
" Ayah bangun Yah... Ayah banguuunnn." Isak Rea memeluk tubuh Pak Ruli.
" Tolong.... Tolong...." Teriak Rea meminta pertolongan.
Revan yang hendak mengunjungi Pak Ruli kaget mendengar teriakan Rea. Ia segera berlari ke dalam rumah menuju asal suara.
" Ayah bangun Yah! Jangan tinggalkan aku Yah... Hiks... Hiks... Ayah...." Tangis Rea semakin pecah kala melihat Ayahnya yang sudah tidak bernafas lagi.
" Rea apa yang terjadi dengan Ayah?" Tanya Revan menghampiri Rea.
Rea menoleh ke arah Revan.
" Revan... Tolong aku! Ayah Van... Ayah tidak bernafas." Ucap Rea.
" Apa?" Pekik Revan.
Revan memeriksa denyut nadi Pak Ruli, Ia mencari kaca lalu meletakkanya di depan hidung Pak Ruli. Kaca itu bersih, tidak ada embun sedikit pun.
" Innalillahiwainnailaihiroji'un." Gumam Revan membuat Rea melongo sambil menatapnya.
" Tidak....." Teriak Rea histeris.
" Tidak Revan, Ayahku masih hidup Revan... Jangan mengucapkan kata itu Van, Ayah bangun Ayah... Jangan tinggalkan aku, ku mohon Ayah buka matamu hiks.... Hiks... Ayah...." Isak Rea.
" Rea ikhlaskan kepergian Ayahmu biar Ayah tenang di sana." Ujar Revan.
" Aku tidak punya siapa siapa lagi Van." Ucap Rea.
" Ada aku Rea... Aku akan selalu ada di sampingmu." Ucap Revan menarik tubuh Rea ke dalam pelukannya.
Niat Revan ke sini ingin bersilahturahmi kepada Pak Ruli sekaligus menanyakan kebenaran kabar kalau Rea sudah menikah.
Jika kabar itu tidak benar, Revan ingin segera melamar Rea untuk menjadi istrinya. Namun Ia tidak menyangka jika kedatangannya di sambut dengan berita duka seperti ini. Revan mengurungkan niatnya, yang Ia lakukan saat ini hanya menghibur dan menemani Rea.
" Tenanglah Rea! Mungkin inilah yang terbaik untuk Ayah, umur seseorang sudah di tentukan oleh Tuhan, setiap orang yang kehilangan pasti akan merasa sedih, tapi jangan sampai berlarut kesedihan yang kamu hadapi saat ini, yakinlah pada Tuhan jika Dia memberikan yang terbaik untukmu." Ujar Revan mengelus punggung Rea.
" Kamu di sini ya, aku akan melapor kepergian Ayahmu kepada Pak Rt." Sambung Revan. Rea menganggukkan kepalanya saja.
" Oh ya kabari keluarga, jika ada keluarga yang ingin di kabari." Ucap Revan.
Setelah mengatakan itu Revan keluar dari rumah Rea menuju rumah Pak Rt. Sedangkan Rea mengambil ponselnya untuk mengabari Mama mertuanya ataupun Vanka.
Pertama yang Rea telepon yaitu Vanka. Ia yakin jika Brayen berada di sana karena tadi Brayen meminta ijin untuk menjaga Vanka dan Bryan.
Tut.... Tut....
Telepon tersambung tinggal menunggu Vanka mengangkatnya.
" Halo Rea." Sapa Vanka di sebrang sana.
__ADS_1
" Van... Hiks... Hiks...." Isak Rea.
" Rea kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi denganmu Rea?" Tanya Vanka.
Brayen yang sedang tidur di sofa tiba tiba membuka matanya. Ia menatap ke arah Vanka yang sedang memberondong Rea dengan pertanyaan.
" Rea kenapa Van?" Tanya Brayen menghampiri Vanka sambil mengucek matanya.
Vanka menggelengkan kepalanya. Ia mengaktifkan tombol loudspeaker agar Brayen mendengar suara Rea.
" Vanka... Hiks...." Rea kembali terisak. Lidahnya kelu hendak mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Ayahnya.
" Sayang kamu kenapa? Kenapa kamu nangis? Kamu baik baik saja kan? Ayah bagaimana?" Brayen mencecar Rea dengan pertanyaan.
" Mas Dirga... Ayah... Ayah meninggal Mas." Lirih Rea.
Jeduar.....
Bagai di sambar petir di siang hari. Brayen, Vanka dan Bryan sama sama kaget mendengar ucapan Rea.
" Aku mencoba berkali kali meneleponmu Mas, tapi nomer kamu tidak aktif." Ujar Rea.
" Maafkan aku sayang, ponselku mati karena kehabisan daya, dan kebetulan aku tidak bawa chargernya, maafkan aku sayang... Kamu tenanglah aku akan langsung ke sana." Ucap Brayen.
