Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Surprise


__ADS_3

Pagi ini Cindi sedang memakaikan baju Arsya, Hari ini Ia ada janji mau bermain ke rumah Kia.


" Yank lihat rekaman cctv ruanganku, Kamu akan tahu jika aku tidak ada hubungan apa apa sama dia dan aku tidak bersalah." Ujar Rey menyodorkan ponselnya ke arah Cindi.


" Kau tetap bersalah karena membiarkan wanita itu sampai menciummu, Dan rekaman itu tidak membuktikan jika kau tidak ada hubungan apa apa dengannya Mas, Jadi percuma saja aku melihat rekaman itu." Sahut Cindi.


" Aku minta maaf soal ciuman itu Yank tapi ku mohon percayalah padaku kalau aku tidak selingkuh darimu, Aku tidak berniat sedikitpun untuk mengkhianatimu." Ujar Rey.


Cindi menggendong Arsya berdiri di depan Rey.


" Aku tanya siapa dia sebenarnya?" Selidik Cindi.


" Namanya Rara dia temanku saat kuliah dulu." Sahut Rey jujur.


" Darimana dia tahu kamu bekerja di sana? Dan bagaimana bisa dengan mudah dia masuk ke ruanganmu?" Cindi bertanya lagi.


" E.... E....." Rey menggaruk kepalanya.


" Kamu kontak dia kan? Kamu chat sama dia kan?" Tekan Cindi.


Glek.... Rey menelan kasar ludahnya.


" Kenapa? Nggak bisa jawab? Udah kehabisan cari alasan? Udah nggak bisa ngomong apa apa lagi? Semua benar bukan? Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Cindi dengan senyum kecutnya.


" Ah iya aku tahu...." Ucap Cindi.


" Bukankah seorang istri adalah makmum suaminya? Berarti aku harus mengikutimu kan? Ayo Arsya kita jalan jalan cari Papa baru." Ujar Cindi hendak meninggalkan Rey yang berdiri mematung di sana.


" Mau kemana?" Tanya Rey mencekal tangan Cindi.


" Cari Papa baru." Sahut Cindi.


" Kau tidak bisa melakukan semua ini kepadaku Cindi." Tekan Rey.


" Kenapa tidak bisa? Kamu sepuluh aku sebelas." Lawan Cindi.


" Apa itu?" Rey memicingkan matanya.


" Kamu selingkuh aku balas." Ujar Cindi melepas cekalan Rey.


" Aku nggak selingkuh asal kau tahu Cindi." Ucap Rey.


" Yah baiklah tapi biarkan aku mencari gebetan baru, Setidaknya aku bisa merasakan perhatian orang lain, Atauuuu... Ciuman dari orang lain." Ucap Cindi meninggalkan Rey.


" Cindi." Panggil Rey.


Cindi tidak bergeming, Ia pergi menaiki taksi yang tadi sempat di pesannya menuju rumah Kia.


" Arghhhhh sialll." Umpat Rey menyugar kasar rambutnya.


Taksi yang di tumpangi Cindi terus melaju dengan kecepatan sedang. Sesampainya di rumah Kia, Cindi segera turun dari taksi lalu berjalan masuk ke dalam setelah membayar ongkos taksi tentunya.


" Assalamu'alaikum." Ucap Cindi.


" Wa'alaikumsallam, Hallo Kak Arsya." Kia menoel pipi Arsya.


" Hallo Aunty." Sahut Cindi.


" Ih gemesin deh, Mainan ludah ya dianya." Ujar Kia.

__ADS_1


" Iya makanya rambutku rontok." Sahut Cindi.


" Mana Bray sama Bry?" Tanya Cindi.


" Lagi tidur sama Mas Indra." Jawab Kia.


" Oh tumben jam segini tidur." Ujar Cindi.


" Iya kaya'nya sedikit demam habis di imunisasi." Sahut Kia.


" Oh... Jangan khawatir asal demamnya nggak berkelanjutan insyaallah nggak pa pa Ki." Ujar Cindi.


" Iya tadi juga udah aku kasih paracetamol." Sahut Kia.


Keduanya duduk di kursi ruang tamu membahas sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.


" Pokoknya semuanya udah beres deh." Ucap Cindi.


" Ya udah tinggal nunggu entar malam aja, Maaf ya aku nggak bisa ke sana." Ujar Kia.


" Nggak pa pa Ki, Aku paham kok kamu repot mengurus babby twins, Minta doanya saja." Sahut Cindi.


" Tentu doa terbaik untukmu dan Bang Rey." Ucap Kia.


...****************...


Malam hari Cindi menggendong Arsya sambil membawa kopernya. Rey yang baru pulang kerja merasa kaget melihatnya. Ia segera menghadang Cindi di depan pintu.


" Mau kemana?" Tanya Rey.


" Mau pulang." Sahut Cindi.


" Mau pulang kemana? Ini rumah kamu sayang." Ujar Rey.


" Apa maksudmu sayang? Kamu masih marah padaku? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu Yank." Ucap Rey.


" Lihat...." Cindi menyodorkan ponselnya ke arah Rey.


Rey melihat ponsel Cindi dengan mata membola dan mulut menganga. Bagaimana tidak? Di sana terlihat foto Rey sedang menggendong Rara hendak membuka pintu kamar hotel. Mereka terlihat sangat mesra.


" Apa ini yang kamu bilang tidak mempunyai hubungan apa apa Mas? Berduaan sampai kamar hotel? Apa kamu bisa menjamin kalian tidak melakukan apa apa? Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku Mas? Apa salahku padamu Mas? Apa? Hiks..." Isak Cindi mengusap air matanya.


