
Malam ini Kia sedang membantu Indra bersiap, Keduanya akan menghadiri acara jamuan makan malam di rumah Tuan Wilson dari keluarga Mahendra.
" Mas pakai kemeja aja nggak usah pakai Jas, Sama celananya pakai jeans aja." Usul Kia.
" Nanti kelihatan tampan nggak Yank? Aku nggak mau kalau Wilson yang kelihatan lebih tampan dariku." Ucap Indra.
"Ya tetap tampanan Mas gantengku kemana mana donk." Ujar Kia.
" Aku sebenarnya malas Yank, Entah mengapa perasaanku tidak enak, Aku tahu dia itu tertarik padamu Yank, Aku takut terjadi sesuatu padamu." Ujar Kia memeluk pinggang Kia, Menciumi perut Kia yang sudah terlihat membuncit.
" Kita pasrahkan pada yang Kuasa saja Mas, Semoga kita selalu dalam lindungannya." Ucap Kia.
" Semoga sayang." Sahut Indra.
" Hai anak Daddy, Sedang apa nih di dalam sana?" Tanya Indra menempelkan telinganya ke perut Kia.
Dugh...
" Ah dia nendang Yank." Pekik Indra.
" Dia menciummu Mas." Ujar Kia.
" Iya, Anak Daddy kan sangat menyayangi Dadnya." Sahut Indra.
" Kenapa Bang Rey belum datang juga? Udah jam berapa nih?" Gerutu Kia.
" Sebentar lagi Yank mungkin sedang memenuhi keinginan Cindi." Ujar Indra.
" Mungkin." Sahut Kia.
Setelah Rey datang Kia dan Indra segera memasuki mobilnya, Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah dua puluh menit akhirnya mereka sampai di kediaman Wilson Mahendra.
Mereka telah di sambut oleh beberapa pelayan rumah, Mereka mempersilahkan ketiganya untuk langsung menuju meja makan.
" Silahkan duduk dulu Tuan Tuan dan Nona, Tuan Wilson akan segera turun." Ucap Pelayan setelah sampai di meja makan.
Benar saja tak lama setelah itu Wilson turun dari tangga, Matanya menatap Kia tanpa berkedip, Indra dan Rey menyadari akan hal itu.
" Malam Tuan Rey, Tuan Indra dan Nona Kia." Sapa Wilson.
" Malam Tuan." Sahut Rey.
" Suatu kehormatan bagi saya orang besar seperti anda mau memenuhi undangan orang kecil seperti saya Tuan Indra, Ini sebagai rasa terima kasih saya karena anda mau bekerja sama dengan perusahaan kecil milik saya." Ujar Wilson.
" Tidak masalah Tuan Wilson, Ini bukan untuk yang pertama kalinya saya memenuhi undangan dari rekan bisnis saya." Sahut Indra.
" Kalau begitu mari kita mulai makan malamnya." Ucap Wilson.
Tak henti hentinya Wilson melirik Kia, Tangannya mengepal saat melihat Kia melayani Indra dengan baik dan terus tersenyum. Mereka makan dengan khidmat. Wilson memberi kode kepada pelayan untuk menyajikan minuman untuk mereka semua.
" Silahkan di minum Tuan." Ucap Pelayan menyajikan minuman di depan meja masing masing.
" Terima kasih." Ucap Kia tersenyum manis.
Selesai makan mereka sedikit berbincang hingga Indra berpamitan pulang karena semakin larut malam.
" Terima kasih atas jamuan makan malamnya Tuan Wilson, Lain kali saya yang akan mengundang anda untuk mencicipi masakan istri saya." Ucap Indra.
" Sama sama Tuan Indra saya menanti undangan Anda." Sahut Wilson.
Rey melajukan mobilnya menuju rumah Indra, Saat sampai di tengah perjalanan tiba tiba Indra mengalami kejang.
" Mas kenapa denganmu Mas?" Pekik Kia.
" Kenapa Ki?" Rey menoleh ke belakang, Ia terkejut melihat tubuh Indra yang kejang.
" Bang langsung ke rumah sakit." Titah Kia.
__ADS_1
Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Kia menangis sambil menggenggam tangan Indra. Sampai di rumah sakit Indra segera di tangani Dokter.
" Bang Hikss... Hiks... Ada apa dengan Mas Indra?" Isak Kia mondar mandir di depan ruangan ICU.
