
Malam ini Bryan datang ke rumah Vanka beserta kedua orang tuanya untuk melamar Vanka. Jangan tanyakan dimana Brayen karna sejak kemarin Ia pergi dari rumah tanpa tahu kabarnya. Mungkin di tempat Anggara temannya.
Di rumah sederhana benuansa klasik kedua orang tua Vanka menyambut mereka dengan baik. Sajian minuman dan beberapa camilan mereka suguhkan di meja.
Devanka Rosalina anak satu satunya dari pasangan Rudi Wijaya dan Reta Wijaya. Papa Vanka memiliki usaha di bidang pariwisata. Sedangkan Mamanya membuka salon kecantikan di berbagai kota.
" Selamat malam Pak Indra, Bu Kia dan Nak...." Papa Rudi menggantung ucapannya karna memang tidak mengenal pria tampan di depannya. Jika dengan Papa Indra dan Mama Kia siapa yang tida tahu mereka. Orang terpandang di kota ini.
" Bryan Om." Sahut Bryan.
" Oh ya... Selamat malam nak Bryan." Ucap Papa Rudi.
" Selamat malam Pak." Ucap Papa Indra.
" Selamat malam Om." Ucap Bryan menyalami tangan Papa Rudi.
Papa Indra, Mama Kia dan Bryan duduk di sofa depan Papa Rudi, Mama Reta dan Vanka. Untuk sesaat mereka semua terdiam. Papa Indra bingung hendak memulai darimana.
" Ada perlu apa ya Bapak dan Ibu berkenan ke rumah saya?" Tanya Papa Rudi menatap tiga tamu di depannya.
Bryan menatap Vanka seolah bertanya kenapa Vanka tidak memberitahu kedua orang tuanya, sedangkan Vanka menggelengkan kepalanya seolah menjawab aku tidak berani mengatakannya. Seolah tahu akan hal itu, Bryan melempar senyum manisnya kepada Vanka memberikan kekuatan pada Vanka yang membuat hati Vanka menghangat.
" Em... Begini Pak Rudi dan Bu Reta, maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar Vanka sebagai istri anak saya yang bernama Bryan Pak." Ucap Papa Indra.
" Sebentar sebentar, Bryan ini kembarannya Brayen kah? Kok wajah mereka sama." Ucap Papa Rudi mengerutkan keningnya.
" Betul Pak, Bryan dan Vanka tanpa sengaja melakukan kesalahan sehingga menimbulkan aib untuk keluarga kita." Ucap Papa Indra jujur.
" Kesalahan? Aib?" Ucap Papa Rudi mengerutkan keningnya menatap Bryan dan Vanka bergantian.
" Apa maksudnya ini Pak Indra?" Tanya Papa Rudi.
" Iya Pak kesalahan satu malam yang mereka lakukan membuat Vanka saat ini mengandung anak dari Bryan." Sahut Papa Indra.
" Apa? Vanka hamil?" Pekik Mama Reta tak percaya.
" Astaga Vanka... Kenapa kamu tidak memberitahu kami Nak." Sambung Mama Reta.
Papa Rudi menatap tajam ke arah Bryan. Ia maju mendekati Bryan lalu menarik kerah kemeja Bryan dengan kasar.
" Beraninya kau merusak putriku." Bentak Papa Rudi.
" Papa jangan Pa." Teriak Vanka.
Bugh.... Bugh... Bugh
Mama Kia memejamkan matanya, jika saja Bryan tidak melarangnya sebelumnya maka saat ini Ia akan membalas pukulan yang Papa Vanka berikan kepada putranya.
__ADS_1
Papa Rudi memberikan dua buah bogeman pada kedua pipi Bryan membuat sudut bibir Bryan sobek dan mengeluarkan darah, dan satu pukulan tepat di ulu hatinya membuat Bryan kesakitan.
" Mas Bryaaaannnn." Teriak Vanka menghampiri Bryan yang tersungkur di lantai karna Papa Rudi mendorongnya.
" Mas..." Ucap Vanka sambil menangis. Bryan menatap Vanka.
" Mas sudah bilang padamu kan? Jangan menangis karna kesedihan Vanka." Ucap Bryan menghapus air mata Vanka.
" Mas kamu kesakitan masih saja peduliin aku, gimana aku nggak nangis saat melihatmu terlukan seperti ini Mas, maafkan aku ini semua gara gara aku." Sahut Vanka membantu Bryan berdiri.
" Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, jangan khawatir aku tidak apa sayang." Sahut Bryan.
" Sekarang berdirilah, ayo aku bantu." Ucap Vanka membantu Bryan berdiri.
" Duduk di sini Mas, aku akan mengambilkan obat." Sambung Vanka.
Vanka pergi ke kamarnya untuk mengambil obat.
" Bagaimana semua ini bisa terjadi, bukankah Vanka pacarannya dengan Brayen? Kenapa hamilnya dengan kembarannya." Gerutu Papa Rudi.
" Mereka di jebak seseorang Pak, ada salah satu teman Vanka yang menaruh obat perangsang pada minuman Vanka dan Bryan, sehingga membuat semua itu terjadi begitu saja." Terang Mama Kia ikut bicara.
