Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Kebaikan Hati Seorang Istri


__ADS_3

Kia diam sejenak Ia memikirkan bagaimana baiknya untuk Ia mengambil keputusan.


" Bagaimana Nona Kia? Secara tidak langsung anda ikut andil menyebabkan kecelakaan yang di alami Dimas." Ucap Candra menatap Kia dengan penuh kekaguman akan kecantikannya.


" Baiklah saya akan membantu anda, Tapi saya harus meminta ijin dulu kepada suami saya, Jika suami saya tidak mengijinkan maka maaf saya tidak bisa membantu anda." Sahut Kia.


" Terima kasih sebelumnya dan sekali lagi maafkan saya atas apa yang saya perbuat kepada anda." Ucap Candra.


" Tidak masalah semua sudah terjadi, Dan apapun yang terjadi kepada saya adalah suratan takdir dari yang Maha Kuasa." Ujar Kia menghela nafasnya.


" Anda memang orang baik Nona, Tidak seharusnya saya menyakiti anda, Saya menyesalinya." Sesal Candra.


" Its OK." Sahut Kia. Rey dan Cindy semakin kagum dengan sifat Kia yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. ( Kia juga pasti akan memaafkan Indra ya...Kemarin karna masih Emosi saja)


" Baiklah kalau begitu saya permisi." Pamit Candra.


" Silahkan." Sahut Kia. Candra segera berjalan keluar dengan hati lega, Setidaknya Kia mau membantunya.


Drt Drt Drt


Ponsel Kia berdering tanda panggilan masuk, Ia segera mengambil ponselnya dan melihat ID pemanggil " Bi Sumi" Kia melirik ke arah Rey.


" Siapa?" Tanya Rey.


" Bi Sumi." Jawab Kia.


" Cepat angkat aku takut Indra kenapa napa." Ujar Rey. Kia segera mengangkatnya.


" Halo Bi." Sapa Kia.


" Non....Mas Indra Non." Ucap Bi Sumi dengan nafas terengah engah.


" Kenapa dengannya Bi?" Tanya Kia.


" Sepulang dari Rumah Sakit Mas Indra mengurung diri di kamar Non, Bibi mendengar suara pecahan barang barang, Bibi yakin Mas Indra hilang kendali lagi Non." Jelas Bi Sumi.


" Pulang dari Rumah Sakit?" Kia mengerutkan keningnya.


" Iya Non tadi Mas Indra ke sana ingin menjenguk Non Kia, Tolong Non Bibi takut." ujar Bi Sumi.


" Bibi tenang dulu ya, Bang Rey akan segera ke sana" Sahut Kia.


" Baiklah Non Bibi tunggu." Ujar Bi Sumi mematikan sambungan teleponnya.


" Indra ke sini?" Tanya Rey.


" Kata Bi Sumi begitu." Sahut Kia.


" Aku yakin Indra mendengar ucapanmu yang ingin menceraikannya makanya dia jadi hilang kendali lagi, Dia begitu rapuh tanpamu Ki." Ucap Rey.


" Bang aku mau pulang, Buruan urus administrasinya, Aku takut terlambat Bang." Ujar Kia.


" Tapi kondisimu belum pulih Ki." Sahut Cindy.

__ADS_1


" Aku kuat kok Cin tenang aja, Aku justru mengkhawatirkan Mas Indra, Ayo Bang." Ujar Kia.


" Baiklah aku ijin Dokter dulu sambil mengurus administrasinya." Sahut Rey.


" Baiklah aku tunggu, Nggak pakai lama." Ucap Kia.


" Siap Tuan puteri." Sahut Rey.


Setelah mengurus administrasi dan menandatangani surat persetujuan pulang, Rey melajukan mobilnya menuju kediaman Indra. Kia terlihat begitu cemas di dalam mobil.


" Tenang Ki semua akan baik baik saja." Ucap Cindy menggenggam tangan Kia.


