
Pagi ini Indra merasakan pusing dan lemas pada tubuhnya saat bangun tidur. Indra menoleh ke samping dimana Kia sedang tertidur pulas sambil memunggunginya.
" Sayang..." Ucap Indra mengguncang pelan bahu Kia. Kia tidak bergeming.
" Yank..." Indra mencoba membangunkan Kia lagi. Kali ini Kia meresponnya.
" Hmmm." Gumam Kia.
Kia mengerjapkan matanya, Ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Indra.
" Kenapa Mas?" Tanya Kia dengan suara serak khas bangun tidur.
" Aku mau ke kamar mandi, Tapi rasanya pusing sama lemas banget Yank, Nggak bisa jalan sendiri." Ucap Indra.
" Mas sakit?" Tanya Kia menempelkan tangannya pada dahi Indra.
" Nggak tahu." Sahut Indra.
" Sedikit demam sepertinya Mas, Ayo aku bantu." Ujar Kia.
Dengan pelan Kia membantu Indra bangun, Lalu Ia memapah Indra menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Kia mendudukkan Indra di atas closet.
" Mas mau ngapain?" Tanya Kia memastikan.
" Pip*s." Sahut Indra.
Kia membantu Indra membuka celana pendeknya kalau yang lainnya Indra bisa buka sendiri.
" Aku tunggu di luar Mas." Ujar Kia.
" Hmmm." Gumam Indra.
Kia keluar kamar mandi menunggu Indra di depan pintu, Setelah beberapa lama akhirnya Indra selesai juga dengan urusannya.
" Yank..." Panggil Indra.
" Iya Mas." Sahut Kia masuk ke dalam kamar mandi. Kia kembali membantu Indra.
Saat Kia hendak memapah Indra tiba tiba...
Huek...
Indra menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Mas mual? Sini di wastafel aja." Ujar Kia menuntun Indra ke depan wastafel.
Huek.... Huek....
Indra mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan kuning saja.
" Pahit Yank." Ujar Indra.
" Nanti aku kasih permen." Sahut Kia.
Huek....Huek...
" Mas tunggu sini dulu, Aku ambil minum biar mutahnya lancar jadi tenggorokkannya nggak sakit." Ujar Kia keluar kamar mandi mengambil segelas air putih.
" Ini Mas minum dulu." Ucap Kia menyodorkan segelas air putih ke arah Indra. Indra segera meminumnya dengan tandas.
Huek... Huek....
Kia memijat tengkuk Indra.
Huek.... Huek
" Sepertinya kamu masuk angin Mas... Aku kerikin ya." Ujar Kia. Ia tidak tega melihat Indra seperti itu. Kia merasa kasihan dengan kondisi Indra saat ini.
Indra membersihkan mulutnya dengan tisu, Kia segera memapah Indra kembali menuju ranjangnya. Ia merebahkan pelan tubuh Indra di atas ranjang. Kia mengambil koin sama minyak kayu putih untuk mengerik tubuh Indra.
" Sini Mas." Ucap Kia.
" Nggak mau Yank... Aku nggak biasa di kerikin." Ujar Indra.
"Baiklah, Aku telepon Papa Anton dulu Mas biar meriksa kamu." Ucap Kia.
__ADS_1
Kia segera menelepon Papa Anton untuk meminta bantuannya. Sambungan terhubung hingga beberapa saat akhirnya Papa Anton mengangkat teleponnya.
" Hallo Ki, Assalamu'alaikum." Sapa Papa Anton.
" Wa'alaikumsallam Pa... Pa bisa tolong ke sini? Mas Indra sakit." Ujar Kia.
" Baiklah Papa akan segera ke sana sama Mama kamu, Dia kenapa? Biar sekalian Papa beli obatnya di apotik." Ujar Papa Anton.
" Mas Indra merasa pusing sama mutah mutah Pa... Sepertinya masuk angin." Sahut Kia.
" Baiklah... Papa ke sana sekarang." Ucap Papa Anton.
" Makasih Pa, Assalamu'alaikum." Ucap Kia.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa memutuskan sambungan teleponnya. Kia meletakkan teleponnya di atas nakas. Ia menghampiri Indra yang sedang mendengkur di kasur.
" Mas aku buatin susu jahe hangat mau?" Tanya Kia. Indra menggelengkan kepalanya.
" Biar hangat Mas, Biar mualnya reda." Ujar Kia.
" Mas mau mutah lagi Yank." Ucap Indra.
" Aku ambil ember aja Mas biar kamu nggak bolak balik kamar mandi." Kia segera mengambil ember di dalam kamar mandi. Kia memang selalu menaruh ember di sana, Karna biasanya kalau baju kotornya sedikit, Ia suka mencuci dengan tangan di dalam kamar mandi.
" Sini Mas." Kia meletakkan ember di bawah ranjang.
Huek...Huek...
Indra mutah lagi membuat Kia khawatir, Apakah Indra keracunan? Atau hanya masuk angin biasa? Saat ini Kia sedang berperang dengan pikirannya.
" Sayang..." Ucap Mama Meri menghampiri mereka berdua.
" Kenapa bisa begini sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Mama.
" Nggak tahu Ma... Saat bangun tidur Mas Indra ngeluh pusing sama Mual... Kia takut Mas Indra kenapa napa Ma..." Cemas Kia.
" Tenanglah sayang biar Papamu yang periksa." Ujar Mama Meri.
Papa Anton memeriksa Indra dengan teliti.
" Apa sini sakit?" Tanya Papa Anton menekan ulu hati Indra.
" Enggak Pa." Lirih Indra.
" Rasanya mutah karena perih apa karena mual saja?" Tanya Papa.
" Mual aja Pa, Penginnya mutah terus." Sahut Indra.
