Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
40. After Wedding


__ADS_3

Setelah para tamu undangan pulang ke rumah masing masing, kini keluarga Permana duduk berkumpul di tempat acara. Vanka duduk di sebelah Bryan, Mama Kia duduk di sebelah Papa Indra, dan Pak Ruli duduk di kursi single, jangan tanyakan pengantin baru, mereka pasti duduk berdampingan.


" Vanka sebenarnya aku masih bingung dengan apa yang terjadi hari ini, seharusnya kan aku menikah dengan Revan, tapi kenapa Revan malah tidak datang? Apa kau tahu soal ini?" Tanya Rea menatap Vanka.


Vanka tersenyum mendengar ucapan Rea yang polos. Padahal usianya lebih tua darinya.


" Kak Rea, apa kamu pikir kalau beneran Revan yang akan menikahimu dia tidak akan datang di hari pernikahannya sendiri? Apa kau yakin dia akan melakukan itu?" Bukannya menjawab Vanka justru balik bertanya. Rea menggelengkan kepalanya.


" Nah itulah jawabannya." Sahut Vanka. Rea mengerutkan keningnya masih tidak paham dengan jawaban Vanka.


" Kamu pikir siapa yang mengirim cincin pertunangan itu kepada Kakak?" Tanya Vanka.


" Nggak tahu." Sahut Rea menggelengkan kepalanya.


" Aku tahunya itu dari Revan." Sambung Rea.


" Kalau dari Revan, kenapa bukan Revan sendiri yang datang memberikannya kepadamu? Itu karena cincin itu dari kami Kak." Sahut Vanka.


" Apa? Dari kalian? Berarti yang melamarku itu kalian? Bukan Revan?" Tanya Rea terkejut.


" Ya... Kami melamarmu untuk Kak Bray." Sahut Vanka.


" Vanka panggil aku Rea saja, aku tidak nyaman kamu panggil Kakak, lagian kita seumuran kan." Ujar Rea.


" Baiklah Rea." Sahut Vanka


" Lalu surat perjanjian pernikahan dengan Revan yang aku tanda tangani waktu itu? Apa itu palsu? Apa kalian mencoba membodohiku dengan semua ini?" Tanya Rea menatap Vanka.


" Bukan membodohi Rea, tapi memberikan kejutan untuk kalian berdua." Ujar Vanka.


" Jadi semua ini hanya sandiwara saja, semua ini rencanamu begitu." Ucap Rea.


" Tepat sekali, kami ingin mempersatukan dua sejoli yang tidak bisa mengungkapkan isi hati mereka dengan cara memberikan kejutan ini." Ujar Vanka.


" Kau membuatku hidupku jungkir balik Vanka." Keluh Rea.


" Salah sendiri nggak mau saling mengungkapkan cinta kalian, kalau menunggu kalian bertindak yang ada kamu bakal nikah sama Revan duluan Rea." Ujar Vanka.


" Nggak boleh." Sahut Brayen.


" Kalau Pak Ruli merestui, kamu mau apa? Buktinya kamu hanya diam saja kan saat aku membawa Rea ke pelaminan." Ucap Vanka menohok hati Brayen.


" Iya kamu benar, terima kasih sudah menyatukan kami, tanpa bantuanmu mungkin aku akan kehilangan kembali wanita yang aku cintai, kau menyadarkanku akan perasaanku kepada Rea Van, terima kasih." Ucap Brayen.

__ADS_1


" Its ok." Sahut Vanka.


" Apa penyakit Ayah juga bagian dari sandiwara ini?" Tanya Rea menatap Pak Ruli.


" Iya sayang." Sahut Pak Ruli.


" Astaga Ayah.... Aku sampai hampir mati jantungan saat mendengar Ayah sakit, aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan nasib Ayah dan nasib pernikahanku dengan Revan yang akan aku jalani Yah, Ayah tega sama aku." Gerutu Rea.


" Maafkan Ayah sayang, Ayah tertarik dengan rencana Vanka untuk menyatukan kalian jadi ya Ayah ikuti saja permainannya." Sahut Pak Ruli.


" Ayah...." Rengek Rea.


" Tapi gimana? Apa kalian suka kejutan dari kami?" Tanya Mama Kia kepada pengantin baru.


Rea dan Brayen saling melempar tatapan. Keduanya tersenyum bahagia.


" Iya Ma, terima kasih sudah membantu Bray untuk mendapatkan Rea." Sahut Brayen.