" Darimana kamu mendapatkan foto ini?" Tanya Rey menatap Cindi.


" Kenapa? Kamu kaget? Tidak perlu tahu darimana aku mendapatkannya yang jelas kamu sudah mengkhianatiku, Aku tidak mau lagi hidup bersama pria sepertimu." Tegas Cindi.


" Sayang ini bohong, Ini pasti editan, Ini palsu sayang... Siapa yang berani menjebakku.. Rara." Geram Rey mengepalkan tangannya.


" Terserah kamu saja." Ketus Cindi meninggalkan Rey yang sedang berdiri mematung dengan pikiran melayang entah kemana hingga Ia tidak menyadari kepergian Cindi.


" Sayang." Teriak Rey mengejar Cindi yang sudah menaiki taksi.


Rey segera berlari menuju mobilnya, Ia melajukan mobilnya mengikuti taksi Cindi dari belakang. Setelah menempuh waktu lima belas menit Cindi turun di depan hotel ternama di kota J.


Deg.... Jantung Rey terasa berhenti berdetak saat melihat seorang pria yang menjemput Cindi di depan lobby. Pria itu merangkul Cindi masuk ke dalam hotel.


Rey turun dari mobil berlari mengikuti Cindi dari belakang. Rey mengepalkan tangannya menatap Cindi yang masuk ke dalam ruang vip hotel tersebut dengan pria yang masih memeluk pinggang Cindi. Rey segera menyusulnya membuka pintunya dengan kasar.


Brakkkk....

__ADS_1


Semua orang menatap ke arahnya. Rey mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan dengan suasana dan dekor pesta. Apa Cindi sedang mengunjungi pesta? Lalu dimana dia? Pikir Rey.


Cindi berjalan dari sela sela orang yang berjajar menatap Rey. Ia terus mendekat ke arah Rey hingga berdiri di hadapan Rey.


" Sayang." Pekik Rey menutup mulutnya sambil tersenyum melihat Cindi berdiri di depannya sambil membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin berbentuk angka dua puluh delapan.


*Happy Birthday to you


Happy Birthday to you


Happy Birthday Happy Birthday


Happy Birthday to you*


" Selamat ulang tahun Mas, Semoga panjang umur, Selalu di beri kesehatan, Selalu dalam LindunganNya, Dan yang terpenting selalu menyayangiku dan anak anak kita, Jangan pernah mengkhianati pernikahan suci kita Mas." Ucap Cindi.


" Terima kasih sayang... Terima kasih sudah membuat hidupku berwarna, Terima kasih udah selalu suport aku,Terima kasih udah menjadi istri dan ibu yang baik untuk kami dan terima kasih udah buat jantungku deg deg an terasa mau copot dari tempatnya, Kejutan ini benar benar membuatku merasa jantungan." Ujar Rey dengan tatapan haru. Ia mengusap air matanya lalu Ia mencium kening Cindi.


" Happy Birthday Rey.. Semoga panjang umur dan sehat selalu, Jangan lupakan ciuman terindahku ya." Ucap Raya sambil menggendong Arsya.


" Kamu?" Ucap Rey dengan tatapan tajamnya.


" Eits jangan gitu donk natapnya, Aku hanya menjalankan perintah dari Cindi, Jadi jika kamu mau marah sana marahin istrimu, Aku yakin kau tidak berani melakukannya." Ujar Raya.


Rey menatap Cindi dengan tatapan nyalangnya.


" Kita bahas nanti sekarang tiup lilin dulu, Semua tamu udah lama menunggu." Ucap Cindi.


Sebelum meniup lilin Rey berdoa terlebih dahulu.Suara tepuk tangan ikut memeriahkan suasana di dalam ruangan itu. Setelah itu Rey memotong kuenya. Potongan pertama Ia berikan kepada istri tercintanya. Suara tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan itu.


Setelah itu para tamu bergantian mengucapkan selamat kepada Rey, Acara di lanjut dengan acara makan makan.


" Kau berhutang penjelesan padaku sayang, Dan kau harus siap menerima hukuman dariku." Bisik Rey di telinga Cindi. Saat ini mereka sedang duduk di kursi meja vip.


" Akan aku tunggu hukuman darimu Mas." Sahut Cindi mengerlingkan matanya.


" Nakal kamu ya." Ucap Rey mencubit hidung Cindi.


" Kak Indra dan Kia minta maaf karena tidak bisa hadir di sini Mas, Tapi mereka mengucapkan selamat ulang tahun untukmu." Ucap Cindi.


" Tidak masalah aku tahu mereka tidak mungkin membawa babby twins ke sini malam malam." Sahut Rey.


" Dan ini semua kejutan dari mereka." Ujar Cindi.


" Jadi mereka yang merencanakan semua ini?" Cindi menganggukkan kepalanya.


" Termasuk membawa Raya ke hadapanku?" Tanya Rey.


" Iya." Sahut Cindi.


" Benar benar tuh pasangan gak ada akhlak, Aku sampai jantungan Yank takut kamu benar benar pergi meninggalkan aku." Ujar Rey.


" He he maaf Mas, Tapi aku rasa aktingku kurang dapat fellnya deh nggak kaya' Kia kalau akting meyakinkan banget." Ujar Cindi.


" Jangan bandingkan kamu dengannya sayang... Kalah jauh tapi aktingmu sudah buat aku deg deg an kok." Sahut Rey merangkul pundak Cindi.


" Iya deh maaf." Ucap Cindi.


Mereka melanjutkan pesta hingga jam dua belas malam. Rey merasa lega karena ternyata semua ini hanya prank dari istrinya saja.

__ADS_1


TBC...


Jangan lupa like dan komentnya ya...


__ADS_2