" Sepertinya yang di periksa harus kamu Ki." Ujar Papa Anton.
" Kok aku Pa? Kan mas Indra yang sakit." Ujar Kia.
" Untuk memastikan saja." Sahut Papa Anton.
" Yank pengin buah sirsak." Ucap Indra tiba tiba.
" Hahhhhh??? Sirsak?" Tanya Kia melongo.
" Iya.. Cepet beliin aku pengin buah sirsak sekarang Yank." Sahut Indra.
" Pagi pagi gini?" Kia kembali bertanya.
" Iya Yank.... Cepet beliin sekarang." Rengek Indra.
Mama Meri menatap Papa Anton meminta jawaban dari isyarat matanya, Papa Anton hanya mengedikkan bahunya saja.
" Mas ini masih pagi banget lhoh.... Baru jam setengah enam, Terus aku harus nyari di mana? Toko buah juga belum pada buka Mas." Ucap Kia.
" Supermarket Yank...." Sahut Indra.
" Nggak mau ah.. Jauh jauh ke supermarket cuma mau beli sirsak doank, Ya kalau ada kalau nggak ada cuma capek doank." Ujar Kia.
Huek.... Indra mutah lagi.
" Ya ampun Mas... Kamu kenapa sih???" Gumam Kia.
__ADS_1
" Sepertinya obat untuk mengurangi mualnya ya sirsak itu Ki, Indra akan berhenti mual kalau bisa makan sirsak." Ujar Papa Anton.
" Kasih obat aja Pa biar mualnya reda." Ucap Kia.
" Nggak bisa sayang, Indra maunya sirsak ya harus sirsak yang dia makan."Ujar Mama Meri.
" Ckkk kaya' orang ngidam aja." Gumam Kia tanpa sadar. Mama Meri dan Papa Anton saling pandang sambil tersenyum simpul.
Kia mengambil tas selempang dan kunci mobilnya. Ia akan menyusuri jalanan mencari buah sirsak yang Indra minta.
" Ma Kia titip Mas Indra ya..." Ucap Kia sambil menyalami Mama dan Papa mertuanya.
" Iya hati hati, Harus dapat." Ujar Mama.
" Assalamu'alaikum." Ucap Kia.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa dan Mama bersamaan.
Kia melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota, Tak terasa sampai di supermarket terdekat pun Ia tidak menemukan penjual buah Sirsak di pinggiran jalan. Kia memarkirkan mobilnya ke parkiran supermarket. Ia segera turun dari mobilnya.
Kia masuk ke dalam dan langsung menuju stand buah, Ia mencari cari buah sirsak, Sampai matanya melihat satu buah sirsak berukuran sedang. Saat Ia akan mengambil sirsak tersebut tiba tiba ada tangan lain yang menyentuh tangannya. Kia menoleh ke belakang yang ternyata seorang pria.
" Maaf Mas saya duluan yang mendapatkannya." Ucap Kia karna memang tangan Kia dulu yang menyentuh sirsaknya.
" Buat saya aja ya Mbak... Soalnya Kakak saya lagi ngidam buah sirsak." Ujar pria itu.
" Saya juga lagi ngidam buah ini Mas... Saya sudah mencarinya kemana mana tapi nggak dapat." Sahut Kia.
" Gimana kalau kita bagi dua aja? Pleaseee." Ujar pria itu.
" Baiklah." Sahut Kia mengalah.
Akhirnya Kia memanggil pelayan untuk memintanya membelah buah sirsak itu.
" Oh ya kenalin... Aku Aldi." Ucap Pria yang bernama Aldi sambil mengulurkan tangannya.
" Kia." Sahut Kia tanpa membalas uluran tangan Aldi. Kia meninggalkan Aldi yang sedang mematung menatap kepergiannya.
" Menarik.... Tapi sayang dah punya suami." Monolog Aldi.
Setelah membayarnya di kasir, Kia segera melajukan mobilnya menuju rumahnya kembali. Sesampainya di rumah, Kia segera mencuci buah sirsak itu lalu meletakkannya di atas piring. Kia berjalan menuju kamarnya.
" Ini Mas.." Ucap Kia menghampiri Indra yang sedang tiduran di kasur dengan wajah pucat.
" Kok cuma separuh? Aku mau yang utuh Yank." Ujar Indra.
" Nggak ada Mas... Ini aja nyarinya sampai pusat kota, Tadi ada yang mau juga, Kakaknya lagi ngidam jadi ya aku bagi aja, Kan kasihan kalau ngidam nggak keturutan entar bayinya ngencesan tau Mas." Celoteh Kia.
" Ngidam??" Tanya Indra menatap Kia.
" Iya." Sahut Kia singkat.
" Jangan jangan aku juga lagi ngidam Yank, Itu berarti kamu sedang hamil." Ujar Indra dengan mata berbinar.
" Jangan terlalu berharap Mas, Aku takut kamu kecewa." Lirih Kia berjalan keluar kamarnya.
" Yank... Maaf." Ucap Indra
Kia meninggalkan Indra, Ia berjalan keluar menuju taman belakang rumahnya. Entah mengapa hatinya sangat sensitif jika menyangkut kehamilan. Ia selalu merasa khawatir jika dirinya tidak bisa mengandung lagi, Ia akan semakin sedih karna sepertinya Indra begitu mengharapkan kehamilannya.
" Kapan kamu akan hadir kembali di sini? Mama akan sangat menantikanmu sayang.... Cepatlah hadir jangan buat Papamu kecewa..." Ujar Kia dalam hati sambil mengelus perut ratanya.
**TBC....
Jangan lupa like vote dan komentnya donk...
Baca juga cerita author yang lain ya..
...Menjadi Mommy anak Bosku...
...& ...
...Suamiku Kakak Angkatku**...
Miss U Alllll......
__ADS_1