" Selama ini Brayen menjaganya dengan baik tapi kau justru menodainya, apa kau sengaja ingin merebut Vanka dari Brayen?" Tuding Papa Rudi kejam.
" Mas Bryan tidak bersalah Pa, hentikan tuduhan Papa terhadapnya karna yang Papa kira baik belum tentu aslinya baik." Ucap Vanka yang baru saja datang dengan kotak p3k di tangannya.
" Tidak salah bagaimana? Dia merusak dirimu Vanka, bajing*n itu membuatmu hamil di luar nikah, bagaimana kamu bisa membelanya seperti itu di depan Papamu." Ucap Papa Rudi.
" Mas Bryan tidak bersalah Pa, sebenarnya bukan..
" Maafkan atas kekhilafan saya Om, saya akan bertanggung jawab menikahi Vanka secepatnya." Sahut Bryan memotong ucapan Vanka.
Vanka menatap Bryan yang di balas dengan gelengan kepala, Vanka menghela nafasnya Ia duduk di samping Bryan untuk mengobati lukanya. Ingin sekali Ia mengungkap kebenaran tentang siapa yang membuatnya seperti ini, tapi Ia sudah berjanji pada Bryan untuk tidak melibatkan Brayen dalam hal ini.
" Kau memang harus bertanggung jawab atas itu, kapan kau akan menikahi putriku?" Tanya Papa Rudi menatap Bryan.
Bryan menatap Mama Kia dan Papa Indra. Kedua orang itu menganggukkan kepalanya.
" Besok Om." Sahut Bryan tegas.
" Apa? Besok Mas? Apa tidak terlalu terburu buru? Lukamu saja belum sembuh." Ujar Vanka sambil mengoles rivanol ke sudut bibir Bryan menggunakan kapas.
" Shhh." Desis Bryan merasakan perih.
" Jangan khawatir aku baik baik saja." Ucap Bryan.
" Lebih cepat lebih baik sebelum perutnya semakin membesar, aku akan menyiapkan segalanya dan aku tunggu kedatangan kalian besok pagi." Ucap Papa Rudi.
__ADS_1
" Baik Om, terima kasih." Sahut Bryan.
Tanpa basa basi Papa Rudi pergi meninggalkan mereka. Hatinya di penuhi amarah dan rasa kecewa terhadap putri yang selama ini di sayanginya.
" Maafkan sikap suami saya Pak, Bu." Ucap Mama Reta merasa tidak enak hati.
" Tidak masalah Mbak, kami tahu betapa kecewa dan marahnya Pak Rudi karna mendengar kabar yang mengejutkan ini, kami juga minta maaf atas kesalahan yang di lakukan oleh putra kami." Sahut Mama Kia.
" Semua sudah terjadi Bu, yang penting Nak Bryan bertanggung jawab kepada Vanka." Ujar Mama Reta.
" Nak Bryan." Panggil Mama Reta.
" Iya Tan." Sahut Bryan menatap Vanka.
" Walaupun pernikahan kalian terjadi karna kesalahan, tapi ibu mohon jangan berbuat kesalahan dengan meninggalkannya." Ucap Mama Reta penuh harap.
" Aku berjanji tidak akan meninggalkan Vanka Tante, kecuali Vanka sendiri yang menyuruhku untuk pergi." Tegas Bryan.
" Bagaimana aku menyuruh malaikat sebaik dirimu pergi meninggalkan aku, jika kau pergi maka jangan lupa gandenglah tanganku dan bawalah aku pergi bersamamu." Ujar Vanka.
" Tentu." Sahut Bryan.
" Silahkan di minum Pak Bu." Ucap Mama Reta.
" Terima kasih Bu, jadi merepotkan." Sahut Mama Kia.
Ketiga orang dewasa terlibat dengan obrolan ringan. Sedangkan Bryan dan Vanka sibuk ngobrol sendiri seperti sepasang sejoli yang sedang kasmaran.
" Maafkan aku Mas, gara gara aku jadi kamu yang menerima akibatnya sampai bonyok begini." Ucap Vanka menatap Bryan.
" Bukan salahmu sayang, ini konsekuensi yang harus aku tanggung atas kesalahanku kan?" Ujar Bryan lembut.
" Tapi kamu tidak bersalah akan hal ini Mas." Ujar Vanka.
" Stt..." Bryan meletakkan telunjuknya di bibir Vanka.
" Jangan katakan itu lagi, kita berdua yang bersalah tidak ada orang lain, sudah Mas bilang jangan libatkan orang lain dalam hubungan baru kita, kamu paham kan maksud Mas?" Tanya Bryan. Vanka menganggukkan kepalanya.
" Makasih Mas atas kebaikanmu, semoga aku bisa membuatmu bahagia." Sahut Vanka.
" Amien." Ucap Bryan.
Mama Reta yang melihat interaksi keduanya merasa bahagia. Setidaknya Vanka akan mendapatkan suami yang begitu mencintainya.
TBC.....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya..
__ADS_1
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....