Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
44. Saling Menguatkan


__ADS_3

" Sejak kapan kamu di sini sayang?" Tanya Brayen menatap Rea.


" Saat aku keluar Rea sudah ada di sini." Sahut Bryan.


Jeduar......


Bagai di sambar petir tubuh Brayen terasa kaku seketika. Ia lupa jika Rea juga berada di tempat yang sama. Rea berjalan menghampiri Vanka. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat.


" Kak....


" Selamat atas kehamilanmu Vanka, aku doakan semoga sehat, selamat dan lancar hingga ke persalinannya, jaga kandunganmu dengan baik karna tidak semua wanita seberuntung dirimu." Ucap Rea.


" Terima kasih Kak." Sahut Vanka.


Rea berjalan meninggalkan mereka membuat Vanka merasa bersalah.


" Rea." Panggil Brayen mengejar Rea.


" Apa ada sesuatu yang terjadi di sini?" Tanya Bryan menatap Vanka.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


" Apa itu sayang? Apa Bray kembali mengganggumu?" Selidik Bryan.


" Nanti akan aku ceritakan, sekarang aku mau ganti dulu Mas risih pakai baju basah." Ujar Vanka.


" Ah iya sayang maaf, ini bajunya Mas tunggu di luar ya." Ucap Bryan memberikan sebuah paper bag kepada Vanka.


Vanka masuk ke dalam kamar mandi mengganti bajunya. Setelah selesai Ia keluar kamar mandi.


" Sini biar Mas yang bawa." Ucap Bryan mengambil paper bag di tangan Vanka.


" Mas gendong ya? Kelihatannya kamu lemes banget." Sambung Bryan menggendong Vanka ala bridal style.


Vanka mengalungkan tangannya ke leher Bryan. Ia juga menyusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya karna banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.


" Mbaknya kenapa Mas?" Tanya salah satu pelayan.


" Lagi nggak enak badan Mbak, saya ke mobil dulu ya nanti saya kembali lagi untuk membayar tagihannya." Ujar Bryan.


" Iya Mas." Sahut pelayan.


Bryan melanjutkan langkahnya menuju mobil.


" Buka dong Dek." Ucap Bryan di depan pintu mobilnya.


Vanka membuka pintu mobilnya, Bryan mendudukkan Vanka dengan pelan.

__ADS_1


" Tunggu sebentar ya Mas mau bayar bilnya dulu." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Iya Mas, maaf ya aku sudah bikin malu kamu." Ucap Vanka.


" Jangan pernah mengatakan itu lagi, ini terjadi juga karna Mas yang membuatmu begini kan." Sahut Bryan.


" Baiklah Mas maaf." Ucap Vanka.


" Mas maafkan sayang." Sahut Bryan.


Bryan kembali ke dalam kedai. Setelah selesai membayar bilnya Bryan kembali ke mobilnya.


Deg.....


Jantung Bryan berdetak kencang saat melihat kursi yang tadi di duduki Vanka kosong. Ia mengedarkan pandangannya menari Vanka ke sekitar namun nihil.


" Sayang.... Vanka sayang." Panggil Bryan.


" Sayang kamu kemana? Ya Tuhan dimana istriku?" Monolog Bryan menarik kasar rambutnya.


Tatapan Bryan tertuju pada tas Vanka yang terjatuh di bawah pintu mobil. Ia segera mengambilnya.


" Jika Vanka pergi kenapa dia tidak membawa tasnya? Apa mungkin dia di culik?" Pikir Bryan.


Bryan segera masuk kembali ke dalam kedai.


" Mbak dimana ruangan cctv?" Tanya Bryan kepada sang kasir.


" Mbak ini darurat, sepertinya istri saya di culik saya mohon Mbak beritahu saya cepat." Ucap Brayen.


" Ah baiklah Pak silahkan ikut saya." Ucap kasir.


Bryan berjalan menuju ruang cctv yang ada di kedai itu.


" Ini Pak silahkan temui petugas di dalam." Ucap kasir.


" Terima kasih." Sahut Bryan


Bryan membuka pintu ruangan sempit yang di jadikan ruangan pemantau cctv.


" Ada apa Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pria yang berjaga di sana.


" Tolong putar rekaman cctv di area parkir beberapa menit lalu Mas, istri saya tiba tiba menghilang, saya takut kalau dia di culik." Terang Bryan.


" Baiklah Pak." Sahut petugas.


Rekaman cctv di putar dari lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


" Stop." Ucap Bryan saat melihat seorang pria sedang menghampiri Vanka.


" Coba di zoom Mas." Titah Bryan.