" Semoga Cin." Sahut Kia.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di Rumah Indra dan Kia. Cindy menatap kagum dengan bangunan rumah mewah di depannya. Kia segera berlari setelah turun dari mobil, Sedang Cindy dan Rey mengikutinya dari belakang.


" Makasih sudah jadi teman baik Kia." Ucap Rey sambil berjalan menuju kamar Indra.


" Hmm."Gumam Cindy.


" Kok Hmm doank si." Rey mencekal tangan Cindy membuat langkahnya terhenti.


" Lalu aku harus ngomong apa?." Ketus Cindy.


" Maafkan aku yang selama ini sudah mengabaikanmu, Aku ingin mulai sekarang kita perbaiki hubungan kita, Aku nggak mau kejadian seperti ini terjadi pada pernikahan kita." Ucap Rey tulus.


" Kita buktikan saja semua niatan dan ucapanmu Mas." Sahut Cindy melanjutkan langkahnya.


Di depan kamar Indra, Kia segera membuka pintu dengan perlahan. Ia mengedarkan pandangannya memindai kamar yang sudah hancur berantakan, Bahkan semua almari sudah tidak pada tempatnya. Tv, Meja rias semuanya hancur tak berbentuk. Kia menatap Indra yang sedang duduk di bawah ranjang dengan kedua kaki di tekuk, Kepala menunduk dengan lutut sebagai tumpuannya.


" Kia sayang jangan tinggalkan aku hiks, Jangan ceraikan aku...hiks.." Racau Indra.


" Aku memang bodoh... Aku memang salah... Aku membunuh anakku sendiri....hiks... Sayang.. Maafkan Papa yang bodoh ini hiks.. hiks.. Papa nggak sanggup hidup tanpa Mama kamu... Papa nggak sanggup Nak... Lebih baik Papa ikut bersamamu... Kita berdua akan bermain bersama di sana....Hiks..Kia sayang maafkan aku..." Ucap Indra di sela tangisannya membuat hati Kia berdenyut nyeri. Egoiskah dia sudah membuat Indra seperti ini? Salahkah dia karna sempat marah dan meminta cerai? Tapi saat itu Ia benar benar terbawa emosi karna tidak ada yang mengerti perasaannya.


Kia berjalan pelan menghampiri suaminya, Sedang Cindy dan Rey memilih meninggalkan mereka berdua. Kia duduk di samping Indra tanpa Indra menyadari kehadirannya.


" Aku bodoh....Aku bodoh... Tangan ini membuatku kehilangan anak dan istriku aku harus memotongnya." Kia membulatkan matanya kala melihat telapak tangan Indra yang merah di penuhi darah, Terlihat beberapa serpihan kaca yang masih menempel pada punggung tangannya. Indra menggenggam kencang tangannya hingga membuat darah menetes ke lantai.


" Hiks..hiks..hiks..." Isak Kia membekap mulutnya dengan kedua tangannya, Ia tidak tahan melihat keterpurukan suaminya yang melukai dirinya sendiri, Indra sengaja melukai tangannya sendiri dengan menghantam semua kaca yang berada di kamarnya.


Mendengar isakan di sebelahnya Indra segera mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara. Indra menatap tak percaya melihat istrinya menangis di depannya.


" Sayang.... Kau kembali?" Indra menyentuh wajah Kia dengan tangannya membuat wajah Kia ternoda karna darah di tangannya.


" Ah maaf sayang wajahmu jadi kotor, Sebentar aku ambil tisu dulu." Indra beranjak ingin mengambil tisu tapi Kia mencekal tangannya. Indra menoleh ke arah Kia. Kia berdiri di depan Indra, Ia menatap suami yang di rindukannya.


" Mas..." Kia menubruk tubuh Indra, Ia memeluknya dengan erat.


