
Ceklek.... Kia keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti dengan piyama tidurnya. Tiba tiba...
" Sayang." Pekik Indra berdiri di hadapannya.
" Astaga, kamu ngapain disini mas." Kia kaget, di kiranya Indra sudah pergi, Tapi ternyata Indra masih setia menunggu di depan pintu kamar mandi.
" Say, masih marah." Indra mengikuti Kia yang berjalan ke meja rias.
" Bukannya kamu yang marah." Ketus Kia.
" Gak jadi... Sayang.... jangan marah ya." Indra memeluk Kia dari belakang, Ia menyusupkan wajahnya ke tengkuk Kia. Kia bisa melihatnya lewat pantulan cermin di depannya.
" Sayang maafkan aku sudah mendorongmu, sungguh aku tak berniat untuk menyakitimu." Indra mendusel dusel tengkuk Kia hingga membuatnya geli.
" Apasih mas , geli tahu, minggir ah." Kia mencoba melepas pelukannya, tetapi Indra justru mempereratnya.
" Sayang, sekarang coba jelaskan, aku mau mendengarnya." Kia tersenyum, ternyata Indra begitu takut kalau Kia marah padanya dan berakhir meninggalkannya.
" Bener nih mau dengar penjelasanku yang memadu kasih di belakangmu, sampai pelukan segala." Sindir Kia masih menatap Indra dalam pantulan cermin
" Say...maaf, aku terbawa emosi, aku takut kamu benar benar berhubungan dengan si brengsek itu, apalagi setelah melihat foto kamu yang di peluk dari belakang." Kia mengernyit, Foto...
" Siapa yang mengirimnya." Selidik Kia.
" Gak tahu, privat number." Ujar Indra.
Kia melepas pelukannya dan membalikkan badannya, Ia menggandeng Indra untuk duduk di tepi ranjang. Tiba tiba Indra mencium pipinya. Cup... Kia menjadi salah tingkah.
__ADS_1
" Maafkan aku yang sudah menuduhmu, aku selalu tidak bisa mengontrol emosiku jika melihatmu dengan pria lain, aku begitu takut kamu meninggalkanku say." Indra menangkup wajah Kia dengan satu tangannya.
" Aku yang seharusnya minta maaf mas, semua ini akibat kesalahanku yang pergi tanpa izinmu, Jika pun aku mati dalam perjalanan, aku tidak akan bisa memasuki Surga Nya, Maaf." Sesal Kia.
" Hust." Indra menempelkan telunjuknya pada bibir Kia.
" Jangan pernah membicarakan kematian, aku tidak sanggup mendengarnya, sekarang jelaskan padaku apa alasanmu menemuinya." Ujar Indra.
" Aku menemuinya karna aku ingin membujuk David untuk menikahi Lia." Ucap Kia, Indra mengernyit menatap kearahnya.
" Memang apa yang dilakukannya hingga dia harus bertanggung jawab." Indra merapikan anak rambut Kia.
" Dia sudah merusak Lia." Kia menghembuskan nafasnya kasar.
" Maksudmu Unboxing?." Tanya Indra.
" Apa... beraninya dia berhalu tentangmu." Kesal Indra.
" Makanya aku jadi merasa sangat bersalah mas, aku ingin mengurangi rasa bersalahku dengan membuat David mau mengabulkan permintaanku." Terang Kia.
" Jangan menyalahkan dirimu, Di sini yang salah si Brengsek itu, apa Lia tahu kalau wanita yang di maksud David adalah dirimu." Tanya Indra, Kia menggelengkan kepalanya.
" Kamu harus memberitahu Lia, sebelum Lia mengetahuinya dari orang lain, itu akan lebih menyakitkan Say." Ujar Indra lembut.
" Aku tidak ada hubungan apa apa sama David sebelumnya mas, kenapa aku harus menjelaskannya, aku takut justru Lia nanti akan membenciku." Sahut Kia.
" Tapi Lia tidak tahukan kalau kamu dan David saling mengenal sebelumnya." Kia mengangguk.
__ADS_1
" Lagian David juga sih, dari dulu aku tolak gak move on move on." Kesal Kia.
" Siapa yang bisa move on darimu Say, Kalau sudah terpikat dengan auramu, seperti terikat gak bisa di lepasin." Indra mencubit hidung Kia pelan.
" Masa' Sih, jadi banyak korban donk gara gara aku, seperti Riana." Sindir Kia.
" Ck... aku gak mau bahas Riana lagi, Sama kayak kamu, Dia ibarat David dan Aku ibarat kamu." Ucap Indra.
" Ya gak bisa di samain lah, orang aku gak pernah pacaran sama David, sedangkan kamu pacaran sama Rania, sempat ciuman juga." Ketus Kia.
" Jangan bahas lagi, aku gak mau ribut lagi sama kamu gara gara hal gak penting." Cebik Indra, Kia meredam emosinya.
" Baiklah, Waktu aku pergi pagi pagi itu, aku ke kostan Lia, aku fokus mendengarkan masalahnya makanya aku mematikan ponselku, ternyata itu membuat petaka juga untukku." Kia memanyunkan bibirnya membuat Indra gemas.
Indra segera mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Kia, Kia memejamkan mata, Indra mencecap bibir Kia, Kia membuka mulutnya membiarkan Indra mengekspos setiap inchinya, Kia mengalungkan tangannya ke leher Indra, membuat Indra menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Mereka saling menikmati manisnya bertukar saliva hingga nafas keduanya tersengal baru Indra melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Kia.
" Manis, Jangan pernah bahas itu lagi, itu sudah berlalu." Ucap Indra.
" Tapi karna itu juga kamu marah, bahkan sampai membuatmu sakit, ternyata kamu se sensitif itu." Sahut Kia masih malu malu.
" Ya hatiku sensitif jika menyangkut dirimu, setelah aku bisa mendapatkanmu, aku takut kehilanganmu, Berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku." Indra menatap penuh cinta.
" Aku berjanji padamu." Tegas Kia.
" Sekarang mau lanjut cerita atau bobok aja." Tanya Indra lembut.
" Masih jam 9, cerita dulu aja deh, jadi kemarin Lia cerita ke aku mas tentang malam naas itu....
__ADS_1
TBC....