Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Perhatian Rey


__ADS_3

Pagi ini setelah mandi Kia duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya menunggu Rey yang sedang membeli makanan. Saat Ia membuka aplikasi Hijau ternyata banyak pesan dari " Mamas Ganteng".


๐Ÿ“ฒMamas Ganteng


Sayang dah bo2k lum ๐Ÿ˜—


๐Ÿ“ฒMamas Ganteng


Say Maafin Mas donk...jangan lama2 mrhnya ya....Mas g betah qm diemin gini๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


๐Ÿ“ฒ Mamas Ganteng


Maafin Mas Ganteng ini ya... Mas nggak sengaja Say.. Mas nggak bermaksud mencelakaimu...Mas juga merasa kehilangan dan Mas nggak mau kehilanganmu... Mas nggak bisa hidup tanpamu... Lebih baik Mas mati dari pada harus hidup tanpa kehadiranmu dan cintamu.. Mas tunggu di rumah ya....Segeralah kembali ke sisihku Love U Full๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐Ÿ“ฒMamas Ganteng


Dah bo2k ya ywdh deh met mimpi indah ya..Mas Ganteng ๐Ÿ’– Dedek Kia ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


Kia hanya membacanya saja tanpa berniat membalasnya. Ia terlalu malas untuk berhubungan dengan Indra saat ini. Tiba tiba ponselnya berbunyi notif tanda pesan masuk.


๐Ÿ“ฒMamas Ganteng


Hayo pagi2 dah on aja chat ma siapa nih


๐Ÿ“ฒMamas Ganteng


Say Mas ke situ Ya... Kangen ๐Ÿ™Š


๐Ÿ“ฒ Mamas Ganteng


Kok cm di read doank si..Msh mrh ya... Ywdh deh kalo masih marah nggak pa pa tapi jangan lama ya..Nanti Mas ke situ ya...


Kia tidak menggubrisnya bodo' amat pikirnya.


Ceklek.....


Kia menoleh ke arah pintu, Cindy berjalan masuk menghampiri Kia.


" Pagi Mbak, Gimana kondisinya sekarang?" Tanya Cindy berdiri di samping ranjang.


" Udah lebih baik Cin, Makasih ya udah datang." Ucap Kia menatap Cindy.


" Sama sama Mbak, Maaf kemarin aku langsung pulang tanpa menunggu Mbak sadar dulu soalnya aku ada urusan mendadak." Ujar Cindy.


" Nggak masalah kok, Oh ya jangan panggil Mbak lah kita kan seumuran, Panggil Kia aja ya biar akrab." Ucap Kia.


" Ok.. Kia... Oh ya kok sendirian emang nggak ada yang nungguin nih?" Tanya Cindy.


" Ada Bang Rey." Sahut Kia.


Deg.... Hati Cindy mencelos mendengar suaminya lebih memilih menunggu Kia dari pada dirinya, Padahal semalam Cindy demam, Rey bilang nggak bisa pulang ke sana karna ada urusan. Tapi Cindy tidak menyalahkan Kia karna bagaimanapun tidak ada yang mengetahui tentang pernikahannya.


"Lagi beli makan dia." Sambung Kia.


" Oh.." Gumam Cindy.


Tak lama kemudian Rey datang dengan menenteng plastik berisi makanan. Cindy dan Kia menatap ke arahnya.

__ADS_1


" Eh ada Cindy.." Ucap Rey.


" Iya Pak." Sahut Cindy.


" Nggak usah formal gitu ini bukan di kantor." Ujar Rey.


" I..iya Mas." Sahut Cindy.


" Mas????." Tanya Kia.


" Eh...Abang maaf salah ucap." Dalih Cindy.


Kia menatap ke arah Cindy dan Rey bergantian membuat keduanya salah tingkah.


" Kenapa kalian jadi salah tingkah? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Kia.


" Apasih Yank? Biasa aja, Aku nggak menyembunyikan apapun dari kamu, Sekarang makanlah aku sudah membelikan bubur ayam untukmu." Ucap Rey tanpa sadar memanggil Kia dengan sebutan "Yank" di depan Cindy. Lagi lagi hati Cindy berdenyut nyeri. Rey membuka sterefoam yang Ia beli tadi, Ia menyodorkannya ke Kia dan Cindy.


" Makanlah." Ucap Rey.


" Makasih tapi aku sudah makan B..ang." Tolak Cindy.


" Jangan bohong aku tahu kamu belum sarapan, Aku sengaja beli untukmu juga karna tadi aku sempat melihatmu masuk ke sini." Ujar Rey, Cindy menerima bubur yang Rey berikan.


" Benarkah begitu?" Tanya Cindy dengan mata berbinar.


" Hmm Tadi aku udah makan di tempat penjualnya." Sahut Rey.


" Ehm...ehm..." Dehem Kia.


" Sepertinya perhatianmu kepadaku akan terbagi Bang." Canda Kia.


Akhirnya Kia dan Cindy makan dengan diam. Mereka menikmati bubur ayam yang di belikan oleh Rey. Sedang Rey duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


" Bang udah." Ucap Kia.


Rey beranjak mendekati Kia dan mengambil tempat bekas makan Kia dan Cindy untuk di buang di tempat sampah. Setelah itu Rey kembali menghampiri keduanya.


" Minum air putih dulu sedikit, Setelah itu baru minum obat." Rey mengambilkan minum dan obat lalu Ia berikan kepada Kia. Kia segera meminumnya. Semua perhatian Rey kepada Kia tak luput dari pandangan Cindy. Cindy berharap suatu saat nanti Rey bisa perhatian juga dengannya.


" Bang kapan aku boleh pulang?" Tanya Kia.