" Iya Mas aku tunggu." Sahut Rea.
" Vanka, Bryan aku tinggal kalian nggak pa pa kan? Aku akan menempatkan satu suster khusus untuk merawat kalian." Ucap Brayen.
" Kalau begitu aku pergi." Ucap Brayen.
" Hati hati Bray, jangan ngebut! Ingat ada Rwa yang sedang menunggumu." Ujar Bryan.
" Ok." Sahut Brayen meninggalkan ruang rawat Vanka dan Bryan.
" Rea kami turut berduka cita ya, semoga Om Ruli di terima semua amal ibadahnya dan di tempatkan di syurganya Allah." Ucap Vanka.
" Amin makasih Van." Sahut Rea.
" Tapi maaf ya aku dan Mas Bry tidak bisa ikut Kak Brayen ke sana, keadaan kami masih lemah Re, sekali lagi maaf ya, semoga kamu di beri ketabahan dan keikhlasan." Ucap Vanka.
" Terima kasih Van, tidak masalah jika kalian tidak datang, semoga cepat sembuh ya, aku akan kembali setelah acara tujuh hari Ayahku nanti." Ucap Rea.
" Iya kami menunggumu." Sahut Vanka.
" Ya udah Van aku mau mengurus pemakaman Ayahku dulu." Ujar Rea.
" Iya jaga diri dengan baik ya." Sahut Vanka menutup panggilan teleponnya.
Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota kediaman mertuanya. Butuh waktu hampir dua jam untik sampai ke rumah Rea. Di sana sudah banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa kepada Rea. Brayen segera turun dari mobil dan menghampiri para pelayat.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." Ucap Brayen.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Para pelayat.
" Oh ini suaminya Nak Rea ya." Tanya Pak Rt.
" Iya Pak." Sahut Brayen menyalami para pelayat pria.
" Sampai pangling saya Nak Dirga, sekarang Nak Dirga tambah keren." Ujar Pak Rt.
" Pak Rt bisa aja, kalau begitu saya ke dalam dulu ya Pak, mau menemui istri saya." Ucap Brayen.
" Silahkan Nak Dirga." Sahut Pak Rt.
Brayen masuk ke dalam rumah menghampiri Rea yang sedang menangis di depan jasad ayah mertuanya.
Deg...
Langkah Brayen terhenti saat melihat Rea menyandarkan kepalanya ke bahu seorang pria. Hatinya bagai di sayat sembilu melihat semua itu, Ia merasa menjadi seorang suami yang tidak berguna. Di saat istrinya dalam keadaan terpuruk Ia tidak ada di sampingnya.
" Sayang." Panggil Brayen membuat Rea menoleh ke arahnya.
" Mas Dirga." Lirih Rea.
Rea beranjak mendekati Brayen.
" Mas." Ucap Rea memeluk Brayen. Brayen membalas pelukan Rea.
" Mas ayah Mas... Ayah pergi meninggalkan aku sendirian." Isak Rea.
" Stt... Jangan pernah mengatakan hal itu lagi sayang, ada aku di samping kamu, ada Papa, Mama, Bryan dan Vanka, kamu jangan khawatir sayang, kamu tidak sendirian." Ujar Brayen mengelus punggung Rea.
" Maafkan aku yang tidak ada di saat kamu seperti ini, maafkan aku karna aku menjadi suami yang tidak berguna, aku menyesal telah meninggalkanmu sendirian di sini, seharusnya aku menemanimu di sini dan tidak mementingkan pekerjaanku." Sesal Brayen.
" Jangan menyalahkan diri sendiri Mas, kamu seorang Dokter yang harus stand by di rumah sakit, aku tidak masalah kok yang penting saat ini kamu sudah berada di sini." Ujar Rea memahami kesibukan Brayen.
" Terima kasih sayang sudah memahamiku." Sahut Brayen mencium kening Rea.
Saat mengantar Rea, Brayen sudah menawarkan diri untuk menemani Rea merawat Ayahnya, namun Rea menolaknya karena Brayen akan mengajukan cuti untuk beberapa hari atau bahkan beberapa minggu dan itu akan memperburuk citra Brayen sebagai seorang Dokter.
" Sekarang jangan menangis lagi ya." Ujar Brayen menangkup wajah Rea. Rea menganggukkan kepalanya.
Semua kejadian itu di saksikan oleh Revan. Hatinya sakit saat melihat Rea begitu bahagia bersama pria lain yang tak lain adalah suaminya.
" Aku tidak mungkin tega merenggut kebahagiaanmu Rea.... Melihat kau sudah bahagia bersama suamimu aku pun ikut bahagia." Batin Revan.
TBC....
Jangan lupa untuk like dan koment, vote serta hadiahnya ya....
__ADS_1
Miss U All...