" Tenanglah Ki semoga Indra baik baik saja." Ujar Rey menenangkan Kia.
Ceklek...
" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Kia menghampiri Dokter yang baru keuar dari ruangan.
" Untuk memastikan dugaan saya maka saya harus melakukan beberapa tes Nona, Saya akan mengetahui hasilnya besok pagi, Sekarang Tuan Indra masih belum sadarkan diri." Jelas Dokter.
" Saya akan konsultasikan kepada Dokter Anton, Saya permisi." Sambung Dokter.
Tubuh Kia luruh ke lantai, Ia tak kuasa menahan cemas dan khawatir dalam dadanya. Indra belum sadarkan diri? Sepertinya Ia mengalami sesuatu yang sangat serius.
" Bertahanlah Mas demi kami, Hiks... Sayang doakan agar Daddy cepat sadar Nak." Ucap Kia mengelus perutnya.
" Sabar Ki, Indra pasti akan segera sadar." Ujar Rey.
" Makasih Bang." Sahut Kia.
Kia dan Rey mengikuti Suster untuk memindahkan Indra ke ruang rawat.
" Ki kamu istirahat aja, Biar aku yang jaga Indra." Ucap Rey setelah Indra di pindahkan ke ruangan rawat inap.
" Baiklah Bang." Sahut Kia.
Kia merebahkan tubunya ke sofa, Ia sangat lelah hari ini, Lelah hati dan pikiran. Tak terasa Ia memejamkan matanya merasuk ke dalam alam mimpi.
Pagi harinya Kia menemui Dokter di ruangannya, Di sana juga ada Papa Anton yang sedang berdiskusi dengan Dokter yang menangani Indra tadi malam. Dokter Veri namanya.
" Pa." Sapa Kia menyalami Papa mertuanya.
" Duduk sayang ada yang ingin Papa jelaskan padamu." Ucap Papa Anton menepuk sofa di sebelahnya.
" Ada apa Pa? Apa terjadi hal yang serius dengan Mas Indra?" Tanya Kia menatap Papa Anton.
" Apa? Lalu Mas Indra bagaimana Pa?" Tanya Kia.
" Selama kita belum menemukan penawarnya maka Indra tidak akan sadarkan diri, Ia seperti orang koma, Dan jika kita terlalu lama mendapatkan penawarnya maka tubuh Indra akan mengalami lumpuh total seumur hidupnya." Ucap Papa Anton.
" Ya Allah Mas Indra, Kenapa bisa begini Pa? Cacat tangan saja membuat Mas Indra down apalagi jika lumpuh total seumur hidupnya? Apa yang akan dia lakukan?" Pekik Kia tak percaya. Air mata menetes begitu saja.
" Pa bagaimana bisa Mas Indra mengkonsumsi ramuan itu? Siapa yang memberikannya?" Tanya Kia.
" Biasanya ramuan itu di campurkan ke dalam makanan Ki." Ujar Papa Anton.
" Makanan?" Gumam Kia.
" Wilson." Geram Kia.
" Siapa Wilson? Apa hubungannya dengan semua ini?" Selidik Papa Anton.
Kia menceritakan siapa Wilson dan tentang perjamuan makan malam sampai Indra mengalami kejang dan berakhir di rumah sakit ini.
" Bisa jadi dia mencampurkan ramuan itu pada makanan atau minuman Indra." Ujar Papa Anton.
" Saya rasa pasti ke minumannya Dok, Karena jika makanan harusnya Nona Kia juga ikut kejang." Sahut Dokter Veri.
" Kau benar Ver, Berarti ada kemungkinan Wilson punya penawarnya, Tapi apa tujuan Wilson melakukan semua ini? Jika dendam tidak mungkin, Indra bahkan tidak mengenalnya." Ujar Papa Anton.
" Aku akan ke sana biar semuanya jelas Pa." Ucap Kia.
" Tapi kau harus hati hati, Telepon Papa jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu." Ujar Papa Anton.
" Baik Pa, Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum Pa Dok." Ucap Kia menyalami Papa Anton dan Dokter Veri.
__ADS_1
" Wa'alaikumsallam." Sahut keduanya.
Kia melajukan mobilnya menuju kediaman Wilson. Sesampainya di sana sama seperti tadi malam, Ia di sambut oleh para pelayan.