" Hiks...Mas...Kenapa begini? Kenapa kamu selalu begini?" Tanya Kia sambil menangis, Indra segera membalas pelukan hangat istrinya. Mereka berdua sama sama menangis dalam pelukan mengeluarkan air mata yang mewakili perasaannya.


" Maafkan aku sayang.. Maafkan aku... Karna kebodohanku kita kehilangan calon anak kita.. Hiks... Maafkan aku sayang... " Indra melepas pelukannya, Ia menarik tangan Kia menempelkan pada pipinya.


" Pukul aku sayang.... Pukul... Tampar aku... Tampar aku... ." Indra menampar namparkan tangan Kia ke pipinya.

__ADS_1


"Hukumlah aku sesuka hatimu, Tapi ku mohon jangan tinggalkan aku, Jangan ceraikan aku." Ucap Indra kembali memeluk Kia.


Kia tidak mampu menjawabnya, Ia tidak bisa berbuat apa apa melihat suaminya seperti ini rasanya sedih sekali. Apa yang akan terjadi jika Kia menceraikannya? Apakah Indra akan bertahan? Atau Indra akan mengakhiri hidupnya sendiri?


" Mas... Sekarang duduklah, Aku akan menelepon Papa Anton untuk mengobati lukamu." Ucap Kia menuntun Indra ke tepi ranjang. Indra hanya menurut saja dan terus menatap Kia. Ia tidak mau kehilangan Kia saat Ia mengedipkan matanya. Kia segera menelpon Papa Anton dan memintanya untuk kesini mengobati luka Indra. Papa Anton paham apa yang terjadi pada putranya, Ia mengajak Mama Meri ikut bersamanya.


" Kamu memaafkanku?" Kia menganggukkan kepalanya.


" Kamu tidak jadi menceraikan aku?" Kia menggelengkan kepalanya.


" Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku?" Kia menggelengkan kepalanya.


" Terima kasih sayang.... Aku mencintaimu." Indra memeluk pinggang Kia dan menyusupkan wajahnya ke perut Kia. Indra meraba perut Kia.


" Sayang maafkan Papa ya, Karna Papa kamu nggak jadi hadir ke dunia ini, Papa janji akan menebusnya dengan mengabulkan semua permintaan Mamamu." Ucap Indra menciumi perut Kia.


" Apapun?" Tanya Kia.


" Iya." Jawab Indra.


" Aku ada satu permintaan untukmu Mas." Ucap Kia.


" Apa?" Tanya Indra.


" Janji akan mengabulkannya?" Kia menatap suaminya.


" Hmmm asalkan tidak memintaku untuk meninggalkanmu." Seru Indra.


" Bukan itu..." Sahut Kia.


" Lalu?" Tanya Indra.


" Nanti saja kita bicarakan lagi." Ujar Kia.


" Wah wah wah... Apa ada angin ****** beliung di sini?" Tanya Papa Anton yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka di ikuti Mama Meri dan Rey dari belakang.


" Iya Pa." Jawab Kia mencoba melepas pelukannya tapi Indra justru mempererat pelukannya.


" Mas lepas dulu, Obati dulu lukamu." Ucap Kia.


" Nggak mau nanti kamu pergi lagi." Sahut Indra membuat semua orang yang berdiri di sana tersenyum.


" Mas.. Malu ih kaya' anak kecil gini." Ujar Kia.


" Biarin aja." Sahut Indra mendusel di perut Kia.


" Kalau gak nurut aku pergi lagi." Ancam Kia.


" Jangan Say... Aku nurut." Indra melepas pelukannya.


Papa Anton segera mengobati luka di tangan Indra. Sedangkan yang lainnya bekerja sama bersama art dan Mang Ujang membersihkan kamar Indra.


TBC.....

__ADS_1


Hai readers Kia sama Indra udah baikan ya.... Jangan lupa like dan komentnya... Author ucapin banyak terima kasih atas suport yang para readers berikan...Miss U All


Kalau suka ceritanya beri author bunga ya


__ADS_2