
Bryan menggandeng Vanka menuju poli kandungan. Sesampainya di sana keduanya di minta masuk ke dalam oleh suster yang membantu Dokter Reni.
" Pagi Dok." Sapa Bryan.
" Pagi Tuan Bryan, silahkan duduk Tuan, Nyonya." Ucap Dokter.
" Duduk sayang." Ucap Bryan mempersilahkan Vanka untuk duduk.
" Bagaimana? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter.
" Begini Dok, istri saya mengalami mual di pagi hari dan dia sudah terlambat selama dua minggu, pernah di tes sebelumnya pakai tespack hasilnya positif Dok, saya ingin memastikan apakah benar saat ini istri saya sedang hamil atau tidak? Dan saya juga ingin tahu kondisi janinnya." Terang Bryan secara detail.
Kenapa Bryan? Karena Vanka merasa malu jika Ia yang bicara. Masih sangat muda sudah hamil, begitu pikirnya.
" Sebentar saya data dulu ya, setelah ini kita akan lakukan usg untuk memastikan tentang kebenaran kehamilan dan kondisi janinnya." Ucap Dokter.
Setelah pendataan Vanka di minta berbaring di atas ranjang pasien dengan di dampingi Bryan. Dokter menyibak baju Vanka membuat Bryan memalingkan wajahnya. Dokter mengusapkan gel pada perut Vanka lalu menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.
" Lihat di layar monitor Tuan, saya ucapkan selamat untuk anda berdua Tuan dan Nyonya Bryan, anda berdua akan menjadi ayah dan ibu muda untuk calon anak anda, titik hitam ini merupakan janin anda, umurnya masih sekitar tujuh minggu jadi belum terlihat jelas ya, semuanya normal dan kondisi janinnya sehat." Terang Dokter Reni.
Bryan menatap layar monitor dengan tatapan terharu. Itukah calon anaknya? Tanpa sadar Bryan mengelus kepala Vanka lalu mencium kening Vanka membuat jantung Vanka deg degan.
" Terima kasih sayang kau telah menghadirkan malaikat kecil untukku, aku menyayangi kalian berdua." Ucap Bryan membuat ketiga wanita di ruangan itu merasa terharu.
" Terima kasih untukmu yang selalu menjaga kami dengan baik Mas." Sahut Vanka.
Vanka dan Bryan kembali duduk di kursi yang berada di depan Dokter sambil mendengarkan penjelasan Dokter tentang seputar kehamilan di trisemester pertama.
Bryan menanyakan apa saja yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan Vanka selama kehamilannya. Ia benar benar menjadi suami dan calon ayah siaga. Dokter sampai terheran melihat sikap antusias Bryan dalam menanti kelahiran bayinya.
Setelah selesai konsultasi, Bryan dan Vanka keluar dari ruangan itu. Di depan pintu mereka melihat Brayen yang sedang berdiri di sana. Ternyaya Brayen mengintip dari luar untuk mengetahui kondisi Vanka dan kandungannya.
" Ngapain kamu di sini?" Tanya Bryan menatap tajam ke arah Brayen.
" Aku juga ingin tahu kondisinya." Sahut Brayen.
" Heh ingin tahu, kau tidak perlu tahu soal mereka, urusi saja pekerjaanmu biar cepat mendapat gelar dokter spesialis seperti yang kamu impikan selama ini, tidak perlu mengurusi calon anak dan istriku aku mampu menjaga mereka." Sinis Bryan.
" Dia mil...
__ADS_1
" Dia milikku, ingat dan catat itu dalam memorimu Bray, dan jangan sampai kau melupakannya." Ucap Bryan memotong ucapan Brayen.
Bryan berjalan sambil menggandeng tangan Vanka.
" Ceraikan Vanka." Ucap Brayen membuat Bryan tersulut emosi. Bryan menghentikan langkahnya, Ia membalikkan badan menghampiri Brayen.
" Apa maksudmu brengsek." Bentak Bryan menarik kerah Brayen.
Para pengunjung rumah sakit menatap ke arah mereka.
" Mas sabar Mas." Ucap Vanka menyentuh lengan Bryan. Bryan melepaskan kerah Brayen.
" Aku ingin bertanggung jawab kepada Vanka, aku sudah tidak peduli lagi dengan gelar spesialisku Bry, aku berubah pikiran, sekarang aku hanya ingin hidup bahagia bersama anak dan istriku, jadi ku mohon ceraikan dia dan aku akan menikahinya." Ucap Brayen.
Bugh...
Bryan memukul pipi Brayen dengan keras hingga sudut bibir Brayen mengeluarkan darah.