" Kalau kamu gimana Rea? Apa kamu bahagia menikah dengan Bray?" Tanya Mama Kia.


" Iya Tante." Sahut Rea.


" Lhoh kok Tante si? Panggil Mama donk kan sekarang kamu sudah menjadi anak Mama." Ujar Mama Kia.


" I... Iya Ma." Sahut Rea.


" Terima kasih Ma." Ucap Brayen dan Rea bersamaan.


Setelah itu Pak Ruli dan Papa Indra saling berbincang bincang tentang keluarga masing masing. Terutama tentang bisnis yang sedang mereka jalani di desa mereka masing masing.


Vanka berjalan menuju taman yang ada di sebelah gedung tersebut. Ia duduk di bangku yang terletak di bawah pohon rindang. Ia nampak sedang melamunkan sesuatu sambil menatap tatanan bunga yang nampak indah dan rapi.


" Ada apa sayang? Kenapa kamu melamun sendiri di sini hmm?" Tanya Bryan duduk di samping Vanka.


Vanka hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depan.


" Apa kamu sedih karena Bray menikah dengan wanita lain?" Tanya Bryan membuat Vanka menatap ke arahnya.


" Kenapa kamu berpikiran seperti itu Mas? Apa aku terlihat masih menyimpan perasaan untuknya?" Tanya Vanka.


" Mas hanya bertanya padamu sayang, buktinya sekarang kamu terlihat sedih kan." Ujar Bryan mengelus kepala Vanka.


" Siapa wanita yang tadi mengobrol denganmu? Apa dia gebetan barumu?" Tanya Vanka tanpa menatap Bryan.

__ADS_1


" Apa?" Tanya Bryan.


" Wanita yang mana?" Sambung Bryan.


" Wanita yang mencium pipimu dan memelukmu saat di depan meja prasmanan." Ucap Vanka.


Glek....


Bryan menelan kasar salivanya. Ya memang saat acara perjamuan para tamu, Bryan di hampiri oleh seorang wanita canti yang tak lain teman semasa putih abu abunya dulu. Dan sialnya wanita itu menyukai Bryan dari dulu sampai sekarang.


" Siapa dia Mas? Kenapa kamu diam saja?" Tanya Vanka.


" Dia teman SMA Mas Dek, Mas tidak punya hubungan apa apa dengannya, Mas juga tidak menyangka jika tiba tiba dia mencium Mas, Mas kira kamu tidak melihatnya." Ujar Bryan.


" Jika aku tidak melihatnya, apa yang akan kamu lakukan kepadanya? Apa kamu akan membalas ciumannya?" Kesal Vanka menyilangkan tangannya di depan dadanya.


" Bukan begitu sayang, kalau Mas mau membalasnya sudah Mas lakukan sayang, kan Mas nggak tahu kalau kamu melihat semua itu, Mas minta maaf jika membuatmu bersedih." Ujar Bryan.


" Kata siapa aku bersedih?" Tanya Vanka membuat Bryan mengerutkan keningnya.


" Aku malah senang jika itu terjadi, aku tidak keberatan untuk melepasmu Mas." Sahut Vanka.


" Apa maksudmu Vanka?" Tekan Bryan.


" Tidak bermaksud apa apa." Sahut Vanka enteng.


" Sayang maafkan Mas karna Mas sudah membuatmu kesal, marah ataupun kecewa, tapi Mas mohon jangan pernah berpikir untuk berpisah dari Mas." Ucap Bryan menggenggam tangan Bryan.


" Tau ah Mas, aku lagi nggak mood membahas soal itu." Ketus Vanka menarik tangannya.


Vanka berjalan meninggalkan Bryan yang sedang duduk sendiri. Bryan menyugar kasar rambutnya, Ia merasa frustasi dengan emosi Vanka yang labil.


" Begini banget ya menikah sama abg, harus banyak banyak sabar dalam menghadapinya." Monolog Bryan.


" Tapi kenapa Vanka sepeeti ini ya? Padahal dulu saat awal menikah tidak seperti ini, dia kalem kalem aja, bahkan tidak pernah berbicara kasar padaku, tapi kenapa sekarang dikit dikit marah, dikit dikit ngambek, apa dia dalam masa pms ya?" Ujar Bryan bertanya tanya sendiri.


Bantu jawab pertanyaan Bryan donk!!!!!


Biar Bryan nggak penasaran hhhh


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya yang banyak biar author semangat melanjutkan ceritanya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author..... Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2