tapi sayangnya Ia tidak bisa mengeluarkannya.
Semalam sebelum di pindah ke ruang rawat Kia sudah sadar, Ia bertanya pada suster dan jawaban suster begitu mengejutkannya. Ia mengalami keguguran akibat jatuh dari tangga. Walau Indra tidak sengaja tapi Kia kecewa, Semua ini terjadi karna Indra membela Gea.
" Bang Rey." Lirih Kia. Merasa ada yang memanggilnya Rey menoleh dan menatap ke arah Kia.
__ADS_1
" Kamu sudah sadar." Rey segera menghampirinya. Indra mengucek matanya, Ia terganggu dengan suara Rey.
"Sayang kamu sudah sadar." Pekik Indra ingin memeluk Kia, Tapi tangan Kia menghalanginya.
" Sayang.. Kamu tidak mau aku peluk." Tanya Indra membulatkan matanya.
" Bang haus." Ucap Kia mengabaikan Indra.
" Aku ambilkan." Indra mengambil segelas air lalu menyodorkannya ke istrinya.
" Bang Rey haus aku mau minum." Sadar jika Kia menolak minuman dari Indra, Rey segera merebut gelas dari Indra, Ia membuang airnya di wastafel lalu mengisinya dengan yang baru. Indra hanya melongo melihat semua itu.
Rey membantu Kia bangun, lalu menyodorkan gelasnya ke bibir Kia, Kia meminumnya sampai tandas. Setelah selesai Ia merebahkan tubuh Kia ke ranjang kembali. Hati Indra mencelos karna Kia menolak minuman darinya.
" Nanti aku belikan sedotan biar mudah minumnya sekarang istirahatlah." Ujar Rey mengacak rambut Kia, Kia hanya mengangguk, Ia memejamkan matanya kembali.
Indra berjalan menuju kamar mandi, Di sana Ia menangis melihat perubahan Kia yang mulai mengabaikannya. Ia menyesali semua yang terjadi karna kecerobohannya. Setelah puas menangis, Indra segera keluar dari sana. Ia menghampiri istrinya yang terbaring di ranjang pasien.
" Sayang aku ke depan dulu menjemput Mama ya, Maafkan aku I Love U." Indra mencium kening Kia.
" Rey aku jemput Mama di depan dulu, Titip Kia." Ucap Indra.
" Hmm." Gumam Rey malas.
Indra segera berjalan menuju lobby melewati lorong lorong rumah sakit. Sebenarnya Ia tidak mau meninggalkan istrinya, Tapi Ia juga tidak bisa menahan sesak dalam hatinya jika berada di sana, Ia takut tidak bisa mengendalikan emosinya.
Saat Ia melewati satu ruangan, Ia mendengar suara seseorang yang Ia kenal. Indra menghentikan langkahnya, Ia mengintip ke dalam ruangan itu karna memang pintunya sedikit terbuka. Indra melihat seseorang terbaring di ranjang pasien, Satu pria duduk di tepi ranjang dan seorang wanita yang berdiri memunggungi pintu.
" Aku sudah berhasil membuat Kia membenci Indra, Dan bonusnya Indra sendiri yang membuat Kia jatuh dari tangga dan mengalami keguguran, Aku yakin Kia akan meninggalkannya." Ucap wanita itu.
Deg... jantung Indra seperti tertusuk belati. Suara itu... suara seseorang yang selama ini di anggapnya seperti adik sendiri ternyata mengkhianatinya. Penyesalan Indra semakin dalam. Ia menyesal karna tidak mau mendengarkan kata hati Istrinya hingga membuatnya kehilangan calon bayinya. Indra mengepalkan tangannya dan..
Brak...
TBC.....
Baca juga karya baru author ya... author tunggu dukangannya.
__ADS_1