
Semua orang mencemooh dan memandang remeh kepada Indra. Dimas merasa begitu senang akhirnya bisa memojokkan dan mempermalukan Indra. Perasaan Indra semakin tidak karuan, Rasa kepercayaan dirinya benar benar hilang saat ini.
" Tuan Indra apakah anda mau bertanggung jawab menikahi Rania atau mau masuk penjara karna kami akan menuntutmu." Tanya Dimas dengan senyum smirknya.
" Iya Tuan Indra mending anda menikahi Nona Rania daripada harus masuk ke penjara, Anda seorang pebisnis kasus ini akan berpengaruh buruk pada Perusahaan anda." Ucap Pak Romi.
" Kamu harus bertanggung jawab kepadaku Tuan Indra." Teriak Rania masih dengan air mata palsunya.
" Bertanggung jawab untuk apa." Semua orang menoleh ke arah asal suara.
Kia berdiri di sana dengan bersedekap dada, Ia berjalan menghampiri Indra yang sedari tadi hanya menunduk.
"Sial... kenapa dia bisa keluar dari kamar, Semua akan kacau karnanya aku udah memojokkan Indra supaya dirinya down palah pendukungnya datang." Ujar Dimas dalam hati.
" Tegakkan kepalamu Mas, Jangan pernah menunduk kepada orang yang tidak bisa membedakan mana emas dan mana imitasi." Ucap Kia.
Kia mengedarkan pandangannya menatap satu persatu orang di sana. Indra menegakkan kepalanya. Ia langsung memeluk Kia dengan erat mencoba mencari ketenangan di sana. Indra tidak malu jika harus kehilangan wibawanya di depan semua investor dan yang lainnya.
" Tenanglah Mas ada aku di sini, Maafkan aku terlalu lama membuatmu menunggu sampai kamu di hina seperti ini." Ucap Kia menangkup wajah Indra dan...Cup..
Kia mengecup bibir Indra tanpa malu, Ia menyalurkan kekuatan untuk suaminya. Memang Kia meminta Indra untuk tidak membela diri sebelum Ia datang. Karna Ia akan menunjukkan bukti bukan hanya ucapan saja. Semua ucapan tidak akan berguna tanpa bukti yang nyata bukan...
" Nona Rania..." Kia melepas pelukannya lalu mendekati Rania.
" Apa yang harus di pertanggung jawabkan suamiku kepadamu." Tanya Kia.
" Dia sudah menodaiku." Jawab Rania.
" Bukankah memang sebelumnya anda sudah ternoda oleh banyak pria, Nona Rania." Rania mendongak menatap Kia dengan mata membulat. Semua orang mulai berbisik bisik menebak kebenaran yang sebenarnya.
" Jaga ucapan anda Nona Kia, Tuan Indra lah yang sudah menodai saya." Bentak Rania.
" Wow..." Kia mengangkat kedua tangannya.
" Maling teriak maling... Hebat.." Kia bertepuk tangan.
" Maaf para Bapak Investor perusahaan kami beserta para tamu undangan yang terhormat, Saya di sini sebagai istri dari Tuan Indra Permana ingin mengklarifikasi bahwa tuduhan yang di berikan kepada suami saya tidaklah nyata, Semua hanya fitnah belaka." Ucap Kia melirik ke arah Rania dan Dimas.
" Apa anda punya bukti untuk menyangkal semua tuduhan ini Nona Permana." Tanya Tuan Romi mewakili pertanyaan semuanya.
__ADS_1
" Apa anda meminta bukti kepada Tuan Dimas dan Nona Rania atas semua tuduhannya kepada suami saya Tuan." Bukannya menjawab justru Kia balik bertanya.
" Eh..eh..." Tuan Romi gugup, Benar semua orang di sana tidak menanyakan bukti buktinya kepada Rania.
" Hanya sebuah ucapan semata, Apa itu bisa menjadi bukti kalau suami saya bersalah?." Tanya Kia menatap semua orang di sana yang hanya diam saja.
