
Setelah menaiki taksi selama 30 menit, Akhirnya Kia sampai di kawasan perumahan elit di Kota ini. Di pandangnya bangunan elit dengan gaya klasik di depannya. Ia memastikan alamat dan nomer rumah tersebut, agar Ia tidak salah masuk rumah orang.
" Benar ini alamatnya, aku harus menelepon Mama Meri, he he Mama.... Rasanya gimana gitu memanggil orang asing dengan sebutan Mama." Monolog Kia.
Kia mengambil ponselnya lalu menelepon Mama Meri.
" Halo." Sapa Mama Meri setelah mengangkat panggilannya.
" Halo Ma.. Aku sudah ada di depan gerbang nih." Ucap Kia kepada Mama Meri lewat sambungan telepon.
" Langsung masuk saja sayang, Mama menunggumu di depan pintu." Jawab Mama Meri.
" OK Ma." Sahut Kia.
Kia berjalan melewati gerbang menuju halaman rumah tersebut setelah mematikan sambungan teleponnya. Di lihatnya Mama Meri, sudah berdiri merentangkan tangannya menyambut Kia di depan pintu. Kia sedikit berlari masuk ke dalam pelukan mama Meri.
" Assalamu'alaikum Ma." Ucap Kia melepas pelukannya berganti menyalami tangan Mama Meri dengan takzim.
" Wa'alaikum salam sayang." Jawab Mama Meri sambil mengelus kepala Kia.
" Ayo masuk." Ajak Mama Meri menggandeng tangan Kia, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" Bagaimana kabar Mama?" Tanya Kia saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.
" Seperti yang kamu lihat, Mama merasa bahagia dengan keputusanmu, bukankah kamu sudah menanyakannya semalam." Sahut Mama Meri. Sangat terlihat binar bahagia di wajah Mama Meri.
" Kamu sendiri gimana?" Sambung Mama Meri.
" Im very happy Mom, sama seperti Mama." Sahut Kia sambil memberikan senyum manisnya.
" Terima kasih sayang, karna kamu telah mau mengabulkan permintaan Mama." Ucap Mama Meri dengan tulus.
" Just for you Mom." Sahut Kia.
" Dimana Indra Ma?" Sambung Kia, karna sedari tadi Ia tidak melihat batang hidungnya.
" Sebentar Mama panggilkan, kamu di sini saja ya jangan kemana mana." Tanpa menunggu jawaban Kia, Mama Meri berjalan menaiki tangga menuju kamar Indra. Selang tak berapa lama terdengar langkah menuruni anak tangga. Kia menoleh, menatap seseorang yang kini sedang berjalan sambil menunduk. Kia tersenyum penuh arti.
__ADS_1
" Indra... kenalkan dia gadis yang Mama ceritakan kepadamu." Ucap Mama Meri setelah berada dihadapan Kia.
Indra tidak bergeming, bahkan Ia masih menundukkan wajahnya. Kia segera bangkit dari duduknya mendekati mereka.
" Hai.." Sapa Kia sambil mengulurkan tangannya.
Indra termangu sesaat, Ia merasa familiar dengan suara yang sangat Ia rindukan menurutnya. Ia lalu mendongakkan wajahnya. Dengan mata membola, Indra menatap wajah cantik gadis yang berdiri di depannya.
Deg Deg Deg
Jantung Indra berpacu dengan cepat. Ia tidak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini. Bagaimana bisa gadis yang Ia cari selama ini justru berada di depannya sekarang. Apa ini yang di namakan Jodoh? Apa ini hanya suatu kebetulan saja?
" Hai... " Sahut Indra membalas uluran tangan Kia setelah sadar dari lamunannya.
" Kia.." Ucap Kia masih menjabat tangan Indra.
" I.... Indra." Sahut Indra gugup.
" Ternyata kau tampan sekali." Ucap Kia sambil mengerlingkan mata.
" Yah kok di lepas si." Ujar Kia kecewa.
" Harusnya tetap di genggam dan langsung bawa adek kepelaminan bang." Goda Kia membuat wajah Indra memerah semerah tomat matang.