" Mas." Pekik Vanka menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Sudah aku bilang mereka milikku, mereka anak dan istriku jadi jangan kau harap aku akan melepas mereka hanya untuk pria brengsek sepertimu Brayen." Teriak Bryan.
" Aku akan merebutnya darimu bagaimanapun caranya Bryan, aku akan membuatmu meninggalkan Vanka untukku, camkan itu." Teriak Brayen tak mau kalah.
" Opa tidak menyangka kalian bisa membuat keributan demi memperebutkan hak kalian." Kekeh Opa Anton.
" Aku hanya meminta Bry untuk menceraikan Vanka Opa karna aku akan bertanggung jawab dengan menikahinya." Sahut Brayen menatap sinis Bryan yang sedang duduk bergandengan di kursi di depannya.
Akhirnya Opa Anton mengetahui tentang kehamilan Vanka. Bry memohon kepada Opa Anton untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun termasuk Oma Meri.
" Bagaimana bisa kau berpikir kalau Bry akan melepaskan Vanka untukmu?" Tanya Opa pada Brayen.
Brayen bungkam karena tidak tahu mau menjawab apa.
" Kalau Opa jadi Bry, Opa akan melakukan hal yang sama dengan Bry, Opa akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milik Opa tidak peduli anak itu milik siapa, buktinya Opa menganggap kedua Papa kalian anak Papa sendiri, Papalah ayah kandung mereka padahal Papa mendapatkan kedua Papamu saat Papamu sudah dewasa." Tutur Opa Anton.
" Tapi aku bukan Opa, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Kukuh Brayen.
" Walaupun kau sudah membuangku Kak?" Tanya Vanka menohok hati Brayen.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang, aku gelap mata, aku terobsesi akan gelarku, tapi sejak kemarin aku memikirkan tentang kesalahanku padamu aku menjadi berubah pikiran, aku ingin memperbaiki hubungan kita, ak....
" Hubungan yang mana? Hubungan yang sudah rusak tidak akan bisa di perbaiki lagi." Sahut Vanka memotong ucapan Brayen.
" Sayang maafkan aku sayang, kembalilah padaku aku akan menikahimu dan kita akan hidup bahagia bersama anak anak kita." Ujar Brayen.
" Walaupun kau bersujud di kakiku sekalipun aku tidak akan pernah memaafkanmu, apalagi kembali bersamamu Kak, kamu baru membuangku beberapa hari dan kini kau ingin memungutku lagi? Kalaupun seandainya tidak ada yang sudi memungutku aku tidak mau di pungut kembali olehmu, kejarlah apa yang menjadi cita citamu, aku tidak membutuhkan pria sepertimu, Tuhan sudah memberikan pria yang aku butuhkan bukan pria yang aku harapkan, karna Tuhan tahu pria yang aku harapkan tidak mampu menjagaku." Ucap Vanka.
" Ayo Mas kita pulang sebelum aku kehabisan nafas, aku tidak mau berlama lama dalam satu ruangan dengan pria yang tidak punya pendirian karna itu hanya membuatku sesak nafas saja." Sambung Vanka.
" Ayo sayang, kami pulang dulu Opa dan maaf sudah membuat keributan di sini." Ujar Bryan.
" Hati hati." Sahut Opa Anton.
" Mari Opa kami pergi dulu." Ucap Vanka menyalami Opa Anton dengan takzim.
" Hati hati Vanka, jaga kandunganmu dengan baik dan jangan hiraukan Brayen, Opa yakin Bryan lebih bisa di percaya untuk menjagamu daripada Brayen." Ucap Opa melirik Brayen yang sedang menatapnya.
" Terima kasih Opa." Sahut Vanka.
Bryan menggandeng tangam Vanka keluar pos keamanan. Mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah mereka.
Brayen menarik kasar rambutnya setelah kepergian Bryan dan Vanka.
" Belajarlah dari kesalahan, perbaiki kesalahanmu dan jangan membuat kesalahan baru." Tutur Opa menepuk pundak Brayen.
" Opa selalu memihak kepada Bry, Opa selalu mendukung apapun yang Bry lakukan." Ujar Brayen.
" Opa hanya mendukung yang benar Bray, jangan berburuk sangka." Sahut Opa Anton meninggalkan Brayen di sana.
" Arghhhhhhh." Teriak Brayen frustasi.
" Aku akan merebutnya darimu Bry.... Vanka harus menjadi milikku, kali ini aku akan mempertaruhkan impianku demi mendapatkan cintaku kembali." Monolog Brayen.
Kira kira apa ya yang akan di lakukan Brayen untuk mendapatkan Vanka kembali?
Jangan lupa like koment dan votenya biar author semangat lanjutin ceritanya ya...
Terima kasih untuk para reader yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....