" Baiklah saya akan membawa bukti kejahatan Tuan Dimas dan Nona Rania yang mencoba menjebak suami saya." Ujar Kia, Ia menyerahkan flashdisk kepada Rey untuk memutarnya dan menampilkan di layar depan.
Semua orang menatap kedepan di mana sebuah video sudah mulai di putar.
" Video ini di dapat dari CCTV hotel waktu itu, Di sini terlihat bukan jika Nona Rania sedang memasukkan sesuatu pada gelas minuman yang di bawa oleh pelayan." Ucap Kia. Semua menganggukkan kepala saja karna fokus pada rekaman CCTV di depannya. Video masih berlanjut sampai pelayan tadi menyajikan minumannya untuk Indra.
" Setelah meminum minuman itu, Suami saya merasa ada perubahan pada suhu tubuhnya, Ia mulai panas dan tidak nyaman." Terlihat di sana Indra sedang membicarakan tentang apa yang dia rasakan pada Rey.
" Setelah kepergian Tuan Rey, Nona Rania menghampiri suami saya untuk melancarkan rencananya." Kia melirik sinis ke arah Rania. Rania mulai ketakutan, Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Tapi Ia penasaran bagaimana Indra bisa menodainya karna Ia yakin saat bangun tidur Ia masih merasakan sisa berc*nt*.
" Anda semua lihat, Nona Rania memapah suami saya dan masuk ke kamar 300, Ingat 300." Jelas Kia.
Video masih berputar hingga saat seorang pria membawa Rania ke kamar sebelahnya. Rania menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Siapa pria itu.
" Seseorang membawa Nona Rania ke kamar di sebelahnya yaitu 301, Benar bukan." Tanya Kia.
" Dan perlu anda cermati.." Semua orang menatap kedepan lagi. Tak lama seorang wanita masuk ke dalam.
" Siapa wanita yang masuk ke kamar suami saya itu." Tanya Kia.
" Bukankah itu anda Nyonya Permana." Tanya Tuan Romi.
" Benar, Jadi anda semua tahu bukan apa yang terjadi setelah itu.... Tuan Indra dan Nona Rania memang melakukan Hal itu tapi dengan pasangan masing masing, Jadi suami saya tidak Bersalah" Jelas Kia menekan kata bersalah.
" Tuan Dimas, Apa anda bekerja sama dengan Nona Rania untuk merencanakan kejahatan ini, Sungguh aku tidak menyangka anda bisa melakukan hal serendah ini." Hardi Tuan Romi.
" Harusnya yang di penjara itu anda Tuan Dimas." Seru yang lainnya.
Dimas dan Rania sudah kehilangan muka, Rania langsung berlari keluar ruangan dengan menutup wajahnya. Saat Dimas ingin melangkah keluar, Kia menghentikan langkahnya.
" Tuan Dimas." Seru Kia, Ia berjalan menghampiri Dimas.
" Sebenarnya aku mau menunjukkan bukti kebrutalanmu kepada Lia, Tapi aku tidak sejahat dirimu, Jika suatu saat kamu bertemu dengannya tanggung jawablah, Saat ini dia sedang mengandung anakmu." Ujar Kia menyakinkan Dimas. Terakhir kali Kia mendapat pesan permintaan maaf dari Lia, Dan Lia mengatakan kalau ternyata yang ia kandung bukan anak David tapi anak Dimas. Entah dari mana Lia tahu, Apa dia melakukan tes DNA atau apa Kia tidak mau ambil pusing. Yang jelas biar keduanya yang menyelesaikan masalah mereka sendiri.
__ADS_1
" Aku tidak peduli, Aku lebih baik hidup di penjara dari pada harus menikahinya, Aku tidak sudi menikah dengan wanita murahan sepertinya, Yang aku mau adalah wanita sepertimu." Sahut Dimas.. Tiba tiba..
" Awh..." Dimas menubruk tubuh Kia, Ia memeluknya dengan erat.
" Lepaskan istriku brengsek." Teriak Indra membuat semua orang menatap ke arahnya. Indra segera mendekati Dimas yang sedang memeluk Kia.
" Dimas lepas... lepaskan aku." Berontak Kia.