Mama Meri hanya senyam senyum sendiri melihat reaksi Indra yang tampak malu malu.
" Apa kamu masih ingat sama aku? Gadis paling canti dan paling imut di sekolah dulu, gadis yang banyak di kagumi teman teman cowok seantero sekolah, aku Kia temanmu, teman yang selalu ada untukmu, teman yang suka menjahilimu saat istirahat sekolah, apalagi saat kamu minum susu sama makan biskuit di kelas, aku pasti akan mengejekmu dan mentertawakanmu dengan lepas ha ha ha, seru ya saat dulu kita sekolah, nggak nyangka aku bisa ketemu kamu sekarang." Cerocos Kia menatap Indra.
Indra masih tidak bergeming, sampai suara bariton seseorang membuat mereka menoleh secara bersamaan.
" Assalamu'alaikum." Ucap Rey berjalan menuju kearah mereka.
" Wa'alaikum sallam." Jawab mereka secara bersamaan.
" Belum terlambat kan aku?" Tanya Rey menatap ke arah Kia.
" Belum, Ayo kita langsung ke meja makan saja." Ajak Mama Meri.
__ADS_1
Mereka segera berjalan ke meja makan. Berbagai makanan tersaji di atas meja. Ada ayam kecap, Sayur sop dan lainnya, jangan lupakan Rica rica ayam super puedas pesanan Kia, juga ada di atas meja makan.
" Mau makan apa mas?" Tanya Kia menatap Indra. Indra menoleh kesamping, dimana Kia sudah berdiri di sampingnya.
" Mas..." Ucap Indra mengernyitkan dahinya, Ia bingung dengan panggilan yang Kia lontarkan. Meskipun Ia tahu kalau panggilan itu untuk dirinya, Ia sangat senang dan merasa hangat dengan panggilan itu, tetapi Ia harus memastikan panggilan itu untuk siapa, entar di kira Ia kepedean.
" Iya Mas... Mas Indra.. Kata Mama usia kamu dua puluh enam tahun.. beda dua tahun sama aku, berarti aku harus manggil kamu Mas kan, biar terbiasa juga kalau kita udah nikah nanti, jadi nggak canggung." Terang Kia menaik turunkan alisnya menggoda Indra.
" Sepertinya kita tidak terlihat Tante." Ujar Rey yang sedikit kesal karna diabaikan oleh kedua pasangan ini.
" Iri... Bilang Bosss." Balas Kia
" Siapa.." Ucapan Rey terpotong..
" Sudah sudah kita lanjutkan makannya, jangan berdebat di depan makanan." Ujar Mama Meri menengahi sebelum ada perdebatan. Kia menjulurkan lidahnya kearah Rey dan itu terlihat menggemaskan di mata Indra.
" Jadi mau makan apa Mas? Udah pegel nih tangan mau ambilin makanan buat kamu." Kia bertanya kembali kepada Indra.
" Apapun yang kamu ambilkan pasti akan ku makan." Jawab indra sambil menatap Kia.
" Bener ya apapun, nanti kalau udah aku ambilin terus nggak di makan, aku marah lho." Ujar Kia sambil menuangkan nasi, sayur sop sama ayam kecap, beserta sedikit sambal ke piring Indra.
Sedikit ya sambalnya, Kia gak setega itu kali mengerjai Indra.
Indra terus menatap Kia dengan bahagia. Ada sesuatu yang menggelitik dalam hati, namun sebisa mungkin Ia menahannya.
Mama Meri memperhatikan perhatian Kia dengan rasa bahagia yang membuncah di dadanya.
" Semoga Kia bisa segera membalas perasaanmu nak. Memberimu Cinta yang besar dan kebahagian yang nyata. Bukan hanya semu belaka seperti sekarang ini. Maafkan Mama yang memaksakan kehendak nak, semoga kau selalu Bahagia bersama wanita yang sangat kamu cintai, Mama hanya bisa berharap dan berharap semoga kamu dan Kia bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang kekal selamanya". Gumam mama meri dalam hati.
TBC......
Makasih banyak para readers yang mau mampir keceritaku.
Ditunggu like dan komennya ya....
Miss U All...
__ADS_1