" Apa seperti ini cara penyambutan tamu di rumah ini?" Batin Kia
Kia duduk di ruang tamu menunggu Wilson turun.
" Ada perlu apa pagi pagi kau sudah sampai sini Nona Kia?" Tanya Wilson duduk di sebrang Kia.
" Ramuan apa yang anda campurkan pada minuman suamiku?" Tanya Kia to the point.
" Ramuan itu sudah beraksi?" Bukannya menjawab Wilson justru balik bertanya.
" Jadi benar anda yang mencampurkan ramuan itu?" Selidik Kia.
" Bukan aku tapi pelayanku." Sahut Wilson tenang.
" Kenapa kamu tega melakukan itu pada suami saya Wilson?" Bentak Kia menanggalkan kesopanannya.
" Wow aku suka yang kasar seperti ini, Rasanya pasti lebih menantang." Ucap Wilson.
" Apa maksudmu Wilson? Apa suamiku bersalah padamu?" Tanya Kia.
" Ya.. Dia bersalah karena lebih dulu memilikimu, Aku mencintaimu, Aku tidak rela kau menjadi miliknya jadi aku melakukan semua itu padanya." Terang Wilson.
Kia membulatkan matanya menatap Wilson tak percaya.
" Apa pria sepertimu tidak laku hingga kau mau merebut istri orang?" Ejek Kia.
" Aku tidak pernah tertarik kepada wanita selain dirimu, Aku hanya butuh mereka untuk menghangatkan ranjangku, Tapi aku butuh dirimu untuk menjadi pendampingku." Sahut Wilson tanpa malu.
" Cassanova... Menjijikkan." Cebik Kia.
" Tapi tenanglah jika aku sudah menikahimu aku tidak akan menyentuh para wanita itu." Ujar Wilson dengan percaya diri.
" Khayalanmu terlalu tinggi Tuan Wilson, Tidak ada wanita yang mau mendampingi pria sepertimu." Sahut Kia tak mau kalah bahkan Ia lupa dengan tujuannya kemari.
" Kau akan menikah denganku karena kau butuh penawar itu." Ucap Wilson.
" Ah iya penawar itu, Mengapa aku sampai melupakannya?" Batin Kia.
" Aku memang butuh penawar itu tapi tidak menikah denganmu, Aku akan memberikan berapapun yang kau mau." Tegas Kia.
" Berapapun? Bagaimana jika semua harta yang Indra miliki, Aku yakin kau pasti akan meninggalkan Indra jika dia jatuh miskin." Ucap Wilson menyeringai.
" Aku akan berikan semuanya tanpa terkecuali asalkan Mas Indra bisa bebas dari ramuan sialan itu, Aku rela mengorbankan hartaku demi cintaku." Sahut Kia.
Wilson melongo mendengar jawaban Kia. Ia semakin tertantang untuk mendapatkan Kia. Ya Kia harus jadi miliknya.
" Sekarang pergilah karena kau tidak akan mendapatkan penawar itu, Aku tidak butuh harta suamimu." Usir Wilson.
" Lalu apa yang kamu butuhkan?" Tanya Kia.
" Dirimu, Ceraikan indra lalu menikahlah denganku, Aku akan menanggap anakmu sebagai anakku, Kita akan merawatnya bersama sama sampai dia dewasa dan mempunyai adik yang banyak." Cerocos Wilson membuat Kia semakin eneg.
" Jika aku tidak mau?" Ucap Kia.
" Kau akan melihat Indra mati pelan pelan karena ramuan itu akan menggrogoti daya tahan tubuhnya, Cepat putuskan lebih cepat lebih baik." Ucap Wilson.
Kia berpikir sejenak, Bagaimanapun caranya Ia harus mendapatkan penawar itu. Urusan menggagalkan pernikahan konyol ini belakangan. Wilson tidak tahu dia berhadapan dengan siapa.
" Baiklah aku akan menuruti keinginanmu, Siapkan semuanya dan berikan penawar itu padaku." Ucap Kia tanpa ragu.
" Tanda tangani surat perceraian itu dulu." Wilson melempar kertas gugatan cerai beserta ballpointnya.
TBC......
__ADS_1
*Udah panjang ya babnya lanjut ke bab selanjutnya... Jangan lupa like dan komentnya...
Miss U All*...