" Bersabarlah tunggu kondisimu pulih dulu, Apa udah kangen sama Indra? Kalau benar begitu aku telepon dia ya biar gantian nungguin kamu." Ucap Rey.


" Ckk jangan sebut namanya di depanku Bang, Pengin mutah rasanya." Cibir Kia.


" Jangan gitu donk diakan masih suamimu." Ujar Rey mengacak rambut Kia.


" Ih Bang.... Berantakan nih." Kesal Kia.


" Sini Bang Rey rapiin." Rey merapikan rambut Kia menggunakan jarinya. Cindy hanya menjadi penonton saja.


" Cin kalau kamu punya suami seperhatian Bang Rey mau nggak?" Tanya Kia. Cindy menatap Rey yang juga sedang menatapnya, Untuk beberapa saat tatapan mereka saling beradu, Cindy segera menoleh ke arah Kia memutus pandangannya.


" Aku tidak mau terlalu berharap bisa mendapatkan suami seperti itu, Aku takut yang aku dapatkan justru berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan." Sindir Cindy.


Hati Rey mencelos mendengar ucapan Cindy, Dia tidak pernah memberikan perhatiannya untuk istrinya. Ia merasa sindiran Cindy tepat mengenai jantungnya.

__ADS_1


" Kamu orang baik Cin aku yakin kamu akan mendapatkan suami yang baik yang menyayangimu sepenuh hati." Ucap Kia.


" Doakan semoga aku segera mendapatkannya." Sahut Cindy ambigu.


" Apa kamu sudah siap untuk menikah?" Tanya Kia.


" Ya.. Jika aku sudah menemukan yang cocok, Aku akan memintanya untuk segera menikahiku, Yang jelas orang itu harus mencintaiku." Jawab Cindy sambil melirik Rey.


" Baiklah semoga di segerakan." Sahut Kia.


Rey mengepalkan tangannya menahan gemuruh di dadanya, Memang Ia belum mencintai istrinya tapi mendengar Cindy seperti itu entah mengapa hati Rey rasanya sakit. Rey akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Cindy, Ia tidak mau kejadian Kia dan Indra terjadi padanya juga.


" Bang." Panggil Kia. Rey menoleh ke arahnya.


" Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Rey.


" Aku butuh pengaca Bang." Ucap Kia.


" Untuk apa?" Tanya Rey memicingkan matanya.


" Untuk menggugat cerai Indra." Jawab Kia.


Jederrrrr......


Bagai di sambar petir di siang hari, Ucapan Kia membuat dunia Indra runtuh seketika. Ya Indra ada di depan pintu, Ia bermaksud untuk menjenguk istri tercintanya, Tapi saat Ia baru membuka pintu, Ucapan Kia bagai petir yang menyambarnya. Indra kembali menutup pintu dan segera berlalu dari sana. Ia tidak kuat menahan rasa sakit di hatinya. Kia menceraikannya? Tidak adakah kesempatan kedua untuknya? Sudah habiskah kesabaran Kia dalam menghadapi sikapnya?.


Sedang di dalam ruangan,


" Sebelum kamu mengambil keputusan dengarkan dulu penjelasan Indra, Aku nggak mau nanti kamu menyesal pada akhirnya." Ucap Rey menatap Kia.


" Apa yang harus aku tahu Bang? Soal Gea menjebaknya? Soal Gea yang sengaja melakukan ini agar rumah tanggaku hancur begitu?" Sahut Kia.


" Kau sudah tahu?" Rey memicingkan matanya.


" Aku sudah tahu dari awal Bang, Apa kamu lupa kalau aku ini super genius? Aku bisa menebak perilaku seseorang hanya dengan melihat gelagatnya saja." Jelas Kia.


" Lalu kenapa kamu tetap mau bercerai dari Indra?" Selidik Rey.


" Yang menjadi permasalahan di sini bukan Gea, Tapi Indra sendiri." Sahut Kia.


" Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali." Tanya Rey dengan kebingungannya.


" Gea... Bahkan akan ada Gea Gea yang lainnya yang mencoba menghancurkan hubunganku dengan Indra, Tapi satu kuncinya Bang.. " Kia menghela nafasnya.


" Apa?" Tanya Rey.


" Kuncinya ada pada Indra sendiri, Jika Indra tidak memberikan peluang untuk mereka, Semua ini tidak akan terjadi Bang, Tapi sayang Indra begitu mudah percaya dengan orang lain." Jelas Kia.


" Itu karna hati Indra memang baik Ki." Sahut Rey.


" Kamu tahu bukan? Bahwa musuh terbesar dalam hidup kita biasanya adalah orang terdekat kita sendiri Bang, Aku sudah memperingatkannya tetapi Ia tidak menghiraukannya, Aku nggak mau mengalami hal yang sama di kemudian hari." Sambung Kia.


" Berikan satu kesempatan untuk Indra Ki, Dia sangat mencintaimu, Dia tidak bisa hidup tanpamu, Aku takut dia akan terpuruk dan kehilangan kendali seperti dulu, Ku mohon." Ucap Rey dengan tatapan memohon.


" Maaf Bang bagiku kesempatan tidak datang dua kali, Jika kita sudah menyianyiakan kesempatan itu maka jangan berharap kesempatan itu akan datang lagi kepada kita." Tegas Kia.


Rey dan Cindy menghela nafasnya. Rey tahu betapa kuatnya prinsip Kia, Tapi Ia juga tahu kalau Kia tidak akan memilih jalan yang salah apalagi perceraian. Rey yakin Kia hanya akan membuat Indra kapok saja tanpa benar benar meninggalkannya.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2