" Baik Pak." Sahut petugas mengezoom gambarnya.


" Siapa pria ini ya? Sepertinya aku mengenalinya." Ujar Bryan.


" Lanjutkan lagi Mas." Ucap Bryan.


Rekaman cctv di putar sampai pada Vanka di gendong pria tadi lalu di bawa masuk ke dalam mobilnya.


" Astaga Vanka di bius oleh pelaku, entah itu dosis rendah atau tinggi akan sangat berbahaya untuk janin Vanka, Ya Tuhan semoga janin kami baik baik saja, lindungilah mereka ya Tuhan." Monolog Bryan.


" Apa perlu kami melapor ke polisi Pak?" Tanya petugas cctv.


" Tidak perlu Mas, saya akan menanganinya sendiri, terima kasih sudah membantu saya, kalau saya membutuhkan rekaman itu saya akan menghubungi kedai ini." Ucap Bryan.


" Siap Pak, kami siap membantu jika di perlukan." Sahut petugas cctv.


" Baiklah kalau begitu saya permisi." Ucap Bryan.


" Silahkan Pak hati hati." Sahut petugas cctv.


Bryan berlari menuju mobilnya. Ia akan mencari Vanka ke rumah dulu. Siapa tahu penculik itu hanya mau bermain main dengannya. Jika tidak ada Bryan akan meminta anak buahnya untuk menyelidiki kasus ini.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Brayen. Brayen sedang meminta maaf kepada Rea.


" Sayang aku meminta maaf padamu karna aku menyembunyikan masa laluku darimu, aku dan keluargaku sepakat untuk menyembunyikan semua ini dari siapapun, dan aku sudah berjanji untuk tidak mengungkit masalah ini di masa depan, tapi entah mengapa melihat Vanka yang muntah muntah seperti tadi membuatku tidak bisa mengendalikan diri, aku merasa bersalah kepadanya sayang, aku merasa menjadi pria rendah yang lepas dari tanggung jawab." Ucap Brayen luruh ke lantai.


" Vanka menderita akibat perbuatanku, saat dia mengatakan hamil anakku, aku menolaknya karna saat itu aku berambisi dengan gelar spesialisku.... Saat itulah Bryan datang sebagai pahlawan Vanka, Ia menikahi Vanka dan menjadi ayah dari anakku, saat itulah aku menyadari kesalahanku, aku meminta Bryan menceraikan Vanka karna aku ingin bertanggung jawab untuk menikahinya, bahkan aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta Vanka kembali, anak itu aku jadikan pion untuk mendapatkan Vanka, tapi sayang Tuhan berkata lain, Vanka keguguran... Aku kehilangan anakku Rea... Dan kau tahu saat Bryan dan Vanka menikah saat itulah aku kecelakaan." Sambung Brayen.


Rea tidak bergeming, Ia ingin mendengarkan penjelasan Brayen tentang hubungannya dengan Vanka. Tapi Rea tidak menyangka jika hubungan Brayen dan Vanka sudah begitu dekat. Ia memang merasa kecewa saat mendengar kenyataan ini namun Ia juga harus berpikir realistis.


" Aku tidak mengatakannya padamu karna aku takut kamu akan meninggalkan aku, aku bukan pria baik Rea, aku pria hina... Aku pria yang tidak bertanggung jawab... Sampai sekarang rasa bersalah itu menyiksaku, aku juga yakin kalau kamu sudah mendengar obrolanku dengan Vanka, anakku selalu datang menghampiriku Rea... Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan walaupun aku hidup bersama orang yang aku cintai, aku mencintaimu namun inilah perasaanku Rea.... Hiks... Hiks... Aku menderita karna rasa bersalah ini, bantu aku untuk menghilangkan perasaan yang menyiksaku Rea... Aku butuh dirimu untuk menjadi pendukungku, aku butuh dirimu untuk menghapus luka ini... Aku mohon maafkan aku." Ucap Brayen meneteskan air matanya.


Rea mendekati Brayen lalu Ia menarik Brayen ke dalam pelukannya.


" Aku memaafkanmu Mas, aku juga minta maaf karna tidak bisa mengerti perasaan dan lukamu selama ini, aku akan membantumu menghapus rasa bersalah itu, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan untukmu Mas." Ucap Rea mengelus punggung Brayen.


" Terima kasih sayang, terima kasih sudah menerimaku, aku mencintaimu sayang." Ucap Brayen mempererat pelukannya.


" Aku lebih mencintaimu Mas." Sahut Rea


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya.


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All....


TBC.....


__ADS_2