
" Kia......" Teriak Indra, Semua orang terkejut melihat Kia tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Indra segera menghampirinya.
" Sayang bangun sayang, bangun..." Indra menepuk pelan pipi Kia.
" Sayang ku mohon jangan seperti ini, aku tidak mampu berbuat apa apa dengan tanganku yang cacat ini.... Hiks..." Kesal Indra karna sekedar membopong Kia ke atas ranjang pun Ia tidak bisa.
" Tolong angkat ke ranjang Mang." Perintah mama pada Mang Ujang.
Mang Ujang dan pak satpam segera mengangkat Kia dan membaringkannya ke ranjang. Setelah itu mereka pamit pergi melanjutkan pekerjaan masing masing.
Indra langsung ikut berbaring memeluk Kia. Ia elus pipi Kia dengan lembut, sedang Mama segera menghubungi Dokter keluarga.
" Sayang... maafkan aku, bukan maksudku membuatmu seperti ini, aku mendiamkanmu karna aku sedang mengontrol emosiku agar tidak menyakitimu, Sayang.... ku mohon bangunlah, Jangan tinggalkan aku..." Gumam Indra sambil mengusap air matanya, Ia begitu takut kehilangan istrinya.
Tak berselang lama, Dokter Anton pun datang, Ia segera memeriksa kondisi Kia.
" Bagaimana Kak." Tanya Mama.
" Tekanan darahnya rendah, Sepertinya dia tertekan karna banyak pikiran, dan ada kemungkinan dia kurang asupan makanya membuatnya pingsan, Ini vitamin yang harus di minumnya." Jelas Dokter.
" Terima kasih Kak." Ucap Mama.
" Sama sama, kalau begitu aku permisi dulu." Pamit Dokter Anton.
" Mari aku antar." Ujar Mama.
Mereka berdua berjalan beriringan menuruni tangga.
" Sepertinya Indra sudah bahagia dengan istrinya, Lalu kapan denganmu." Dr Anton menoleh kearah Mama Meri.
" Apaan sih..." Ujar Mama.
Sampai pada tangga terakhir, Dr Anton menggandeng tangan Mama menuju sofa. Mereka saling duduk berhadapan.
__ADS_1
" Kau tahu.... Bahkan sampai sekarang aku belum juga menikah karna apa." Mama Meri menatap Dr Anton. Ia menggelengken kepalanya.
" Itu karna aku masih mencintaimu, dari dulu sampai sekarang, aku rela membujang karna aku tidak bisa mencintai wanita lain Mer, ku mohon, akhirilah penantianku, Menikahlah denganku, dan Berbahagialah denganku." Dr Anton menggenggam tangan Mama Meri.
" Maaf Kak, kita sudah tua, aku malu jika harus memulai hidup baru." Ujar Mama.
" Kenapa harus malu, Kalau kamu memang siap, aku akan segera meminta restu Indra, Aku akan menjadikanmu ratu di hatiku." Ucap Dr Anton.
" M.... Gimana ya..." Mama melepas genggaman Dr Anton.
" Aku gak mau kecewa lagi, Aku yang lebih dulu mencintaimu tapi Doni yang lebih dulu mendapatkanmu, sekarang kamu harus jadi milikku." Ujar Dr Anton.
" Carilah yang muda yang masih bisa memberikanmu keturunan, kalau aku sudah tidak bisa." Ucap Mama.
" Kita sudah punya Indra, Dia akan menjadi keturunanku, Dia juga yang akan menjadi pewarisku, Kamu setuju kan." Sahut Dr Anton.
" Baiklah, Aku setuju." Jawab Mama.
" Apasih, gak usah ngomong gitu malu, Kita sudah tidak muda lagi Kak." Tutur Mama.
" Panggil Mas aja ya, Biar gak canggung." Pinta Dr Anton.
" Baiklah... Mas Anton..." Ucap Mama.
" Aku pamit dulu, masih ada pasien yang harus aku tanganin, aku akan segera meminta restu pada Indra." Pamit Dr Anton.
" Jangan sekarang ya, Indra masih banyak pikiran, Aku takut membebaninya." Ucap Mama Meri.
" Ok... aku akan tunggu waktu yang tepat."
Setelah itu Dr Anton pergi, Mama Meri senyum senyum sendiri. Ia mengingat masa mudanya, sebenarnya Ia memang menyukai Dr Anton, tetapi kedua orang tuanya menjodohkan Mama Meri dengan Papa Doni. Perhatian dan kesabaran papa Doni membuat Mama Meri luluh, kalau di pikir pikir, cerita cinta Mama Meri, kebalikannya cerita cinta Indra.
Sedangkan di dalam kamar Indra,
__ADS_1
" Engh..." Lenguh Kia.
" Sayang kamu sudah sadar." Ucap Indra.
Kia mengedarkan pandangannya, Ia menatap ke arah Indra sambil memegangi kepalanya. Rasanya berdenyut nyeri serta seluruh badannya lemas tak bertenaga.
" Sayang... makan dulu, lalu minum obat." Indra membantu Kia duduk bersandar, Setelahnya Indra memangku nampan berisi makanan, yang tadi sudah di siapkan oleh Mama.
" Ini minum dulu sedikit." Indra menyodorkan segelas air putih ke bibir Kia, Kia segera meminumnya.
" A... makan dulu." Kia membuka mulutnya, Indra menyuapi Kia dengan telaten.
" Sudah mas.." Ucap Kia.
Indra meletakkan mangkoknya, Ia memberikan segelas teh hangat beserta vitamin kepada Kia. Kia hanya menurut saja, Ia tidak mau membuat Indra marah lagi.
Setelah minum obat Kia berbaring lagi, Indra membereskan bekas makan Kia dan meletakkannya ke dapur. Ia sarapan dulu di sana, setelahnya Ia kembali ke kamar tamu.
" Sayang kamu tidur lagi." Indra berbaring menghadap Kia.
" Hm." Gumam Kia.
" Maafkan sifatku selama ini yang mungkin membuatmu jengah, Dan terima kasih selama ini kesabaranmu tidak pernah terkikis oleh waktu." Indra menciumi Wajah Kia. Kia tidak bergeming, Ia malas walau hanya untuk sekedar menyahut ucapan Indra.
" Sayang kamu marah hmm..." Indra menatap Kia yang masih memejamkan mata.
" Sayang maaf... jangan marah ya... aku janji akan berusaha bersikap lebih dewasa, Jangan marah ya... please...." Rengek Indra.
" Aku gak marah mas, aku hanya malas aja, aku pengin bedrest hari ini." Gumam Kia.
" Baiklah aku akan menemanimu, Love u sayang..." Ucap Indra.
TBC....
__ADS_1