" Biarkan seperti ini sebentar Ki." Kia menoleh Indra yang sudah berdiri di belakang Kia ingin menghajar Dimas tetapi di hentikan dengan isyarat tangan oleh Kia.
" Aku begitu mencintaimu..Aku menyayangimu, Aku menginginkanmu aku tidak mampu mengendalikan perasaan yang sedari dulu aku pendam Ki hingga membuatku seperti ini Hiks.. Hiks." Dimas meneteskan air matanya dalam pelukan Kia.
" Apa maksudmu Dim." Tanya Kia mencoba melepas pelukannya tetapi tidak bisa.
" Sejak kuliah aku sudah mempunyai rasa ini, aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu Ki, Aku sama seperti Indra yang selalu melihatmu dari jauh, Kami sama sama tidak bisa mengungkapnya kepadamu, Bedanya kalau Indra karna keterbatasannya kalau aku karna menghargai prinsipmu yang selalu bilang Sukses Dulu Baru mau Pacaran,Tapi setelah kamu sukses pun aku tetap tidak bisa berpacaran denganmu apalagi memilikimu, Aku selalu kalah dari Indra dalam hal apapun, Hiks... Maafkan aku yang egois ini, Ku mohon Maafkan aku Ki." Dimas melepas pelukannya lalu menangkup wajah Kia dengan kedua tangannya.
Indra mengepalkan tangannya, Sedangkan Kia menatap Dimas yang terlihat rapuh.
" Ki maafkan aku, Kini aku sudah kehilangan semuanya karna ambisiku untuk mendapatkanmu dan membuat Indra menderita, Tapi semua berbanding terbalik kepadaku. Aku hancur Ki... Aku hancur karna kehilangan kesempatan untuk mendapatkanmu, Bahkan sekarang aku terancam kehilangan Perusahaanku,Tapi tidak masalah aku akan pergi jauh setelah ini, Aku tidak mau tersiksa lagi karna perasaan ini, Aku akan mencoba melupakanmu Ki, Doakan agar aku bisa melupakanmu." Dimas menyeka air matanya dengan tangannya.
" Dimas." Kia memeluk Dimas dengan perasaan sedih. Ia menitikkan air matanya. Keduanya menangis dalam pelukan mengabaikan orang orang yang ada di sana. Tanpa Kia sadari hati Indra sudah terbakar api cemburu.
" Maafkan aku.." Kia melepas pelukannya.
" Maafkan aku yang tidak sengaja dan tidak tahu jika aku membuatmu tersiksa dengan perasaanmu selama ini, Mulai sekarang lupakanlah aku, Berbahagialah." Kia menghampiri Indra dan memeluknya dengan erat. Indra mengelus punggung Kia. Dimas segera berlalu dari sana.
" Hiks..hiks... Mas... Kenapa aku selalu membuat orang lain menderita... Mereka menderita karna mencintaiku...Hiks.. Sudah berapa orang yang terluka karna aku Mas... Maafkan aku yang pernah membuatmu terluka juga, Maafkan aku." Ucap Kia di sela sela isakannya.
" Tenanglah itu bukan salahmu, Semua pria akan mudah jatuh cinta dengan gadis sebaik dirimu, Eh bukan gadis lagi ding." Kia menatap Indra sambil memanyunkan bibirnya. Indra memgusap air mata di pipi Kia.
" Jangan menangis lagi... Senyum donk.." Indra mencubit hidung Kia.
" Tuan Indra maafkan kami yang tadi sempat menghina Tuan, Karna kami pikir dengan diamnya anda, Anda mengakui semua tuduhan itu, Sekali lagi maafkan kami." Ucap Pak Romi.
" Tidak masalah Pak, Kami maafkan." Sahut Indra.
TBC....
Huaaaaa entah mengapa Author nangis saat mengetik ucapan Dimas yang mengakui perasaannya dari dulu, sebenarnya sedih gak sih, Atau author yang cengeng ya....
__ADS_1
THANK YOU FOR ALL Tetap tinggalin jejak dan dukungannya ya...